Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Beresiko


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"La! Kamu udah bangun?" tanya Danu, tangan nya menggenggamm jemari Layla.


Membuat Layla menoleh ke arah nya, dengan tatapan mengamati, seakan mengingat siapa pria yang ada di samping nya ini.


"Kamu inget aku kan, La?" tanya Danu lagi.


'Aku harap kamu mengingat aku La, meski obat yang di berikan dokter Rum, sedikit nya bisa membuat mu jauh lebih tenang dari yang sebelum nya.' batin Danu menatap hangat Layla.


Layla membuka mulut nya, meski jawaban nya gak sesuai dengan apa yang ada dalam harapan Danu.


"Haus!" ucap Layla dengan lemah.


Danu menarik sudut bibir nya, mengambil air minum untuk Layla, ia juga membantu Layla untuk beranjak dari tidur nya. Tangan kiri nya menyanggah tubuh Layla, dan tangan kanan nya mendekatkan bibir gelas ke bibir Layla.


Layla mendorong gelas itu dari tangan nya. 'Kenapa tubuh ku lemas sekali ya! Kaya gak punya tenaga gini?' batin Layla.


"Ada lagi yang kamu butuhkan, Layla?" tanya Danu, membiar kan Layla bersandar pada kepala ranjang, dengan penyanggah bantal di punggung nya.


Layla menggelengkan kepala nya.


"Apa kamu mau makan sesuatu mungkin buah atau roti. Atau mau aku belikan sesuatu?" tanya Danu lagi, menawari Layla dengan suara yang lembut, tatapan hangat.


Layla hanya menggeleng kan kepala nya. Layla menatap Danu dengan tatapan kosong, perasaan nya berkecamuk, pria dewasa yang berjanji akan menjaga nya, menemani nya di saat suka dan duka. Bulir bening kembali meluncur bebas dari pelupuk mata nya.


'Apa lagi yang bisa ka Danu harapkan dari ku, ketika milik ku di nikmati pria lain selain suami ku sendiri? Meski bukan menggunakan milik nya, tetap aja milik ku di jamahhh pria lain.' batin Layla, terisak tanpa suara, menyiratkan kesedihan di wajah nya.


Danu mendudukan diri nya di tepian ranjang rawat Layla. Ke dua tangan nya menangkup wajah Layla, jempol nya bergerak menyapu sisa air mata Layla di pipi nya. Membuat gadis itu menatap nya.


"Kamu boleh nangis La, aku gak akan mencegah kamu untuk menangis, jika itu cara kamu untuk mengungkapkan bentuk sedih nya kamu. Tapi kamu harus tegar La. Bersyukur masih di beri kesempatan untuk hidup. Kamu harus bangkit dari keterpurukan kamu La, kamu harus lawan rasa takut mu itu! Ada aku, ada ayah Noval, papa Baskoro, ibu Tati, nenek Dahlia, dan aku. Kamu gak sendirian La, kita lalui semua ini bersama!" ucap Danu dengan kesungguhan.


"Maaf!" ucap Layla dengan terisak, bahu nya berguncang hebat.


"Aku yang harus nya minta maaf sama kamu, La... aku gagal menjaga kamu. Aku gagal lindungi kamu dari manusia berhati iblis. Tapi kamu jangan khawatir La, aku sudah menghukum mereka semua yang terlibat. Aku sudah menghukum semua yang menyakiti kamu!" ucap Danu panjang lebar.


Layla menggelengkan kepala nya, di satu sisi ia tidak ingin menyalahkan Danu. Karena ia pikir Ratna melakukan nya karena iri pada nya.


Danu membawa Layla ke dalam pelukan nya, membiarkan Layla menumpahkan keluh kesah nya di bahu Danu.


"Aku kotor!" seru Layla di tengah tangis nya, meski dengan suara pelan, namun Danu masih bisa mendengar nya.

__ADS_1


"Kamu gak kotor, sayang! Pria itu menggunakan jari nya, hanya milik ku yang menjamah goa sempit milik mu." Danu mengelusss kepala Layla, dengan satu tangan nya mengelusss punggung Layla.


"Ratna merekam semua nya ka." ucap Layla yang kini menjarak tubuh nya, menatap Danu dengan lekat, seakan ingin tau apa yang sudah di lakukan Ratna dengan video saat menyiksa Layla.


"Aku sudah melenyapkan video beserta hape Ratna, Ratna belum sempat mengunggah video itu ke akun media sosial nya." ujar Danu.


Layla membuang nafas dengan lega, 'Syukur lah, Ratna belum melakukan apa apa sama video itu.'


"Kamu jangan banyak mikir ya! Lebih baik kamu istirahat, biar kamu bisa cepat pulih." ujar Danu.


Layla menurut, membaringkan kembali tubuh nya di atas ranjang rawat.


Layla menatap langit langit ruang rawat nya, bau obat menyeruak di indra penciuman nya.


'Aku masih gak habis pikir, apa hubungan nya Ratna dengan Basuki, ada keterlibatan apa hingga Arsan mau terlibat membantu Irfan dan Ratna.' batin Layla.


Danu menggenggammm jemari Layla. "Jangan banyak mikir, tapi kalo ada yang ingin kamu katakan, katakan aja. Aku siap jadi pendengar yang baik untuk mu!"


"Kenapa iri itu bisa membuat seseorang gelap mata, mau melakukan apa pun untuk tujuan nya? Sama seperti yang di lakukan Ratna pada ku?" tanya Layla dengan tatapan penuh tanya.


"Iri itu karena dia ngerasa gak bisa milikin apa yang kamu miliki. Gak seneng melihat kamu bahagia. Tapi dia akan merasa bahagia, jika ia melihat orang itu menderita." ujar Danu.


"Ke luar sebentar, aku ingin menemui dokter Rum. Dokter yang menangani kamu." ujar Danu.


Layla menggelengkan kepala nya, gak mau di tinggal sendiri di ruang rawat yang ukuran nya cukup besar, dengan beberapa fasilitas mewah di dalam nya, udah kaya di hotel berbintang lima, gak tau nya di rumah sakit.


"Aku gak akan ninggalin kamu sendiri, La." Danu mengelusss puncak kepala Layla.


Ceklek.


Ruang rawat Layla di buka dari luar, nampak Nina dan Deri melangkah memasuki ruang rawat Layla, dengan Deri yang membawa kantong berisi roti.


"Assalamualaikum pak Danu, Layla." ucap Nina dan Deri berbarengan.


'Gue gak boleh cengeng di depan Layla, biar kata gue sedih liet kondisi Layla. Tapi buat Layla, gue harus kuat.' batin Nina, menyemangati hati nya meski ke dua mata nya kini berembun, dengan hidung merah karena habis menangis.


"Waalaikum salam." jawab Danu, menyambut hangat kedatangan murid nya yang gak lain sahabat Layla.


Nina langsung memeluk Layla, mengelusss punggung Layla, "Lo baik baik aja kan La? Gue khawatir banget sama lo! Lo jangan ngilang lagi ya La!" pinta Nina yang gak terasa bulir bening menerobosss pertahanan nya, dengan cepat ia menghapus air mata nya.


Layla meringis menahan sakit, saat tangan Nina mengelusss punggung nya, yang gak sengaja mengenai luka bekas cambukan nya.

__ADS_1


"Nin! Lo lupa, Layla ini wanita tangguh, dia gak cengeng kaya lo!" ledek Deri, mencoba mencairkan suasana.


Nina menjarak, mencengrammm lengan Layla dengan lembut, namun Layla kembali meringis.


"Kenapa La? Gue nyakitin lo? Apa yang sakit, La?" cecar Nina.


"Maaf Nin, tubuh Layla menyisakan luka bekas cambukan. Kamu mengerti kan maksud saya!" ujar Danu.


"Ah iya, maaf ya La... gue gak bermaksud, gue cuma..." ucapan Nina langsung di potong Layla.


"Iya, lo khawatir sama gue. Gue beruntung ya punya kalian." ucap Layla dengan nata berbinar.


"Saya yang beruntung miliki kamu, memiliki istri seperti mu... kamu ingat pesan saya, kamu gak sendirian!" ucap Danu tegas, mengecup puncak kepala Layla di depan Deri dan Nina.


"Aissss gue meleleh, sweet banget. Gak nyangka pak Danu sweet sama Layla!" ujar Nina dengan tatapan gak percaya.


"Saya titip Layla sebentar ya! Jangan tinggalkan Layla sendiri apa pun yang terjadi, saya ingin menemui dokter sebentar. Ada yang harus saya bicarakan sama dokter." ucap Danu, dengan serius pada Deri dan Nina.


"Jangan lama!" pinta Layla.


"Pasti, hanya sebentar!" ucap Danu.


Di ruang praktek dokter Rum.


"Itu terlalu beresiko. Lo tau sendiri, kondisi istri lo belum stabil." tolak dokter Rum.


"Tapi gue gak ngerasa istri gue aman di rumah sakit, gue mau rawat Layla di rumah!" kekeh Danu pada pendirian nya.


"Tapi resiko nya, Danu!"


"Gue bakal tanggung resiko nya, kalo perlu... peralatan medis gue beli, gue buat satu ruang yang persis kaya ruang rawat Layla di rumah sakit!" ujar Danu dengan kesungguhan.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅 biar ora sepi sepi amat gitu ini novel. Masa cuma tuyul doang yang aktif komen. Yang laen, mana suara nya?


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


__ADS_2