
...🥀🥀🥀...
"Ahhhh mau!" seru Nina dengan penuh harap menatap Danu dan Layla.
Layla menunduk malu, dengan pipi bersemu. Hati nya seakan berbunga, jiwa nya seakan terbang. Mendengar apa yang baru saja di ucapkan Danu di depan ke 3 sahabat nya.
"Serius tuh pak? Dosa lo pak, udah buat hati istri terbang, gak tau nya apa yang di ucapin pak Danu itu bohong. Sama aja hati Layla di hempas kejurang terdalam." ucap Deri sinis.
Bugh.
"Awwhhhh kamprettt lo, Nin!" sungut Deri.
Nina melemparkan tas selempang nya ke arah Deri, tepat mengenai sasaran nya.
"Bodo amat, lu bacottt sekateee kateee... gak bisa liet Layla seneng apa lo! Ngiri gak punya bini? Cari pacar dulu gih sana!" omel Nina dengan berapi api.
"Ihs sialannn lo, itu realita cuy. Buat apa di puji kalo cuma buat di bikin sakit hati. Gie cuma gak mau aja Layla ke tipu sama ucapan pak Danu yang manis!" Deri meletakkan tas selempang Nina di samping sofa yang duduki.
'Deri bener bener kompor meleduk nih!' batin Mery.
Mery menepuk bahu Nina yang duduk di samping nya, memberi isyarat untuk pulang.
"Hayo lah!" jawab Nina, yang mengerti dengan isyarat yang di berikan Mery.
Mery dan Nina beranjak dari duduk nya, mengayunkan langkah menghampiri ranjang rawat.
"Eh udah sore nih, lebih baik kita balik aja yuk! Biar pak Danu juga bisa istirahat." ujar Mery.
Deri yang mendengar nya pun beranjak dari duduk santai nya, dengan wajah kesal.
Sungut batin Deri, menatap jengkel Mery. 'Kenapa juga sih harus balik sekarang! Gue kan masih pengen berlama lama nemenin Layla!'
Layla yang sempat terbuai dengan omongan Danu, jadi ikut terpengaruh dengan apa yang di ucapkan Deri.
'Apa mungkin ka Danu gak setia sama gue? Rumah tangga yang di dasari perjodohan ini bakal kandas? Seperti apa yang gue mau dulu di awal pernikahan gue, pergi dari mereka semua setelah gue lulus sekolah! Apa itu yang gue inginkan saat ini?'
Danu menggenggammm erat jemari Layla, lalu menggeleng kan kepala nya. Menatap dalam mata indah Layla yang di penuhi keraguan.
"Sahabat mu mau pulang!" ujar Danu, menyadarkan Layla dari lamunan nya.
"Eh i- iya ka! Aku antar mereka sampe pintu dulu!" ucap Layla dengan tergagap, beranjak dari tepian ranjang rawat Danu.
"Kita pamit ya pak! Cepet sehat pak, biar bisa ngajar lagi!" pamit Nina saat berada di sampingDanu.
"Taklukan terus hati Layla, pak! Dia cuma gak mau gagal sama kaya bapak dan ibu nya!" ujar Mery dengan merangkul bahu Layla.
"Saya tau itu, kalian hati hati lah! Terima kasih sudah menjenguk saya!" ucap Danu dengan tulus.
__ADS_1
"Apa gak tar aja balik nya?" tawar Deri pada Mery dan Nina.
"Kita balik ya, La! Lo jangan pikirin ucapan Deri!" ucap Mery, dengan ekor mata menatap jengkel Deri yang mengekor di belakang ke tiga nya.
"Eh jangan pengaruhin sohib gue lo!" sungut Deri.
"Dasar lo! Tamu gak sopan, kaga pamit lo sama pak Danu! Di kasih nilai jelek baru nyahooo lo!" ancam Nina dengan tatapan mengejek.
"Sialan lo!" umpat Deri.
"Pak, pamit pak! Awas kalo sampe bapak kasih saya nilai jelek!" ancam Deri, dengan tangan melambai, tanpa menoleh dan tanpa menghentikan langkah kaki nya.
"Besok lo izin apa sekolah, La?" tanya Mery, saat ke empat nya sudah di depan ruang rawat.
"Belom tau gwe!" jawab Layla.
"Beneran di usut sama polis, La?" tanya Nina, menatap lurus ke depan.
"Kaya nya mah! Kalian hati hati ya! Makasih udah di jengukin!" ucap Layla pada ke 3 nya. Tangan nya memeluk Nina dan Mery.
"Gue kaga, La? Mau di pekuk sama lo!" ucap Deri dengan wajah memelas.
Sreeek.
"Gak usah, kita balik La!" seru Mery, dengan menarik tangan kanan Deri.
Sedangkaan Nina menarik tangan kiri Deri.
3 orang berpakaian polisi, berjalan mengekori papa Baskoro dan juga Noval, melangkah semakin dekat di mana Layla berpijak.
"Pah, ayah!" Layla menyalami ke dua pria paruh baya yang kini berdiri mengapit nya.
"Kamu pasti bertanya tanya, bapak polisi ini ingin meminta keterangan dari Danu. Mengenai kecelakaan yang terjadi pada Danu!" terang papa Baskoro, menjelaskan pada Layla.
"Iya, tadi ka Danu udah bilang gitu sama Layla!" ucap Layla, dan membiarkan ke tiga polisi masuk ke dalam ruang rawat Danu.
"Mama sama Lulu, kemana yah?" tanya Layla, tidak melihat keberadaan adik tiri dan ibu sambung nya.
"Lulu tadi gak enak badan, maka nya ayah minta mama pulang menemani Lulu di rumah." jelas Noval, sambil mengajak ke tiga nya duduk di bangku stainless yang ada di depan ruang rawat Danu.
"Lulu sakit?" tanya Layla, perasaan tadi Lulu baik baik aja di dalam, cuma muka nya aja ya kesel gitu.
"Iya sayang! Kami mau pulang kapan, nak? Biar papa antar kamu pulang!" ucap papa Baskoro.
"Biar Layla malam ini tidur di rumah sakit pah, nemenin ka Danu!" tolak Layla.
"Jangan nak, mending kamu biar ayah yang antar pulang." protes Noval.
__ADS_1
"Bener itu apa kata ayah kamu, sayang! Lebih baik kamu pulang ya! Biar papa yang temani Danu di rumah sakit! Kamu bisa istirahat dengan nyaman di rumah!" ucap Baskoro, mendukung keputusan Noval.
Layla menggenggammm tangan papa Baskoro dan ayah Noval. "Gimana Layla mau tidur dengan nyaman, kalo hati dan pikiran Layla ada di rumah sakit? Biarkan Layla tinggal di sini, nemenin ka Danu! Papa sama ayah, pulang aja, tidur di ruamh! Kalo ada apa apa, pasti Layla akan kabarin kalian berdua!" ucap Layla tanpa ragu.
Baskoro dan Noval sama sama saling pandang.
"Baik lah, jika itu keputusan mu. Kalo ada apa apa, kabarin ayah!" ayah Noval mengelusss puncak kepala Layla dengan tatapan bangga.
"Kalo kamu berubah pikiran, nanti kabarin papa. Biar papa minta pak supir untuk menjemput kamu!" ucap papa Baskoro.
"Iya lah, yah!" ucap Layla dengan senyum merekah.
Papa Baskoro dan ayah Noval, meninggalkan rumah sakit. Setelah polisi meninggalkan ruang rawat Danu. Polisi juga melakukan penjagaan di depan ruang rawat Danu.
"Apa yang pak polisi tanyakan sama ka Danu?" tanya Layla yang kini membaringkan tubuh nya di atas ranjang rawat, menjadi kan lengan Danu sebagai bantal kepala.
"Jika aku katakan pada mu, apa kau akan menghawatirkan keadaan ku?" tanya Danu, yang bukan menjawab pertanyaan Layla.
Layla mendongakkan kepala nya, menatap wajah Danu dengan tatapan menyelidik.
"Mau katakan atau gak? Jangan memancing kemarahan ku, ka!" tanya Layla dengan penuh penekanan.
"Menggemaskan sekali istri ku ini!" Danu mencubit hidung Layla.
"Astagaaa! Jawab pertanyaan ku! Ini gak ada hubungan nya sama gudang kaka yang bermasalah itu kan?" tebak Layla dengan tatapan menyelidik.
Danu mengerutkan kening nya. 'Bagaimana tebakan Layla bisa benar, jika ini ada hubungan nya dengan gudang.'
"Ka!" seru Layla dengan tangan yang terulur menekan dada Danu.
Danu menatap bibir Layla yang terus bergerak, dan tatapan nya kini turun ke arah melon kembar Layla yang menempel di dada nya, ternyata berhasil mengusik adik kecil Danu yang tengah terlelap.
"Boleh kan aku meminta nya sekarang?" gumam Danu tanpa sadar dengan menelan saliva nya.
Layla mengerutkan kening nya, menatap aneh Danu.
"Danu!" seru Layla saat jemari Danu dengan nakal bergerak naik di atas paha nya.
Bugh.
"Awhhhh!"
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...