Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Makan berempat


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Dasar cowok gak punya perasaan, seenak jidatnya mau mainin pernikahan!" gerutu Layla yang melangkah dengan cepat tanpa memperhatikan lantai.


Sreeek.


Kaki Layla kepeleset lantai yang licin.


Bugh.


"Akkhhh!" pekik Layla.


"Awhhhhh Arsandi!!!" teraik Danu.


Gimana Danu gak teriak, dia tau ini kerjaan siapa. Kalo bukan buat ngelindungin Layla yang hampir jatuh terjengkang di atas lantai, mana mau dia berkorban sejauh ini, merasakan sakit yang luar biasa.


Sudah jatuh, tertimpa tubuh Layla juga, berat tubuh Layla gak seberapa. Tapi Layla persis menduduki adik kecil Danu yang selama ini tidur anteng, kini merengek bak tersengattt aliran listrik. Seakan tau ke mana ia akan pulang.


Danu mengepalkan tangannya, dengan ke dua sikunya yang menopang tubuhnya agar tidak sampai membuat tubuh ke duanya benar benar terlentang,


Danu mengeranggg, menahan sesuatu yang berdenyut di bawah sana, membuat wajahnya tampak frustasi.


"Arghhhh!"


"Apa aku seberat itu ya?" tanya Layla dengan wajah polosnya, menoleh kebelakang, melihat ekspresi wajah Danu yang tampak seperti kepiting rebus.


Arsandi dan Beni saling merapat, menatap ke duanya, dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba." celetuk Arsandi.


"Ini mah udah pasti bos maen hati!" gumam Beni.


"Heh kalian berdua! Mau terus menonton atau mau aku pecat! Cepat bantu Layla berdiri! Dasar bodoh kalian! Tokek tidak beradab!" maki Danu dengan menahan kesal.


Arsandi dan Beni sama sama melempar alat bersih bersih yang ada di tangannya ke sembarang arah, menbantu Layla dan Danu beranjak dari posisinya.


Danu duduk di sofa dengan satu kaki di angkat ke atas, dan menyilang, bertumpu pada satu kaki lainnya. Punggungnya bersandar pada sandaran sofa, tatapannya menyelidik pada ke dua anak buahnya sekaligus teman sekolahnya.


Beni dan Arsandi berdiri dengan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah marah Danu.


"Maaf bos! Ini beneran bukan salah saya lo ya! Saya mah megang sapu, sama penyedot debu." terang Beni.


"Sa- saya tadi udah pastiin itu lantai kering kok bos!" kilah Arsandi.


"Apa tadi yang kau injak?" tanya Danu dengan suara datar, menatap dengan selidik Layla.


Arsandi mengangkat kepalanya lalu menggelengkan kepalanya, dengan wajah memelas pada Layla, bibirnya mengerucut.


Layla yang berdiri di samping Danu, hanya bisa diam, bicara jika sudah di beri kesempatan untuk bicara. Layla mengerti maksud dari pria yang tidak ia kenal namanya itu, pria yang seumuran dengan Danu.


"Aku nya aja tadi yang gak liet jalan. Ini bukan salah mereka berdua!" terang Layla.

__ADS_1


"Kalian berdua, angkat kaki dari apartemen ku!" titah Danu.


Krukkk krukkkkk krukkkkk.


Bunyi suara perut keroncong terdengar tanpa di minta untuk buka suara.


Beni menggelengkan kepalanya saat Danu menatapnya dengan tanya.


"Bukan saya bos! Saya mah udah makan!" ujar Beni.


Arsandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, rasa malu menyeruak dalam hatinya, lantaran bukan hanya Danu dan Beni yang mendengar suara cacing dalam perutnya berdisko ria, kini Layla juga ikut mendengarnya.


"Utamakan perintah bos, baru urusan pribadi." terang Arsandi hingga melewatkan makan malamnya.


"Kita makan malam di luar, baru setelah itu kalian berdua enyah dari hadapan ku!" Danu beranjak dari duduknya, melangkah ke arah kamarnya.


Beni dan Arsandi membuang nafas lega.


"Tumben kaga pake ada acara ngamuk!" celetuk Beni.


"Husss siapa dulu!" Arsandi menunjuk ke arah Layla dengan gerakan kepalanya dan lirikan ekor matanya.


Layla menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa sama gue?" tanya Layla pada ke duanya.


Danu kembali dengan tangan kirinya tersampir switer wanita.


Grap.


Danu menggenggammm jemari Layla.


"Gue bisa jalan sendiri! Gak usah di tuntun juga bisa!" Layla mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Danu.


"Gak usah banyak komentar!" ucap Danu acuh.


Beni dan Arsandi saling bisik dengan suara pelan, melihat Danu yang enggan melepaskan Layla dari genggamannya.


Beni menggelengkan kepalanya. "Bener apa kata lu, bro!"


"Mata gue gak pernah salah buat nilai, tapi yang masih gue heran. Apa kelebihan nih anak!" Arsandi menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Cinta gak perlu alasan, bro!" gumam Beni.


Danu membukakan pintu mobil untuk Layla di sebelah kemudi.


"Masuk, La!" titah Danu.


"Ihs emang kita mau makan di mana sih?" dengan malas Layla masuk dan duduk dengan manis.


Di saat Arsandi dan Beni hendak membuka pintu penumpang yang ada di belakang, Danu menghentikannya dengan kata kata pedasnya.


"Naik mobil masing masing! Gue gak mau mata Layla di kotorin dengan terus melihat kalian berdua di mobil gue!" ucap Danu dengan sadisss tanpa perasaan.

__ADS_1


"Bujuk busettt, di kata kita debu kali bikin mata Layla kotor!" gerutu Beni.


"Udah ikutin maunya bos aja! Mayan kan makan gratis di restoran mewah!" Arsandi menarik paksaaa lengan Beni, menariknya masuk ke dalam mobil yang ia miliki.


"Ikutin mobil gue! Kalo gak juga gue gak keberatan." ucap Danu acuh.


Dengan gemas tangan Beni mengudara dengan mengepal, ingin rasanya ia meninjuuu dan menoyorrr kepala pria yang berstatuskan bosnya.


Danu mengajak mereka makan di restoran mewah yang ada di depan apartemen yang ia tinggali. Meski harus berputar dan mengambil jarak yang cukup memakan waktu karena mengendarai mobil dan jalan yang memutar. Tapi jika berjalan kaki, mereka hanya perlu menyebrang jalan.


Ke empatnya kini makan bersama, menikmati semua hidangan yang mereka pesan. Bukan main banyaknya menu yang di pesan ke tiganya, hingga membuat meja kini penuh dengan anekana hidangan yang menggugah selera. Sedangkan Danu hanya memesan hot cappucino.


"Yakin kamu akan menghabiskan itu semua?" tanya Danu, melihat Layla menyantap semangkuk soto di hadapannya.


Layla menggelengkan kepalanya, lalu mendongakkan kepalanya menatap Danu. "Kalo gak abis, bisa di bungkus terus di bawa pulang kan?"


Bukan Danu yang menjawab, tapi Beni, bertanya dengan penuh semangat pada Layla. "Bisa banget, emang apa yang mau di bawa pulang? Buat makan nanti malam gitu kalo laper lagi?"


"Mungkin daging steak nya!" terang Layla dengan menatap steak daging yang belum ia sentuh.


"Lo sekolah di mana, La?" tanya Beni yang mudah sekali akrab dengan orang yang baru di kenalnya.


"SMA favorit lah yang pasti! Lo lagi, manggil Non Layla seenak jidatnya! Panggil Nona Layla! Ngerti gak lo!" sungut Arsandi.


"Lah ya maaf, belom terbiasa ini bibir." kilah Beni.


"Panggil Layla aja, gak usah Non! Emang aku siapa pake di panggil Non!" ujar Layla dengan senyum tersungging di sudut bibirnya, menambah manis wajahnya.


"Jangan gitu Non, Non ini kan tunangannya bos Danu. Biar pun bos Danu sahabat kita, tapi percaya deh, gak ada wanita lain di hati bos Danu." terang Arsandi membuat Danu tersendat kopi yang tengah ia seruput.


"Uhuk uhuk uhuk!"


Tanpa di perintah, dengan inisiatif nya Layla mengambil beberapa helai tisu dari atas meja, lalu membantu Danu mengelap sisa sisa minuman di dagu dan bibir Danu.


Layla dan Danu saling tatap, debaran jantung ke duanya kembali berpacu tanpa bisa di kendalikan, apa lagi tangan Layla yang kini di genggaman Danu.


"Makasih!" ucap Danu, perhatian juga.


Layla hanya mengangguk, lalu menunduk malu melanjutkan makannya, bisa baik juga gak pake kasar. Apa karena ada 2 temennya?


"Aji gile, udah sedekat itu!" gumam Arsandi.


"Kapan bos, di resmiin? Apa nunggu Non Layla lulus sekolah dulu?" tanya Beni.


Pertanyaan Beni, sukses membuat Layla dan Arsandi kini menatap Danu dengan penuh tanya, harap harap cemas dengan jawaban Danu.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2