
...🥀🥀🥀...
Ihs siapa juga yang takut makan siang ku di ambil oleh mu!" gerutu Layla.
Prak.
Aleta menepuk bahu Danu. "Dunia ini begitu sempit ya sayang!" ucap Aleta dengan manja saat ia sudah berdiri di belakang Danu.
Aleta tersenyum tipis, saat gadis yang duduk di hadapan Danu nampak terkejut dengan apa yang ia lakukan.
Danu cuma milik gue, bukan lo atau pun gadis lain, cuma anak SMA, hal mudah buat gue nyingkirin ini anak! batin Aleta.
Cup.
Aleta mendaratkan kecupan di pipi Danu.
Layla membola dengan tangan mencengrammm sendok yang ada di tangan nya dengan kencang.
Danu menelan saliva nya dengan kasar, geram dengan tingkah Aleta, apa apaan sih Aleta ini! Wanita ini seperti hantu, datang dan pergi sesuka hati nya.
Kreek.
Suara kursi yang Danu duduki berdecit, saat Danu menggeser mundur kursi yang ia duduki, lalu Danu bangkit dari duduk nya. Menatap tajam Aleta.
"Jaga sikap mu, Aleta! Kau ini wanita, jangan merendah kan harga diri mu seperti ini di depan ku! Aku tidak suka itu!" sungut Danu.
"Sayang, jangan kaku begitu! Ini aku, kau sudah lama kan merindukan aku! Aku kembali untuk mu, Danu!" Aleta mencoba melaih lengan Danu.
Danu menghentikan pergerakan tangan Aleta, dengan tangan kanan nya yang mengudara di depan tubuh Aleta.
"Apa aku tidak salah dengar, Nona?" tanya Layla dengan tenang, tetap menyantap makan siang nya.
Danu mengerutkan kening nya, menatap Layla dengan tanda tanya, apa Layla tidak marah? Atau Layla sedang menyembunyikan kemarahan nya di balik sikap nya yang tenang ini?
"Apa maksud mu salah dengar? Kau ini pasti sepupu nya Danu kan! Kenalkan, aku mantan kekasih Danu saat di Sekolah Menengah pertama dulu." Aleta mengulurkan tangan kanan nya di depan gadis berseragam putih abu, yang Aleta pikir adalah sepupu dari Danu.
"Maaf Nona Aleta, aku tidak tertarik untuk berkenalan dengan anda. Bisa kau tinggalkan aku dan ka Danu." ujar Layla, meminta Danu untuk kembali duduk dan melanjutkan makan siang nya.
Aleta meremasss ke dua tangan nya, dengan menahan kesal, wajah yang merah padam. "Heh bocah, berani sekali kau mengusir ku! Apa kurang jelas apa yang aku katakan pada mu? Siapa sih kau ini! Sombong sekali kau! Berani mengusir ku!"
Tanpa memperdulikan tatapan Danu, Aleta mendaratakan bobot tubuh nya pada sebuah kursi, dan duduk di samping Danu.
"Aku akan duduk dengan kalian, di mana ada Danu, di sana ada aku!" ucap Aleta dengan memasang senyum termanis nya saat menatap Danu.
"Aleta! Cepat tinggalkan meja ini! Cari lah meja mu sendiri!" ucap Danu, yang secara tidak langsung ingin Aleta meninggalkan diri nya dan Layla.
Sreeek.
__ADS_1
Aleta menarik lengan Danu, hingga pria tinggi dengan tubuh atletis nya itu duduk kembali di kursi yang ia duduki sebelum nya.
Layla membuang nafas nya dengan kasar, menghentikan makanan nya dengan meletakan sendok secara kasar di atas piring nya.
Tring.
Bunyi dentingan sendok yang berbenturan dengan piring yang ada di hadapan Layla.
"Kekanakan sekali!" sungut Aleta dengan menatap sinis Layla, tangan kanan nya melambai ke atas, memanggil pelayan restoran.
"Ka Danu, kau masih mau makan atau mau lanjut dengan rencana kita selanjut nya?" tanya Layla setelah menengguk minuman nya.
"Ada yang bisa di bantu, ka?" tanya pelayan dengan ramah, saat berdiri di depan Aleta.
"Mana mungkin aku bisa melanjutkan makan siang ku, La! Kita lanjutkan saja ke tempat selanjut nya, tante pasti sudah menunggu kita!" ucap Danu, setelah menyeruput minuman nya.
"Danu, kau mau ke mana? Biarkan gadis ini pergi! Kau temani aku makan siang! Kita kan sudah lama tidak bertemu! Aku ingin menghabiskan waktu dengan mu, hanya kita berdua!" cicit Aleta panjang lebar, menatap Layla dengan penuh kemenangan.
Layla beranjak dari duduk nya. "Aku tidak masalah jika kau ingin tetap di sini, ka Danu tersayang!" ucap Layla dengan penuh penekanan.
Grap.
Danu menghentikan langkah Layla, ia ikut beranjak dari duduk nya. Menatap tajam Aleta.
"Kau sudah mengambil keputusan untuk hidup mu, dan sekarang aku akan mengambil keputusan untuk hidup ku! Selamat menikmati makan siang mu!" ucap Danu dengan datar, berjalan pergi dengan menggenggammm tangan Layla.
"Danu! Kembali, Danu! Aku bicara dengan mu Danu!" Aleta berteriak, memanggil Danu.
Brug.
Saking kesal nya di abaikan oleh Danu, Aleta menggebrak meja dengan telapak tangan nya.
Prang.
Gelas yang ada di atas meja, kini jatuh ke lantai karena tindakan yang di lakukan Aleta. Membuat diri nya kini menjadi pusat perhatian pengunjung restoran lain nya.
"Kau berterima kasih untuk apa, La?" tanya Danu saat ke dua nya sudah berada di dalam mobil.
Dengan wajah yang tertunduk, Layla menjawab pertanyaan Danu dengan ragu.
Jangan besar kepala kamu La, Danu memilih pergi dengan mu, bukan bearti Danu sudah mencintai mu! monolog batin Layla.
"Emmm karena kau sudah mau meninggalkan kaka yang tadi, Aleta ya? Kau memanggil nya Aleta." cicit Layla dengan menatap Danu.
Untuk sesaat ke dua tatapan mereka bertemu, namun Layla dengan cepat mengalihkan pandangan nya pada yang lain.
Deg deg deg.
__ADS_1
Layla salah tingkah di buat nya, tangan kanannya terulur menyentuh dada nya sendiri, jantung gue kenapa ya? Sakit? Kenceng gini, gue kan gak abis lari maraton.
Danu memperhatikan tingkah Layla, tangan kiri Danu ikut terulur menggenggammm jemari tangan kanan Layla.
Grap.
Deg deg deg.
Danu menyunggingkan senyum, ia dapat merasakan debaran jantung Layla yang begitu kencang lewat tangan kirinya yang tampak naik turun saat menggenggammm jemari Layla.
Layla merasakan hal yang sama dengan ku, rasa ku tidak bertepuk sebelah hati. monolog Danu dalam hati nya sendiri.
Layla menarik tangan nya dari genggamannn tangan Danu, apa sih... maen pegang pegang aja, tar Danu ngira gue gampangan lagi, mau di sentuh aja sama dia.
"Maaf! Aku tidak bermaksud kurang ajar pada mu!" cicit Danu, seakan tau deh pemikiran Layla.
"Kau cenayang? Bisa tau apa yang aku fikirkan!" celetuk Layla, dengan spontan menutup bibir nya dengan jemari nya.
"Aku suka dengan sikap mu yang seperti ini, La! Malu malu tapi bukan malu maluin!" ledek Danu.
Layla mengerucutkan bibir nya, lalu mendaratkan cubitan di pinggang Danu.
"Awwhhhhh! Sakit La!" pekik Danu, pura pura meringis dan sakit karena cubitan Layla.
"Maaf!" ucap Layla dengan membuang pandangan nya pada jalan yang ada di luar, dasar begooo. Ngapa jadi gini sih.
Mobil akhir nya menepi di depan sebuah butik.
"Kenapa gak tunggu aku yang bukain pintu nya sih!" keluh Danu.
"Lama, punya tangan sendiri... bisa buka pintu sendiri, buka aja sendiri, kenapa juga harus nunggu di bukain?" cicit Layla tidak mau kalah dan di bantah.
"Iya iya iya, tapi lain kali aku yang buka kan pintu untuk mu!" ucap Danu dengan tangan yang menggenggam jemari Layla.
Layla dan Danu, memasuki butik yang tampak besar dan megah bangunan nyajika di lihat dari luar.
"Waaaah ini butik apa istana! Gede banget!" takjub Layla, mengedarkan pandangan nya pada setiap dekorasi, dan apa yang ada di hadapan nya.
"Kalian sudah datang?" suara wanita paruh baya, menyambut kedatangan ke dua nya dari anak tangga.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....
__ADS_1
...Makasih yooo ☺️☺️...