Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Memanipulasi keadaan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Udah gak apa, lo udah aman Mery!" seru Arsandi, dengan suara nya yang terdengar lembut di telinga Mery.


"Arsandi! Bu- bukan gue yang sa- salah, ta- tapi bo- bocah tengil itu yang menggoda gue... iya Arsandi, Mery yang menggoda gue duluan! Gue gak ada niat buat nyentuh dia. Gue berani sumpah, Arsandi!" kilah Bayu, dengan memanipulasi keadaan, memutar balikkan fakta, dengan menyalahkan Mery.


Mery menjauhkan tangan nya dari muka nya, menggeleng kan kepala nya seraya melakukan pembelaan atas tuduhan Bayu.


"Gak benar, dia salah. Dia bohong, pak Bayu yang jebak gue. Gue cuma di minta ke sini sama Nina, Nina bilang ada yang pengen ketemu sama gue. Gue gak bohong hiks!" Mery menatap Arsandi dengan tatapan sedih, bulir bening terus menerobosss dari pelupuk mata nya.


'"Gue tau lo gak bohong, Mer!" seru Arsandi, berlalu meninggalkan Bayu.


"Arsandi, lo begooo, lo tololll, lo dunguuu, kalo lo lebih percaya sama itu bocah. Itu bocah pandai berdalih, Arsandiii!" teriak Bayu, berusaha mendapatkan kepercayaan Arsandi.


"Lo percaya sama gue?" tanya Mery dengan tangan menyilang di depan dada nya, tatapan nya tersirat kesedihan, dengan suara yang pelan karena teralu lama berteriak.


"Hem!"


"Makasih udah mau selametin gue!" seru Mery dengan masih sesenggukan.


"Gak usah bilang makasih, lo itu sahabat Nona, semua yang tinggal di sini, tanggung jawab gue." ucap Arsandi tegas.


"Gue mau pulang, gue gak mau tinggal di sini lagi." rengek Mery bak anak kecil dengan sisa tangis nya.


'Kasian, nih bocah pasti ketakutan banget. Kelihatan nya aja yang kuat, berani, tapi nyata nya, cuma seorang gadis kecil yang butuh perlindungan.' Arsandi tersenyum dengan pemikiran nya.


"Kita pasti bakal pulang, Mer! Tapi gak sekarang ya!" ucap Arsandi dengan yakin.


Di depan kamar yang di tempati Nina dan Mery, Arsandi mengetuk pintu dengan di susul seruan. Sementara Mery masih dalam gendongan Arsandi, dengan tatapan Mery yang mengamati wajah rupawan nan tegas Arsandi.


Tok tok tok.


"Nina, buka pintu nya. Ini saya Arsandi!" ucap Arsandi dengan tatapan pan ke depan pintu yang masih tertutup rapat.


Tok tok tok.


"Nina! Buka pintu nya! Biarkan Mery masuk!" seru Arsandi lagi, menoleh sesaat ke arah Mery, lalu tersenyum.


'Gue gak nyangka, pak Arsandi baik juga. Gak ada kesan galak, malah ngelindungin gue. Bisa aja kan, pak Arsandi tutup mata, tutup kuping ngeliet pak Bayu bajingannn itu ngapa ngapain gue. Gue berhutang sama lo, pak Arsandi! Apa yang bisa gue lakuin buat balas kebaikan lo ini?' batin Mery.


Ceklek.

__ADS_1


"Loh pak, Mery kenapa? Kenapa bisa sama bapak? Bukan nya sama pak Bayu?" cecar Nina bak petasan banting.


Arsandi menerobosss masuk, tanpa memperdulikan ocehan Nina. Ia membaringkan Mery ke atas tempat tidur yang masih tampak rapih kain sprei nya.


"Besok pagi saya akan minta izin Tuan Danu dan Nona untuk mengantarkan kamu pulang." cicit Arsandi yang berlalu ke luar dari kamar itu.


Arsandi turun lagi ke lantai satu, membuatkan secangkir teh hangat manis untuk Mery.


'Bearti benar, apa yang di katakan Mery. Ia hanya di jebak Bayu. Aku harus memberi tahu Tuan Danu dan Nona Layla. Biar bagaimana pun mereka berhak untuk tau kelakukan buruk Bayu, hampir aja Mery hilang kegadisannn nya. Entah bagaimana cara berfikir mu Bayu, bisa bisa nya punya niat buruk pada sahabat Nona Muda mu sendiri.' batin Arsandi, melangkah menuju kamar Mery.


Tok tok tok.


"Buka pintu nya Nina, ini saya Arsandi." ucap Arsandi setelah mengetuk pintu.


Ceklek.


"Terima kasih ya pak, bapak udah mau ngelindungin sahabat saya, Mery!" ucap Nina, mengekor Arsandi yang menerobosss masuk.


"Sudah kewajiban saya!" jawab Arsandi datar, menghampiri Mery yang tengah bersandar pada kepala ranjang tempat tidur nya.


"Minum ini dulu! Jangan khawatir, ini bukan racun." ucap Arsandi setelah berdiri di samping Mery, tapi Mery hanya melihat cangkir yang di bawa Arsandi ragu untuk meraih nya.


'Nina ngomong apa sih, pake tanya kaya gitu ke pak Arsandi, gue jadi gak enak kan!' sungut Mery, menatap gak suka Nina.


"Nin!" seru Mery.


"Saya rasa gak, mengambil kesimpulan dengan cepat itu. Sama aja dengan gegabah!" ujar Arsandi dengan menatap Mery.


Mery yang sedang meminum teh hangat manis nya, langsung tersendak mendengar jawaban Arsandi.


"Minum pelan pelan." Arsandi menepukkk nepukkk punggung Mery dengan pelan.


"Tolong jangan kasih tau pak Danu, sama Layla. Gue gak mau buat mereka cemas. Gie gak mau ngerusak liburan mereka." ucap Mery.


"Kalo begitu, kamu tetap bertahan di villa ini. Tetap tinggal seperti rencana awal, kita 4 hari bermalam di villa ini!" ujar Arsandi mengingat kan Mery.


Mery menelan saliva nya dengan sulit, bayang bayang Bayu muncul kembali. Setelah mendengar penjelasan Arsandi, jika ia harus tinggal selama 4 hari yang berarti masih ada 2 hari untuk tinggal di villa, tatapan Bayu yang buas, seakan ingin menerkammm nya menari nari di pelupuk mata nya.


Mery hampir aja melepasss cangkir teh yang sedang ia pegang, jika gak segera di tangkap Arsandi.


"Kamu tenang aja, selama kalian tidur. Saya akan berjanga di luar kamar." ucap Arsandi, memberikan ketenangan di mata Mery.

__ADS_1


"Udah pak, jadiin aja sama Mery. Ketawan bapak ngelindungin bini hehehehe." ledek Nina.


"Kalian tidur lah, ini udah larut." ucap Arsandi, hendak meninggal kan ke dua nya.


Grap.


"Makasih sekali lagi, pak!" ucap Mery, dengan tangan menggenggammm pergelangan tangan Arsandi.


"Iya, tidur lah! Jika butuh apa apa, katakan pada saya!" pesan Arsandi.


...---...


"Ka Danu, apa aku cuma mimpi. Aku tadi kaya dengar suara Mery teriak minta tolong." ucap Layla, dengan wajah mengadah ke arah Danu yang sudah terlelap.


"Ka Danu!" seru Layla dengan suara yang lebih keras lagi.


"Hemmm! Apa sayang! Udah malam, tidur lah!" ucap Danu dengan mata terpejam.


"Gak bisa tidur lagi, aku takut terjadi apa apa sama Mery. Anterin aku ke kamar Mery yuk ka!" pinta Layla dengan di sertai rengekan, tangan nya mengguncanggg dada bidang Danu.


Dengan mata yang sulit terbuka, Danu memaksaaa kan ke dua mata nya untuk terjaga, mencoba mengumpulkan nyawa nya sebelum ia beranjak dari tempat tidur.


"Ayo ka! Perasaan aku gak enak ka!" seru Layla, jemari nya bergerak membuka kelopak mata Danu yang masih terpejam.


"Ini sebentar lagi sayang, aku pasti akan bangun." ucap Danu dengan beranjak duduk.


Danu mengantar Layla ke kamar Mery dan Nina yang ada di lantai yang sama dengan nya. Namun tatapan nya menjadi tanda tanya, saat melihat Arsandi yang tengah tertidur dengan posisi duduk di sofa, di depan kamar Nina dan Mery.


"Kenapa bisa ada pak Arsandi di depan kamar Nina dan Mery ka? Mereka gak lagi aneh aneh kan?" tanya Layla.


"Aneh aneh gimana maksud kamu, sayang?"


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


__ADS_2