Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Bukan nya tidur


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Kabuuuur!" Lulu lari terbirit birit meninggalkan kamar ke dua orang tua nya, sebelum telapak tangan melayang pada tubuh montokkk nya.


Sifanye menggaruk kepalanya dengan frustasi. "Dasar anak itu! Jangan sampai tertular seperti Layla yang sulit di kendalikan, anak liar!"


Di apartemen nya, setelah mengantar Layla pulang ke rumah Noval. Kini Danu merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur, dengan ke dua mata yang ia sembunyikan karena tertutup lengan kanan nya.


"Apa aku harus datang juga? Mengajak Layla serta? Aaaah sialll, kenapa kemarin aku mengatakan akan mengajak Layla serta." Danu menjatuhkan lengan kanan nya dengan kasar di atas kasur.


Pikiran Danu kini melalang buana pada orang tua Layla. Kenapa ke dua orang tua nya bisa bercerai ya? Jika ke dua nya saling cinta, kenapa pernikahan paman Noval dan tante Tati harus berakhir? Dan sekarang ada tante Sifanye di antara ke dua nya. Di sini Layla lah yang paling menderita.


Dreeet dreeet, dreeet dreeet.


Ekor mata Danu kini melirik ke arah benda pipih yang ada si atas meja belajar nya.


"Siapa yang mengganggu waktu istirahat ku!" dengan malas, Danu beranjak dari posisi ternyaman nya, mendaratkan bobot tubuh nya di atas kursi.


Si mbok


Situasi di sini semakin tidak kondusif, Tuan Muda. Semakin lama berada di sini, semakin membahayakan untuk jiwa Nona Layla.


Danu mengepalkan ke dua tangan nya dengan kencang. Ini pasti ulah wanita ular itu lagi! Benar benar rubah licik!


Dring dring dring.


"Ada apa, pah!" tanya Danu dengan menempelkan benda pipih di daun telinga kanan nya.


[ "Anak nakal, kenapa kau tidak kembali ke rumah heh! Papa kan ingin dengar, seharian ini apa saja yang sudah kalian lakukan!" ] tanya Baskoro dengan suara yang terdengar terkekeh.


"Cihhs orang tua kepo. Aku hanya menemani nya mengerjakan tugas kelompok, pah! Kami bahkan tidak pergi berdua, tapi dengan ke 3 teman kelompok nya yang lain." terang Danu, tanpa ada yang di sembunyikan.


Baskoro membuang nafas nya dengan kasar, baru lah ia melanjutkan dakwah singkat nya untuk sang putra.


[ "Benarkah? Payah sekali kau ini Danu! Kau ini putra ku atau bukan sih! Contoh lah papa mu ini, Danu... ajak Layla pergi berdua, jalan jalan, ke tempat yang romantis. Luangkan lah waktu mu sedikit untuk menghabiskan waktu dengan nya!" ]


Baskoro berbicara dengan panjang lebar, memberikan trik untuk Danu, agar ia bisa lebih dekat lagi dengan Layla.


"Aku sibuk, pah! Waktu ku lebih berharga jika aku habis kan untuk bekerja! Lebih baik... papa gunakan trik kuno papa itu, untuk mencari kan ku mama baru! Hahahaha!"


Cicit Danu tanpa segan, tanpa menunggu jawaban dari Baskoro, ia langsung mengakhiri sambungan telepon nya, sebelom kena omel Baskoro.


Di rumah megah, dengan bangunan yang menyusung gaya modern klasik. Seorang pria paruh baya, tengah memaki layar hape nya.

__ADS_1


"Dasar anak kurang ajarrr, berani sekali dia meminta ku untuk mencari pengganti mama nya! Gak tau apa, di dunia ini, mama mu tidak ada gantinya!" gerutu Baskoro dengan wajah merah padam.


Ia menatap bingkai kayu yang berukuran cukup besar di kamar yang selama ini ia tempati.


"Kau lihat itu, Devita! Putra mu pasti sedang memikirkan gadis itu! Putra kita pasti nya! Dia mirip dengan mu! Danu bahkan sampai mengutus seseorang untuk mengawasi Layla di rumah nya sendiri!"


Danu membuang nafas nya dengan kasar. Mengingat kembali perkataan papah nya.


"Yang benar saja, trik papa mau di gunakan untuk mendekati ku dan Layla? Tidak akan berhasil, aku dan Layla sama sama tidak saling mencintai." Danu mengangkat tangan kanan nya, hendak melempar kan benda pipih itu ke atas kasur nya.


Dring dring dring.


Tanpa melihat siapa yang menghubungi nya, Danu langsung menjawab panggilan yang masuk ke nomor hape nya.


[ "Danu! Ini kau kan!" ]


Suara seorang wanita yang pernah mengisi relung hati Danu, kini terdengar kembali di indra pendengaran nya. Membuat Danu untuk sesaat terpaku di buat nya.


[ "Danu! Kau mendengar ku kan! Ini aku, Danu! Aku merindukan mu, Danu!" ]


Wanita itu kembali bersuara, dengan suara yang tampak lemah lembut.


"Ada apa?" tanya Danu dengan datar.


[ "Aku merindukan mu! Aku tau kau masih menunggu ku. Aku akan kembali untuk mu, aku sudah melihat nya, itu sangat cantik, sesuai dengan apa yang ada dalam impian ku, aku menyukai nya, sayang! ] cicit Aleta, dengan penuh percaya diri.


"Aku membangun itu bukan untuk mu, tapi karena aku ..."


Belum selesai Danu dengan kata kata nya. Aleta memotong nya dengan suara yang terdengar riang.


[ "Kau masih menunggu ku kan? Aku tau itu, itu sebab nya kau belum menikah hingga saat ini! Aku pasti kan, orang tua ku tidak akan menghalangi cinta kita." ]


"Siapa bilang aku... "


Tut tut tut.


Danu menghempaskan hape nya ke sembarang arah, menggaruk kepala nya dengan frustasi.


"Persetan dengan mu, Aleta! Kau sendiri yang memilih untuk pergi!"


...---...


Burung burung berkicau dengan riang, menyambut indah nya pagi, dengan sinar mentari yang cerah. Kesibukan setiap orang pun kembali di mulai.

__ADS_1


Namun tidak demikian dengan Layla.


Dengan handuk yang menyampir di bahu kanan Lulu yang hendak mandi, di buat kesal dengan keberadaan Layla yang tersungkur di lantai kamar mandi.


"Heh, bangun lo! Kurang kerjaan banget pake tidur di kamar mandi! Kurang dingin apa itu pendingin ruangan di kamar! Sampe lo harus tidur di sini!" cecar Lulu dengan acuh, kaki kanan nya bahkan menendang nendang kaki Layla, berharap Layla akan segera bangun dengan ulah nya.


Satu menit, dua menit, 5 menit, membuat Lulu semakin jengkel dan frustasi.


Lulu menepuk nepukkan ujung hidung nya dengan jari telunjuk kanan nya. "Jangan jangan ini anak bukan nya tidur, tapi pinsan! Waaah gawat ini mah! Kalo sampe ini anak mati, terus hantu nya gentayangan di sini! Iiiiih serem." Lulu bergidik ngeri membayangkan nya.


Dengan bodoh nya, Lulu berlari ke luar, meninggalkan Layla.


"Ayaaaaah! Mamaaaa! Tolong yah, mah!" teriak Lulu dengan berlari menuruni anak tangga.


"Ada apa sih, Lu! Pagi pagi udah teriak teriak begini! Bikin kepala mama mau pecah tau gak!" sungut Sifanye, ia sibuk membuatkan secangkir kopi untuk Noval.


"Di mana Layla, Lu? Kenapa kamu belum juga mandi? Apa kalian gak takut telat sampai ke sekolah!" cecar Noval dengan gelengan kepala, melihat putri kecil nya bertingkah konyol.


Lulu terengah engah, nafas nya langsung ngos ngosan saat ia sudah berdiri di samping Noval, tangan Lulu menengger di bahu sang ayah, satu tangannya berada di pinggang nya.


"Yah, minum dong, yah! Aus nih!" pinta Lulu, menelan saliva nya dengan tatapan mengarah pada segelas air putih di depan Sifanye.


"Maaf Tuan besar, sejak tadi subuh Nona Layla belum turun kamar. Biasa nya Nona Layla akan turun dari kamar setelah usai solat subuh." cicit Sulastri dengan meletakkan mangkuk besar berisi sup di atas meja.


"Paling juga belum bangun tidur! Anak itu kan pemalas!" ejek Sifanye, apa apaan sih Sulastri ini, pake bilang biasa nya!


"Yah, mah, itu! Ka Layla ada di lantai kamar mandi... aku udah coba buat bangunin, tapi gak bangun bangun." ucap Lulu dengan wajah khawatir, jari telunjuk kanan nya menunjuk ke arah kamar nya yang berada di lantai atas.


"Apa? Yang benar kamu, Lu!" Noval beranjak dari duduk nya.


Tanpa pikir panjang lagi, Noval melangkah menuju lantai 2, di mana Layla berada dengan wajah tampak cemas, gelisah, panik menjadi satu.


Ada apa dengan mu, nak!


"Layla!"


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....

__ADS_1


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2