
...🥀🥀🥀...
"Lu ngomong apaan, La?" tanya Nina, samar samar telinganya mendengar Layla bergumam nama Danu.
Layla gugup untuk menjawab pertanyaan Nina, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"A- anu itu... emmm gak, gak ada ko, emang kenapa sama Danu?"
Nina menatap Layla dengan mata menyipit tajam. "Gak sopan lo! Dia itu guru kita, masa lo panggil Danu, kemana itu pak'nya?" Nina mengerucutkan bibirnya.
"Iya maksud aku pak."
"Kalian, kenapa sibuk ngobrol sendiri? Apa kalian punya pembahasan materi yang harus saya bawakan hari ini?" tanya Danu dengan suara tegas, tatapan tegas mengarah pada Layla dan Nina.
"Gak ada pak, kita gak ngobrol ko. Iya kan Nin!" Layla menyenggol lengan Nina.
"Iya pak, Layla cuma tadi nanya saya, minta nomor hape bapak!" ucap Nina dengan cengengesan, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Layla.
"Lo! Gue kan gak minta lo ngomong gitu! Kapret lo, Nin!" sungut Layla dengan wajah merona, mencubit gemas paha Nina dengan tangannya.
"Ahahahaha kirain yang namanya Layla itu gak pernah bisa suka sama cowok, eh ternyata sukanya sama pria dewasa." celetuk Sopur dengan terbahak.
"Hus Sopur, toa di kondisikan! Tar pak Danu salting nih! Ahahhahaha." Tomi ikut tergelak menimpali Sopur.
"Apaan sih kalian, gak lucu deh. Udah pak mending langsung bahas materi aja, kasih soal kek." Layla menutupi rasa gugupnya, ia membuka lembar demi lembar buku materi yang ada di hadapannya, buku yang sejak tadi sudah bertengger dengan nyaman di atas meja.
"Aaaah kaga seru lo, Lay!" ucap Juni.
"Tau nih, mending cerita pak, perjalanan bapak gitu kenapa bisa jadi guru pengganti di mari!" usul Mimi dengan menopang wajahnya dengan ke dua telapak tangannya, sedangkan sikunya bertumpu di atas meja.
"Dulu bapak sekolah di mana, pak? Tunangan bapak apa gak takut tuh... biarinin bapak ngajar kita?" tanya Mery dengan tatapan mengarah pada Layla.
Layla menelan salivanya dengan sulit, kenapa sama Mery, ngelietin gue gitu banget! Apa dia curiga sama Danu? Tapi gak lah, Mery kan baru kenal Danu hari ini.
"Ehem saya rasa... saya tidak perlu menjawab pertanyaan kamu. Kita langsung saja, buka buku paket kalian dan kerjakan halaman 45 sampai halaman 49, sebelum jam istirahat... sudah harus di kumpulkan di meja saya!" terang Danu dengan tegas.
"Waaaah yakin dah gua mah, kaga seru paaak!" Juni menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap buku materi dengan malas, gila ini guru pengganti apa monster sih! Gak kira kira ngasih tugas. Mana gua gak ngerti.
__ADS_1
Layla langsung mengerjakan tugas yang di berikan Danu. Kelas yang awalnya ribut, kini pun kembali tenang, dengan semua murid yang kompak mengerjakan soal.
Danu melirik sekilas ke arah Layla, apa mungkin yang di ucapkan papa itu bohong, tapi masa iya kepala sekolah ikut bohong, aku lihat tidak ada yang salah dengan Layla, Teman temannya juga biasa saja. Tidak ada kesan membully.
Hingga bel istirahat menggema.
Teng teng teng teng.
Puk puk puk.
Danu mengetuk ngetuk meja dengan penghapus papan black board.
"Tunggu apa lagi! Cepat kumpulkan tugas yang kalian kerjakan, jika kalian ingin istirahat! Tapi jika tidak, kalian bisa lanjutkan mengerjakannya!" ucap Danu tegas.
"Uuuhhh gak asik nih pak! Guru baru udah kasih tugas banyak!" sungut Mimi, ia mengumpulkan tugas yang ia kerjakan di atas meja guru.
"Apa ada yang ingin kau katakan pada ku, Layla?" tanya Danu pelan, saat Layla mengumpulkan tugas yang ia kerjakan.
"Gak ada, pak... saya permisi duluan pak!" seru Layla dengan perasaan yang berkecamuk, berada di dekat Danu, membuatnya sulit untuk bernafas, dengan debaran jantungnya yang seakan ingin melompat ke luar.
Di belakang taman sekolah, sambil duduk dengan alas daun pisang seadanya. Layla dan Mery tampak asik menikmati cemilan yang mereka beli dari kantin, dengan 2 siswa lainnya dari kelas lain, ada Wisnu dan Bayu.
"Ayo La, lo udah janji sama gue. Tadi lo turun dari mobil siapa? Jangan bilang lo jadi simpenannn om om berperut buncit!" tuduh Mery yang sudah tidak bisa mengerem bibirnya untuk bertanya.
"Byuurr sumpah lo!" Wisnu menyemburkan minuman yang sudah ada di dalam mulutnya, lalu menghapus sisa sisa di dagunya dengan tangannya sendiri.
"Biasa aja dong lo!" sungut Mery.
"Serius lo, La? Gampangan dong itu mah!" celetuk Bayu, "Udah gak itu dong lu, La!" Bayu menatap tajam pada sesuatu yang berharga pada Layla.
"Kampret lo, ya gak lah. Itu ayah Noval, tadi ayah nyempetin buat anter aku sama Lulu juga ke sekolah." terang Layla.
"Serius itu bokap lo? Anak horang kaya dong lo, La?" tanya Bayu dengan bersemangat.
"Kenapa kalo Layla orang kaya? Salah gitu kalo dia gabung sama kita di sini?" tanya Mery dengan tatapan tidak suka saat kata orang kaya di sematkan pada Layla.
"Bukannya gitu, bisa kali kalo kita gak punya duit. Layla yang bayarin dulu, itu barang kan kita beli gak murah Mery!" ucap Bayu dengan seringai di bibirnya.
__ADS_1
"Gak ah, aku gak berani kalo nolongin kalian soal barang itu, kenapa kalian gak berhenti aja sih gunain itu barang! Itu barang bisa merusak masa depan kalian tau gak!" ujar Layla.
"Ciihhs jangan sok suci deh La, mending lo ikut deh nyobain itu barang, pasti lo bakal nagih deh. Sama kaya Mery yang awalnya nyoba jadi nagih " tetang Wisnu dengan tatapan sinisnya.
Layla beranjak dari posisinya, membuat Mery bertanya padanya. "Mau ke mana lo, La?"
"Toilet, mau ikut?" tawar Layla.
"Seriusan ke toilet lo? Bukan buat ngaduin kita kan?" tanya Bayu dengan tatapan menyelidik.
Layla menyipitkan ke dua matanya, "Jangan bilang lo bawa barang itu ke sekolah juga!" Layla menatap satu persatu teman nongkrongnya itu.
Mery dan Wisnu menggelengkan kepalanya, sementara Bayu mengangguk dengan cepat.
"Kampret lo pada, gak takut apa kalo ada yang ngadu, terus ada razia, bisa ketawan pihak sekolah!" ucap Layla dengan menggaruk kepalanya frustasi.
"Kita bakal aman selagi lo ngak buka mulut, La! Lagi juga, lo ketawan ngapa? Lu buat make itu barang aja juga gak mau kan!" Wisnu mengingatkan kembali.
Layla menganggukkan kepalanya, ia juga ya, gua kan bersih, gak pake itu obat.
"Udah sana ke toilet, langsung balik lu ke sini!" oceh Mery.
Layla melangkah meninggalkan ke tiga temannya. Wisnu dan Bayu, mereka satu sekolah dengan Mery saat di sekolah menengah pertama dulu. Mereka bertiga sama sama menggunakan barang haram yang di sebut narkotika.
Layla sendiri tidak membatasi pergaulannya dengan temannya itu, selama mereka tidak merugikan Layla, ia akan berteman dengan mereka. Selama Layla masih kuat pendirian, ia tidak akan jatuh terjerumus. Karena sebelumnya Layla sudah tidak asing lagi dengan barang itu. Barang yang sudah membuat Tati menjauh darinya.
"Kamu istirahat di mana, La?" suara Danu dari arah belakang, mengagetkan Layla yang baru saja ke luar dari toilet putri.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....
...Makasih yooo ☺️☺️...
__ADS_1