
...🥀🥀🥀...
"Gak ada, udah lanjut habiskan sarapan mu! Setelah ini kita langsung jalan ya! Kamu gak apa kan, kalo anter aku ke suatu tempat dulu." ucap Danu.
"Ke mana dulu? Bukan tempat yang aneh aneh kan? Kamu gak bakal macem macem kan?" cecar Layla dengan mode berjaga jaga.
"Tempat aneh gimana maksud nya? Aku mau macam macam pun gak akan jadi masalah, La... kita kan udah sah di mata agama." terang Danu.
"I- iya juga sih, ta- tapi kan lo udah janji gak bakal aneh aneh ke gue!" sungut Layla.
"Siapa juga yang mau aneh aneh sama lo, La? Lo kali yang pengen di apa apain sama aku? Hihihi!" kekeh Danu, yang malah membuat Layla merona malu.
"Kamprettt lo! Gue udah kenyang!" Layla meninggalkan meja makan, berjalan menuju kamar dengan kaki yang di hentakkan.
"Siap siap aja sekalian, La! Kita langsung berangkat."
"Hem!"
...----...
...Skip biar cepat 😅😅😅...
Dalam perjalanan, Layla masih belum tau ke mana Danu akan membawa nya pergi. Tapi pertanyaan nya seketika terjawab, saat Danu menepikan mobil yang ia kemudikan di sebuah bedeng yang menjual kembang 7 rupa, dan berbagai ukuran kendi.
"Tunggu sebentar!" ucap Danu sebelum ia ke luar dari mobil nya.
"Iya." jawab Layla singkat.
Jangan bilang kalo Danu mau bawa aku kepemakan mama nya? Tapi kalo bukan ke sana, mau ke mana lagi emang?
"Apa kita mau ke makam mama kamu dulu ya?" tanya Layla, setelah Danu melajukan kembali mobil nya.
Danu menghela bafas nya dengan kasar. "Gak apa apa kan, kalo kita menemui dulu?"
"Aku gak masalah kok!" jawab Layla dengan senyum tersungging.
"Seandai nya mama masih hidup, mungkin mama bakal seneng lihat kamu akhir nya nikah sama aku, La!" terang Danu dengan sesekali menoleh ke arah Layla.
"Kenapa seneng? Kan masih banyak wanita di luaran sana yang lebih baik dari aku, yang tulus sayang sama kamu juga banyak kan?" cicit Layla.
"Wanita itu kebanyakan melihat seorang pria dari tampilan luar dan isi dompet, La! Jika tidak, ya karena jabatan."
__ADS_1
"Kalo tante Aleta, melihat kamu dari sudut pandang mana? Kalian kan sempat punya hubungan." tanya Layla, tanpa ada angin dan hujan, bertanya soal Aleta.
"Dulu aku dan dia memang punya hubungan, spesialis. Aku hanya dekat dengan nya, saat masih di bangku sekolah menengah pertama, sampai kami sekolah menengah atas pun satu sekolah dan satu kelas." Danu tidak melanjutkan lagi cerita nya.
"Lalu apa yang membuat hubungan kalian kandas? Kalian kan sudah menjalin hubungan cukup lama. Papa Baskoro juga tampak gak suka sama tante Aleta saat ketemu dengan nya di rumah sakit." cicit Layla panjang lebar.
"Kenapa kau bisa bilang begitu?"
"Ya cuma asal tebak aja sih. Jadi apa? Kalo gak mau lanjut cerita juga gak apa sih. Aku gak maksa." cicit Layla cuek.
Tapi hati Layla berkata lain, jiwa nya meronta ingin tau. Jahat banget lo kalo gak kasih tau gue, kita kan harus tau satu sama lain. Secara lo itu sekarang suami gue. Ihsss ngarep amat ya, gue di akuin bini sama ini orang.
"Dulu aku ini bukan siapa siapa, La. Orang tua Aleta tidak setuju dengan hubungan ku dengan putri nya. Aleta di kirim ke luar negri dengan dalih melanjutkan pendidikan. Dan kami hilang kontak. Tapi ternyata dia bukan melanjut kan pendidikan, melainkan menikah dengan pria tua kaya raya yang sudah berumur. Seseorang yang memberikan suntikan segar pada perusahaan keluarga nya." terang Danu panjang kali lebar.
Terdengar miris di telinga Layla. Tapi itu lah kenyataan nya. Akhir cinta Danu dan Aleta. Gadis yang berasal dari keluarga orang kaya raya, pengusaha terkenal. Berbanding terbalik dengan Danu, yang saat itu belum memiliki kekayaan seperti sekarang ini. Jangan kan kekayaan, Baskoro aja masih jadi kuli dan menjadi bawahan dari pria kaya.
Berkat kerja keras, royalitas, etos kerja yang di miliki Baskoro pada sang bos. Ia bisa berada di posisi saat ini.
Layla dan Danu ke luar dari dalam mobil, menuju sebuah pemakaman umum. Dengan Layla yang membawa keranjang bunga.
"Assalamualaikum, mah!" ucap Danu setelah berjongkok di depan pusara, bertuliskan nama Devina pada batu nisan.
Danu menyingkirkan rumput liar yang tumbah di atas pusara sang ibu.
"Assalamualaikum mah, aku istri nya ka Danu. Mama yang tenang ya di alam sana." ucap Layla dengan tulus.
"Layla cantik kaya mama waktu masih muda, hitam manis." cicit Danu.
"Ihs ka, gak usah pake bawa bawa hitam manis, yang penting itu hati nya. Orang yang memiliki hati tulus itu, jauh lebih baik dari pada orang yang gak punya hati!" sungut Layla.
"Iya."
Setelah dari pemakaman, kini ke dua nya kembali dalam perjalanan. Danu menepati janji nya untuk menemani Layla membeli oleh oleh, untuk di berikan kepala keluarga dan teman dekat nya.
"Kita gak salah nih ka, jauh amat beli oleh oleh aja sampe ke sini! Mahal lagi!" cicit Layla.
"Gak kok, meski tempat nya jauh, tapi kalo kita pergi nya berdua. Akan terasa dekat, La!" ucap Danu.
"Ihsss, mulai deh. Jangan kebanyakan gombal lah, gak pantes lo ngegombal ka! Malu sama umur, malu sama profesi." cicit Layla.
"Siapa juga yang gombal. Ayo turun." ke dua nya turun dari mobil, setelah Danu memarkir mobil nya di basman mall terbesar di ibu kota.
__ADS_1
Grap.
Danu menggenggammm jemari Layla dan menautkan kan.
"Begini baru romantis. Udah sama kan kaya abg yang lagi kencan?" tanya Danu dengan tatapan penuh arti.
Layla memutar bola mata nya dengan malas.
Mana ada abg kencan pake setelan kantor, gue baru liet. Apa setelan Danu emang kaya gini ya?
"Kenapa? Aku keren ya?" tanya Danu dengan percaya diri yang tinggi.
Layla melepaskan tautan jemari nya dari Danu. Lalu mengadahkan tangan kanan nya.
"Lepas jas kamu!" titah Layla dengan datar.
Danu mengerut kan kening nya, menatap tanya Layla. "Mau apa? Kenapa di lepas?" biar begitu, Danu tetap menuruti apa yang di katakan Layla.
Layla menyampirkan jas Danu pada bahu nya sendiri, lalu menggulung lengan kemeja yang di kenakan Danu.
"Ini baru keren!" puji Layla dengan senyum tersungging di bibir nya.
"Tunggu sebentar." Danu menyambar jas milik nya, yang tersampir di bahu Layla.
"Dasar pria aneh, bilang makasih kek! Langsung nyelonong gitu aja!" sungut Layla dengan bibir mengerucut.
"Ini baru keren kan!" Danu memuji diri nya sendiri. Berjalan menghampiri Layla dengan ke dua tangan yang berada di dalam saku celana nya.
Sreek.
"Jangan dua tangan di saku, satu tangan begini! Baru abg lagi kencan!" Layla menarik tangan kiri Danu dan menggenggammm nya.
"Ayo kita jalan, kamu pilih apa yang ingin kau beli untuk setan kecil!" cicit Danu.
"Ha? Setan kecil?" Layla membola.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅