
...🥀🥀🥀...
"Ayah, berikan Danu kesempatan." pinta Layla dengan menatap Noval dengan tatapan penuh harap.
"Jadi kau setuju dengan rencana Danu, La?" tanya Noval, meyakinkan sendiri jika Layla menginginkan hal yang sama dengan Danu.
Sifanye menatap tajam Layla, Sifanye menggelengkan kepala nya, di saat ke dua mata nya bertemu dengan tatapan Layla.
Kamu tidak bisa berkata iya Layla, jika sampai Layla menikah dengan Danu, bisa hilang kesempatan ku untuk menjadikan Danu suami nya Lulu, aku juga gak bisa lagi mengawasi Layla, batin Sifanye.
Batin Layla, kenapa mama Sifanye gak setuju? Apa lagi yang akan mama Sifanye lakukan jika aku menolak keinginan Danu? Aku ada di rumah pun, hanya akan menjadi beban untuk keluarga. Lebih baik aku pilih opsi ke dua, setelah itu pikirkan belakangan.
Danu menyadari arah pandangan Layla. "Pikirkan baik baik La, aku tidak memaksa mu, aku tidak bisa menjanjikan mu hidup dalam kemewahan, setidak nya aku ingin kau merasa nyaman dalam hubungan kita kelak. Aku ingin kau bisa menerima hubungan ini atas pilihan mu sendiri." terang Danu.
"Mama pikir ini terlalu terburu buru, bagaimana jika orang lain berfikir Layla hamil, bisa mencoreng nama baik keluarga kita bukan yah?" tanya Sifanye pada Noval, seolah meminta dukungan Noval atas perkataan nya.
"Pernikahan ku dan Layla akan di gelar secara tertutup, tan... jika sampai ada orang luar yang tau, itu berarti ada salah satu keluarga yang membocorkan nya ke luar." Danu melirik Noval, "Bukan begitu paman?"
"Kau benar, nak... acara mu jika di gelar secara tertutup dengan keluarga yang menghadiri... kecil kemungkinan nya untuk pihak luar mengetahui nya." Noval mendukung keputusan Danu.
Keputusan pun sudah di buat, kini di ruang rawat hanya menyisakan Danu dan Layla. Setelah Noval dan Sifanye memilih pulang.
"Kenapa lo masih di sini?" tanya Layla cuek.
"Lupa apa yang aku katakan pada mu? No lo gue!" cicit Danu dengan menatap tajam Layla.
"Cihss segitu penting nya kah aku kamu buat lo!" cicit Layla.
Tanpa menjawab, Danu langsung memberi tatapan tajam pada Layla. Membuat Layla, mau tidak mau harus meralat panggilan untuk diri nya dan Danu.
"Iya, iya, kamu, kenapa gak pulang aja sih? Balik kantor kek, ke sekolah kek. Gue di... maksud nya aku di sini bisa sendiri, kehadiran kamu juga gak penting penting amat kan di sini!" celetuk Layla.
"Gak usah banyak omong. Istirahat aja udah, kamu kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?" Danu menatap Layla dengan intens.
"Yaaah nama nya juga gak bisa lagi nahan nyeri, ya jadi pinsan lah. Di bawa ke sini sama ayah, itu doang yang ayah bilang tadi ke aku." ucap Layla.
"Kau serius? Tidak ada yang kalian sembunyikan dari ku?"
"Emang kamu mau nya aku sakit parah gitu? Sakit yang membahayakan nyawa?" cicit Layla asal.
"Husss kalo ngomong tuh! Mau makan buah lagi? Atau ada yang ingin kamu makan?" tawar Danu.
Layla menatap nakas yang ada di dekat kepala nya, di atas nya terdapat aneka buah, air meneral dalam botol.
__ADS_1
Layla mengerucutkan bibir nya, mulut lagi pahit gini, mau makan buah juga gak enak kali rasa nya.
Danu melihat ke arah pandangan Layla. "Emang mau makan apa? Biar aku belikan!"
"Tiramisu, salad buah, kwetiau goreng, ceker mercon, kaya nya enak. Aku mau itu!" ucap Layla dengan menahan air liyur nya yang hendak metes, sudah membayangkan betapa lezat nya tiramisu dan salad buah.
Danu mengerutkan kening nya. "Itu aja? Gak ada yang lain?"
Layla menggeleng. "Itu aja belom di beliin. Udah sana pergi! Cari tuh semua yang aku sebutin tadi!"
Layla menautkan ke dua tangan nya, dengan senyum senyum sendiri, lantaran berfikir jika Danu lah yang akan mencari semua makanan yang Layla sebutkan tadi.
Beneran nih, Danu yang mau nyariin apa yang gue sebut tadi? Baik banget sih, belum nikah aja udah jadi calon suami siaga. Kalo kaya gini sih, cinta bisa datang tanpa di undang.
Namun pemikiran Layla meleset dan harus kecewa, senyum nya musnah dalam seketika.
"Bawakan aku tiramisu, salad buah, kuwetiyau goreng dan ceker mercon ke rumah sakit, aku tunggu sekarang juga!" Titah Danu, ia langsung memutuskan sambungan telepon nya, tanpa perlu mendengar jawaban dari orang yang ia hubungi.
Layla menggelengkan kepala nya, eh bujuk busrakkk, kirain dia yang mau jalan, susah susah nyari... lah kapan masih nyuruh orang buat nyariin makanan yang gue mau, aigooo dasar Danu nyeselin!
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Danu saat melihat raut wajah kecewa terbit di wajah Layla.
"Gak, aku mau tidur... jangan ganggu!"
Plak.
Layla mendaratkan telapak tangan nya pada tangan Danu.
"Berisik!" sungut Layla.
Sreek.
Danu menyingkirkan tangan Layla dari atas tangan nya dengan kasar.
"Awwwhhh! Dasar bodohhh! Tangan ku sakit ini!" pekik Layla.
"Kau duluan yang mulai." Danu beranjak dari duduk nya, memilih duduk di sofa dengan melanjut kan perkejaan nya lewat hape nya.
Layla membalikkan tubuh nya, memunggungi Danu. Suntuk banget gak ada hape, bosen cuma tidur doang, lagi juga kenapa sih ayah pake bawa aku ke sini! Anak anak tau gak ya gue di sini?
Ruang rawat nampak hening, hanya terdengar tetesan air infus. Layla dan Danu tidak saling bicara meski berada di ruang yang sama. Danu benar benar merasa canggung, dan belum terbiasa berada di ruang yang sama dengan Layla.
Danu memilih menceburkan diri nya dengan pekerjaan untuk mengurangi kecanggungan nya.
__ADS_1
Layla tidak bisa lagi menyembunyi kan kegelisahan hati nya, membuat nya bertanya pada Danu.
"Danu! Ssst! Apa kau tidak akan menyesal untuk mempercepat pernikahan kita? Gak malu nikah sama bocah?" tanya Layla dengan suara yang terdengar ragu, ia meremasss selimut yang menutupi tubuh nya.
Danu mengerutkan kening nya. "Sebenar nya apa yang ingin kau katakan?"
"Kita tidak saling cinta, Danu... apa pernikahan ini akan berjalan lancar, atau kandas seperti ibu dan ayah?" Layla menatap ke arah Danu.
Danu beranjak dari duduk nya, menghampiri Layla. "Gak usah banyak berfikir. Sehatkan saja dulu kondisi mu." Danu mengelusss pucuk kepala Layla.
Ceklek.
"Maaf bos, a..." Arsandi yang masuk ke ruang rawat tanpa mengetuk pintu, dapat melihat Danu yang berusaha perhatian pada Layla.
"Lain kali ketuk pintu sebelum masuk!" omel Danu dengan datar, wajah nya tampak masam.
"Salah lagi! Ini pesenan yang anda minta! Makanan sebanyak ini, apa akan di habiskan bos seorang?" tanya Arsandi dengan meletakkan 4 buah tentengan yang ia bawa di atas nakas.
"Aku mau salad!" Layla berusaha bangkit dari tidur nya.
"Biar ku bantu!" dengan sigap Danu membantu menahan punggung Layla, dan mengatur posisi ranjang kepala Layla, membuat gadis itu senyaman mungkin.
Layla kesulitan untuk makan sendiri, jadi lah Danu yang merebut apa yang Layla pegang, dan menyuapkan Layla salad buah.
"Enak kan Non rasa nya?" tanya Arsandi, menunggu jawaban Layla dengan harap harap cemas.
Layla memejamkan mata nya, menikmati sensasiii buah yang ada di dalam mulut nya. "Enak banget."
Layla memakan nya dengan lahap, namun tidak lama perut nya terasa sakit kembali.
"Uuuuhhhh!" ke dua tangan Layla berada di atas perut nya dengan tubuh condong ke depan, wajah nya tampak meringis saat ia merasakan perut nya seakan di remas.
"Ada apa lagi? Ayo makan, kata mu ini enak kan!" tanya Danu dengan kening mengkerut, melihat lagi wajah Layla yang cepat berubah
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....
...Makasih yooo ☺️☺️...
__ADS_1