
...🥀🥀🥀...
"Sumpah bu, aku baru liet Layla bisa malu juga ahahaha." timpal Nina, ikut menggoda Layla dengan mengadu pada bu Tati.
Pluk.
Deri melempar buah duku, yang tepat mengenai kening Mery.
"Awhhh kamprettt lo Der." umpat Mery dengan mengaduh, mengelusss kening nya yang seketika merah.
"Ahahahha awhhh uuuhhhh sakit!" pekik Layla, memegangi bagian perut nya yang di balut perban.
"Jangan ketawa La, itu masih basahhh jahitan nya." ujar bu Tati, mengingatkan sang putri.
"Gimana gak mau ketawa bu, liet tuh. Mery kena batu nya nawain aku hehehe." ujar Layla dengan terkekeh dengan tertahan.
Gak lama Danu datang, dengan membawa banyak makanan dan cemilan, belum lagi beberapa buku komik dan novel remaja.
"Astagaaa kamu gak salah beli ini nak Danu?" tanya bu Tati dengan tatapan gak nyangka.
"Gak lah bu, Danu sengaja beliin ini semua biar Layla gak ngerasa bosen di sini." ujar Danu menyimpan semua yang ia beli di atas meja.
"Kamu mau baca komik apa novel La?" tanya Danu, memilih milih judul yang pas untuk Layla baca.
"Astagaaa pak, jaman sekarang mah udah canggih. Cuma modal hape sama data, udah bisa baca novel sama komik secara online." ujar Nina dengan gelengan kepala.
"Benar begitu, sayang?" tanya Danu dengan tatapan penuh tanya.
"Sayang?" seru Nina, Mery, Deri yang ikut menatap Layla.
Layla menelan saliva nya dengan sulit, "Seperti nya a- aku ngantuk. Ma- mau tidur aja!" Layla menarik selimut dan menutupi wajah malu nya.
'Danu, awas kamu ya... liet aja kalo aku udah sembuh, malu kan aku jadi nya!' sungut Layla dengan bibir mengerucut, gemasss juga mendengar Danu memanggil nya dengan kata sayang di depan sahabat dan juga sang ibu.
Danu mengusir ke tiga sahabat Layla untuk pulang, ia juga mengeluarkan sejumlah uang untuk mereka bertiga jajan. Dan untuk bu Tati, Danu sudah menyuruh orang untuk mengantar bu Tati ke rumah nya.
Tinggal lah Layla dan Danu di ruang rawat.
"Kamu beneran mau tidur aja La?" tanya Danu dengan ikut naik ke ranjang rawat Layla, yang ukuran nya lumayan besar.
"Hem!" gumam Layla dengan keringat dingin.
'Astagaaa, apa apaan sih. Yang benar aja Danu mau ikutan tidur di sini! Gak malu apa ada Mery, Nina Deri! Astagaaa apa kata ibu.' batin Layla mengumpat.
"Sayang, gak apa kan jika aku ingin tidur di sini!" seru Danu, tangan kanan nya terulur menjadi kan bantal untuk kepala Layla.
"Ka, malu ihs. Jangan begini, masih ada teman teman aku ihs." gerutu Layla dengan suara pelan, mencengrammm selimut yang menutupi wajah nya.
"Biarin mereka lihat La, mereka juga tau kan status kita ini apa. Aku kangen kamu, La! Aku sangat takut kehilangan mu." ujar Danu panjang kali lebar, berusaha menyingkirkan selimut yang menutupi wajah Layla.
__ADS_1
"Kaaa! Ihsss malu!" pekik Layla dengan suara tertahan.
"Gak apa La, aku kangen, kamu gak tau kan gimana rasa takut aku kehilangan mu?" tanya Danu menahan tawa.
"Ka Danu ini lagi ketawa apa lagi nangis sih?" tanya Layla curiga merasakan lengan dan tubuh Danu bergetar, tapi telinga nya gak dengar suara ke tiga sahabat nya itu dan suara sang ibu.
'Jangan bilang ka Danu lagi ngerjain gue?' tebak Layla dengan kening mengkerut.
Sreeek.
Selimut yang menutupi wajah Layla, berhasil menyingkir dengan tarikan tangan Danu.
Layla mengerjapkan mata nya, menatap wajah Danu yang sangat dekat dengan nya. Danu memiringkan tubuh nya menghadap ke arah Layla.
"Jangan membuat ku takut lagi, La! Kamu itu hidup ku, detak jantung ku." ujar Danu, menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah Layla dengan tangan kiri nya.
Layla menelan saliva nya dengan sulit, ekor mata nya menyelidik ke arah lain. Mencari jawaban akan keberadaan teman dan ibu nya.
'Sejak kapan mereka bertiga menghilang? Ibu juga udah gak ada?' batin Layla penuh tanya.
"Kamu gak boleh hilang dari pandangan ku, sayang!" seru Danu dengan hembusan nafas mint menyeruak di depan wajah Layla. Tangan kiri nya terulur memeluk Layla dengan hati hati.
"Tapi aku udah gak apa apa sekarang. Gimana dengan orang itu, siapa wanita itu ka? Apa dia salah satu penggemar kaka? Salah satu wanita yang tergila gila sama kaka?" cecar Layla, dengan menerka nerka siapa wanita yang menyekap dan menusukkk nya.
Danu menghembuskan nafas kasar. "Aku ingin menghabisiii nya La." Danu mengecup puncak kepala Layla.
Layla mendongakkan kepala nya. "Aku ingin tau, apa alasan nya melakukan ini pada ku?" tanya Layla ingin tau.
"Itu udah jadi keputusan yang paling tepat ka. Ehem gimana sama tante menor?" tanya Layla.
"Biar menjadi urusan polisi. Jadi besok, ada yang terpaksa harus mengikuti ulangan dari ruang rawat." jelas Danu dengan tatapan menggoda.
"Yah gak ada pilihan lain, kalo di paksakan untuk mengerjakan di sekolah, yang ada aku malah merepotkan banyak orang." ucap Layla dengan lesu.
"Jangan sedih begitu!" Danu mengelusss lengan Layla.
"Apa ka Danu tadi bertemu dengan ayah? Aku belum melihat ayah, dari kemaren juga aku gak lihat mama Sifanye. Mereka baik baik aja kan?" tanya Layla dengan tatapan menyelidik.
"Baik kok, mereka baik baik aja, cuma mungkin pekerjaan ayah lagi banyak, jadi belum bisa ke sini ajak mama Sifanye." bohong Danu gak berani menatap Layla, mengalihkan tatapan nya pada luka Layla yang ada di balik selimut.
...---...
Malam menjelang.
"Yakin ini tempat nya?" tanya pria berkepala plontos pada Soni.
"Yakin lah, lu gak liet nih sesuai kan alamat nya!" seru Soni, memperlihatkan layar pipih nya pada teman itu.
Sebuah perkomplekan yang baru beberapa hari lalu di buka, masih tampak rumah yang masih kosong belum berpenghuni dengan lampu yang padam.
__ADS_1
"Udah, lu turunin deh itu anak." ujar Soni gak sabaran.
"Begooo lo, pastiin dulu ini tempat nya. Sana lu samperin rumah nya. Ketemu sama orang nya, kalo dia kasih duit, baru ono bocah kita keluarin." ujar pria berambut gondrong.
"Tumben akal lo berjalan ahahah!" gurau Soni.
Itu kali pertama bagi mereka, melakukan transaksi prostitusiii untuk anak di bawah umur. Pelanggan pertama yang akan menggunakan jasa Lulu.
[ "Halo Tuan, lu gak nipu kita kan. Kita udah di depan rumah ini." ] ujar Soni pada sambungan telpon nya.
^^^"Biar saya buka pintu nya dulu. Kalian tunggu di depan, jangan lupa bawa anak nya." pinta Noval yang menyamar sebagai pemesan jasa yang di tawarkan Soni.^^^
[ "Gak bisa, lu bayar dulu. Baru gue turunin itu anak. Kalo lu gak mau, ya udah, kita batal!" ] gertak Soni dengan suea meninggi.
^^^"Ada uang ada barang. Saya lihat anak nya, baru saya serahkan uang nya!" tawar Noval.^^^
[ "Oke." ]
"Lu turunin deh tuh anak. Lu ikut sama gue, itu orang mau ada duit ada barang." ujar Soni, menjelaskan pada teman nya.
Di rumah yang Noval sewa, ia dan beberapa anak buah Arsandi, tengah mulai menjalan kan rencana nya.
Noval membuang nafas nya dengan kasar, meski ia tahu Lulu bukan darah daging nya, tapi membaca chat yang di kirim Soni untuk Sifanye membuat nya gak tega pada bocah itu.
"Kenapa dengan anak ini?" tanya Noval, melihat Lulu dengan pakaian minim bahan di gendong dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Ah ini tadi anak ini berontakkk, ya terpaksaaa lah kita pukul tengkuk nya, jadi lah ini anak gak sadar." terang pria yang menggendong Lulu.
Noval mengepalll kan tangan nya, menatap nyalang ke tiga pria yang bahkan ia gak kenal.
'Kurang ajarrr mereka, berani nya menyakiti putri ku!' umpat Noval dengan dada yang bergemuruhhh.
"Bukan, dia mabok. I- iya bener, anak ini mabok. Jadi mana uang nya! Aku sudah membawa bocah ini, dan kami akan menjemput nya setelah 2 jam dari sekarang." tegas Soni, gak sabar pengen pegang uang banyak.
"Letakkan bocah itu di situ! Aku akan ambilkan uang nya!" titah Noval dengan menunjuk sofa panjang.
Lulu di baringkan di atas sofa.
Bugh bugh bugh.
"Kurang ajarrr kalian!" seru Noval dengan menyerang ke tiga pria itu dengan penuh emosi.
Bugh bugh.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...