Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Bibir lemes


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Kini Danu dan Bayu, berhadapan dengan polisi yang menjadi pimpinan saat penangkapan ke tiga pelaku.


"Maaf pak, untuk pelaku satu nya... kenapa saya tidak melihat nya?" tanya Danu dengan serius.


Bayu yang masih belum mengerti arah pembicaraan Danu, menatap Danu dan pak polisi dengan bergantian dengan seribu tanya yang menjalar di hati nya.


'Ini masalah Danu, kenapa kaya nya pelik amat sih... gue pikir cuma Aleta dan Wisnu aja yang terlibat, tapi ternyata ada lagi?' batin Bayu.


"Untuk anak itu, kami larikan ke rumah sakit pak. Karena sempat mencoba melarikan diri, dengan terpaksa kami hadiahi timah panas. Dan sekarang masih di rawat di rumah sakit polri." terang pak polisi.


"Bisa kan, saya ke sana untuk melihat nya pak?" tanya Danu, udah gak sabar pengen bertanya langsung pada anak itu.


'Aku gak bisa menunggu lagi, aku harus tau... kenapa anak itu ikut terlibat dengan Aleta dan Wisnu! Kalian tidak akan bisa lepas semudah itu dari ku!' batin Danu, dengan aura dingin, mengepalkan tangan nya yang ada di bawah meja.


"Boleh pak. Tapi dari hasil penyelidikan. Anak itu tidak terlibat langsung. Yang cukup berperan besar adalah wanita yang bernama Aleta, selain ikut terlibat, ia adalah otak dari kecelakaan yang menimpa anda." terang pak polisi.


"Saya minta tolong pak, hukum mereka seberat berat nya, kalo bisa... buat mereka mendekam lama di penjara!" terang Danu.


"Bapak jangan khawatir, kami akan bertindak tegas pada siapa saja yang melakukan kesalahan, sesuai dengan pasal yang berlaku." terang pak polisi lagi.


"Kalo begitu, saya permisi pak! Terima kasih atas bantuan nya!" Danu mengulurkan tangan kanan nya, yang di sambut dengan pak polisi yang membalas nya.


Danu dan Bayu kini berada di salah satu cafe.


"Lu yakin gak mau terus terang sama gue?" tanya Bayu, dengan tatapan menyelidik.


Bayu memainkan sendok pada cangkir kopi yang ada di hadapan nya. Sementara Danu, menikmati kopi panas nya yang tengah ia seruput.


Danu membuang nafas nya dengan kasar. "Lo tau kan, kemaren gue terlibat kecelakaan." ujar Danu, mengingatkan Bayu.


"Iya tau, malah itu sempat viral. Malah ada beberapa media online, yang ngabarin hal buruk terkait kondisi lu, bro!" uraj Bayu, menatal sahabat nya itu dengan tatapan menelisik.


"Lo liet sendiri di video itu. Begooo kalo lo masih banya tanya!" Danu menyodorkan benda pipih milik nya, memperlihatkan pada Bayu lewat tampilan video yang menyala di layar hape milik nya.


"Gila, gak habis pikir gue... bisa bisa nya Wisnu sejahat itu sama lo!" sungut Bayu dengan wajah emosi.


"Gak usah di bahas lagi! Toh dia bakal mendekam lama di penjara!" Danu beranjak, mengambil hape nya yang ada di atas meja. Menyimpan kembali di dalam saku jas nya.


"Lo bakal ikut reuni kan, Dan? Gak lama lagi lo itu!" Bayu mengingatkan kembali.


"Liet nanti aja!" ucap Danu yang mengayunkan langkah kaki nya meninggalkan cafe, setelah meletakkan uang di atas meja, untuk membayar apa yang mereka pesan.


"Kembali ke kantor!" ujar Danu, yang sudah duduk di kursi penumpang.

__ADS_1


"Baik Tuan." terang Arsandi.


...---...


Sementara di sekolah Layla. Pelajaran kosong, karena semua guru tengah membahas apa yang terjadi pada salah satu anak didik nya.


"Kira kira, kenapa Irfan sampe di bawa sama polisi ya?" tanya Layla, pada Nina.


"Entah lah, gue juga gak tau." jawab Nina dengan mengerdikkan ke dua bahu nya.


"Gue gak nyangka lo, Irfan bisa terlibat masalah hukum." ujar Ratna.


"Perasaan di kelas ini yang harus nya terjerat hukum itu kan lo, Sopur dan ka Nugi. Tapi ternyata setelah Sopur dan ka Nugi, masih ada Irfan. Di luar ekspektasi kan!" celetuk Julia.


"Kamprettt lo, bisa bisa nya lo ngomong gitu di depan gue! Nyumpain lu, gue ngalamin hal yang sama kaya Sopur dan ka Nugi? Gue gak sebodoh itu ya! Gue masih butuh ini ijazah, buat modal gue cari kerja." terang Ratna dengan mata melotot, gak terima dengan ucapan Julia.


Julia membuang nafas nya dengan kasar, menopang wajah nya dengan satu tangan nya yang bertumpu pada meja.


"Lo pikir deh, kejahatan apa yang bisa Irfan lakuin, sampai itu anak di datengin ama pak polisi, terus di bawa ke kantor polisi. Ampe sekarang pun... itu anak belom juga balik ke sekolah. Apa langsung di tahan ya?" cecar Julia, dengan berbagai pertanyaan yang terlontar dari bibir lemes nya bak ember bocor.


"Lo tanya gue, gue tanya siapa?" tanya Ratna, dengan menunjuk Julia dan diri nya secara bergantian, lalu bibir nya mengerucut.


"Gays, kenapa kita gak di pulangin aja sih sama pihak sekolah! Sayang tau di kelas tapi gak belajar, jam kosong oy!" protes Deri dengan menarik kursi, lebih dekat ke meja Layla dan juga Nina.


"La, tar abis dari sini... kita maen yuk ke restoran lo! Kita ngadem gitu, apa lagi minggu besok udah mau ujian aja." ucap Deri, menyuarakan pendapat nya.


"Heh begeee, ada juga langsung pulang, nyiapin diri buat ujian. Dasar bege! Kang molor! Kerjaan nya tidur mulu luh!" sungut Nina gemes, dengan tangan kanan nya yang menoyor kepala Deri 2 kali.


"Ihsss kamprettt lo Nin! Berani banget pegang kepala gue, udah di fitrahin nih kalo bulan puasa!" Deri menyugar rambut nya yang tampak berantakan.


"Ciihhs lo Der, gitu aja ngambek!" ledek Nina.


"Kalian debat mulu, gak takut suka gitu?" cicit Layla.


"Ihhssss ogah amat gue ama Deri." Nina mengibaskan tangan nya di depan Deri. Seolah mengusir nya dari hadapan nya.


"Uuuwweeek, gue juga ogah sama lo! Cewe jadi jadiaan!" cibir Deri, seolah ingin memuntahkan isi perut nya ke luar.


Teng teng teng teng.


Bel berbunyi panjang, menandakan jam pelajaran usai.


"Tuh Der, do'a lo terkabul. Kita pulang!" ucap Nina, dengan menyimpan semua alat tulis nya ke dalam tas.


"Lo di jemput, La? Apa pulang sendiri?" tanya Nina.

__ADS_1


"Gak tau deh, gue belum ngabarin orang rumah kalo pulang cepat hari ini." jelas Layla.


Di depan gerbang sekolah nya, Layla menyipitkan mata nya, saat melihat mobil yang ia kenali terparkir tidak jauh dari diri nya berpijak.


"Ngelamun aja lo! Udah sana, udah di jemput juga lo!" seru Mery, yang tau tau udah ada di samping Layla dengan sepedah motor nya.


"Ini juga gue mau ke sana, hati hati lo, Mer!" Layla melambaikan tangan nya pada Mery, yang mulai melajukan kembali sepedah motor nya.


"Lo juga, hati hati!" seru Mery.


Layla menghampiri mobil yang ia kenali adalah mobil Danu. Dan tidak lama ia melihat Arsandi ke luar dari kursi kemudi.


"Kenapa pake di jemput ka? Aku kan bisa pulang sendiri!" seru Layla setelah berdiri di depan Arsandi.


"Sekalian lewat Nona, silah kan masuk!" Arsandi membukakan pintu belakang untuk Layla.


Layla yang tidak tau jika ada Danu di dalam mobil pun terkejut.


"Ka Danu, juga ikut jemput?" tanya Layla dengan kening mengkerut, lalu masuk dan mendudukkan diri nya di kursi.


"Seperti yang kamu lihat!" Danu membiarkan Layla menarik tangan kanan nya, dan Layla mendaratkan kecupan di punggung tangan kanan Danu.


"Kita langsung pulang, Ar!" titah Danu dengan datar.


"Baik Tuan." Arsandi melajukan mobil yang ia kemudikan, meninggalkan sekolah Layla menuntut ilmu.


"Bagaimana sekolah mu?" tanya Danu, ingin tau apa yang terjadi saat salah satu teman Layla di bawa polisi.


"Menegangkan, kaka tau. Irfan yang baru kemaren itu kita omongon, ternyata tadi di jemput sama beberapa pria berseragam polisi. Dan sampai sekarang, anak anak gak tau apa yang terjadi sama Irfan, apa kaka tau. Apa yang terjadi sama Irfan?" tanya Layla, dengan merubah posisi duduk nya, menatap wajah Danu dengan penasaran.


Sementara di mobil lain, Ratna yang tanpa sengaja. Melihat Layla di jemput seseorang dengan menggunakan mobil pun langsung berinisiatif untuk mengikuti Layla. Bersama dengan Julia yang kebetulan nebeng untuk pulang bareng.


"Gue yakin tuh, pasti ada om om perut buncit plusss berduit yang ada di dalam mobil sana, yang biasa kasih duit buat Layla." cibir Ratna, yang kini mengikuti mobil yang di tumpangi Layla.


"Ah masa sih, gimana kalo pemikiran lo itu salah, Na!" ujar Julia, yang duduk di samping Ratna.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


__ADS_2