
...🥀🥀🥀...
Sementara pak Asep yang baru juga ke luar dari bilik toilet, memikirkan apa yang di dengar nya dari Arsan.
"Aku harus memperingati Danu, dan Layla!" gumam pak Asep.
Di gedung pencakar langit, di dalam ruang kerja nya. Meski pun di atas meja kerja nya, terdapat beberapa berkas yang menumpuk, tidak menyurutkan senyum yang terbit dari sudut bibir nya. Sementara jemari nya memutar mutar pulpen yang ada di tangan kanan nya.
'Aku tidak menyangka, akhir nya aku bisa memiliki nya seutuh nya. Awal nya memang menolak, tapi yang aku lihat dia tadi menikmati nya ahahah, dasar bocah munafik!' batin Danu, mengingat kembali keberhasilan nya menjamah goa rapat milik Layla.
Tring.
Notifikasi pesan masuk di hape Danu.
Ceklek.
"Tuan, apa berkas nya sudah bisa saya ambil?" tanya Arsandi, yang kini sudah berdiri di depan meja kerja Tuan nya.
"Kau? Sejak kapan kau masuk? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu? Ceroboh sekali kau ini!" umpat Danu, menyembunyikan keterkejutan nya, saat melihat Arsandi sudah berdiri di depan meja kerja nya.
"Biasa nya juga gak ketuk pintu, saya langsung masuk, Tuan!" cicit Arsandi.
"Itu dulu, mulai sekarang... biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk!" titah Danu, tidak ingin di tawar lagi.
Sreeek.
Danu menggeser berkas yang ada di atas meja, menjadi lebih dekat di hadapan nya. Lalu membubuhi tanda tangan nya di atas berkas yang di butuhkan Arsandi.
"Takut ketawan lagi senyum senyum sendiri ya Tuan? Apa Tuan Sudah mendapatkan madu dari Nona kecil?" gumam Arsandi pelan, dengan tatapan menggoda sang Tuan.
"Cihhhs kau ini, mau tau urusan orang aja! Kerja kan saja tugas mu dengan baik!" Danu menyodorkan berkas itu pada Arsandi.
"Aku tau Tuan, gelagat Tuan itu sangat mudah di baca. Pasti saat ini, hati Tuan sedang merasakan yang nama nya berbunga bunga, iya kan?" ledek Arsandi lagi.
"Dari mana kau tau soal itu? Aku tidak mengatakan nya pada ku!" Danu menegak kan duduk nya, menatap Arsandi dengan tatapan penuh tanya.
"Dari sejak datang ke kantor, senyum Tuan sudah terpatri. Seakan sudah tertulis di sana jika Tuan sudah berhasil mengecap madu nya Nona Layla!" ucap Arsandi.
Danu tampak berfikir, sebelum telpon nya yang ada di atas meja berdering.
__ADS_1
"Pergi lah!" usir Danu, tanpa menoleh ke arah Arsandi, namun senyum semakin melebar saat melihat Layla tengah menghubungi nya.
"Cihs dasar bos bucin. Baru kena sekali, langsung lupa daratan!" gumam Arsandi pelan.
"Aku mendengar mu! Ku potong bonus mu bulan ini!" ucap Danu datar.
"Kejam nya!" sungut Arsandi, meninggalkan ruang kerja Tuan nya.
'Kenapa aku jadi deg degan gini, harus bicara lembut, atau datar seperti biasa ya? Ah sial kenapa jadi salah tingkah gini sih! Kan cuma bicara di telepon!' umpat Danu meski dalam hati.
Cuma mendapatkan telpon dari Layla, mampu membuat nya salah tingkah.
^^^"Ha..."^^^
Tut tut tut tut.
"Sialll, aku baru mau menjawab nya, kenapa sudah terputus?" umpat Danu, menatap layar hape nya kini.
Danu mencoba menghubungi nomor Layla.
..."Nomor telepon yang anda tuju, sedang terhubung dengan sambungan lain nya. Mohon menunggu beberapa saat lagi!"...
Di kantor milik Noval.
"Ayo dong pah, kita buat acara buat Lulu. Sekalian kita undang Layla sama menantu kita itu." rengek Sifanye, yang menggenggam erat jemari sang suami.
"Gak enak mah... lagi Layla aja kita gak pernah rayain ulang tahun, masa sekarang Lulu mau di rayain. Udah kita buat acara bertiga aja, kita belanja, biar Lulu beli apa yang ia suka terus kita bertiga makan di luar. Itu juga pasti udah cukup buat Lulu!" tolak Noval.
"Gak enak kalo harus melibatkan Layla dan Danu, mah! Mereka pasti sibuk. Bisa juga kan Danu dan Layla sudah punya rencana sendiri untuk liburan." jelas Noval lagi.
"Di coba aja dulu pah! Masa iya Layla mau menolak permintaan papa! Cuma semalam ih nginep di rumah, kita bakar bakar barberkiyuan pah!" bujuk Sifanye, gak mau kalah.
Noval tampak berfikir, menatap sang istri dengan tatapan menyelidik.
'Apa aku harus turutin apa kata Sifanye? Aku takut aja ada rencana lain di balik permintaan Sifanye ini!'
Sifanye mengerucut kan bibir nya, melihat sang suami yang diam menatap nya.
'Apa mungkin papa tau rencana ku ini ya? Atau papa udah mencium bau bau rencana yang aku buat untuk Layla? Aku harus bisa meyakinkan papa!' batin Sifanye.
__ADS_1
"Pah! jangan bilang papa gak setuju sama ide mama ini, karena pikiran buruk papa ke mama! Iya kan? Papa mikir jelek ke mama kan? Mama gak mungkin celakain Layla pah! Sejahat itu papa mikir nya!" Sifanye menggeser duduk nya, menyilangkan ke dua tangan di depan dada, dengan wajah marah.
"I- iya udah papa ngalah, nanti biar papa coba buat ngomong sama Layla. Biar undang makan malam sekalian barberkiyuan ya!" Noval beranjak dari duduk nya, membujuk sang istri yang kini merajuk.
"Gitu dong dari tadi! Tapi tetep aja, papa gak akan mama kasih jatah malam ini! Papa tidur sendiri!" Sifanye menepis tangan besar Noval yang mengelusss lengan nya.
Dengan wajah pura pura kesal, Sifanye meninggalkan ruang kerja suami nya.
'Akhir nya bisa juga aku membuat Layla kembali ke rumah itu, tinggal aku membuat anak itu bergerak untuk menjebak Danu!' batin Sifanye, melangkah dengan hati puas memikirkan kemungkinan keberhasilan nya memisahkan Danu dan Layla.
Sementara di ruang kunjungan, di mana Aleta mendekam.
"Poko nya aku gak mau tau, papa harus ke luarin aku dari tempat ini! Aku gak terima atas tuduhan Danu, pah!" ucap Aleta dengan penuh emosi.
Rasa hormat nya seakan musnah di depan pria paruh baya yang kini duduk di depan nya, dengan meja sebagai jarak di antara ke dua nya.
"Nuduh? Kamu bilang Danu menuduh mu? Kau salah besar Aleta, justru karena Danu memiliki bukti yang kuat, membuat polisi yakin jika kamu lah dalang dari semua yang terjadi pada perusahaan nya! Kamu juga berencana melukai seorang pelajar!" omel Basuki dengan suara meninggalkan.
Deg.
'Papa tau dari mana? Aku bahkan baru berencana melukai gadis sialan itu kan!' batin Aleta tersentak kaget.
"Papa gak habis pikir dengan jalan pikiran kamu, Aleta! Bersabar lah untuk mencapai tujuan mu!" ucap Basuki dengan menyeringai.
"Papa bakal membantu ku?" tanya Aleta dengan kening mengkerut, menatap serius sang ayah.
"Papa pasti akan membantu ladang uang papa! Kau pikir, untuk apa papa jauh jauh terbang ke sini kalo hanya melihat mu di dalam bui!" umpat Basuki, menggenggam jemari sang putri.
Aleta menyeringai. "Apa rencana papa?"
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1