
...🥀🥀🥀...
"Berhenti!" titah Layla tegas tanpa ragu.
Ciiiiit.
Ceklek.
Layla langsung membuka pintu, menyembulkan kepala nya ke luar.
"Kalian! Cepat sini!" seru Layla pada ke tiga teman nya, lalu ia menggeser duduk nya.
Tap tap tap tap tap.
Nina, Mery dan Deri berlari ke arah mobil, di mana Layla sempat menyembulkan kepala nya.
"Astagaaa Layla, lu cepat banget ngilang nya!" seru Mery, merangsek masuk ke dalam kursi penumpang di ikuti Nina.
"Lu di depan dodolll!" seru Layla dengan tatapan mengarah pada Deri yang berdiri di depan pintu mobil.
"Lu gak marah kan La?" tanya Nina menatap Layla penuh tanya.
"Engga, ngapain marah." Layla menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi.
"Kita jalan sekarang, Nona?" tanya pak supir yang duduk di belakang kemudi.
"Iya pak, mau tunggu apa lagi emang nya?" gerutu Layla, tangan kiri menggenggammm hape dan jemari kanan nya sibuk berseluncur pada layar pipih nya.
"Supir baru lagi La?" tanya Nina, setelah melihat pria yang gak ia kenal, duduk di belakang kemudi.
"Bawa mobil yang bener pak! Jangan begajulannn!" sindir Mery dengan memasang sabuk pengamannn pada tubuh nya.
"Baik Nona!" ucap pak supir yang gak lain adalah Doni.
Mobil yang di kemudian Doni melaju, meninggalkan sekolah Layla dengan kecepatan sedang.
"Lu yakin La, ini supir yang di kirim pak Danu? Tampang nya bukan kaya supir!" cicit Deri, mengamati penampilan Doni yang berbeda dari pak supir biasa nya.
Doni melirik sepintas Deri, dengan tatapan tajam nya di balik kaca mata hitam nya.
'Anak ini, terlalu banyak bicara! Jangan sampai Nona curiga pada penampilan ku!' batin Doni.
Layla menyimpan kembali benda pilih nya ke dalam saku seragam nya, setelah berhasil mengirim pesan untuk Danu.
..."Ka Danu, kamu lagi apa sih? Sibuk banget ya! Gak ada waktu biar kata cuma sebentar buat bales pesan aku gitu? Aku menunggu pesan balesan mu ka 😒"...
"Bilang aja lo minder sama tampang pak supir yang kece badai ahahaha!" goda Mery dengan tergelak.
__ADS_1
"Sialan lo, siapa juga yang minder, tampang ganteng ganteng pari purna ini! Nina aja terpauttt hati nya sama gue!" seru Deri dengan percaya diri nya.
"Ahahhaha Nina terima lo itu juga karena terpaksaaa kali Deri, gak ada lagi manusia langka kaya lo! Hihihi!" ledek Mery.
"Ayang, masa kamu gak mau belain aku sih! Teman kamu jahara banget tuh bibir nya!" Deri merajut, dengan tatapan mengarah pada Nina.
"Gak usah di ambil hati omongan Mery. Kamu kaya gak tau aja, Mery sendiri aja kemakan sama omongan nya sendiri. Jatuh cinta sama pria dewasa!" nyinyir Nina dengan ekor mata melirik Mery.
'Jadi Mery yang di katakan Arsandi itu bocah ini! Gak salah, Tuan dan asisten nya menyukai bocah yang masih di bawah umur, sama sama mengurasss kesabaran.' batin Doni, melirik Layla dan Mery lewat kaca spion secara bergantian.
"Heh pak supir, punya nyali gede juga ya! Berani ngelirik Layla! Gue aduin lu ke pak Danu! Langsung di pecat!" sungut Deri dengan ketus.
Doni mengabaikan perkataan Deri, malah bersikap acuh.
"Deri! Udah deh anteng aja, gak usah berisik!" protes Layla, memijat kening nya.
"Lo sakit La?" tanya Mery.
"Gak."
Nina yang duduk di samping Layla, mengecek suhu tubuh nya dengan menempelkan punggung tangan nya ke kening Layla.
"Gimana Nin?" tanya Mery ingin tau.
Doni juga ikut melirik lewat kaca spion. 'Mana mungkin sakit, gak Nona gak Tuan Danu, sama sama datar wajah nya. Tapi wajah Nona manis juga. Mirip seperti almarhumah Nyonya Devinta saat muda.' batin Doni.
Layla menatap langit langit mobil nya, lalu memejamkan ke dua mata nya.
'Baru 2 hari gak dapet kabar dari ka Danu, apa ka Danu makan dengan baik? Tidur dengan baik? Apa lagi bermesraannn dengan wanita lain? Entah lah, cuma ka Danu yang tau.' batin Layla.
Memikirkan Danu, membuat kepala nya seakan berdenyuttt, di tambah saat jam istirahat, Layla tidak menyentuhhh bekal yang di siapkan asisten rumah tangga nya.
Kruuuuuk kruuuuk.
Entah asal suara dari perut siapa, berhasil membuat mobil yang tampak hening mengarah pada Layla.
"Lo laper La?" tanya Mery angkat suara.
"Bukan gue!" kilah Layla, tanpa bergeming.
"Maaf Nona, apa kita mau langsung pulang, atau ada tempat yang ingin Nona kunjungi. Sebelum kembali ke rumah!" tanya pak supir, setelah melirik Layla dari kaca spion.
Tanpa menunggu, Layla langsung duduk tegak dengan ke dua mata yang terbuka lebar.
"Aku gak salah dengar pak? Kamu bilang ke tempat yang aku inginkan? Apa boleh? Ka Danu gak akan marah?" cecar Layla dengan wajah serius.
"Tuan Danu gak akan marah, selama Nona pergi di bawah pengawasan saya!" cicit Doni datar.
__ADS_1
"Serius lo pak? Pak Danu itu ngelarang Layla buat keluyuran sama pak supir yang sebelum nya!" timpal Mery dengan tangan mencengrammm kursi yang di duduki pak supir.
"Itu benar Nona, Tuan Danu sudah menyerahkan pengawasan Nona pada saya. Jadi apa pun yang terjadi pada Nona, akan menjadi tanggung jawab saya! Apa yang Nona kerjakan, saya yang melaporkan langsung pada Tuan." cicit pak supir datar.
"Coba telpon ka Danu, aku mau bicara sama ka Danu!" Layla mengadahkan tangan kanan nya pada sang supir.
"Maaf Nona, saat ini Tuan sedang sibuk. Tuan tidak bisa di ganggu." kilah Doni.
"Udah La, tunggu apa lagi, kita seneng seneng aja. Kita main sepuasss nya, toh ada pak supir yang akan tanggung resiko nya." cicit Nina.
"Benar kan pak! Kalo Layla gak langsung pulang ke rumah, bakal jadi tanggung jawab bapak?" Mery menegaskan kembali.
"Benar Nona! Itu pun jika Nona Layla yang menginginkan nya sendiri, bukan atas dasar desakan dari teman Nona!" ucap pak supir tegas.
Tak.
Mery menjitakkk kepala pak supir dengan kepalan tangan nya cukup keras.
"Kalo ngomong tuh di jaga! Apa maksud nya coba ngomong kaya gitu!" sungut Mery dengan wajah kesal.
"Mery, lo kebangetan! Biar gimana dia itu orang tua!" sungut Layla, gak suka melihat cara Mery main tangan.
"Abis nya gue kesel La, ini orang nyeselin banget!" sungut Mery.
"Heh jagoan, kalo pak Arsandi tau... mati lu Mer!" cicit Deri.
"Mati kenapa?" tanya Mery.
"Mati lah, ngadepin cewek kaya lo! Pacar cewek nya rasa reman ahahaha!" Deri tergelak, puasss meledek Mery.
"Sialannn lu!" sungut Mery, hendak melayangkan kepalan tangan ke arah Deri.
Doni hanya geleng kepala, melihat tingkah absrud Layla dan teman teman nya.
'Pantas aja Tuan Danu semakin gila, rupa nya mengimbangi Nona Muda!' batin Danu.
"Kita sudah sampai Nona!" cicit Doni setelah menghentikan laju mobil nya yang kini terparkir manis.
"Kapan lu bilang kita mau ke sini, La?" tanya Mery, mengamati papan nama restoran yang terpampang di atas bangunan berlantai 2.
"Ini kan!" Nina menggantung perkataan nya, menyusul Layla yang ke luar setelah di buka kan pintu mobil oleh pak supir.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
__ADS_1
Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya