Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Nikah sekarang?


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Ada apa? Apa kamu tau sesuatu Arsandi?" tanya Danu ingin tahu.


"Untuk saat ini belum, masih dalam tahap penyelidikan. Hasil nya pasti akan saya beri tahukan pada Tuan Danu dan Mery." ucap Arsandi, melirik Danu dan Mery.


'Apa? Jadi Arsandi sedang menyelidiki ayah biologis Mery? Siapa? Siapa ibu dari Mery ini? Bukan gadis pendiam itu kan?' batin Baskoro penuh tanya.


Baskoro mulai gak tenang, ujung sepatu nya mengetuk ngetuk ke lantai, dengan membuka dan menutup ke lima jemari nya yang ia cengrammm ke tepian kursi.


Arsandi melirik sekilas Baskoro, lalu mengedarkan pandangan nya pada semua orang.


'Paman pasti sedang gelisah. Jika bukan paman yang mengambil ku dari panti, mungkin aku sudah mengatakan nya di depan semua orang tentang rahasia buruk paman. Tapi aku tidak sejahat itu paman! Aku menyayangi mu, seperti kamu menyayangi Tuan Muda.' batin Arsandi.


"Jadi, jangan jadikan alasan orang tua biologis untuk kita mengundur pernikahan!" seru Arsandi dengan tegas.


"Hei Arsandi, di sini yang jadi bos nya. Aku atau kau heh!" sungut Danu.


"Tapi di dalam agama Islam, seorang perempuan menikah harus dengan wali nya, dengan kata lain... ayah kandung nya kan?" cicit Mery.


"Kau benar, untuk hal itu... aku sudah mengatur nya."


Tok tok tok.


Pintu rumah Mery di ketuk dari luar oleh seseorang.


"Itu maksud saya, saya temui dulu tamu penting kita ya!" Arsandi beranjak, berjalan ke arah pintu seolah dia adalah Tuan rumah nya.


"Yang Tuan rumah itu ... kita apa pak Arsandi ya bi?" gumam Mery pelan.


"Seperti nya calon suami mu Mery, yang akan menguasai rumah bibi!" cicit sang bibi.


"Ihsss bibi ini! Mana bisa begitu." gerutu Mery.


"Apa lagi yang di rencanakan bang Arsan ka?" tanya Layla, dengan kening mengkerut, menatap punggung Arsandi yang berdiri di depan pintu, menghalangi seseorang yang tengah berbicara dengan nya.


"Aku sungguh tidak tau sayang! Aku hanya bertugas menyiapkan seserahan ini semua." jelas Danu, gak mau di persalahkan Layla.


Arsandi kembali, dengan seorang pria paruh baya lengkap dengan tas hitam yang ada di tangan nya.

__ADS_1


"Ehem ehem ehem, sehubung sudah lengkap semua nya. Maaf Mery, aku gak bisa menunggu sampai besok atau pun lusa." cicit Arsandi mempersilahkan pria yang bersama nya untuk duduk di samping Baskoro dan juga Yanto.


"Maksud bapak apa ya? Gak jadi besok atau pun lusa, bearti bisa kan satu tahun lagi! Sambil kita mencari keberadaan ayah kandung saya?" seru Mery, mengatakan apa yang ada di pikiran nya.


Danu mengajak Layla untuk beranjak dari duduk nya, pria itu merangkul istri kecil nya. Menatap Arsandi penuh selidik.


"Kaka lagi gugup ya? Gugup kenapa?" tanya Layla dengan berbisik.


Belum juga Danu menjawab pertanyaan Layla. Yanto angkat suara.


"Maaf ya nak Arsandi. Bapak ini siapa ya? Kalo di lihat dari penampilan nya kaya orang yang suka nikahin gitu, apa ya nama nya tuh!" celetuk Yanto, menggaruk kepala nya, mengingat ingat sebutan yang ia maksud.


"Saya penghulu pak, yang di minta saudara Arsandi untuk menikahkan diri nya dengan saudari Mery." cicit pak penghulu, dengan menyapu pandangan ke semua orang yang ada di sana.


"Apa? Pak penghulu? Nikah sekarang?" tanya Mery dengan terkejut, mata membola.


Hal lain nya juga berlaku untuk semua orang yang ada di tempat itu. Termasuk Layla dan bibi.


"Jangan main main Arsandi, kamu pikir nikah itu mainan? Di saat kamu ingin, maka harus terjadi?" sentak Noval dengan gelengan kepala.


"Satu hal yang perlu paman ketahui, aku hanya akan setia pada Mery. Kalian lah yang akan menjadi saksi nya. Tidak ada wanita lain di hati saya, selain Mery! Maka nya saya ingin menikahi nya segera, melindungi nya, memberikan apa yang seharusnya ia dapat dari seorang ayah. Akan aku buktikan, aku bisa menjadi teman sekaligus suami yang baik untuk Mery!" ucap Arsandi dengan tegas, tanpa keraguan di hati nya.


Bugh.


Baskoro seakan terpukulll, mendengar ucapan pedasss sang bibi dari Mery.


Dengan sorot mata penuh penyesalan Baskoro bermonolog dalam hati nya. 'Kata kata wanita itu begitu mengenai hati ku! Apa itu hasil perbuatan yang aku sendiri gak sengaja ngelakuin nya!' Baskoro gak sadar tengah memegangi dada nya dengan telapak tangan kanan nya.


Malam yang Arsandi minta Danu untuk meluangkan waktu untuk melamar Mery. Seketika berubah dalam hitungan detik tanpa Danu dan yang lain sadari.


"Maaf sebelum nya paman Baskoro, bisa kan aku, Mery, pak penghulu dan paman bicara sebentar! Ada yang harus kalian dengar." ucap Arsandi dengan tatapan memohon.


Di kamar Mery, ke empat nya bicara dengan serius. Meski pak penghulu hanya berkata sedikit, tapi cukup mengena untuk Baskoro dan Mery.


"Kenapa bisa jadi gini ka? Apa yang di rencanakan bang Arsandi?" desak Layla.


"Sayang, aku juga gak tau. Kamu lihat kan, aku aja gak di libatkan pria bodohhh itu!" ucap Danu, dengan putus asa.


'Kau berhutang penjelasan pada ku Arsandi! Aku pikir pernikahan ku aja yang singkat dengan Layla. Ternyata kau lebih singkat! Tapi masih aku sih, kami menikah tanpa ada kata pacaran.' batin Danu.

__ADS_1


Entah apa yang di katakan pak penghulu dan Arsandi. Hingga mampu meyakinkan Baskoro, pria paruh baya yang biasa di panggil paman itu mau menjadi wali nikah untuk Mery.


Kini hanya menyisakan Arsandi dan Mery di ruang yang baru aja jadi saksi bisu, ijab kabul ke dua nya. Hingga kata sah menggema dengan di saksikan tetua setempat.


"Kamu udah janji sama aku pak Arsandi, setelah ini. Katakan pada ku apa yang sebenar nya terjadi! Tanpa ada yang di tutupi lagi!" sungut Mery dengan tatapan sengit.


"Aku udah janji, pasti akan aku tempati! Tapi janji, kurangi kadar benci mu pada paman Baskoro!" cicit Arsandi.


"Enak aja kalo ngomong! Aku yang selama ini merasakan di hina, di caci maki... karena gak ada sosok ayah di buku raport sekolah. Aku anak yang sejak lahir gak tau siapa ayah nya! Enak banget kalo ngomong, mengurangi kadar benci! Benci ku gak bisa di ukur dengan apa pun pak Arsandi gila!" sungut Mery dengan penuh emosi, tangan yang mengepalll, sesekali melayangkan kepalan tangan nya di dada Arsandi.


Bugh bugh bugh.


"Aku membenci mu! Jelas aku sangat membenci mu!" sungut Mery, lalu beranjak dari duduk nya melangkah menuju kamar nya.


Arsandi berniat mengejar nya, namun gerakan Mery menutup pintu jauh lebih cepat dari Arsandi.


Brakkkk.


Mengunci pintu kamar nya dari dalam.


Ceklek ceklek ceklek.


Arsandi mencoba membuka pintu kamar Mery, namun hasil nya gak membuat pintu itu terbuka sedikit pun.


Tok tok tok tok.


"Sayang, buka pintu nya! Kamu gak mungkin tega biarinin aku tidur di luar kan!" seru Arsandi dengan mengetuk pintu beberapa kali.


"Memang, malam ini pak Arsandi harus tidur di luar! Aku gak mau berbagi kamar dengan mu! Kalo keberatan, bisa tidur di rumah mu! Ini rumah ku!" umpat Mery dari dalam kamar nya.


"Astagaaa, ini malam pertama kita sayang!" seru Arsandi dengan ke dua lutut yang luluh di atas lantai.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Kehaluan semata...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️

__ADS_1


__ADS_2