
...🥀🥀🥀...
"Bagaimana dengan kelakuan nya selama di sini? Apa kau yakin, tidak ada yang mencurigakan dari nya?" tanya Danu dengan tatapan menyelidik.
"Tidak ada Tuan." jelas Jaya singkat.
"Bagaimana dengan perilaku nya di mata teman taman nya? Mustahil jika tidak ada yang tau jika dia gila!" umpat Danu menatap jengkel Jaya.
"Maaf Tuan. Apa perlu saya kumpulkan karyawan lain nya, untuk menanyakan." ide Jaya.
"Tidak perlu, aku sudah menghubungi pihak rumah sakit sumber waras, biar mereka yang urus. Mengenai keluarga nya... temui aku jika ada yang keberatan dengan keputusan ku! Masih untung aku tidak membawa nya ke jalur hukum!" gerutu Danu.
"Baik Tuan, untuk saat ini bagaimana dengan Mita?" tanya Jaya.
"Aku sudah katakan pada mu, pihak rumah sakit sumber waras yang akan datang ke sini, membawa wanita gila itu! Bagaimana dengan para pengunjung?" tanya Danu dengan tangan memainkan benda pipih nya.
"Mengenai kecelakaan yang di alami Nona, ada beberapa pengunjung yang merasa khawatir dengan kondisi Nona Tuan, bahkan ada yang menanyakan nya langsung pada saya. Ada juga yang ingin menjenguk Nona. Tapi Tuan, Nona tidak apa apa kan sekarang??" tanya Jaya dengan tatapan khawatir.
"Do'akan saja istri ku cepat pulih. Aku titip restoran pada mu! Jika ada masalah, hubungi aku! Setelah restoran tutup, kirimkan laporan keuangan nya pada ku!" titah Danu, mengingatkan kembali tugas Jaya.
Jaya mengantar Danu sampai ke mobil nya.
"Hati hati Tuan, semoga Nona cepat sembuh." ujar Jaya lalu menutup pintu mobil Danu.
Jaya menatap mobil Danu yang semakin jauh dari pandangan nya.
"Kapan aku jadi bos, beruntung sekali istri nya Danu itu. Masih muda, sudah di buatkan restoran semewah ini." hembusan nafas ke luar begitu saja dari bibir Jaya.
"Kerja keras pak, jangan iri sama apa yang di miliki orang lain." ujar Asih, yang gak tau sejak kapan sudah berdiri di samping Jaya.
...---...
Nina, Deri dan Mery yang mendapat kabar jika Layla masuk rumah sakit, langsung meluncur ke rumah sakit di mana sahabat mereka tengah mendapat perawatan.
"Ya ampun La, gak nyangka lo gue. Baru aja tadi siang bu Ade bilang lo bakal ngerjain ulangan di sekolah bareng kita. Sekarang malah lo udah masuk rumah sakit lagi." ujar Nina dengan wajah sedih nya.
"Kok bisa si La, emang tadi pak Danu gak jagain lo?" tanya Mery ingin tau.
"Sekarang pak Danu ke mana La? Dari tadi gue gak liet pak Danu." tanya Deri ingin tau.
"Ka Danu lagi ada urusan, paling kalo urusan nya udah selesai, langsung balik ke sini. Kalian maaf ya, aku selalu ngerepotin kalian." ujar Layla gak enak hati.
"Jangan gitu ngomong nya, sama sahabat kok ngerepotin. Lo cepat sembuh ya La! Kita tuh udah lama banget gak belajar di kelas bareng, emang lu gak kangen apa buat belajar di sekolah?" tanya Nina dengan bibir mengerucut.
'Kasian banget sih temen gue satu ini, kenapa gue ngerasa nasib lo malang banget ya La! Musibah yang menimpa lo ini seakan itu gak ada abis nya. Pak Danu sayang gak sih sama lo La? Kalo pak Danu gak sayang sama lo, aduuuh gak kebayang gue, hidup melelahkan.' batin Nina menatap Layla dengan sendu.
Ceklek.
Pintu ruang rawat di buka dari luar. Nampak bu Tati masuk ke dalam ruang rawat, dengan membawa beberapa minuman dan cemilan lain nya.
__ADS_1
"Kalian, ayo minum dulu! Tadi ibu juga beli beberapa cemilan, ayo di coba!" titah bu Tati, menatap beberapa minuman kemasan dan kue yang ia beli di atas meja.
"Aduh jadi enak banget ini bu. Tau aja bu, Deri lagi laper!" Deri melangkah menghampiri bu Tati.
"Jangan kelaperan gitu deh Der, bikin malu aja si!" gerutu Nina.
"Ya maaf yank, aku beneran laper ini. Gak apa kan bu, Deri makan kue nya?" Deri mencomot kue lapis yang kini tersaji di atas meja, dengan ia yang duduk di sofa.
"Di habiskan juga gak apa kok nak, kan ibu beli memang untuk kalian." ujar bu Tati.
"Sakit banget gak La?" tanya Mery, menopang wajah dengan tangan kiri nya yang ia letakkan di tepian ranjang rawat Layla.
"Pasti sakit lah, kamu ini Mer." sungut Layla.
Mery dan Nina masih betah duduk di samping Layla dengan kursi yang ada di sisi kanan dan kiri ranjang rawat. Sementara Layla menyandar dengan posisi kepala ranjang yang lebih tinggi.
"Kalian masih lama kan di sini?" tanya bu Tati pada ke tiga sahabat putri nya itu.
"Masih ko bu, emang kenapa bu?" tanya Mery.
"Orang tua kalian sudah di beritahu, kalo kalian pulang sekolah langsung ke sini? Ibu takut orang tua kalian malah nyariin kalian." ujar bu Tati.
"Udah kok bu, udah tau." jawab Nina.
"Pak Danu kemana bu?" tanya Deri.
"Lagi ada urusan sebentar. Paling sebentar lagi kembali ke sini. Oh iya La, ada yang kamu butuhkan gak? Nanti ibu bakal pulang, paling besok ibu baru balik ke sini lagi jagain kamu." jelas sang ibu.
"Ibu gak liet hape kamu La dari tadi. Hape kamu di pegang sama nak Danu kali." pikir bu Tati.
Dring dring dring.
Dering telepon berbunyi.
"Hape lu bunyi tuh, angkat lah!" seru Mery dengan menatap ke arah Deri.
"Bukan dering hape gue itu. Hape kamu kali yank!" seru Deri pada Nina.
"Yung yank yung yank, gak malu tuh ada ibu, bahasa lu Der!" gerutu Nina dengan wajah merona.
"Nama nya juga anak muda, di maklum ya bu hehehe!" seru Deri dengan terkekeh.
"Iya anak muda lagi kasmaran." goda bu Tati.
Dering telpon kembali berbunyi.
Dring dring dring.
"Hape siapa sih? Hape lu kali La?" Mery mencari cari asal suara.
__ADS_1
"Gue aja gak tau hape gue di mana." Layla mengerucutkan bibir nya kesal.
"Ibu baru inget, itu hape ibu. Maaf maaf, ibu lupa." Bu Tati merogoh tas milik nya yang ada di atas meja.
"Astagaaa La, ibu lo udah minta cucu itu. Udah mulai pikun hehehe!" goda Mery dengan suara pelan.
"Ihs lo Mery kalo ngomong, suka bener ahahaha!" timpal Nina yang masih bisa mendengar nya.
"Ihsss kalian ke sini cuma bikin gue tambah setres." umpat Layla dengan bibir mengerucut.
Ibu Tati melangkah menghampiri Layla, dengan benda pipih yang masih ia dekatkan di daun telinga kanan nya.
[ "Iya, nanti coba kamu tanya sendiri ke Layla ya. Kali ada yang pengen Layla makan." ] ujar bu Tati, pada orang yang tengah bicara dengan nya lewat sambungan telepon.
"Siapa bu?" tanya Layla, saat bu Tati berdiri di belakang kursi yang di duduki Mery.
"Nak Danu mau ngomong sama kamu. Ini!" ibu Tati menyodorkan benda pipih nya pada Layla.
"Ciyeee pucuk di cinta, ulam pun tiba ahahahahha!" goda Mery dengan terkekeh.
"Uhuy deh, gayung bersambut oy!" timpal Nina dengan guyon nya.
"Kalian jangan berisik ihs, gue mau ngomong nih!" omel Layla dengan pipi yang bersemu.
[ "Halo ka, ada apa?" ] tanya Layla dengan ragu, apa lagi semua mata tengah tertuju pada nya kini.
^^^"Gimana keadaan kamu, sayang? Kamu mau aku beliin apa? Mumpung aku masih di jalan sayang, nanti biar aku beliin buat kamu sayang." tanya Danu tanpa ragu memanggil Layla dengan kata sayang.^^^
Hati Layla seakan berbunga, mendengar Danu memanggil nya dengan kata sayang, laki laki itu menunjukkan rasa khawatir nya untuk Layla.
^^^"Sayang, kamu dengar aku ngomong kan? Kamu mau apa sayang? Apa ada yang ingin kamu makan?" tanya Danu lagi, saat Layla gak menjawab pertanyaan nya.^^^
[ "A- aku gak mah apa apa ka, mulut aku pahit." ] jawab Layla dengan tergugup.
^^^"Ya udah, bentar lagi aku sampai rumah sakit. Tunggu aku ya, cepat sehat sayang ku!" ujar Danu dengan suara menghangat.^^^
"I- iya."
"Wahahahhahhah segitu nya lu La, grogi ya kita lietin?" goda Mery yang memegangi perut nya, gak nahannn liat wajah merona Layla.
"Sumpah bu, aku baru liet Layla bisa malu juga ahahaha." timpal Nina, ikut menggoda Layla dengan mengadu pada bu Tati.
Pluk.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...