
...🥀🥀🥀...
Mery yang merasa terpanggil dengan panggilan alam, bergegas dengan terburu buru menuju toilet, hingga gak memperhatikan langkah nya.
Brugh.
"Akkkhhhhhh!"
Mery menubruk seseorang dengan cukup kerasss, membuat nya terpental ke belakang, di saat tubuh nya hendak mendarat ke lantai, tangan besar seseorang menarikkk pinggang nya hingga Mery tertahannn dengan posisi nya.
"Maaf, aku gak lihat jalan. Apa kamu gak apa apa? Apa ada yang luka?" tanya seorang pria, membantu Mery menjaga keseimbangan dalam berdiri.
Mery menepisss tangan pria itu, lalu melangkah mundur, "Saya gak apa apa, saya yang harus nya minta maaf karena gak lihat jalan!" ucap Mery mengelusss dada nya yang masih berdebar karena kaget
"Maaf kan aku sekali lagi, tapi apa boleh aku meminta nomor telepon mu? Kali aja kita bisa ngobrol, aku baru tinggal di kota ini, baru masuk kampus hari ini juga, aku belum mengenal banyak orang. Maaf jika aku merepotkan mu!" cicit Roy yang langsung menyodorkan benda pipih nya di depan Mery, tanpa memberikan kesempatan untuk Mery menolak.
Mery membuang nafas nya dengan kasar, mengamati wajah pria asing yang berdiri di depan nya.
'Gilaaa, ini cowok keren banget, tinggi pula, atletis banget tubuh nya, pasti bentuk tubuh nya gak kalah bagus dari pak Arsandi. Mana masih muda, kaya nya seumuran sama gue! Bisa kali mah di jadiin teman jalan.' batin Mery dengan tatapan berbinar.
Roy melambaikan tangan nya di depan wajah Mery, "Halo, kamu gak apa Nona? Apa perlu aku membawa mu ke rumah sakit? Seperti nya benturan tadi membuat mu seketika koslettt!" gurau Roy dengan tatapan serius pada Mery.
'Gue gak nyangka, semudah ini membuat anak ini terpikat sama gue! Ini sih gampang buat gue ngejebak dia!' batin Roy dengan seringai di bibir nya.
"Eh i- iya, a- apa? Sa- saya gak apa kok." ucap Mery dengan tergagap.
"Berikan nomor ponsel mu, aku rasa perlu mentraktir mu makan sebagai ganti rugi karena sudah menabrak mu." Roy tersenyum manis di depan Mery.
Mery menelan saliva nya dengan sulit, 'Kenapa dengan gue? Jantung gue berdebarrr gini! Gak mungkin kan gue suka sama ini orang! Gimana dengan pak Arsandi, kita kan udah nikah! Tapi senyum pria ini buat hati gue melelehhh.' batin Mery, yang tiba tiba ingat dengan status pernikahan nya dengan Arsandi.
Roy mengerutkan kening nya, menatap Mery dengan heran karena belum juga mengambil alih benda pipih nya.
'Sialll, apa lagi yang ini anak tunggu. Susah banget buat kasih nomor telepon doang!' gerutu Roy dengan tangan mengepalll, menahannn kesal.
"Apa suami mu akan marah, jika aku menghubungi mu, Nona? Tapi kau kan masih muda! Ngomong ngomong kau semester berapa?" tanya Roy lagi, beralih dengan cara lain untuk mendekati Mery.
"Saya semester satu, kita sama kan. Saya juga baru masuk hari ini." Mery memberikan nomor telepon nya, tanpa pertimbangan dan tanpa ragu.
Roy membuang nafas lega, "Perut ku laper, apa kau bisa temani aku makan Nona?" pinta Roy dengan tatapan memohon.
"Boleh, mau makan di mana?" tanya Mery, mengembalikan benda pipih milik Roy.
"Aku tau tempat yang bagus dan makanan nya enak. Aku pernah datang ke sana beberapa kali. Kita makan di sana aja ya!" ucap Roy dengan senang.
"Boleh juga." Mery setuju tanpa menaruh curiga pada Roy.
Ke dua nya meninggalkan kampus, menuju tempat yang di sebutkan Roy dengan menggunakan kuda besi Roy.
"Itu bukan nya Mery? Mery sama siapa?" Nina mengerutkan kening nya, menatap tajam seseorang yang ia lihat mirip Mery.
"Bukan Mery itu, kurang kerjaan banget kalo itu Mery. Kan bentar lagi ada mata pelajaran dosen galak. Gak mungkin lah Mery bolos." terang Layla yang gak lihat apa yang Nina lihat.
__ADS_1
"Tapi tadi gue beberan kaya lihat Mery itu, baju nya sama kaya yang terakhir Mery pake. Tapi dia boncengan sama cowok." terang Nina, mencoba menjelaskan pada Layla.
Layla merogoh tas nya, mengeluarkan benda pipih nya.
"Mau ngapain La? Telpon pak Arsandi, ngasih tau kalo Mery ada sama dia apa gak?" tanya Nina dengan penasaran.
"Bukan ngasih tau bang Arsan, tapi telpon Mery. Tanya, Mery lagi di mana!" ucap Layla dengan tangan mendiel nomor kontak Mery di benda pipih nya.
"Nah iya, itu maksud gue." Nina mengagguk kan kepala nya, setuju dengan perkataan Layla.
"Apa kata Mery, La?" tanya Nina gak sabaran, melihat beberapa kali Layla mendiel nomor kontak Mery lewat hape nya.
"Gak di angkat, Mery gak dengar kali ya!" seru Layla dengan memperlihatkan kecemasan di wajah nya.
Pluk pluk.
"Ya udah yuk, kita balik kelas. Mungkin aja Mery udah di sana nunggu kita!" Nina menepukkk nepukkk bahu Layla, mengajak nya untuk kembali ke kelas.
.
.
Arsandi dan Danu tengah meeting di salah satu cafe bersama dengan kolega nya.
Meeting berjalan dengan lancar, tanpa ada nya kendala. Meeting dengan menbawa hasil yang menguntungkan untuk ke dua belah pihak.
"Semoga kerja sama kita kali ini, bisa berjalan dengan lancar. Untuk jalan nya proyek ini, aku serahkan pada Tuan Danu sepenuh nya." terang seorang pria paruh baya, dengan kaca mata menghiasai hidup nya.
"Saya harap, saya tidak mengecewakan bapak!" ucap Danu, dengan senyum di bibir nya.
"Jauh juga ya tempat nya, kamu sering ke sini?" Mery mendudukkan diri nya di kursi yang sudah di tarik sebelum nya oleh Roy.
"Beberapa kali, di jamin. Kamu pasti menyukai makanan nya." ucap Roy yang duduk di tempat nya.
Seorang pelayan wanita datang menghampiri meja Mery dan Roy. Roy memesankan makanan untuk diri nya dan juga Mery.
'Apa aku gak salah lihat, untuk apa Mery di sini? Apa itu teman pria Mery? Pria itu yang membuat Mery dengan keputusan yang gak masuk akal? Meminta ku menyembunyi kan status pernikahan kami?' tanya Arsandi.
Arsandi mengepalll kan tangan nya, menatap nyalang meja Mery dan Roy.
Arsandi kehilangan konsentrasi saat di ajak bicara, Danu menghembuskan nafasnya dengan kasar, melirik sekilas Arsandi, lalu mengikuti arah pandangan Arsandi.
'Jadi itu alasan Arsandi gak fokus di meeting kali ini, untung aja keputusan sudah di ambil. Hingga tidak mempengaruhi hasil dari meeting kali ini!' batin Danu merasa lega.
Ke dua kolega Danu meninggal kan lokasi, Danu menahannn langkah Arsandi yang ingin menghampiri Mery.
"Jaga sikap mu Arsandi, jika kau emosi, kau hanya akan mempermalukan diri mu sendiri. Bagai mana pengunjung lain menilai Mery yang bersama dengan pria lain, ini tempat umum kan!" Danu mengingatkan kembali Arsandi.
Arsandi menghembuskan nafas nya dengan kasar, 'Nama baik Mery akan tercemar, nama Tuan besar Baskoro juga pasti akan terseret, apa lagi Mery itu anak di luar nikah. Tapi aku gak rela melihat pria itu menyentuhhh tangan Mery!'
Dada Arsandi semakin bergemuruhhh, saat pria yang gak ia kenal bersama dengan Mery. Dengan bebas nya mencium punggung tangan Mery, menggenggammm dengan erat.
__ADS_1
"Berapa lama lagi aku harus menahannn ini semua, Tuan?" tanya Arsandi yang memejamkan mata nya, seakan semakin tertusukkk melihat perbuatan Mery dengan teman pria nya.
"Kau tau harus bagaimana, bawa Mery pulang setelah teman pria nya pergi! Selesaikan permasalahan kalian di rumah." Danu beranjak dari duduk nya, setelah mengatakan nya pada Arsandi.
"Bagaimana cara ku membuat teman pria Mery pergi!" Arsandi menggaruk kepala nya dengan frustasi.
Seorang pelayan wanita datang, mengantar minuman untuk ke dua nya.
Pyuurrrr.
Gelas minuman yang akan di letakkan di depan Roy, tumpah dan membasahiii kemeja serta celana yang di kenakan Roy.
"Akkhhh sialll! Kalo kerja pake mata dong!" sungut Roy dengan tatapan nyalang, tangan kanan nya bahkan hendak memukulll pelayanan wanita itu, tapi urung setelah ia melirik Mery yang tampak terkejut di buat nya.
Roy memilih beranjak dari duduk nya, mengibaskan tangan nya di depan celana nya yang basahhh, tepat di area sosis megar nya.
'Yes, tugas aku berhasil. Gak sia sia aku di bayar gede ama itu orang berjas.' batin pelayan wanita dengan hati senang.
Pelayan wanita pura pura bersalah dengan kepala tertunduk, dengan kata kata yang tergagap.
"Ma- maaf Tuan, sa- saya gak sengaja, maaf banget. Bi- biar minuman nya saya ambilkan lagi Tuan. Saya permisi." pelayan wanita langsung meninggalkan meja Roy dan Mery.
Mery tampak terkejut dengan respon Roy yang terbilang kasar, 'Gak nyangka gue, baru segitu aja udah marah banget. Gimana kalo dia beneran suka sama gue, tau gue udah nikah. Ah gak mungkin, lagi juga baru beberapa jam kenal. Sabar, bawa santai, cuma teman.' batin Mery menenangkan hati nya perihal hubungan nya dengan Roy.
Cup.
"Aku ke toilet dulu ya! Kamu tunggu sini!" Roy mengecup pipi Mery, lalu meninggalkan nya ke toilet.
Mery menyentuhhh pipi nya yang baru aja di cium Roy, 'Gue mimpi apa nyata, Roy orang ke dua yang berani cium pipi gue setelah Arsandi. Mati gue, gimana kalo pak Arsandi liet ini? Bisa kacau.'
Arsandi yang sudah gak bisa menunggu lagi, langsung menghampiri Mery saat melihat Roy meninggalkan nya.
'Kenapa hati ku sesakit ini, apa aku sudah terlalu dalam mencintai nya? Kenapa kau setega ini pada cinta ku, Mery!' batin Arsandi yang di luapiii dengan amarah dan cemburu pada Mery.
"Ehem!" Arsandi berdeham saat sudah berdiri di belakang Mery.
Mery menoleh tanpa ragu.
Hap.
"Kyaaaa a- apa yang kau lakukan! Turunkan aku! Kau menculik ku! Turun kan aku!" Mery merontaaa, minta di turunkan dari gendongan bak karung beras dari bahu Arsandi.
Bugh bugh bugh.
"Kalian kenapa diem aja? Tolong aku! Ini penculikan di depan umum tapi gak ada yang tolongin? Di mana hati kalian!" sungut Mery, tangan nya memukulll punggung Arsandi.
"Gak ada suami yang menculik istri nya sendiri!" terang Arsandi, membuat Mery bungkammm.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
__ADS_1
...Kehaluan semata...
⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼♀️🤸🏼♀️🤸🏼♀️