Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Terancam


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Bukan lo yang haus, tapi hati lu yang kebakar bege. Hehehe lo begooo di piara La!" ledek Nina dengan terkekeh pelan.


"Lo cemburu La!" cicit Mery dengan mencondongkan tubuh nya ke depan meja.


"Cemburu?"


Sreek.


Lembaran kertas yang di cengrammm Layla pun mengeluarkan bunyi sobekan.


"Ada apa Layla, Mery, Nina? Apa tugas yang saya berikan pada kalian kurang banyak? Khusus untuk kalian bertiga, saya tambah kan dengan tugas kliping, buat untuk satu kelompok ya! Saya tunggu paling lama 3 hari di meja guru!" titah Danu yang tidak ingin di bantah.


"Astagaaa pak! Nyiksa itu bukan ngasih tugas!" protes Layla dengan tatapan marah.


"Itu kelamaan ya? Oke, maju jadi 2 hari!" ucapa Danu dingin dengan seringai di bibir nya.


"Astagaaa!" Nina menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi.


"Ala maaak, tugas tambahan itu mah." Mery menelan saliva nya dengan sulit.


Layla mengerucutkan bibir nya, 'Dasar ka Danu! Suka tebar pesona! Seenak nya aja sekarang maen kasih tugas tambahan, ini juga kan karena dia! Nyeselin banget sih!'


Irfan tersenyum sinis, menatap secara bergantian antara Layla dan Danu, tanpa mereka berdua sadari. Irfan memperhatikan ke dua nya yang kedapatan saling curi pandang, saling lihat lihatan. selama Danu menjelaskan materi.


Hingga tanpa terasa, jam mengajar Danu habis di kelas Layla.


"Baik lah, untuk kalian bertiga. Jangan lupa kerjakan tugas tambahan dari saya! 2 hari dari sekarang. Sampai ketemu lagi anak anak!" ucap Danu yang langsung meninggalkan kelas Layla.


Nina membuang nafas nya dengan kasar. "Gila banget si pak Danu! Lo belum kasih jatah apa gimana si La?" Nina menggaruk kepala nya dengan frustasi.


"Ah lo, dari cara nya pak Danu bersikap aja udah jelas banget kalo Layla belom bisa jinakin itu guru kiler!" Mery menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada nya, menatap Layla dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Emmm gimana ya, kan pak Danu sendiri yang udah janji... kalo dia itu gak mau nyentuh gue kalo gue belom lulus. Wajar dong kalo gue belum kasih dia hak nya." cicit Layla.


Mery beranjak dari duduk nya, mengayunkan langkah kaki nya untuk berdiri di belakang Layla, dan mengalungkan ke dua tangan nya di leher Layla.

__ADS_1


Mery berkata dengan suara yang menggoda namun menakuti nakuti dalam setiap kata nya. "Astaga La, sadar dong! Pak Danu itu laki laki dewasa, apa lo gak takut kalo suatu saat nanti pak Danu di deketin lampir, terus tergoda, jadi nya jajan di luaran sana!"


"Nah bener banget itu La! Gue setuju sama Mery, kali ini sih... kali ini ucapan lo ada bener nya juga Mer!" Nina ikut membenarkan perkataan Mery.


"Ehem ehem! Kembali ke kursi kamu, Mery!" ucap pak Asep yang kini memasuki kelas, karena sudah masuk jam mata pelajaran nya.


Irfan menyeringai, menatap ke tiga teman perempuan nya satu kelas nya itu. 'Gue tau nih, siapa yang bisa gue manfaatin buat dapetin informasi yang gue butuhin, mayan kan bisa buat tambah tambah uang jajan gue!' batin Irfan.


Sepanjang mata pelajaran yang di isi pak Asep, sama sekali tidak menyerap dalam kepala Layla. Ibarat kata, semua yang ia dengar masuk kuping kanan, dan ke luar kuping kiri.


Di tengah jam pelajaran, benda pipih yang sejak tadi anteng di saku seragam Layla, bergetar. Menandakan ada nya pesan masuk.


Dreet dreeet, dreet dreet.


Dengan sembunyi sembunyi dari pak Asep dan teman teman nya, Layla mengeluarkan hape nya dari saku seragam yang ia kenakan.


Layla membuka aplikasi hijau nya yang ada pada benda pipih nya.


^^^Danu^^^


^^^Jangan nakal sayang, aku langsung berangkat kantor ya! Love you baby.^^^


Bukan nya membalas pesan Danu, Layla malah menyimpan kembali hape nya ke dalam saku seragam nya.


...----...


Di belakang setir kemudi, meski tubuh nya sedang berada di dalam mobil, tapi hati dan pikiran Danu saat ini berada di sekolah. Seakan tertinggal bersama dengan Layla.


"Kenapa gak di bales sih! Tapi chat ku udah di baca sama dia, benar benar anak nakal!" monolog Danu pada diri nya sendiri.


Tiiin tiiin tiiiiiiin.


Suara klakson dari kendaraan lain yang ada di belakang mobil Danu, berkali kali terdengar nyaring di telinga Danu.


Danu mengerutkan kening nya, melirik sekilas lewat kaca spion mobil nya.


Danu melajukan kendaraan nya, dengan perlahan mengambil lajur kiri, dan membiarkan pengendara yang ada di belakang nya untuk mendahului nya.

__ADS_1


Brak brak brak.


Bugh.


Mobil yang baru saja di beri lajur untuk mendahului kendaraan Danu, tanpa di duga, menghantamkan berkali kali kendaraan nya sendiri ke mobil Danu. Membuat mobil yang di kemudikan Danu, oleng dan menabrak pembatas jalan dalam kondisi yang masih melaju.


"Siallll, siapa yang melakukan ini pada ku!" gerutu Danu, berusaha kembali membalas pengemudi yang tadi menghantam mobil nya.


Danu yang merasa jiwa nya terancam pun, mencoba menghubungi Arsandi.


Bugh.


Bukan nya menghantam mobil yang tadi menghantam kan mobil nya ke mobil Danu, tapi Danu malah ke luar jalur dan naas nya lagi.


Dari arah yang berlawanan, melaju sebuah truk dengan kecepatan tinggi dan tidak bisa lagi menghindari mobil yang tiba tiba muncul di jalur nya. Adu banteng ke dua mobil tidak lagi bisa di hindari.


Bugh.


"Allahu Akbar!" seru Danu sebelom kening nya membentur setir kemudi.


Tiiiiiiiin.


"Layla!" nama yang terakhir kali di sebut Danu, sebelum ia hilang kesadaran nya.


...----...


Sementara di sekolah Layla. Entah kenapa Layla menjadi gelisah.


'Kenapa perasaan gue gak enak ya! Apa cuma gue nya aja yang masih kesel sama Danu! Gak ikhlas gini gue!' gerut batin Layla.


Trang.


"Kenapa La?" tanya Nina, melihat Layla yang meraih sesuatu dari kaki kursi yang Layla duduki.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


__ADS_2