
...🥀🥀🥀...
"Bagaimana jadi nya jika Layla tau, Irfan ingin membuat nama baik nya tercoreng di sekolah. Bahkan Irfan sangat yakin, bisa membuat Layla di keluarkan dari sekolah... karena sudah menikah dengan ku!" gumam Danu.
"Ka! Sejak kapan di situ? Ayo sini!" seru Layla, yang melihat Danu malah berdiri di depan pintu, bukan nya menghampiri ke dua nya.
Danu menyunggingkan senyum nya, melangkah menghampiri Layla dan juga nenek Dahlia.
"Senin besok kamu udah mulai ujian kan?" tanya Danu, mengelusss puncak kepala Layla.
"He'em!" Layla menganggukkan kepala nya. Ka Danu jadi pengawas kan?" tanya balik Layla, setelah mengangguk kecil.
"Seperti nya begitu, setelah ujian usai. Kamu punya rencana apa, La?" tanya Danu lagi.
Layla tampak berfikir, kegiatan apa yang akan ia lanjut kan selanjut nya. 'Aku masih harus menunggu hasil ujian ku ke luar. Apa sebaik nya aku cari pekerjaan, lumayan kan bisa ngumpulin uang, bisa nyicil hutang ku sama ka Danu selama ini.'
"A- pa ti- dak se- ba- ik nya, ka- li- an ha- ni- mun?" tanpa di ajak bicara, nenek Dahlia menyuarakan pendapat nya, untuk Layla dan Danu.
Danu menyamakan tinggi nya dengan nenek Dahlia, dengan membungkuk, ke dua tangan nya menggenggammm jemari nenek Dahlia.
"Apa nenek segitu gak sabar nya pengen punya cicit dari ku dan Layla?" tanya Danu, menatap penuh selidik pada nenek Dahlia, lalu menoleh menatap Layla yang pipi nya bersemu.
"Ka- ka Danu! Jangan ngada ngada deh! Mak- maksud nenek pasti bukan itu. Pa- pasti pengen ka Danu istirahat, i- iya kan nek? Nenek pengen ka Danu istirahat dari kesibukan kantor nya sejenak?" tanya Layla dengan tergugup, meminta nenek Dahlia untuk membenarkan perkataan nya.
Layla menelan saliva nya dengan sulit, ke dua tangan nya bahkan tanpa sadar meremasss rok nya.
Batin Layla, 'Hati aku jedak jedug gak karuan, mendengar celotehan nenek Dahlia, mana bisa nenek meminta ku dan ka Danu untuk bulan madu. Aku belum siap untuk itu. Hati aku juga belum tau apa udah bisa menerima ka Danu seutuh nya, apa masih ada celah tertinggal yang masih kosong. Atau jangan jangan... ka Danu yang masih memiliki perasaan yang tertinggal untuk sang mantan?'
Danu yang melihat keraguan di mata Layla pun dapat merasakan nya.
Batin Danu, 'Apa sesulit itu untuk Layla bisa menerima ku? Apa kurang waktu yang selama ini kita habiskan bersama? Beberapa bulan pernikahan, hubungan ku dengan nya seakan tidak ada kemajuan yang berarti.'
"Kita tidak akan bulan madu nek, hanya saja nanti nenek akan Danu dan Layla tinggal ya... tidak lama kok nek, hanya untuk beberapa hari setelah Layla selesai ujian." ujar Danu.
"Ma- mau ke mana ka? A- apa gak sebaik nya nenek kita ajak?" tawar Layla.
"Bi- biar ne- nek di ru- mah a- ja, a- da sus- ter, pak Di- Didi, dan pa- pa ka- li- an yang pa- pas- ti a- kan men- ja- ga ne- nek de- ngan ba- ik. Ka- li- an pu- lang ha- rus ba- wa ka- bar ba- ik un- tuk ne- nek dan pa- pa ka- li- an. Be- la- jar me- ne- ri- ma ke- ku- ra- ngan pa- sa- ngan i- tu sa- ngat lah ba- ik un- tuk hu- bu- ngan ka- li- an, ka- li- an i- tu sa- ling mem- bu- tuh- kan, sa- ling men- ja- ga. A- pa la- gi yang ku- rang da- ri ka- li- an, ha- nya ting- gal me- leng- ka- pi ru- mah i- ni de- ngan ta- ngi- san baby." ucap nenek Dahlia dengan sulit dan terputus putus. Namun Layla dan Danu, tetap menunggu sampai nenek Dahlia akhir nya dapat nenyelesaikan kata kata yang ingin ia keluarkan dari bibir nya.
__ADS_1
"Do'akan saja ya nek, Layla dan Danu bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Selalu setia dan bersama di kala susah dan senang." ujar Danu, merekatkan tangan nya di pinggang Layla.
Membuat Layla semakin jedak jedug jantung nya, berada sedekat itu dengan Danu.
"Ka!" pekik Layla dengan gugup, wajah nya aja udah merah karena malu.
"Apa? Benar kan saja apa yang aku katakan tadi! Apa kamu gak mau buat hati nenek senang?" tanya Danu dengan menggoda Layla, semakin menempelkan tubuh Layla dengan tubuh nya.
Layla menelan saliva nya, mencoba melepaskan diri dari dekapan tangan Danu yang masih anteng merekat di pinggang nya.
'Astagaaa kenapa sekencang ini sih! Aku kan jadi malu, mana susah banget lepas dari ka Danu! Awas aja, tunggu kalo gak ada nenek, aku sikat kamu ka! Aku balas kamu!' ucap Layla dengan bibir komat kamit tanpa suara.
Tatapan Danu terfokus pada bibir Layla, yang terus saja bergerak namun tanpa mengeluarkan suara.
'Gadis ini pasti sedang mengumpat ku! Dasar bodohhh!' batin Danu tersenyum puas.
"Apa yang kau umpat untuk ku hem?" tebak Danu.
"A- apa? Si- siapa yang mengumpat? Dasar ge'er!" sungut Layla yang berhasil lepas dari tangan Danu, berhasil menjarak tubuh nya.
"Tuh kan, ka Danu sih! terlalu lebay! Nenek kan harus minum obat!" Layla mendorong kursi roda nenek Dahlia, membawa nya masuk ke dalam rumah.
Sementara di dalam mobil, Arsandi menatap gadis remaja yang duduk di samping nya dengan tatapan penuh selidik.
"Terima kasih paman, sudah mau memberikan aku tumpangan." ujar Julia, dengan sesekali menundukkan kepala nya.
"Sudah berapa kali kau ucapkan terima kasih pada ku? Apa aku setua itu... hingga kau panggil aku dengan sebutan paman!" protes Arsandi di belakang setir kemudi, dengan menggelengkan kepala nya.
"Terus aku harus panggil apa? Kan kau itu lebih dewasa dari ku, kau juga sudah tampak berumur." ucap Julia berterus terang, lalu menutup mulut nya dengan telapak tangan nya saat mendalat pelototan dari Arsandi.
"Panggil saja aku kaka, dasar bodohhh... gitu aja harus di ajarin. Kau kelas berapa?" tanya Arsandi dingin, fokus pada jalan yang ia lewati tanpa menoleh sedikit pun ke arah lawan bicara nya.
"Aku kelas 3, senin besok aku akan ujian. Dan setelah itu aku akan terjun ke dua kerja. Apa om punya lowongan pekerjaan untuk ku? Aku tidak keberatan jika harus jadi ob!" ujar Julia dengan terus mengoceh.
Arsandi menggaruk kepala nya dengan frustasi. "Aku bukan om mu! Aku juga belum menikah! Mana mungkin aku bisa di panggil om oleh mu!" umpat Arsandi dengan kesal.
"Apa om mau menjadi pacar ku?" tanya Julia dengan mengerjapkan ke dua mata nya.
__ADS_1
Ciiit.
Arsandi menghentikan laju mobil nya. Tangan nya melepaskan sabuk pengan yang membelit tubuh Julia.
Sreeek.
"Wangi parfum om, membius indra penciuman ku!" gumam Julia dengan mata terpejam, saat Arsandi menjulur kan tangan kiri nya, membuka pintu mobil yang ada di sebelah Julia.
"Turun!" titah Arsandi dengan datar.
Julia membuka ke dua mata nya, terkejut dengan satu kata yang meluncur bebas dari bibir pria yang dia pikir adalah pahlawan penolong nya.
"Jangan setega itu om pada ku!" Julia menangkup kan ke dua tangan di depan wajah, memohon belas kasih pada pria dewasa yang ia panggil om.
"Turun!" Arsandi mengulang perkataan nya lagi dengan penuh penekanan.
"Rumah ku masih jauh om, aku gak punya uang untuk naik angkot. Tadi aku berada di kawasan perumahan elit pun karena nebeng di mobil Ratna, dan kami malah mengikuti mobil yang di tumpangi Layla!" cicit Julia, berterus terang, dari pada gak di antar pulang.
Arsandi membuang nafas kasar, mendengar nama Nona Muda nya di sebut, menatap tajam Julia.
'Pasti niat Ratna, teman yang ia sebutkan itu buruk untuk Nona. Aku harus menggali informasi dari bocah bodohhh ini! Apa yang sebenar nya mereka rencanakan untuk Nona!' batin Arsandi.
"Tutup pintu nya!" titah Arsandi.
Julia menutup pintu mobil nya kembali, mengenakan kembali sabuk pengaman yang sempat di lepas Arsandi.
"Om beneran orang baik, untung aku jetemu om. Kalo gak, aku pasti bakal jadi sugar kaya Ratna teman ku." cicit Julia, yang lagi lagi kebablasan omong tanpa ia sadari.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1