
...🥀🥀🥀...
"Nyata kan! Jadi kamu mau kan, memiliki hubungan dengan saya?" tanya Arsandi serius.
"Saya___"
"Saya apa?" desak Arsandi.
Mery menelan saliva nya dengan sulit. 'Kalo gue tolak, gue takut pak Arsandi ngejauh, sedang gue udah mulai nyaman sama ini orang. Kalo gue terima, gue masih pengen menikmati masa muda, gak mau terikat harus buru buru punya anak.'
"Apa yang membuat mu ragu, Mery?" tanya Arsandi.
"Ahahahha bapak pasti lagi bercanda kan, udah pak... jangan bercanda lagi. Ayo lanjutin jalan nya pak." ucap Mery mengalihkan pembicaraan.
Arsandi membuang nafas kasar, lalu ia merogoh saku celana dengan tangan kanan nya, lalu tangan kiri nya meraih tangan kanan Mery.
"Kamu bisa kenakan ini, jika kamu sudah bisa menerima saya. Tapi kamu bisa menyimpan nya, selama kamu masih memikirkan nya. Fikirkan baik baik, saya mencari teman sehidup semati, bukan untuk main main." ujar Arsandi, dengan tangan kanan mengelusss puncak kepala Mery.
"Jadi ini bukan halusinasi saya, pak?" tanya Mery dengan kening mengkerut.
"Ini nyata, coba aja kamu pakai cincin dan kalung itu. Atau mau aku bantu kenakan, biar jadi bukti jika itu nyata." tawar Arsandi.
"Bapak beneran serius sama saya? Gak lagi bercanda?" tanya Mery lagi memastikan, melihat kilaun permata membuat nya menelan saliva nya dengan sulit.
"Ini terlalu mahal pak, kaya nya bapak salah kalo pilih saya. Saya bukan siapa siapa pak, saya bukan apa apa juga." Mery mengembalikan kotak berudu itu pada pemilik nya.
Arsandi membuka kotak berudu itu, tangan kanan nya menganbil cincin dari tempat nya, lalu menyempat kan cincin itu di jemari Mery.
"Sekarang cincin itu sudah pada pemilik nya, kamu berhak menerima nya. Kamu sangat amat ternilai di mata saya. Kamu sangat bearti buat saya. Kamu separuh nyawa saya. Apa itu cukup menjadi alasan untuk kamu menerima saya?" ujar Arsandi panjang kali lebar.
"Ini indah banget pak." ucap Mery dengan mata berkaca kaca.
'Ya Allah, mimpi apa gue. Pak Arsandi beneran cinta sama gue? Apa kata Julia kalo tau ini?' batin Mery.
Arsandi memasangkan kalung yang tampak indah di leher Mery.
__ADS_1
"Kamu ibarat permata, yang gak akan pernah redup selama nya di hati ku! Di mana pun kamu berada, ingat aku dalam langkah mu." ucap Arsandi.
Cup.
Arsandi mengecup kening Mery.
"Akan aku jaga hati dan perasaan mu, akan aku lakukan apa pun untuk mu! Jadi lah teman hidup ku, Mery!"
Gak ada kata yang mampu terucap dari bibir Mery, selain bibir yang bergetar dengan ke dua mata yang kini berembun, hingga banjir air mata kini gak terhindar di pipi Mery.
"Terimakasih sudah mau mencintai ku, pak Arsandi, pria bodohhh yang bisa bisa nya mencintai bocah kecil seperti ku!" ucap Mery dengan terisak di tengah tangis nya.
Arsandi menghapus air mata Mery. "Dasar bodohhh, ada yang menyatakan cinta itu harus nya kamu merasa senang, bukan nya malah mewek." omel Arsandi.
"Tapi aku beneran terharu, aku pikir gak akan ada yang menyukai ku, tapi aku salah. Bisa bisa nya orang setampan, sehebat, sekeren bapak bisa mencintai ku! Aku apa lah pak!" ucap Mery dengan masih sesenggukan.
Arsandi membawa Mery dalam dekapan nya. "Udah nangis nya, nanti wajah mu semakin jelek!" nyinyir Arsandi.
Kreeek.
...---...
Ceklek.
"Assalamualaikum ayah!"
Pintu ruang kerja Noval di bukan, dengan di susul ucapan salam yang di lakukan Layla.
"Waalaikum salam, sayang. Anak ayah datang dengan siapa?" jawab serta tanya Noval, melihat kedatangan Layla di ruang kerja nya.
"Tadi di antar ka Arsandi. Ayah sibuk?" tanya Layla, dengan mencium punggung tangan kanan sang ayah.
"Gak kok sayang, ada apa sayang? Bagaimana liburan mu kemarin? Cerita kan sama ayah!" tanya Noval, saat melihat Layla mendudukan diri nya di kursi yang ada di depan nya, dengan meja sebagai penghalang ke dua nya.
"Alhamdulillah nyenengin yah. Kabar ayah sama mama gimana? Baik baik aja kan?" tanya Layla dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Maaf sayang, mungkin ini akan membuat mu kaget, tapi ini lah kenyataan nya." terang Noval, menautkan ke dua tangan nya di atas meja.
Layla mengerutkan kening nya. "Kenyataan apa yah? Ayah sama mama gak lagi bertengkar kan?" tanya Layla lagi.
"Ayah sudah menceraikan mama mu, dan Lulu berada di bawah asuhan ayah." ucap Noval.
"A- apa yah? Ayah berpisah dari mama? Mama ngelakuin apa lagi yah? Ayah sama mama bertengkar? A- apa karena Layla, ayah dan mama berpisah?" tanya Layla yang gak percaya.
"Keputusan ayah menceraikan mama mu, bukan karena kesalahan kamu, sayang! Tapi karena ada masalah yang gak bisa di selesaikan, ayah dan mama sudah berbeda jalan tujuan." ucap Noval.
'Gak mungkin aku katakan sama Layla, jika selama ini Lulu bukan darah daging ku, Lulu bukan adik kandung nya.' batin Noval.
"Ayah gak bisa bohongin Layla, Layla udah besar yah! Layla berhak tau apa yang udah terjadi dengan ayah. Layla ini Putri ayah kan?" Layla beranjak dari duduk nya, menghampiri sang ayah lalu memeluk nya.
"Jika ayah mau, ayah bisa mengatakan apa yang ayah rasakan saat ini, jangan anggap Layla anak kecil lagi yah! Ayah gak sendiri, ayah punya Layla, putri ayah." ucap Layla, berusaha tegar di depan Noval. Namun akhir nya air mata itu tetap jatuh dan tak terkendali.
'Selama ini ayah pasti sedih banget, seorang diri tanpa teman berbagi keluh kesah nya. Maafin Layla ya yah! Layla belum bisa buat ayah bahagia.'
Noval mengelusss punggung Layla yang bergetar karena tangis.
"Ayah gak apa sayang? Ayah baik baik aja. Kamu jangan nangis lagi. Ayah aja gak apa apa. Ayah biasa aja." bohong Noval.
Layla mengendurkan pelukan nya, mata nya menelisik lebih dalam mata sang ayah, tampak kantung mata di bawah nya, belum lagi mata sayu di ke dua mata tua sang ayah.
"Udah berapa hari ayah kurang tidur? Pasti ayah gak jaga waktu tidur dan istirahat ayah! Gimana sama makan ayah? Ayah pasti makan gak beraturan. Benar kan apa kata Layla!" tebak Layla dengan yakin.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1