
...🥀🥀🥀...
Tring tring tring tring.
Belum Danu melakukan panggilan ke nomor tadi, nomor itu sudah kembali menghubungi nya kembali.
"Tunggu apa lagi, cepat jawab!" titah Layla, dengan pandangan tajam pada Danu.
'Mimpi apa aku, di tuduh bohong. Gak tau nya ka Danu sendiri yang bohong!' batin Layla.
"Iya, ini aku jawab." ucap Danu, sebelum menjawab panggilan telepon nya dengan mode spiker.
[ "Sayang, ini aku Aleta. Apa kamu baik baik aja? Pemberitaan di media itu salah kan? Kamu gak apa apa kan, sayang? Sekarang kamu di mana, aku ingin menjenguk mu!" ] cecar Aleta dengan suara nya yang manja.
Layla geleng geleng kepala mendengar nya, dengan batin yang mengumpat.
Astagaaa tante menor itu lagi, benar kan dugaan ku, ka Danu ada main sama dia, laki laki emang gak bisa di percaya. Di depan gue aja ngaku setia. Gak tau nya buaya!
^^^"Jaga bicara mu, Aleta! Aku akan buktikan, kau lah dalang dari semua kejadian yang menimpa ku!" ucap Danu dengan penuh penekanan.^^^
["Kamu ngomong apa sih sayang! Mana mungkin aku, wanita polos ini bisa merencanakan hal buruk pada mu! Aku ini mencintai mu, sayang! Apa kamu gak curiga, jangan jangan si jalanggg kecil itu yang ada di balik ini semua!"]
Layla bertanya pada Danu lewat tatapan mata nya yang menyelidik, di sertai dengan suara nya yang pelan.
"Maksud tante menor, siapa ka? Jalanggg kecil?" tanya Layla.
Danu meminta Layla untuk diam, dengan menempelkan jari telunjuk tangan kanan nya di depan bibir sang istri.
^^^"Aku muak dengan mu, Aleta! Kau tunggu saja surat penahanan mu!" Danu langsung mengakhiri sambungan telepon nya, tanpa menunggu jawaban dari Aleta.^^^
"Kamu sebenar nya suka gak sih sama Aleta?" tanya Layla dengan bibir mengerucut.
"Untuk apa aku menyukai nya? Aku sudah punya istri yang menggemaskan seperti mu! Lagi pula, Aleta hanya masa lalu! Dan kau masa depan ku!" seru Danu tanpa dan keraguan di mata nya.
Jedag jedug, jedag jedug.
Jantung Layla seakan bertalu talu, mendengar perkataan Danu. Membuat nya seakan melayang, terbuai hanya dengan kata manis yang mampu menggoyahkan hati nya yang dingin.
Sreeek.
Danu menarikkk tubuh Layla ke belakang, hingga ke dua nya kini berbaring di atas ranjang rawat.
"Akkkhhhhh! Apa yang ----" ucapan Layla yang langsung terputus, sorot mata yang tadi membola seakan tersihir dengan tatapan Danu yang meneduhkan.
"Kita tidur, udah malam! Besok kamu harus sekolah kan!" pinta Danu, dengan mengelusss punggung Layla, setelah memiringkan tubuh ke dua nya.
__ADS_1
"Jangan aneh aneh!" pinta Layla.
Dengkuran halus kini terdengar, tanpa saling bicara. Di bawah atap rumah sakit, ke dua nya tidur saling berpelukan, melupakan tangan Danu yang luka, tangan yang di jadikan bantalan untuk kepala Layla.
...---...
Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah.
Di belakang setir kemudi, Arsandi langsung kembali ke rumah, setelah menyelesaikan urusan nya di rumah sakit.
Dereeet dreeet dreeet dreeet.
["Target sudah mulai bergerak, bos!"] suara laki laki terdengar, saat sambungan telpon nya di jawab oleh Arsandi.
"Kalian di mana? Aku akan menyusul kalian! Rekam apa yang kalian dapatkan." titah Arsandi.
Arsandi langsung melajukan kendaraan nya ke tempat yang sudah di sebutkan orang suruhan nya itu, tidak memakan waktu lama. Kini Arsandi sudah berada di tempat yang di maksud.
"Kali ini, anda tidak akan bisa lolos lagi Nona!" gumam Arsandi, yang sudah bergabung bersama dengan orang suruhan nya
"Apa mau langsung di ringkus, bos?" tanya anak buah Arsandi, yang sejak tadi mengamati pergerakan buruan nya.
"Tidak perlu, kita serahkan saja barang bukti ini ke polisi. Biar mereka yang bergerak, kita cukup membantu saja." terang Arsandi.
"Kalian terus amati pergerakan mereka, jangan sampai mereka meloloskan diri, jika mereka terlihat meninggalkan kota ini. Langsung ringkus dan bawa ke gudang!" jelas Arsandi panjang lebar, memberikan arahan.
...---...
"Ka Danu? Kaka mau ke mana? Bukan nya masih sakit? Masih harus mendapatkan perawatan?" cecar Layla saat mendapati Danu yang sudah rapi dengan setelan jas nya.
"Aku tidak apa apa, ayo cepat mandi, biar aku antar kau ke sekolah!"
"Apa? Gak salah? Gak urus administrasi dulu? Kaka bisa meninggalkan rumah sakit dengan begitu mudah?" Layla membola, melihat bagaimana Danu yang tidak terlihat habus kecelakaan, berdiri dengan tegap, dengan tubuh atletis nya.
"Gak lah! Udah jangan kebanyakan bengong! Yang ada nanti kamu terlambat ke sekolah!" Danu melirikkan arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.
"Iya iya iya, ini sulit di bayangkan. Udah kaya mimpi aja, tapi nyata!" gumam Layla, melangkah memasuki kamar kecil yang ada di ruang rawat Danu.
Tanpa ada drama, Danu menghentikan laju mobil nya tidak jauh dari gerbang sekolah.
"Kamu masuk lah! Nanti Arsandi yang akan menjemput mu!" ucap Danu, dengan tangan kanan nya yang menjulur ke depan Layla.
"Aku bisa pulang sendiri!" Layla yang mengerti pun langsung meraih tangan Danu, mengecup punggung tangan kanan pria yang berstatus kan suami nya itu.
"Jangan membantah La, kamu tau kan seperti apa situasi nya saat ini!"
__ADS_1
"Iya iya iya, hati hati di jalan, langsung ke kantor kan? Gak ketemu tante menor dulu?" tanya Layla dengan tatapan tajam.
"Udah sana masuk! Nanti telat!" titah Danu.
Layla turun dari mobil, berjalan memasuki gerbang sekolah. Danu terus memperhatikan Layla, hingga tidak terlihat di ke dua mata nya. Baru lah Danu melajukan kembali mobil nya meninggalkan area sekolah.
Bugh.
"Awwhhh!" pekik Layla.
Layla langsung jatuh tersungkur di lantai, dengan ke dua lutut yang membentur lantai dengan cukup keras.
"Sorry, gue gak liet" ucap Irfan yang dengan sengaja, menyenggol lengan Layla saat menaiki anak tangga menuju kelas nya berada.
"Cihhh sengaja banget!" sungut Layla, menatap punggung Irfan yang langsung melewati nya, tanpa berniat membantu nya berdiri.
Rasa perih pun bersarang di salah satu lutut Layla.
"Lo kenapa, La?" tanya Nina, yang berjalan di belakang Layla.
"Eh lu, kirain lu udah di kelas! Baru nyampe juga?" tanya Layla dengan jalan nya yang pincang.
"Iya, tadi gue agak kesiangan. Malah susah dapat taksi." jelas Nina dengan mengerucut.
Nina mengamati cara berjalan Layla. "Lo kebanyakan apa pak Danu yang main nya beringasss La?" ledek Nina, dengan pemikiran kotor nya, otak nya udah traveling hilir mudik.
"Ngaur lo! Tadi gue jatoh di bawah sana! Lutut gue rada perihhh nih!" ujar Layla dengan meringis.
"Lutut lo berdarah, La! Gue ambilin plaster ama obat merah kali ya di UKS, apa kita balik ke uks deh yuk!" pikir Nina dengan spontan, menggandeng lengan Layla.
"Gak usah lebay ihsss, cuma gini doang. Nanti juga sembuh!" tolak Layla.
"Gue takut nanti infeksi La, harus di obatin lo!" ngotot Nina, "Mana tar pelajaran olahraga, apa lo bolos aja, gak usah ikut olahraga? Gue yang ijinin deh!" ujar Nina lagi.
'Gitu aja manja, dasar jalanggg. Lo bakal tau rasa setelah ini Layla! gara gara lo, Sopur di keluarin dari sekolah.' Irfan menatap Layla dengan tatapan penuh dendam.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1