
...🥀🥀🥀...
Sementara di kamar lain, seorang wanita lanjut usia, berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan bibir nya
Aku harus bisa, aku tidak boleh menyerah. Ini kesempatan ku untuk mengatakan jika suster Lia selama ini tidak merawat ku. Dia justru ingin membunuh ku! Menguras harta ku! Menikahi cucu ku, Danu! Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi!' tekad nenek Dahlia.
Setelah beberapa jam berusaha untuk bergerak, nenek Dahlia berhasil membuat tubuh nya bergeser ke tepian ranjang.
Bugh.
Nenek Dahlia jatuh tersungkur dari atas tempat tidur ke lantai.
'Tolong, tolong aku, Danu! Kau harus menolong nenek mu ini Danu!' teriak nenek Dahlia, dengan bibir yang berusaha ia gerakkan, namun tidak berhasil mengeluarkan suara nya.
Layla dan Danu yang sedang berada di kamar, sibuk dengan hape dan pemikir nya, kini di buat saling pandang. Saat indra pendengaran nya mendengar benda jatuh dengan keras dari arah luar.
"Apa kau dengar itu?" tanya Layla.
"Kau pikir aku tidak dengar, itu jelas sekali, La!" ucap Danu dengan menyimpan hape nya di dalam saku celana nya.
Bugh.
Layla dan Danu saling bertubrukan di pintu, saat ke dua nya akan melangkah ke luar dengan tidak ada yang mau mengalah.
"Awhh!" pekik Layla.
"Uwhhh!" pekik Danu.
"Ihs, gue duluan!" sungut Layla, mengelusss lengan nya yang kena tiang pintu.
"Ihsss cewe, ngalah kek sama cowok!" sungut Danu, membiarkan Layla melewati pintu lebih dulu.
Apa sakit banget ya? Harus nya tadi gue ngalah, tapi siapa yang tau juga kalo kita bakal tubrukan di pintu. Batin Danu, mengamati tangan Layla yang masih mengelusss lengan nya.
"Denger gak, tadi suara nya dari mana?" tanya Layla.
"Kalo gak salah dari sini!" Danu menunjuk sebuah pintu kamar yang tertutup rapat dengan jari telunjuk kanan nya, "Kamar nenek!" pekik Danu.
Ceklek.
Danu membuka gagang handle pintu.
__ADS_1
"Nenek!" pekik Danu dengan mata membola.
"Astagfirullah, cepetan bege gotong ke tempat tidur!" sungut Layla, sekaligus mengumpat Danu.
Danu dan Layla sama sama membopong tubuh nenek Dahlia dari atas lantai ke atas tempat tidur nya.
"Di mana suster Lia? Harus nya dia ada bersama dengan nenek kan?" Layla celingkukan, mencari keberadaan suster Lia.
"Entah lah, aku tidak melihat nya, terakhir aku lihat pas tadi aku mau ambil sarapan di dapur." jelas Danu, menutupi ke dua kaki sang nenek dengan selimut, ia juga mengatur suhu ruang agar nenek merasa nyaman.
"Lo mau ke mana, La?" tanya Danu, melihat Layla di ambang pintu.
"Mau tau aja lo!" ucap Layla cuek, tanpa berbalik badan untuk menatap Danu.
Layla membuang nafas nya dengan kasar, melangkah ke arah dapur, mencari baskom kecil dan lap yang dapat ia temukan di dapur.
"Udah jelas jelas tadi aku lihat, kaki nenek lebam, kening sama hidung juga lebam, ko bisa ya! Nenek pan gak bisa jalan, kaya kena benda tumpul, apa kena lantai pas tadi jatoh? Tangan nya juga lebam." gumam Layla.
Layla menyiapkan air hangat, Layla mencelupkan jari telunjuk kanan nya ke dalam baskom yang sudah berisi air hangat, memastikan suhu air nya tidak terlalu panas atau pun dingin. Layla membawa baskom serta kain kecil bersama nya.
Tatapan Layla mengarah pada sebuah kamar yang bertuliskan Kamar suster di depan pintu nya.
"Suster Lia ngapain ya! Apa udah di kamar nenek?" tanya nya, namun tidak membuat langkah kaki nya terhenti.
"Buat apaan, La?" tanya Danu, melihat Layla membawa baskom kecil.
"Buat nutup mulut lo, Danu!" celetuk Layla, mendudukkan diri nya di tepian kasur, mulai mengompres kening nenek Dahlia dengan menepis tangan Danu dari sana.
Sreek.
"Ngomong baik baik kan bisa, La!" protes Danu dengan yang Layla lakukan pada nya.
"Bodo amat, suster Lia belum juga keliatan? Kirain udah ke sini, mastiin keadaan nenek!" Layla mengamati wajah nenek.
Layla menyipitkan mata nya tajam, mengamati bibir nenek Dahlia yang tampak bergerak, seolah ada kata yang ingin ia katakan, namun tidak berhasil, ibarat melihat ikan yang sedang cengap cengap.
"Benar juga apa yang kau katakan, suster Lia kemana ya?" Danu beringsut ke tepian ranjing.
"Kau urus nenek ya! Aku mau lihat suster Lia dulu!" Danu melangkah ke luar dari kamar nenek.
"Tanpa kau suruh, aku pasti akan mengurus nenek! Dasar pria aneh! Kau lihat itu nenek, cucu mu... pria yang baik, meski kadang suka memarahi ku!" Layla seolah mengadu pada nenek Dahlia.
__ADS_1
Kini tangan nya beralih mengompres tangan nenek dengan handuk yang sudah di rendam dalam air hangat.
Nenek Dahlia menatap Layla dengan tatapan yang sulit di artikan, apa gadis ini menyayangi Danu? Apa benar Layla ini putri Devita? Jika benar, apa anak ini sudah tau jika dia putri kandung Devita dan tau ayah kandung nya! Tapi kenapa aku melihat ada ketulusan saat gadis ini merawat lebam pada tubuh ku?
Selesai mengompres, Layla menggerakkan tangan nenek Dahlia satu persatu, naik, turun dan menekuk perlahan.
Nenek Dahlia tampak tidak suka dengan apa yang di lakukan Layla. Namun enek Dahlia hanya bisa berteriak dalam hati, dengan wajah tidak senang.
Apa yang di lakukan gadis ini, heh kau, apa yang kau lakukan pada tangan ku! Heh, jangan menyentuh tangan ku! Dasar anak tidak tau diri, jauh kan tangan mu itu dari ku!
"Tidak apa nek, ini bagus untuk saraf saraf pada tangan mu. Biar gak kaku, biar tangan nenek jadi lemes, dan aku harap nenek bisa menggerakkan kembali. Ini butuh proses nek!" terang Layla, menjelaskan pada nenek dengan seutas senyum. Layla juga menceritakan banyak hal pada nenek.
Meski Layla tidak dapat mendengar jeritan hati nenek. Setidak nya ia tau jika nenek tidak suka dengan apa yang di lakukan nya saat ini. Tergambar jelas dari mata nenek yang melotot tajam pada nya.
Layla juga melakukan hal yang sama pada ke dua kaki nenek, satu persatu ia gerakkan kaki nenek.
Tok, tok, tok.
"Sus! Apa kau ada di dalam! Suster!" seru Danu, tangan kanan nya mengetuk pintu kamar suster Lia.
Tok, tok, tok.
"Apa suster Lia gak ada di dalam kamar ya! Lalu dia pergi kemana?" gumam Danu, ia menempelkan. daun telinga kanan nya ke pintu, berharap bisa mendengar suara di dalam kamar.
"Maaf suster, aku lancanggg membuka pintu kamar mu!" ucap Danu dengan tangan yang menarik hendle pintu.
Ceklek.
Pintu kamar suster Lia terbuka sedikit, membuat Danu membulat sempurna, semakin tidak segan untuk membuka pintu kamar dengan lebar.
Melihat apa yang terdapat di dalam kamar, membuat Danu sulit percaya jika itu adalah kamar dari seorang suster yang sudah merawat nenek nya selama ini.
"Apa aku tidak salah memasuki kamar?" tanya Danu pada diri nya sendiri.
Suster Lia melangkah memasuki rumah majikan nya dengan langkah ringan, dengan tangan yang membawa paper bag.
"Astagaaa, siapa yang berani membuka pintu kamar ku?" tanya suster Lia, begitu melihat pintu kamar nya kini terbuka lebar.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅