
...🥀🥀🥀...
"Ka Danu!" seru Layla dengan terpaku, saat melihat kondisi Danu, pria yang berbaring tidak berdaya di atas tempat tidur pasien.
"Ya Allah nak, kenapa nasib papa buruk sekali!" seru papa Baskoro gak kalah heboh dengan Layla. Sama sama terpaku, menatap putra semata wayang nya.
'Dasar bos gendeng, ada aja kelakuan nya! Maaf Nona, kau sedang di tipu mentah mentah oleh suami mu!' batin Arsandi, saat melihat Layla yang berjalan lemas, tatapan nya kosong ke arah Danu.
Grap.
Dengan sigap papa Baskoro merangkul Layla yang hampir limbung.
"Kamu masih kuat kan sayang? Danu pasti akan sembuh, percaya sama papa, Danu pasti bisa melewati masa kritis nya!" ucap papa Baskoro berusaha meyakinkan Layla. Serta menguatkan hati menantu perempuan nya itu.
Arsandi langsung beranjak dari duduk nya. Berdiri di ujung kaki Danu, dan membiarkan Layla dan papa Baskoro lebih dekat dengan Danu.
"Ka Danu, pah! Gimana kalo sampe ka Danu ---" bulir bening terus menerobosss ke dua mata Layla dengan deras. Ia langsung berhambur memeluk tubuh Danu. Menangis di atas dada Danu yang bidang dengan punggung bergetar.
Baskoro mengelusss punggung Layla. "Sabar nak, do'a kan suami mu, siapa tau... setelah mendengar do'a mu. Danu akan langsung membuka ke dua mata nya." ucap papa Baskoro, menguatkan hati Layla.
"Papa tinggal kalian dulu ya! Mau ada yang papa bicarakan dengan Arsandi. Jika butuh apa apa, panggil papa ya, nak!" pesan Baskoro sebelum meninggalkan Layla dan Danu di dalam ruang rawat.
"Ikut saya sebentar Arsandi, mungkin setelah mendengar apa yang saya sampaikan, bisa menjadi titik terang atas pelaku yang mencelakai Danu!" titah Baskoro, dengan gerakan kepala pada Arsandi.
"Baik Tuan, kebetulan pihak kepolisian juga sudah memulai penyelidikan atas apa yang menimpa Tuan Danu!" timpal Arsandi.
Baskoro mengelusss kening Danu yang kini kepala nya di perban. Kaki kiri Danu juga di perban, sedangkan ke dua tangan nya mendapatkan perawatan yang serupa, di perban dari batas jemari sampai lengan.
Baskoro menggelengkan kepala nya. 'Dasar bocah nakal, luka mu tidak separah ini, bisa bisa kau minta pada papa untuk mengatakan di depan Layla, kalo kamu kritis. Dasar wong semprulll!' batin papa Baskoro.
__ADS_1
Baskoro menelan saliva nya, mulai memainkan peran nya. Dengan ekor mata nya yang sesekali melirik Danu ,dan Layla secara bergantian.
"Kasian sekali nasib papa, malah belum sempat menimang cucu. Kamu harus kembali terbaring di rumah sakit! Entah siapa yang akan menemani hari tua papa, jika hal buruk terjadi pada mu nak!" ucap Baskoro dengan sedih yang di buat buat.
Deg.
Hati Layla bak terpukul benda tumpul yang tidak terlihat, mendengar apa yang di katakan papa Baskoro. Membuat nya sesak seketika di dalam dada. Tidak mampu mengeluarkan sepatah kata, seakan Layla benar benar menyesali keputusan nya.
Layla semakin erat memeluk Danu, semakin kencang juga isak tangis nya dengan punggung yang bergetar hebat.
'Maaf ka, maaf, aku salah, harus nya aku memberikan apa yang sudah menjadi hak mu, maaf ka. Maaf kan aku. Harus nya aku membalas pesan mu. Harus nya aku bisa bersikap lebih baik lagi pada mu. Maaf kan aku ka. Buka mata mu ka, aku mohon. Ya Tuhan, berikan lah kesadaran untuk suami hamba, kembalikan ia pada hamba. Kembalikan pria bodohhh ini untuk tetap di sisi hamba.' jerut batin Layla.
Danu membuka satu mata nya, tangan nya ia gerak gerakkan. Dan beruntung nya Arsandi melihat ke arah Danu, menangkap kode isyarat yang Danu berikan pada nya.
"Tuan besar! Ayo kita temui dokter. Kita tanyakan pada dokter... apa yang bisa kita lakukan untuk kesembuhan Tuan Muda!" cicit Arsandi, menyadarkan papa Baskoro dengan drama yang tengah ia main kan.
"Papa titip Danu ya La! Sebentar lagi ayah mu tiba di sini." ucap papa Baskoro.
Tangis Layla semakin pecah, setelah mendengar pintu ruang rawat yang tertutup. Suatu pertanda jika papa mertua nya, dan Arsandi sudah meninggal kan nya berdua di dalam bersama dengan Danu.
"Maafin aku ya ka, aku belum bisa jadi istri yang baik buat ka Danu, aku belum bisa jadi istri yang sempurna buat ka Danu! Bangun ka, buka mata kaka, aku janji, kalo kaka sembuh, apa pun akan aku lakukan buat kaka. Bangun ka!" ucap Layla dengan sungguh sungguh.
Layla mendudukkan diri nya di tepian ranjang rawat, menumpukan dagu nya pada dada bidang Danu. Dengan posisi yang seperti itu, Layla dapat melihat wajah pucattt Danu dari dekat.
"Maaf kan aku ka, aku kangen ka Danu. Ka Danu buka mata nya! Kita mulai dari awal ka, kita sama sama belajar terima status kita ini ka. Aku mohon ka, jangan buat aku menyesal seumur hidup ku, bangun ka! Aku benar benar merindukan ka Danu! Siapa yang akan memghibur ku di saat aku sedih ka? Siapa yang akan menjadi hero ku, di saat aku membutuhkan pahlawan ka? Siapa yang akan menjadi imam ku, di saat aku sholat ka? Siapa yang akan memasak kan aku, jika aku lapar ka?"
Tring tring tring, tring tring tring.
"Siapa lagi nih yang telpon, gak tau gue lagi sedih apa. Gak tau suami gue lagi kena musibah apa!" gerutu Layla, merogoh saku seragam nya, meraih hape nya dan melihat siapa yang menghubungi nya.
__ADS_1
[ "Gimana La, keadaan pak Danu?" ] tanya Nina saat sambungan telepon nya terhubung dengan Layla.
Bak anak kecil yang mengadu pada sang ibu. Layla mengatakan kondisi Danu, dengan terisak pada Nina.
^^^"Kondisi suami gue parah Nin, ka Danu kritis Nina huaaaa, gimana nasib gue, Nin! Gue bakal jadi istri durhaka gak Nin. Gue belum kasih hak ka Danu sebagai suami. Gue gak mau ka Danu gentayangan Nin."^^^
["Astagaaa La, jangan ngomong gitu. Percaya deh sama gue, pak Danu pasti bakal sembuh kok. Gue yakin lo cinta kan sama pak Danu, dengan kekuatan cinta lo La, mukjizat dari Allah juga. Suami lo pasti bakal sembuh, bisa kasih hukuman buat lo!" ] ucap Nina yang terdengar terkekeh di telinga Layla.
^^^"Ngomong apaan si lo, Nin! Gak jelas lo. Siapa juga yang cinta sama ka Danu. Gue cuma ngerasa berhutang aja sama ka Danu, dia udah baik banget sama gue, gue bakal kehilangan banget... kalo ka Danu gak ada di hidup gue, gue gak bisa tanpa ka Danu, gue mau ka Danu sembuh. Gue..."^^^
[ "Fixs ini mah lo udah cinta La, udah maen hati lo sama pak Danu. Ciyeee Layla, akhirnya lo ngakuin perasaan lo juga!" ]
Belum selesai Nina bicara, Layla memutuskan sambungan telepon nya dengan semburat merah di pipi.
"Apa iya, gue cinta sama ka Danu? Gue udah main hati sama ka Danu?" gumam Layla.
Layla menatap wajah Danu yang masih terpejam, lalu ke dua tangan Layla terulur dan menempel di depan dada, merasakan degup jantung nya yang gak karuan.
"Sejak kapan di sini terpatri nama ka Danu?" gumam Layla pelan, namun masih bisa di dengar Danu.
Layla menatap tajam ke arah ke dua mata Danu.
Bugh.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...