
...🥀🥀🥀...
"Layla ini istri Danu, nek! Cantik kan? Usia nya juga masih muda, wajah nya sama cantik nya dengan wajah mama saat masih muda dulu." terang Danu, mendorong kursi roda itu ke arah kolam renang yang ada di taman belakang.
Deg.
"Danu? Kenapa nenek hanya diam?" tanya Layla yang merasa heran dengan nenek Dahlia.
Dahlia melirik sinis Layla, mau apa anak ini bertanya, tidak ada guna nya kau bertanya.
"Dulu nenek bisa bicara, La... sama seperti kita. Tapi setelah mengalami kecelakan yang cukup fatalll, hingga menewaskan kakek, sementara nenek sendiri di nyatakan koma oleh dokter." ujar Danu.
"Kecelakaan? Kakek meninggal? Lalu ibu mu, meninggal karena apa?" entah kenapa pertanyaan itu meluncur dari bibir Layla.
Dahlia menggigit bibir bawah nya, anak ini benar benar ingin tau urusan keluarga ku! Pergi kau dari rumah ini! Kalian mengganggu waktu ku.
Danu tidak langsung menjawab pertanyaan Layla, justru tatapan sendu ia perlihatkan pada nenek Dahlia.
Apa nenek menyadari kesalahan nya, kesalahan yang sudah menyebabkan mama dan kakek meninggal di waktu yang bersamaan, namun beda nya penyebab kematian ke dua nya.
"Kalo kamu gak mau jawab, juga gak apa kok. Maaf aku udah lancang nanya kamu kaya gitu." cicit Layla dengan perasaan yang gak enak.
"Bukan begitu, ada kesalah pahaman yang terjadi di antara nenek, kakek dan mama. Aku tidak bisa menjelaskan nya pada mu." cicit Danu.
Ke dua kata Dahlia melotot tajam, cucu kurang ajarrr, sudah jelas jelas bukan salah paham, Devita mati bukan karena kesalahan ku, tapi kesalahan nya sendiri. Apa yang di alami Devita, jelas kesalahan nya sendiri!
"Owwhh!" Layla dengan inisiatif nya, duduk di lantai dengan kaki bersila, memijat kaki nenek.
"Apa yang sedang kamu lakukan, La?" tanya Danu dengan tatapan heran.
"Gak liet? Lagi mijettt kaki nenek lah, pasti kaki nenek pegel, duduk seharian gini di kursi roda. Apa nenek gak pernah jalan? Atau suster gak pernah kasih pijetan di kaki nenek?" tebak Layla.
Dahlia mengumpat dalam hati, anak ini pasti hanya sedang berusaha mencuri perhatian cucu ku. Biar mendapat kesan baik saat bertemu dengan ku. Sama seperti yang suster Lia lakukan dulu.
"Entah lah, kalo itu aku tidak tahu. Selama ini aku hanya rutin setiap bulan mentransfer sejumlah uang, untuk kebutuhan nenek." terang Danu.
"Suster itu bekerja untuk nenek, udah lama?" tanya Layla.
"2 tahun belakangan ini, suster Lia yang merawat dan menemani nenek selama di sini." cicit Danu.
"Kalian jahat banget, kenapa gak rawat nenek aja di rumah? Malah membiarkan nenek di rawat suster tanpa pantaun kalian." cibir Layla, "Dasar orang kaya, duit di atas segala nya, sampe buat merhatiin orang tua yang jelas jelas butuh perhatian aja kalian gak ngerti." gerutu Layla dengan kesal.
__ADS_1
Dahla menelan saliva nya dengan sulit, menatap Layla dengan kening mengkerut, tangan nya dengan sulit ia angkat untuk bergerak dari lengan kursi roda.
Danu yang melihat nya pun beralih berdiri di depan nenek dengan bertumpu pada ke dua lutut nya.
"Apa nenek butuh sesuatu? Nanti biar aku ambil kan!" cicit Danu.
Plak.
Layla menggeprak punggung Danu. "Dasarrr bodoh, kau sendiri yang bilang nenek tidak bisa bicara, kau malah bertanya pada nya... cucu tidak pengertian!" omel Layla.
"Iya juga ya!" Danu menggaruk kepala nya, mengakui kebodohan nya.
"Suster! Suster Lia! Tolong ke sini lah!" titah Danu.
"Ada apa Tuan? Tuan Muda butuh sesuatu?" tanya suster Lia, ia tersenyum menatap Danu.
"Seperti nya ada yang ingin nenek katakan, coba kau beri tahu kami, apa yang ingin nenek katakan!" titah Danu.
Layla beranjak dari duduk nya, menghampiri Danu, lalu berbisik di telinga nya. "Aku mau mandi, kapan kita kembali ke risort yang semalam?" tanya Layla dengan suara pelan.
"Nanti siang atau sore, kita baru akan kembali ke risort. Untuk saat ini kita habiskan waktu bersama dengan nenek... tidak apa kan?" tanya Danu, mencoba membuat Layla mengerti.
"Kau bodoh, aku butuh baju untuk ganti!" ucap Layla dengan penuh penekanan.
"Astaga Danu!" pekik Layla dengan ke dua mata yang melotot tajam.
Lia masih bisa mendengar apa yang di katakan Layla pada Danu, jangan harap aku bisa membiarkan meninggalkan tempat ini, sebelum aku mendapatkan apa yang aku nanti selama ini. Sudah cukup aku menunggu 2 tahun untuk kau kembali ke tempat ini Danu.
Tangan suster Lia dengan lembut mengelusss lengan nenek, "Ne, nenek ingin apa?" tanya suster Lia dengan lembut.
Nenek Dahlia memberikan respon dengan ke dua mata yang melotot, nafas nya bahkan seakan memburu, dada nya naik turun. Menggerak gerakkan kepala nya sedik.
Seringai terbit di bibir suster Lia, aku bisa memanfaatkan ini!
"Nyonya besar ingin kembali ke kamar, Tuan Muda. Lebih baik Tuan Muda dan Nona bersih bersih dulu. Sarapan untuk kalian sudah saya siapkan di meja makan." terang suster Lia, dengan ke dua tangan mendorong kursi roda nenek.
Nenek Dahlia menunjukkan wajah tidak bersahabat nya pada Layla dan juga Lia. Hal yang di tangkap Layla hanya dengan melihat tatapan yang di berikan nenek Dahlia pada ke dua nya.
Layla membatin, aku rasa bukan itu yang ingin di katakan nenek. Apa nenek tidak menyukai ku, dan juga suster Lia? Tapi kenapa?
"Owh begitu ya sus, ya udah. Kalo gitu kita berdua mandi dulu ya! Saya titip nenek!" Danu mengajak Layla pergi dari ke dua nya.
__ADS_1
"Kamu apa apaan sih, ngomong kaya gitu di depan suster dan nenek?" dumel Layla, mencoba menjarak dari Danu, namun Danu enggan melerai rengkuhan nya dari bahu Layla.
"Gak apa, mereka juga udah tau status kita!" ucap Danu dengan alis nya yang naik turun.
"Kenapa? Minta di botakin itu alis? Uget uget gitu!" cicit Layla dengan ketus.
"Astaga Layla, bahasa apa itu uget uget?" Danu menggelengkan kepala nya.
"Tau lah, bahasa apa."
Ke dua nya menghilang di balik pintu kamar.
"Nenek sayang, nenek pintar, sekarang istirahat ya! Jangan membantah, kalo gak kepingin aku hukum!" cicit suster Lia dengan lemah lembut, namun penuh makna di setiap kata nya.
Suster Lia membaringkan tubuh nenek Dahlia dia atas tempat tidur nya dengan kasar, bahkan ia tidak segan untuk menarikkk tangan nenek saat memindahkan nya dari kursi ke kasur.
"Dasar nenek tua, menyusahkan saja... jika bukan gaji yang di berikan Tuan Muda itu sangat besar, ogah banget gue ngerawat lu! Kenapa gak buru buru mati aja sih lo!" gerutu suster Lia dengan ke dua tangan berkacak pinggang.
Nenek Dahlia menatap marah pada suster Lia, suster kurang ajarrr... awas saja jika sampai aku bisa kembali bicara, aku bisa menggerakkan tangan dan kaki ku, aku pasti kan... akan aku balas semua perbuatan mu selama ini pada ku! Suster durhaka!
Suster Lia mendekatkan kepala nya, berbisik di telinga nenek Dahlia. "Jangan berharap kau bisa membalas perbuatan ku ini, nenek tua tidak berguna! Aku akan lebih dulu membuat mu menyusul suami dan putri mu ke neraka lebih dulu!"
Nafas nenek Dahlia semakin tidak karuan, dasar suster kurang ajarrr, jika terus begini aku bisa mati di tangan suster keparat ini! Aku harus segera bisa bergerak, setidak nya bicara. Hanya Danu yang bisa menolong ku, aku harus bisa memanfaatkan situasi.
Di kamar lain.
"Danu, lo ke luar gak! Gue gak mau mandi bareng lo! Lo bisa kan mandi setelah gue!" Layla mendorong dengan sekuat tenaga, pintu kamar mandi yang hampir tertutup itu.
"Buat apa gantian, toh kita berdua bisa mandi bareng kan? Kita cuma mandi bareng La! Emang kwmu pikir mau ngapain hem?" Danu belum menyerah untuk membuka kembali pintu kamar mandi.
Brak.
Pintu berhasil di buka Danu.
Bugh.
"Awwwhhh!" pekik Layla.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅