
...🥀🥀🥀...
"Maksud mu, apa? Tidak beres apa? Kalo bicara yang jelas! Membuat ku pusing saja!" gerutu Danu.
"Mereka bukan aparat yang sesungguh nya, mereka tidak bisa memperlihatkan surat perintah untuk penggeledahan gudang." ucap Arsandi.
Danu mengerutkan kening nya. "Siapa yang membiarkan orang orang itu masuk?" tanya Danu dengan serius.
"Pihak keamanan dari gudang itu sendiri, Tuan." jawab Arsandi.
Ke tiga nya mengayunkan ke dua kaki nya, menuju gedung yang di jadikan gudang.
"Mereka tidak bertanya dulu? Siapa yang bertanggung jawab pada bagian gudang?" Danu mengedarkan pandangan nya pada area yang di jadikan gudang.
"Pak Wisnu, Tuan!" jawab Arsandi.
"Di mana dia sekarang?" tanya papa Baskoro.
"Tidak tau Tuan, nomor telpon nya tidak bisa di hubungi. Pagi ini ia tidak ada jadwal masuk kerja." ujar Arsandi, menjelaskan secara mendetail tanpa di minta.
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Danu.
Mengecek barang barang dari gudang yang sudah pindah dari rak ke lantai. Tampak beberapa barang sengaja di cecer di lantai.
"Uang denda atas dasar kelalaian, Tuan." jelas Arsandi. "Kata pak Somad, petugas keamanan yang kebetulan saat itu tengah bertugas. Di berikan pesan oleh pihak terkait, untuk menyerahkan uang denda itu pada mereka. Mereka akan kembali lagi ke sini, Tuan."
Danu menatap papa Baskoro dan Arsandi secara bergantian.
__ADS_1
"Ini sangat aneh, bukan?" ucap Danu dengan keanehan yang ada.
"Di mana pak Somad? Panggil orang itu ke sini!" titah Danu.
Tring ting tring.
Benda pipih Danu yang ada di saku celana nya berdering.
"Iya, sayang!" ucap Danu, dengan menempelkan benda pipih nya pada daun telinga nya.
[ "Apa kau dan papa sudah sampai? Bagaimana keadaan di sana? Bagaimana dengan masalah gudang?" ] cecar Layla.
"Aku, papa dan Arsandi sedang mencoba memecahkan masalah nya. Kau do'a kan saja ya! Agar masalah ini bisa terselesaikan dengan cepar dan mudah." cicit Danu.
[ "Aku akan mendo'a kan mu dari rumah. Jika sudah selesai, cepat lah pulang!" ] pesan Layla.
[ "Apa? Madu? Danu!!! Malam ini, kau tidur di luar!" ] pekik Layla yang langsung memutuskan telpon nya.
Danu menatap layar hape nya dengan tatapan menyesal. "Aku kan hanya bercanda, kenapa Layla menanggapi nya dengan serius!" gerutu Danu.
Tak.
Papa Baskoro mendaratkan jitakan di kepala Danu. "Dasar kau bocah bodoh! Benar benar kau ini ya! Masalah hati aja gak ngerti. Layla itu sedang serius dengan keadaan kita, dan kau malah mengajak nya bercanda." sungut papa Baskoro dengan gelengan kepala.
"Aku hanya mencoba mencairkan suasana, pah! Biar Layla gak terlalu tegang, panik akan masalah gudang ini!" kilah Danu.
"Terserah apa kata mu saja lah, jangan libatkan papa dalam masalah mu! Karena ini memang salah mu sendiri!" papa Baskoro berjalan meninggalkan Danu, ia mengayunkan langkah kaki nya. Melihat apa saja yang terjadi pada gudang penyimpanan.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan!" ucap pak Somad, setelah menunduk kan kepala nya di depan Danu.
"Coba tolong ceritakan pada kami, pak! Secara singkat, padat dan jelas." pinta Danu.
Pak Somad menceritakan apa yang ia alami pagi ini di depan Danu dan Arsandi, dengan mengekori langkah kaki Danu.
"Jadi begini pak..."
"Sudah berapa lama, Wisnu tidak meninju gudang?" tanya Danu.
"Sekitar satu mingguan, Tuan." jawab pak Somad.
"Apa kau pernah melihat aparat yang datang ke sini tadi pagi?" tanya Danu.
"Tidak Tuan, tapi jika mundur pada 3 minggu sebelum nya. Pak Wisnu memang sudah menunjukkan kecurigaan, Tuan." ucap pak Somad.
"Kecurigaan bagaimana maksud mu?" tanya Arsandi.
"Pak Wisnu melarang siapa pun untuk masuk ke dalam gudang, jika beliau sedang berada di dalam gudang." cicit tunggu pak Somad.
Danu mengerutkan kening nya. "Apa itu berfungsi dengan baik, pak? Siapa yang mengoperasikan nya?" tangan Danu terulur, menunjuk salah satu CCTV dalam gudang, yang menarik perhatian nya.
"I- itu Tuan?" pak Somad bertanya dengan tergagap.
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
__ADS_1