Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Meremehkan


__ADS_3

...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


"Kapan bos, di resmiin? Apa nunggu Non Layla lulus sekolah dulu?" tanya Beni.


Pertanyaan Beni, sukses membuat Layla dan Arsandi kini menatap Danu dengan penuh tanya, harap harap cemas dengan jawaban Danu.


"Bertepatan dengan libur mid semester Layla tahun depan." ucap Danu dengan yakin, tanpa menoleh Layla lagi.


"Hah? Itu mah sama aja 5 bulan dari sekarang, bos!" ucap Beni.


"Kenapa? Ada masalah?" Danu menatap Beni tidak suka.


"Ahahahhaha maksud Beni, ada peluang untuk bos membawa Non Layla serta untuk acara reuni kita dong!" Arsandi meluruskan maksud perkataan Beni.


Beni mengagguk dengan cepat. "Bener tuh bos, maksudnya gitu!"


"Gak lah, mending kalian aja yang pergi. Aku mau tetap tinggal di sini, lagi pula pasti bertepatan dengan jam sekolah, gak lah. Aku gak mau ambil bolos lagi dari pelajaran." Layla menolak, pada hal belum tentu juga Danu mau mengajaknya.


Danu menatap sinis Layla, sebenarnya aku tidak ingin mengajaknya. Tapi mendengar dia menolak, aku akan melakukan apa yang dia tidak inginkan! Apa Layla masih berani menolak!


"Sudah aku putuskan, kau ikut aku. Untuk izin, aku yang akan meminta izin pihak sekolah sebagai wali murid mu!" Danu menyeringai.


"Apa? Wali murid?" Layla membelalakkan ke duanya matanya.


"Benar benar pasangan yang sulit di tebak kalian berdua ini!" gumam Beni.


...----...


Malam semakin larut, Layla tidur di kamar yang selama ini di tempati Danu. Layla berguling sana, dan berguling sini, meski malam semakin larut, ke dua matanya enggan untuk di bawa terpejam. Matanya seakan kering, tanpa bisa mengantuk.


Layla bangkit dari tidurnya, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dengan kasar.


"Arghhhh kenapa sulit sekali sih untuk tidur!" Layla menggaruk kepalanya dengan frustasi.


Sepasang mata sayunya menjelajah isi kamar, mengamati satu persatu benda apa yang ia lihat.


"Kenapa aku gak bisa tidur! Kalo di rumah ibu Tati apa di rumah ayah Noval, jam segini aku udah pules banget, tapi di sini. Kamar berpendingin ruangan, kasur yang nyaman dan cukup besar untuk aku sendiri, lampu juga menyala terang, apa karena kamar ini asing untuk ku, jadi aku gak bisa tidur?" monolog Layla pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Layla menurunkan kakinya, hingga ke dua kakinya kini menapaki dinginnya lantai berubin marmer. Ia berjalan ke arah meja belajar.


Layla mendudukkan dirinya di kursi belajar, tangan kanannya terulur membuka laci yang terdapat di bawah meja belajar.


"Di dalam sini ada apa ya?"


Layla mendapati sebuah album. "Oooowh jadi dulu Danu sekolah menengah pertama di Bandung, liet ah... kaya apa sih tampang Danu waktu masih SMP."


Layla membuka lembar demi lembar, mencari nama Danu di setiap foto laki laki, karena dia sendiri tidak tahu Danu SMP duduk di kelas 9 berapa.


Matanya menatap tajam, dengan degup jantung yang tidak karuan, ada yang bergemuruhhh seakan ingin meledak, ada rasa sesak yang tidak bisa ia mengerti.


"Apa ini pacarnya Danu? Aleta Sukmajaya, cantik sih. Gimana dengan sekarang? Apa Danu dan Aleta akan bertemu dengannya saat reuni nanti? Pasti mereka bakal seneng banget, akhirnya bisa ketemu lagi. Tapi buat apa gue ikut, gue cuma bakal jadi obat nyamuk di sana! Tapi hubungan mereka berdua sekarang itu apa ya?" Layla beranjak lagi dari duduknya, menyimpan kembali album foto itu di tempat ia mengambilnya.


Bagh bigh bugh.


Layla menghentak hentakkan ke dua kakinya dengan kesal, mengingat foto anak perempuan yang di beri tanda hati dengan spidol berwarna merah tadi.


"Nyebelin banget sih!" sungut Layla yang lantas menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, menenggelam kan wajahnya di atas kasur, dengan ke dua kaki yang menjulur.


Ceklek.


Layla mendongakkan kepalanya, melihat ke arah pintu di buka. "Gak usah sok perduli!" ketus Layla lalu menenggelamkan kembali wajahnya di atas kasur.


"Jangan kedebak kedebuk, La! Ini apartemen, bukan rumah tinggal!" ucap Danu yang lantas menutup pintu kembali, melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.


Hingga pagi menjelang, meski sulit tidur. Tidak membuat Layla untuk kesiangan bangun pagi. Terbukti dengan Layla yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya, dan ia juga sudah membuat sarapan untuknya dan Danu.


Dua porsi nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Di tambah dengan secangkir susu putih dan secangkir teh, sudah Layla sajika di atas meja. Baru lah ia membuka gorden, membiarkan cahaya sinar matahari menembus masuk ke dalam celahnya ruangan.


Wangi aroma lezat dari nasi goreng yang Layla buat, mampu mengusik indra penciuman Danu. Belum lagi sinar matahari yang menyorot masuk ke dalam apartemen, membuat Danu harus membuka ke dua matanya meski harus sedikit bermalas malasan.


"Bangun woy! Udah pagi nih! Gak ada jadwal ngajar apa hari ini?" celetuk Layla dengan mendudukan dirinya di kursi.


Danu menutup ke dua matanya dengan lengannya. Berkata dengan suara khas orang bangun tidur.


"Aku hari ini gak ada jam ngajar pagi, yang ada ngantor!"

__ADS_1


"Oowwwh!" Layla ber oh ria, lalu berkata lagi dengan sinis. "Terus aku berangkat sekolah naek kendaraan umum nih? Apa di anterin sama situ?" ucap Layla dengan penuh penekanan pada kata situ.


Danu mengerutkan keningnya, menatap punggung Layla dengan heran, kenapa lagi sama itu anak? Semalam kedebag kedebug, sekarang nyeselin gitu! Tapi itu anak bikin sarapan apa ya? Wanginya enak banget!


"Berangkat sendiri aja! Udah gede ini kan! Tau lah jalan menuju sekolah mu sendiri!" ucap Danu dengan cuek pada akhirnya, ia bangun dari tidurnya, tidak memperdulikan Layla yang sedang sarapan.


"Nih aku udah siapin sarapan, jangan lupa di makan, kalo gak mau... kasih aja anak ayam!" Layla dengan ketus.


"Mana ada ayam! Kau habiskan saja! Paling rasanya gak enak, cuma wanginya aja yang enak!" ucap Danu dengan nada meremehkan.


Layla mendengus kasar. "Ihsss dasar nyeselin, tau gitu mending tadi gak usah gue buatin sarapan, biar aja tuh anak kelaparan... dasar cowok gak punya pendirian, kadang baik, perhatian, kadang dingin, cuek, ngebingungin! Maunya apa sih itu anak!" sungut Layla, menatap sinis Danu yang hilang di balik pintu kamar.


Beberapa menit kemudian, Danu ke luar kamar dengan penampilan yang berbeda, berpakaian lengkap, setelan jas berwarna hitam, dengan arloji bermerek di pergelangan kirinya yang tidak pernah ke tinggalan olehnya.


"Ayo kit----"


Danu menghentikan kata katanya saat sepasang mata tajamnya tidak lagi mendapati Layla yang duduk, seperti terakhir kali ia lihat.


"Apa itu anak udah berangakt sekolah? Beneran naik kendaraan umum?" gumamnya dengan melangkah ke arah meja.


Danu meraih memo yang Layla tempel di cangkir teh yang ada di atas meja.


Dear lo.


Terserah mau lo makan atau gak, tapi yang pasti gue masak dengan tulus! Soal rasa, gak jauh beda sama masakan lo! πŸ˜‹


Danu menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, menarik juga.


Danu mendudukan dirinya di kursi, mulai menikmati sarapan yang Layla buat, lewat earphone yang terpasang di telinganya, ia bicara pada orang kepercayaannya.


[ "Iya pak Danu, ada yang bisa saya bantu?" ] tanya seorang pria dari sebrang sana.


Bersambung...


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate πŸ˜… komen dah kalo perlu....


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2