
...🥀🥀🥀...
"Kalian bisa bahagia saat ini, tapi lihat nanti! Aku buat kamu menangis Layla, Mery!" sungut Julia dari kejauhan.
Mery dan Layla berjalan menyusuri selaras kelas, melewati beberapa kelas dan anak tangga untuk sampai pada kelas mereka.
"Kemaren gimana La? Apa udah ada perkembangan mengenai kasus almarhumah nyokap lo?" tanya Mery menyelidik dengan suara pelan.
"Baru pak satpam yang udah jelas status nya jadi tersangka, tapi untuk dalang nya. Masih di selidikin." ucap Layla.
"Apa lo gak curiga sama seseorang gitu La?"
Layla mengerutkan kening nya. "Gak tau lah, mau curiga sama siapa lagi? Apa ada yang pantas untuk di curigai?" Layla bertanya balik pada Mery dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kali aja, nyokap lo punya musuh apa pria idaman lain gitu!" pikir Mery tanpa di saring.
Layla menoleh, menatap Mery dengan menyelidik. "Maksud nya apa? Kamu mau bilang mama Sifanye berselingkuh dari ayah Noval?" tanya Layla dengan nada gak suka.
"Bu- bukan begitu maksud aku La... ini kan cuma misalkan, kali aja. Gak ada barang berharga mama kamu yang hilang kan? Atau ada barang lain yang hilang?" tanya Mery dengan gelagepan.
'Mampusss dah gue, Layla kaya nya kesinggung banget sama perkiraan gue barusan.' batin Mery dengan mengumpat.
"Bisa bisa nya kamu ngomong gitu, Mery! Aku gak suka dengan cara pikir kamu! Harus nya kamu pikir dulu sebelum bicara!" sungut Layla, langsung masuk ke dalam kelas dengan melangkah lebih cepat dari Mery.
"Maaf La, a- aku kan cuma ngungkapin pemikiran aku aja! Kamu jangan marah sama aku dong La!" pinta Mery dengan raut wajah menyesal dengan perkataan nya.
"La, udah makan belum? Temenin gue kantin yuk! Gue belum nyarap nih!" pinta Nina setelah Layla mendaratkan bobot tubuh nya di kursi.
Belum Layla menjawab, Mery sudah berdiri di depan meja Layla, dengan tubuh condong ke depan, ke dua tangan bertumpu pada meja lalu menatap wajah Layla dengan memohon.
"Please maafin gue La, gue salah ngomong deh. Gak seharus nya gue ngomong gitu ke lo, apa lagi menyangkut nyokap lo yang udah gak ada." ucap Mery dengan mengerjapkan mata nya.
"Kalian lagi bahas apa sih?" tanya Nina, melirik Mery dan Layla bergantian dengan tanda tanya di hati nya.
"Iya! Gak usah di bahas lagi, kalo pemikiran lo masih sama ke mama gue!" cicit Layla, beranjak bangkit dari duduk nya.
Sreeek.
"Ayo kantin! Gue juga laper!" Layla menarikkk lengan Nina, hingga gadis itu ikut beranjak dari duduk nya.
"Kalian gak ajak gue?" tanya Mery dengan menatap sendu ke dua nya.
"Nyusul aja kalo mau!" cicit Layla.
'Maaf Mery, aku cuma gak suka dengan cara pikir kamu ke mama ku!' batin Layla.
Mery mendudukkan diri nya, dengan hembusan nafas kasar. 'Harus nya gue dengerin apa kata pak Arsandi, ini pasti gak mudah buat di terima sama Layla! Dasar begooo! Lo terlalu ikut campur sama masalah keluarga Layla, Mery! Lihat kan sekarang apa akibat nya!' umpat Mery pada diri nya sendiri.
__ADS_1
Tring.
Mery melihat siapa yang mengirimi nya pesan.
..."Gak usah sedih, kalo Layla gak mau jadi sahabat lo. Masih ada gue yang bakal terima lo jadi sahabat, salam manis julia!"...
Mery menggelengkan kepala nya. "Dasar bocah gak waras, Ratna, Nugi, Arsan, Aleta udah ngilang. Ternyata masih ada aja yang gak suka sama lo La. Jangan sampe gue jadi salah satu orang yang gak suka sama lo La." gumam Mery, setelah membaca pesan dari Julia.
Danu melanjutkan perjalanan nya menuju kediaman Yanto dan Tati yang baru.
"Assalamualaikum pak! Maaf, semalam Danu membatalkan pertemuan kita." ucap Danu, mencium punggung tangan kanan Yanto, yang sudah menunggu kehadiran nya di teras rumah.
"Waalaikum salam... iya gak apa apa, bapak juga harus maklum kan. Ayo duduk sini, mau bicara di dalam atau di luar?" Yanto mempersilakan Danu untuk memilih tempat mereka bicara.
"Di luar aja sini pak."
Ke dua nya terlibat pembicaraan yang cukup serius, mengenai kendala yang di hadapi restoran yang kini di kelola Yanto.
"Jadi, solusi apa yang kira kira bisa bapak ambil untuk langkah selanjut nya? Kalo di biarkan, restoran bisa aja merugi." jelas Yanto.
Danu membuang nafas nya dengan kasar. "Kita tingkatkan aja pelayanan dari para waiters pak, memberikan refill gratis untuk setiap minuman yang di pesan, berlaku untuk es jeruk, teh, lemon. Dan untuk 1 bulan ke depan rencana nya Danu akan membuka fasilitas perpustakaan, jadi pengunjung yang terbilang masih berstatus kan pelajar, bisa makan sambil mengerjakan tugas." cicit Danu panjang kali lebar.
"Ide bagus tuh, omong omong. Apa nak Danu punya rencana untuk pendidikan Layla selanjut nya?" tanya Yanto, menyimpanggg dari topik pembicaraan yang sedang di bahas ke dua nya.
"Danu gak keberatan untuk Layla melanjutkan studi nya, tapi untuk saat ini. Danu dan Layla sama sama belum membahas ini, pak!" cicit Danu.
"Kaka Layla lagi sekolah. Apa Dea merindukan kaka Layla?" tanya Danu, mengelusss rambut panjang Dea yang di kepang dua.
'Menggemaskannn sekali, lucu kaya nya kalo aku dan Layla punya anak perempuan. Layla pasti akan mencurahkan kasih sayang nya untuk putri kami kelak.' batin Danu, tanpa terasa senyum terukir di bibir nya.
"Dea kangen sama kaka Layla, kapan kapan ajak kaka Layla main ke sini ya ka!" bujuk Dea dengan tatapan memohon.
Namun Danu gak merespon, hanya senyum yang nampak dari bibir nya, tatapan nya pun kini penuh harap.
'Apa yang sedang di pikirkan nak Danu ya? Sampe ngelamun gitu!' batin Yanto mengamati wajah Danu.
Plak.
Dea menggeprak salah satu paha Danu, saat ucapan nya gak dapat jawaban.
"Kenapa gak jawab? Ka Danu gak mau ajak kaka Layla main ke sini ya? Dea kan udah gak nakal lagi!" cicit Dea dengan wajah polos nya.
"Ah i- iya... ada apa Dea?" tanya Danu, tersadar dari lamunan nya.
"Kapan kaka Layla main ke sini?" tanya Dea dengan mata mengerjap.
"Nanti ya, pasti ka Danu ajak kaka Layla ke sini." ucap Danu.
__ADS_1
Dreet dreeet dreeet.
Telpon Danu berdering, membuat pria itu merogoh saku jas dalam nya dan mengeluarkan benda pipih nya.
'Ayah Noval? Apa ada urusan yang sangat mendesak ya? Gak biasa nya ayah Noval telpon di jam segini!' pikir Danu, menatap layar hape nya.
"Danu jawab telpon dulu, pak!" izin Danu, sebelum menjawab panggilan telepon nya.
"Silahkan nak, mungkin sangat penting." ucap Yanto, gak mempermasalahkan nya.
[ "Assalamualaikum yah, ada apa yah? Gak biasa nya ayah telpon pagi pagi begini." ] tanya Danu, setelah menjawab panggilan telepon nya.
^^^"Bisa nak Danu temani Ayah ke kantor polisi? Lulu resmi menjadi tahanan atas kasus mama Sifanye, nama Lulu terseret di dalam nya nak!"^^^
[ "Apa yah? Ayah tunggu di rumah, Danu langsung jemput ayah ya!" ] seru Danu dengan keterkejutan nya mendengar pengakuan Noval.
^^^"Iya nak, ayah tunggu. Tolong rahasia kan ini dari Layla dulu."^^^
[ "Iya yah." ]
Danu menyimpan benda pipih nya, menurunkan Dea dari pangkuan nya.
"Maaf pak, Danu harus pergi sekarang juga. Untuk masalah resto, bapak tinggal jalanin yang ada aja. Selebih nya biar jadi urusan Danu." terang Danu.
"Iya, apa pun yang terjadi pada masalah kalian, usahakan untuk selalau bersama. Kalian berdua harus saling mendukung!" ucap Yanto penuh harap, menepuk bahu Danu.
"Pasti pak. Danu jalan dulu!" Danu pamit, melangkah masuk ke dalam mobil nya.
Tring, tring tring.
Belum juga Danu melajukan mobil nya. Dari benda pipih nya terdengar notifikasi hijau berkali kali.
Danu menatap layar hape nya, membuka pesan dari orang suruhan nya yang menyelidiki keterlibatan Lulu, dalam tewas nya Sifanye.
"Kurang ajarrr, bisa bisa nya bocah itu berbuat nekad!"
Di belakang setir kemudi, Danu mengumpat atas apa yang di lakukan Lulu, adik ipar nya itu.
Tok tok tok.
Seseorang dari luar, mengetuk kaca pintu mobil Danu.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
__ADS_1
Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya.