
...🥀🥀🥀...
"Apa kamu masih harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lagi La?" tanya papa Baskoro.
"Uhuk uhuk uhuk!" Layla tersendak makanan nya dengan wajah memerah.
"Minum dulu sayang!" Danu beranjak menyodorkan segelas air putih lebih dekat hingga menyentuh bibir Layla. "Minum pelan pelan!" tambah nya lagi.
Layla menuruti nya dengan pikiran nya yang melalang buana. 'Kenapa papa menanyakan itu di saat seperti ini?Apa mau papa sebenar nya?Apa papa mengira aku yang melakukan nya? Apa ka Danu juga berfikir aku yang melakukan nya? Tapi tadi ka Danu bilang, curiga sama Lulu.'
"Pah, kita kan lagi makan. Jangan bahas itu lah pah! Bahas yang lain aja!" sela Danu.
"Iya iya, maaf. Papa kan hanya penasaran. Siapa yg tega berbuat sekejammm itu sama Sifanye? Yah jujur aja, papa gak suka dengan perangai nya yang semena mena sama kamu, La! Maaf ya La, papa terlalu berterus terang." ucap Baskoro dengan tangan nya yang menyuapkan makanan ke dalam mulut nya.
"Iya pah."
Selesai makan malam, ke tiga nya kembali berkumpul di ruang tengah.
"Ada yang ingin papa bicarakan sama kalian berdua." terang Baskoro serius.
"Apa lagi pah? Bukan soal tewas nya mama Sifanye kan?" tebak Danu.
"Itu mah biar jadi urusan kepolisian aja, papa gak mau ambil pusing. Menurut kalian, gimana kalo papa membawa nenek Dahlia berobat ke luar negri, menjalani terapi di sana!" usul papa Baskoro.
"Emang nenek mau? Nenek kan gak pernah mau di ajak ke luar negeri." ucap Danu.
"Maka nya itu, papa minta bantuan kalian untuk membujuk nya, yah kali aja dengan iming iming cicit, bisa memacu semangat nenek kembali untuk bisa berjalan!" ucap Baskoro dengan menyandarkan punggung nya pada sandaran sofa.
Danu menggelengkan kepala nya. "Baru tadi papa bilang Layla masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu, kenapa sekarang berubah lagi?" tanya Danu dengan gelengan kepala, gak abis fikir dengan sang papa.
'Eh apa aku gak salah dengar? Papa dan ayah dari awal pernikahan ku, sangat ingin aku dan ka Danu segera memiliki anak. Jangan bilang ada maksud lain dari ini?' pikir Layla meski hanya dalam hati, menunjuk kan gak setuju dengan keinginan papa mertua nya itu.
Grap.
Danu semakin membawa Layla ke dalam dekapan nya, yang tengah duduk di sisi kanan nya.
Tangan Danu mengelusss lengan Layla, sesekali mencengrammm nya lembut. "Gakk usah di dengerin omongan papa." ucap Danu dengan tatapan mengejek sang ayah.
"Bocah tengilll, apa maksud mu? Jangan bilang jika Layla tengah berbadan dua saat ini?" tebak Baskoro tanpa alasan.
Dengan cepat Layla menepis nya, dengan ke dua tangan di depan, mengisyaratkan tidak.
"Gak pah, papa salah paham. A- a- aku gak lagi hamil. Beneran pah! Ka Danu cuma asal bicara!" kilah Layla.
__ADS_1
Baskoro membuanf nafasnya kasar. "Papa pikir, kamu beneran hamil." ucap Baskoro dengan nada kecewa.
Kreek.
Layla mencubittt pinggang Danu.
"Awwhhh geli sayang!" Danu menggeliat kegeliannn dengan tatapan menggoda.
"Apa?" Layla membola dengan ternganga.
'Ka Danu ini, benar benar membuat sakit kepala!' gerutu Layla dengan tatapan gak suka.
"Jemari mu lebih manis jika di gunakan untuk mengelusss pipi ku!" Danu menggenggammm jemari Layla, membawa nya hingga menyentuhhh pipi nya sendiri.
"Astagaaa ka Danu!" seru Layla dengan suara penuh penekanan, pipi nya kini merona.
"Apa?" Danu mendekatkan wajah nya dengan wajah Layla, dengan singkat mengecup bibir Layla.
Cup.
"Ahahahha jadi seperti ini, keseruan kalian berdua saat di rumah?" tanya Baskoro, melihat interaksi ke dua nya tanpa canggung Danu menggoda Layla.
Layla menoleh ke arah papa mertua nya yang sedang tertawa bahagia.
"Layla ngantuk pah, be- besok juga ada ulangan harian. Sekalian belajar buat besok!" seru Layla dengan tergagap, mencari alasan yang ia pikir masuk akal.
"Kalo ngantuk, ya tidur La! Jangan di paksakannn untuk belajar. Salah kan suami mu jika kamu dapat nilai jelek saat ulangan!" cicit Baskoro, mendelik ke arah Danu.
"Hah? Kenapa salah kan ka Danu, pah?" Layla menggaruk kepala nya yang gak gatal, namun berhasil membuat nya bingung dengan ucapan Baskoro.
"Iya karena suami mu guru, kenapa gak bisa buat nilai mu bagus! Malah membuat nilai mulai mu berantakan! Gak lucu kan!" ujar Baskoro dengan mudah nya.
"Oohhh, a- aku kembali ke kamar pah!" Layla berjalan cepat meninggalkan ke dua nya.
"Aku akan menyusul mu La, setelah membereskan pria tua ini!" Danu lagi lagi menggoda Layla.
"Dasar ka Danu sintinggg! Gak malu apa bilang gitu di depan papa!" umpat Layla, menoleh sejek ke arah Danu, lalu menjulurkan lidah nya.
Plak.
Baskoro melemparkannn majalah yang ada di kolong meja, ke arah Danu.
Pluk.
__ADS_1
"Ugghhh apa sih pah!" Danu menyingkirkan majalah yang mendarat di pangkuan nya.
"Senang sekali kamu menggoda istri mu! Jika ada mama mu, kamu pasti sudah di pecat sebagai putra nya." omel Baskoro.
"Gak apa aku di pecat sebagai putra nya, asal gak di pecat dari status suami Layla aja." Danu tersenyum penuh kemenangan, bangkit dari duduk nya.
"Dasar bocah bucin, kau pasti ingin menyusul istri mu kan!" Baskoro terkekeh dengan gelengan kepala nya.
'Kenapa bocah itu persis dengan ku? Asal jangan akhir cinta yang sama tragis dengan ku.' batin Baskoro.
Danu melambaikan tangan nya tanpa menoleh, menaiki anak tangga.
Sementara di tempat lain, jeruji besi.
Krenggg krenggg krenggg.
"Ke luarin saya dari sini pak! Saya gak salah! Harus nya bapak tangkap Layla! Dia yang buat saya jadi kaya gini!" teriak Lulu, dengan tangan nya yang mengguncanggg teralis besi penjara.
"Heh bocah! Bisa diam gak lu!" seru salah satu nara pidana yang ada di dalam sel yang sama dengan Lulu.
"Tau nih anak, dari masuk udah berisik banget! Jangan buat gaduh deh lo!" seru penghuni lain nya.
Lulu menatap mereka semua dengan seringai di bibir nya. 'Gue bisa manfaatin mereka, lalu gue bisa ke luar dari sini. Meski dengan resiko babak belur! Tapi gue harus bisa ke luar dari tempat ini!' tekad Lulu dengan tangan mengepalll.
"Emang kenapa gue harus nurut sama kalian? Kalian bukan orang tua gue! Gak nyadar kalo kalian di sini juga di penjara! Bangga jadi tahanan? Dasar kalian manusia sampah! Manusia yang gak bernilai! Mati pun kalian gak akan ada yang perduli!" seru Lulu panjang kali lebar, memancing kemarahan penghuni nara pidana lain nya.
"Kurang ajar nih bocah!" seru salah satu penghuni nara pidana dengan tanagn mengepalll.
"Kamprettt, besar juga nyali ini anak!" salah seorang penghuni menatap teman nya yang lain.
"Udah kasih aja pelajaran. Biar nih bocah tau, siapa kita!" ucap nya dengan tatapan tajam ke arah Lulu.
"Kalian pikir, gue takut? Cuma sampah yang takut dengan kalian!" seru Lulu, berusaha tenang menghadapi penghuni lain nya yang kian berjalan mendekat ke arah nya.
Bugh bugh bugh.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅
__ADS_1
Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya 😭😭