
...🥀🥀🥀...
"Apa kau benar seorang perawat?" tanya Danu, menatap tajam si perawat.
"Apa Tuan? Jadi Tuan pikir saya ini hanya asal dengan pekerjaan saya? Tuan meragukan kinerja saya sebagai seorang perawat atau apa?" cecar Sisil dengan menunjukkan rasa gak suka nya.
Sisil yang merupakan perawat dengan body montokkkk, suka dengan pakaian ketattt. Namun dalam hal kinerja, gak bisa di ragukan lagi.
Lulus dengan nilai terbaik. Dalam praktek nya juga perawat Sisil ini, merupakan salah satu perawat yang banyak di sayangi oleh pasien.
Danu menatap tajam Arsandi. Layla benar benar membawa perubahan besar pada diri nya. Jika sudah menyangkut dengan urusan Layla, Danu akan mengutamakan dan melakukan yang terbaik untuk gadis itu.
Terlebih dengan apa yang baru saja di alami Layla. Menjadi perhatian yang paling mendasar untuk Danu dalam mengambil sikap.
"Maaf Tuan, dokter Agus adalah dokter terbaik yang sudah saya seleksi dalam waktu yang singkat. Dan untuk suster Sisil, saya juga sudah menyelidiki nya Tuan." ujar Arsandi.
Danu menyandarkan tubuh nya pada sandaran kursi kebesaran nya, tangan nya terulur memijat kening nya sendiri.
"Kau tau kan Arsandi... kau itu sudah bekerja lama dengan ku. Harus nya kau tau apa yang aku inginkan." ucap Danu dengan suara putus asa.
"Kita ini bukan hanya bekerja lama sebagai atasan dan bawahan. Tapi aku ini teman mu, jadi apa yang kau inginkan... aku pasti tau. Sekarang apa lagi dari hasil kinerja ku yang gak buat kamu puas, Danu?" tanya Arsandi dengan tegas.
"Dokter Agus! Karena dia seorang pria, aku ingin Layla di tangani oleh seorang dokter wanita. Apa itu jawaban yang memuskan untuk mu?" ucap Danu.
Danu merubah posisi duduk nya, dengan punggung tegak, ke dua tangan berada di atas meja saling bertautan.
Dokter Agus yang sejak tadi diam, kini ikut bicara, "Maaf Tuan, Tuan tidak perlu khawatir terhadap saya, saya sudah memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Saya juga pernah ada di posisi Tuan. Jadi saya bisa menempatkan diri saya sebagai seorang dokter, sebagai seorang kaka di depan Nona Layla, itu pun jika Tuan mengizin kan." jelas dokter Agus berusaha meyakinkan Danu.
"Kalo untuk saya, apa Tuan? Saya belum juga menunjukkan kinerja saya, tapi kenapa Tuan seakan ragu dengan kinerja saya?" tanya Sisil, melangkah satu langkah ke depan. Dengan sorot mata menggoda Danu.
"Cara berpakaian mu, tidak bisa aku tolerin! Sudah jelas! Kau mau membuat mental dan percaya diri istri ku seketika drop setelah di rawat oleh mu? Hem!" tanya Danu dengan tatapan menyelidik.
"Eh, maksud Tuan? Saya bisa membuat mental Nona semakin down gitu? Astagaaa Tuan, jangan jangan memang Tuan sendiri yang sudah berfikir begitu... ingin menghianati Nona." tebak Sisil dengan seringai di bibir nya.
Sisil memandang Danu penuh arti, 'Kalo di pikir pikir... rasa nya gak ada salah nya juga kalo gwe bisa buat Tuan Danu terpikat sama gue. Secara gue kan seksiii, cantik, yaaah gak malu maluin amat dan yang gak kalah penting... mental dan body gue pasti jauh lebih baik dari Nona Layla. Masih bocah kok di panggil Nona, mantan Nona hehehe!' batin Sisil penuh kemenangan jika Danu bisa ia pikat dan menjadi Nona Sisil.
Setelah berdebat panjang.
Brak.
Sisil, dokter Agus dan Arsandi terperanjat kaget, melihat Danu menggebrakkk meja kerja nya dengan telapak tangan nya cukup keras.
"Aku sudah katakan apa yang ingin aku katakan!" ucap Danu, meninggalkan ruang kerja nya dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Kalian tunggu apa lagi? Cepat tinggalkan rumah ini!" titah Arsandi, gak mau buat Danu semakin bertambah kesal pada nya.
Sisil dan dokter Agus meninggalkan ruang kerja Danu, lalu mengemas barang barang milik pribadi mereka yang sudah di tata di sebuah kamar yang khusus di siapkan untuk dokter dan perawat Layla.
Ceklek.
Ceklek.
Dokter Agus dan Sisil sama sama ke luar dari kamar, mereka saling tatap dengan tatapan yang menjengkelkan.
'Seperti nya ini dokter bisa di ajak kerja sama!' batin Sisil dengan tatapan nakal.
"Apa yang ada dalam pikiran mu? Jika kita satu pemikiran, kita pasti bisa menjadi partner yang saling menguntungkan!" ucap dokter Agus dengan tatapan menggoda.
"Apa kau butuh sesuatu sayang?" tanya Danu, setelah duduk di tepian ranjang.
"Aku ingin kembali ke kamar kita!" seru Layla dengan tatapan memohon.
"Tunggu beberapa hari lagi ya! Setelah dokter memastikan keadaan mu yang sudah membaik." Danu menggenggamm jemari Layla.
Ceklek.
Arsandi memasuki kamar yang di peruntukan untuk pemulihan kesehatan Layla.
"Sudah Tuan, mereka akan datang dalam waktu 20 menit." ujar Arsandi yang berdiri tidak jauh dari Danu.
"Siapa yang akan datang? Apa yang kalian sembunyiin dari ku? Aku kan udah sembuh! Aku ingin tidur di kamar ku!" pinta Layla dengan wajah sendu.
"Kau tau Arsandi! Di saat sakit seperti sekarang ini aja Layla sudah banyak bertanya dan banyak mau. Apa lagi jika Layla benar benar sudah sehat! Kau pasti orang pertama yang aku mintai tolong!" ujar Danu, melupakan kekesalan nya pada Arsandi, demi menghibur Layla.
"Nona pasti akan cepat sembuh." ujar Arsandi dengan tulus.
"Kau mau tunggu apa lagi di sini? Gak ada pekerjaan kah yang bisa kau kerjakan, Arsandi?" sindir Danu, melihat Arsandi yang belum juga meninggalkan nya.
"Saya permisi Tuan, Nona!" seru Arsandi.
"Hem!" Danu menatap jengkel kepergian Arsand.
Kini di dalam kamar kesehatan, kamar yang di lengkapi dengan fasilitas lengkap dengan alat medis.
"Apa masih sakit?" tanya Danu, melihat luka di lengan Layla yang masih merah.
"Tidak sesakit kemarin." jawab Layla.
__ADS_1
"Apa ada yang ingin kamu makan, La?" tanya Danu.
Layla hanya menggeleng kan kepala nya, dengan tatapan sayu.
"Selama aku meninggalkan mu di rumah sakit tadi, apa yang kalian bicarakan hem?" tanya Danu, dengan mengambil dus kotak berisi kan brownies panggang yang ada di atas nakas.
"Mereka bertanya akan kesehatan ku! Mereka juga gak habis pikir dengan apa yang sudah Ratna, ka Arsan dan Irfan perbuat pada ku. Selama ini aku gak ada masalah sama mereka." cicit Layla.
"Apa gak ada hal lain yang di bahas?" tanya Danu lagi.
"Deri dan Nina sudah resmi jadian." Layla menatap luka di kaki nya dengan mengangkat kaki nya satu persatu
"Apa itu bisa sembuh? Apa bekas luka nya akan tetap ada di sana atau akan menghilang seiring waktu?" tanya Layla, ngeriii sendiri melihat luka di kaki dan di tangan nya kini.
"Tentu aja bisa hilang. Apa kamu mau ikut ulangan besok La?" tanya Danu.
"Pasti." jawab Layla.
Hari yang di tunggu pun tiba. Di saat yang lain mengerjakan soal ulangan di dalam kelas dengan serius dan hikmat.
Layla mengerjakan soal ulangan nya, di ruang kesehatan milik nya yang ada di dalam rumah. Dengan guru pengawas yang di datangkan kan langsung oleh pihak sekolah.
"Sudah selesai, La?" tanya guru pengawas.
"Sedikit lagi pak." jawab Layla dengan pandangan yang mulai kabur.
"Kerjakan saja pelan pelan, La... masih ada waktu 10 menit untuk menjawab nya." ujar guru pengawas lagi.
"Iya pak."
'Huruf huruf nya kenapa pada jalan gini ya? Mereka bisa bergerak?' batin Layla dengan pandangan semakin kabur di sertai pusing.
Bruk.
Bersambung...
...💖💖💖...
Like dan komentar nya dong, 😅😅 biar ora sepi sepi amat gitu ini novel. Masa cuma tuyul doang yang aktif komen. Yang laen, mana suara nya?
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1