Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Kontraktor, Bima


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Kini gak ada lagi yang mengusikkk ketenangan Layla saat makan bakso dengan angin malam yang menyapa ke dua nya.


Pagi itu parkiran sekolah nampak di penuhi dengan kendaraan para orang tua murid.


"Kaka jangan banyak mikir, fokus aja sama meeting kali ini." ujar Layla dengan senyum mengembang di balik make up tipis yang ia poles pada wajah nya sendiri.


'Sebenar nya aku sangat ingin ka Danu ada di sini, ikut hadir dalam acara perpisahan.' batin Layla dengan menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Setelah meeting ini selesai, aku pasti akan langsung ke sini!" ucap Danu, mengecup kening Layla.


"Iya, semangat meeting ya!" seru Layla dengan bersemangat menyembunyikan rasa kecewa nya.


Layla ke luar dari mobil.


"Loh La, pak Danu mana? Gak ikut dampingin lo?" tanya Nina yang kini berjalan beriringan dengan Layla bersama dengan orang tua nya.


"Ibu, bapak!" Layla menyalami ke dua orang tua Nina.


"Kamu sendiri aja La? Orang tua kamu mana La?" tanya ibu nya Nina.


"Mereka----" belum selesai Layla bicara, suara yang sangat familiar di telinga Layla menggema. Membuat Layla, Nina, orang tua Nina dan beberapa orang lain nya ikut menoleh ke asal suara.


"Bapak, ayah, papa? Kalian semua di sini?" tanya Layla setelah menyebut kan 3 pria paruh baya yang berjalan ke arah nya.


"Apa ibu gak salah lihat ya, Nin? Mereka bertiga tampak akur, adem di pandang mata!" seru ibu nya Nina dengan setengah berbisik.


"Sssttt ibu jangan ngomong begitu! Gak enak kalo sampe di dengar Layla.


'Benar juga apa yang di katakan ibu nya Nina, tapi ke mana ibu? Kok ibu sama Dea gak terlihat? Tapi bukan nya papa Baskoro lagi di luar negri menemani nenek Dahlia menjalani pengobatan?' batin Layla.


"Tadi kami ke rumah mu dulu, kata pak satpam kalian baru aja berangkat." ucap Yanto, membiarkan tangan nya di salami oleh Layla.


Orang tua Nina, dan orang tua Layla saling bersalaman. Mereka memiliki hubungan yang cukup baik.


Kini tinggal lah Layla dan ke 3 pria paruh baya yang setia mendampingi nya. Sementara Nina dan ke dua orang tua nya sudah lebih dulu memasuki tempat acara.


"Maaf ya nak, ibu kamu gak bisa ikut ke sini. karena Dea lagi gak enak badan." ujar Yanto, memberi tahu tanpa Layla bertanya.


"Iya pak, gak apa... biar pun ibu gak bisa dateng. Kan sekarang Layla gak sendirian, ada kalian bertiga di sini yang mendampingi Layla. Itu aja udah lebih dari cukup." ucap Layla dengan senyum tersungging.


Yanto mengelusss puncak kepala Layla. 'Maaf ya nak, bapak harus berbohong. Gak mungkin bapak jelasin ke kamu. Malu banget bapak di depan mu nak. Kenyataan jika ibu mu kini mencoba mendekati ayah Noval mu lagi.'


"Ya sudah, ayo kita masuk! Cari tempat yang paling nyaman dan depan. Biar kita bisa lihat Layla dengan jelas." timpal Noval mencengkrammm lembut bahu sang putri.

__ADS_1


Novel melirik sekilas Yanto. 'Entah apa yang terjadi pada rumah tangga Yanto dan Tati. Tapi aku berharap ke dua nya baik baik aja.'


Baskoro mengamati raut wajah Yanto yang tampak senyum nya di paksakannn. 'Apa hanya aku aja yang merasa jika Yanto saat ini dalam situasi tertekannn? Gak seperti sebelum nya yang selalu asal bicara. Apa yang aku pikirkan, aku harus fokus pada Layla.'


"Maafin Danu ya nak, bocah itu benar benar sudah ke bangetan. Udah tau ini hari penting untuk mu! Malah dia sibuk kerja!" gerutu Baskoro yang berjalan di belakang ke tiga nya.


"Gak apa pah! Ka Danu itu udah baik banget sama Layla, sempurna dah buat Layla mah." ucap Layla.


Hingga setengah jalan nya acara yang tengah berlangsung. Danu belum juga tampak batanggg hidung nya. Membuat Layla sesekali menoleh ke arah pintu masuk.


"Jangan teganggg! Baca bismilah, kami ada di sini. Danu ada di hati mu! Kamu gak sendiri La!" gumam Yanto menggenggammm erat jemari Layla.


Di tempat lain.


Meeting berjalan dengan alottt, lantaran pihak yang memeganggg kendali atas kontruksi kurang setuju dengan ide ide yang di berikan Danu.


'Mati aku, seperti nya Tuan Danu sangat tidak puasss dengan meeting kali ini. Apa yang harus aku lakukan agar Tuan Bima mau mengambil keputusan sesuai dengan harapan Tuan Danu!' pikir Arsandi, menelan saliva nya dengan sulit.


'Sialannn, kenapa juga Arsandi merekomendasikan kan pihak A untuk memeganggg kendali atas proyek ini! Tau gini, biar aku saja yang mencari pihak kontruksi.' Danu mengepalll kan ke dua tangan nya di bawah meja.


"Bagaimana Tuan Bima, seharus nya sebagai pihak kontruksi mengerjakan apa yang di minta kelian, bukan!" ucap Danu dengan penuh penekanannn, menumpuk ke dua tangan nya di atas meja.


"Harus nya memang begitu, tapi bukan kah anda sudah mendengar sendiri. Sepak terjanggg perusahaan kami, harus nya anda cukup mengerti. Apa Tuan Arsandi kurang jelas mengatakan nya?" tanya Bima dengan melirik ke arah Arsandi yang duduk di samping Danu.


"Jadi apa menurut anda bisa mengerjakan seperti apa yang saya minta, hanya berdasarkan sepak terjanggg anda di dunia kontruksi?" tanya Danu sedikit meremehkan Bima.


Danu menghembuskan nafas nya dengan kasar, melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.


"Maaf Tuan Bima, anda terlalu banyak membuang waktu saya yang berharga. Dengan ini saya mengurungkan niat saya untuk memilih anda sebagai pihak kontruksi proyek yang sedang saya rencanakan ini!" ucap Danu dengan tegas, beranjak dari duduk nya.


Bima tampak menyembunyikan keterkejutan nya, melihat Danu yang langsung beranjak, bahkan mengurungkan niat nya tanpa ragu.


Arsandi ikut beranjak dari duduk nya. 'Haduuuhhh beneran ini mah, ayo dong Bima. Jangan cari masalah dengan Tuan Danu! Sumpah kau itu teman yang gak kenal perasaan!' umpat Arsandi, dengan kening mengkerut menatap jengkel Bima.


"Apa anda yakin? Gak mudah menemukan pihak kontruksi yang bisa bersikap jujur dan terbuka dalam segi hal keuangan. Saya jamin, anda pasti akan kembali ke sini, membuat janji dengan saya. Membahas dana yang harus anda siapkan untuk berdiri nya taman sesuai dengan keinginan anda!" ucap Bima sedikit menegakkan punggung nya.


"Kau tunggu apa lagi Arsandi! Jangan pernah berharap pada orang yang gak bisa menghargai waktu!" seru Danu dengan tegas.


"Baik Tuan." Arsandi menurut, menyimpan kembali berkas yang sudah di bawa ke dalam tas laptop milik nya.


Danu dan Arsandi berjalan meninggalkan kursi mereka, menuju pintu ke luar dari ruang meeting.


"Tunggu Tuan Danu! Apa kau ini orang yang serius dan gak bisa bercanda dalam kehidupan nyata mu?" tanya Bima, menghentikan langkah kaki Danu dan Arsandi yang sudah di ambang pintu.


Danu hanya berhenti tanpa menoleh. 'Mau apa lagi Bima ini? Mau menguji kesabaran ku? Orang yang seperti ini gak bisa di ajak serius dalam hal penting sekali pun! Menganggap hal serius seolah mainan.' umpat Danu dalam hati.

__ADS_1


Arsandi menoleh ke belakang, dengan gerakan kepala mengisyaratkan tanpa mengeluarkan kata.


'Dasar bodohhh! Kau mau tunggu apa lagi? Akhiri candaan mu! Ini bukan waktu nya untuk bermain main! Ini waktu nya untuk serius!' umpat batin Arsandi dengan sorot mata yang tajam.


"Ahahahha kau ini Tuan Danu, terlalu menganggap serius perkataan ku! Aku hanya sedang bergurau dengan mu. Aku menyetujui untuk mengerjakan proyek dari mu ini!" ucap Bima dengan tergelak, beranjak dari duduk nya.


"Jadi, ayo kita tanda tangani perjanjian kerja sama kita ini!" ajak Bima dengan beranjak dari duduk nya, menunggu Danu dan Arsandi kembali ke kursi yang tadi mereka berdua duduki.


"Maaf Tuan Bima yang terhormat, saya sudah tidak berminat untuk melanjutkan kerja sama yang bahkan belum kita mulai ini! Saya permisi, saya harap ini kali terakhir saya bertemu dengan mu!" ucap Danu dengan mantap.


'Dasar bodohhh! Kau sudah melakukan kesalahan besar, dengan membiarkan Tuan Danu pergi tanpa kau dapat kan kerja sama ini!' umpat Arsandi dalam hati, menatap jengkel Bima.


Danu dan Arsandi meninggalkan ruang meeting dengan tangan hampa.


"Apa Tuan Danu yakin, tidak ingin melanjutkan kerja sama ini? Bahkan kerja sama ini belum di mulai!" cicit Arsandi, mencoba mempengaruhi Danu secara gak langsung.


"Hanya orang bodohhh, yang akan berfikir ini kerja sama yang sangat menguntungkan. Jelas ini menguntungkan bagi nya dan tidak untuk ku! Lain kali, lebih selektif dalam memilih partner untuk menangani proyek yang bahkan baru aku geluti." sungut Danu dengan kesal, malas menoleh sedikit pun pada Arsandi.


"Saya mengerti Tuan. Maaf sudah mengecewakan Tuan." ucap Arsandi penuh penyesalan.


"Penyesalan mu gak ada guna nya! Ingat, waktu mu hanya 2 hari untuk menemukan kontraktor yang kompeten dalam menangani proyek yang baru aku garap ini!" titah Danu, hendak membuka pintu mobil bagian kemudi.


"Biar saya aja Tuan yang bawa kan! Tuan mau ke sekolah Nona Muda Layla kan? Saya juga ingin ke sana!" Arsandi menghentikan Danu, dengan Arsandi yang lebih dulu membuka kan pintu mobil bagian belakang, kursi penumpang.


"Bilang saja kau ingin menemui calon jodoh mu! Mencari alasan aja!" sungut Danu tanpa berkata lagi, masuk ke dalam mobil.


Danu menghembuskan nafas kasar nya, dengan duduk menyandar pada sandaran kursi mobil.


"Bisa bisa nya aku di permainkan si Bima bodohhh itu, kau sudah membuang waktu ku dengan percuma, Arsandi!" sungut Danu, menatap jengkel Arsandi lewat kaca spion.


"Maaf Tuan, tapi setahu saya. Bima bukan orang yang seperti itu!" kilah Arsandi.


Bugh.


Danu menendanggg belakang kursi yang di duduki Arsandi. Membuat Arsandi terperanjat kaget.


'Sialannn bos gendenggg, kenapa memukulll ku, jelas ini salah nya sendiri yang mengurungkan niat untuk kerja sama dengan Bima.' umpat Arsandi dalam hati.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Like dan komentar nya dong, 😅😅


Hayo kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ biar bisa update banyak 🤭

__ADS_1


...Makasih para pembaca ku yang udah setia ku...


__ADS_2