Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Layla operasi, Soni


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Berikan keputusan pada mereka berdua, mereka berhak atas keputusan yang sudah kita buat sebelum nya. Kau lupa, kau yang meminta ku untuk mereka menikah cepat?" ucap papa Baskoro, menohok hati Noval.


Deg.


"Kau menyindir ku? Atau mengingatkan ku?" tanya Noval dengan nada tidak suka.


"Cihsss kau ini, sudah lah. Ini bukan saat yang tepat untuk kita berdebat di mana Layla kelak akan tinggal! Yang pasti Layla saat ini sudah punya suami! Di mana ada suami, di sana lah ada istri. Bukan begitu?" ejek papa Baskoro telak, membuat Noval seketika bungkam.


"Gimana Layla?" tanya ayah Noval datar pada Danu.


"Masih menjalani operasi, yah." ujar Danu dengan lesu.


Hingga seorang perawat ke luar dari ruang operasi menutupi wajah cemas nya.


"Bagaimana keadaan istri saya, sus?" tanya Danu yang langsung mengajukan pertanyaan pada suster.


"Masih menjalani operasi, pak. Maaf apa salah satu dari kalian, ada yang miliki golongan darah yang sama dengan pasien?" tanya suster dengan tatapan mengedar.


"Saya sus, saya ayah nya. Darah saya pasti sama dengan Layla." ujar Noval yang langsung maju menghampiri suster.


"Kalo begitu, mari bapak ikut saya." pinta suster yang berjalan lebih dulu dengan di ikuti Noval.


Ibu Tati menatap sendu ke arah ruang operasi, di mana Layla berada.


'Kehadiran ibu seakan gak berguna untuk kamu di sini, La. Di saat kamu membutuhkan ibu, tapi ibu gak bisa memberikan apa yang kamu butuhkan La!' batin bu Tati dengan hati yang teriris.


Bapak Yanto menatap kepergian Noval bersama dengan suster. Lalu ia beralih menatap ke arah Tati, dan mengikuti tatapan sang istri yang menatap sendu ruang operasi.


'Aneh, kenapa Tati diam aja. Dia sedih anak nya di operasi, tapi kenapa saat suster itu tanya golongan darah yang sama dengan Layla, Tati diam aja. Apa dia gak pengen donorin darah nya buat Layla?' batin bapak Yanto dengan penuh keheranan.


Pluk.


Bapak Yanto menepuk bahu Tati yang sejak tadi duduk terpaku di tempat nya.


"Lu kenapa diam, Tat? Lu gak pengen ikut nyumbangin darah lu buat Layla? Darah kalian pasti cocok kan! Layla kan anak lu!" ujar bapak Yanto.


Baskoro menghembuskan nafas kasar nya, duduk berhadapan dengan Tati dan juga Yanto. Pasti lah ia mendengar apa yang di tanyakan Yanto pada wanita itu.


"Jangan terus berdiri dan mondar mandir di situ! Meski pun kau terus begitu hingga beberapa jam ke depan, kau tidak akan bisa mengembalikan kondisi Layla seperti sedia kala!" omel papa Baskoro.


"Jangan bicara begitu pah! Aku tau, aku ini bukan dokter!" umpat Danu dengan bibir mengerucut.


Danu memilih duduk di samping papa nya, Baskoro.

__ADS_1


"Kau tidak pergi? Memberi pelajaran pada orang yang sudah membuat Layla celaka?" tanya papa Baskoro.


"Aku serahkan wanita gila itu di urus Arsandi. Setelah aku memastikan kondisi Layla baik, baru aku akan langsung memberikan wanita gila itu pelajaran! Berani nya dia membuat istri ku sampai harus menjalani operasi!" umpat Danu, dengan tangan mengepalll.


"Wanita gila? Maksud mu.. ini semua di lakukan oleh seorang wanita, dan dia gila?" tanya papa Baskoro dengan kening mengkerut, tatapan menyelidik.


"Begitu lah." jelas Danu.


"Lu belum jawab pertanyaan gue, Tat. Lu gak sayang sama Layla, sampe lu gak mau ikut donorin darah lu buat anak lu sendiri?" tanya bapak Yanto, menggaruk kepala nya yang gak gatal.


"Takut jarum suntik. Kita do'ain aja, oprasi Layla berjalan dengan lancar." gumam Tati.


'Maaf bang, gue bohong sama lu. Gak mungkin gue bilang kalo Layla itu bukan darah daging gue? Yang ada lu jadi bingung! Biar lah lu tau kalo Layla itu anak gue.' batin ibu Tati dengan jemari yang saling bertautan.


...---...


Di tempat lain.


Prang prang prang.


Sifanye melempar apa saja benda yang ada di dalam kamar nya.


Bugh bugh bugh.


Sifanye menggedorrr pintu kamar nya yang di kunci dari luar.


Bugh bugh bugh.


"Noval, buka pintu nya! Keterlaluan kamu Noval, Noval! Aku gak tau di mana Lulu kini, dia sudah makan atau belum, dia baik baik aja atau gak... Noval buka pintu nya! Dasar bapak pilih kasih, Lulu itu anak mu Noval!" teriak Sifanye lagi, suara nya seakan tidak ada habis nya, hanya untuk menyerukan Lulu putri Noval.


Si mbok dan para pekerja lain, hanya bisa menatap kasihan di balik pintu. Melihat majikan nya yang kini di kurung di dalam kamar.


"Mbok, gak mau bantu Nyonya Sifanye ke luar dari kamar?" tanya pak satpam yang berjaga di luar rumah, saat ia tengah mengambil beberapa cangkir kopi di dapur.


"Saya gak berani. Kalo bapak mau... bapak aja ya bantuin Nyonya ke luar dari kamar." ujar si mbok dengan santai, memilih melanjutkan aktifitas nya bersih bersih rumah.


"Saya kalo di kasih duit banyak sama Nyonya, cuma buat buka pintu. Wiiihhh mending saya gak dapet duit, rugi saya nolongin Nyonya." seru pak satpam dengan bergidik.


"Kira kira Nona Lulu pergi ke mana ya mbok?" tanya salah satu asisten rumah tangga pada si mbok.


"Saya gak tau, mereka itu ibu dan anak sama aja. Menyusahkan Tuan dan Nona Layla." sungut si mbok.


"Kalo Nona Layla, apa kabar nya ya mbok?" tanya pak satpam.


"Yah saya harap Nona Layla dan den Danu baik baik aja, selalu dalam lindungan yang maha kuasa." ujar si mbok panjang kali lebar.

__ADS_1


...---...


Dengan penampilan yang jauh dari kata bersih, Lulu menggedorrr pintu kamar.


"Buka pintu nya! Gue mau pulang!" teriak Lulu, di salah satu rumah yang jauh dari tempat tinggal nya.


Ceklek.


Lulu mundur beberapa langkah, saat mendengar pintu yang ia gedorrr di buka dari luar.


'Siapa yang udah tega ngurung gue di sini!' batin Lulu menatap nyalang pintu, menunggu siapa orang yang akan muncul setelah nya.


Seorang pria paruh baya berjalan masuk ke dalam kamar, dengan tangan nya membawa makanan cepat saji.


"Sayang nya lo gak bakal pulang buru buru. Mending lo makan dulu nih! Kasian perut lu, pasti lapar minta di isi!" seru Soni dengan tatapan sinis.


"Gue gak mau makan! Gue cuma mau pulang!" teriak Lulu dengan lantang, menyerukan keinginan nya.


Plak.


Tamparan keras mendarat di pipi Lulu, membuat Lulu terjerembak di atas lantai karena keras nya tamparan dari si pria.


"Lo berani tampar gue? Siapa si lo?" tanya Lulu dengan tatapan nyalang.


Soni berdiri dengan satu kaki di tekuk ke belakang, dan bertumpu pada satu kaki nya. Lalu mencengrammm pipi chabi Lulu.


"Gue bapak lo! Sekarang lo nurut sama gue, karena nanti malam lo harus ngasilin duit buat gue!" seru Soni dengan penuh penekanan di tambah lagi dengan tatapan nya yang tajam.


"Lepas! Lo bukan bapak gue! Bapak gue bukan preman, bapak gue Noval! Seorang pengusaha kaya! Bukan pecundang kaya lo!" umpat Lulu, mencoba melepaskan tangan besar pria itu dengan tangan nya.


"Dia cuma bapak dalam akte lo, tapi gue bapak kandung lo. Kalo bukan sumbangan sperrrmaaa gue, gak bakal ada lo!" ejek Soni, dengan menghempaskan wajah Lulu dengan kasar.


"Cepat makan! Gue gak mau lo nyusahin gue!" Soni meletakkan makanan yang ia beli untuk Lulu di depan Lulu.


"Lo bukan bapak gue! Bapak gue Noval, orang kaya! Bukan lu preman!" teriak Lulu, saat melihat Soni beranjak lalu berdiri di depan nya.


"Gue gak perlu pengakuan dari lo! Yang gue butuh cuma lo ngasilin duit buat gue ahahhaha!"


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


__ADS_2