Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Siapa nama mu?


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


'Gimana gak kusuttt, udah 2 hari ini ka Danu gak ada kabar! Di telpon, gak bisa. Di kirim pesan pun hanya di baca. Sok sibuk banget kan jadi orang!' gerutu Layla dalam hati.


"Kantin yuk! Gue kaper nih!" Mery menghampiri ke dua nya, dengan berdiri di antara Layla dan Nina, tangan nya pun merentang di bahu Layla dan bahu Nina.


"Ihsss berat begeee! Kaya gak punya tulang aja!" Layla menepis tangan Mery yang bertengger di bahu nya.


"Ihsss lo, sensi amat si La! Lagi dateng bulan ya? Perasaan baru minggu depan kan lo dateng tamu bulanan?" Mery mencebik, dengan menggaruk alis nya yang gak gatal.


"Suka suka gue, mau lo bilang sensi juga! Ra urus!" sungut Layla, membalikkan badan nya, memilih kembali ke dalam kelas.


"Kenapa tuh anak? Salah minum obat apa kurang obat?" Mery menatap punggung Layla, kini hilang setelah masuk ke dalam kelas.


"Gue rasa ada hubungan nya sama pak Danu." ucap Nina, dengan membalikkan tubuh nya, menyandarkan bokonggg nya pada dinding pembatas balkon.


"Gue rasa iya. Pak Arsandi lagi sibuk banget sama pak Danu di Singapura. Yang gue dengar semalam, pak Danu ngebut buat mangkas kegiatan nya di Singapura." ujar Mery panjang kali lebar.


"Maksud nya mangkas kegiatan, apaan tuh?" tanya Nina, gak ngerti dengan maksud perkataan Mery.


"Lu tanya gue, gue tanya siapa ya?" Mery menujuk diri nya sendiri dengan jari telunjuk nya.


"Ah lu mah Mer!" Nina menghembuskan nafas kasar dan berlalu.


"Mau ke mana lo?" tanya Mery.


"Kantin, laper gue! Mau isi daya perut, biar otak gue bisa di ajak mikir!" cicit Nina tanpa menoleh.


"Ikut!" Mery berlari, menyusul langkah kaki Nina yang kini menuruni anak tangga.


Layla mengikuti pelajaran dengan pikiran yang gak konsen. Pikiran nya mengarah pada Danu, Danu yang belum juga membalas pesan nya.


'Kemana sih ka Danu tih! Bikin pikiran gue gak tenang aja!' Layla menopang wajah nya, dengan tangan kanan nya yang bertumpu pada permukaan meja.


Dari jarak selang satu meja, Juni terus memperhatikan Layla.


'Layla oh Layla, andai gue berani nyatain cinta gue sama lo lebih dulu. Tanpa harus mikirin status sosial gue, mungkin kah lo bisa terima gue yang cuma anak biasa... dengan semangat cari duit buat bertahan hidup, La?' pikir Juni dengan tatapan yang sulit di artikan.


'Dua orang manusia yang begooo. Juni terlalu naif buat gak jujur sama perasaan nya ke Layla. Sementara Layla, itik buruk rupa yang sekarang lagi nyasar di sangkar emas. Kenapa sih kalian gak bersatu aja?' cibir Julia, menatap Juni dan Layla secara bergantian dari kursi yang biasa ia duduki.


Teng teng teng teng.


Dentum berkali kali berbunyi, tanpa usai jam pelajaran di sekolah.


Layla yang sudah selesai mengemas alat tulis nya ke dalam tas, tampak menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi.


Jemari nya sibuk menari nari pada layar hape nya.


..."Ka Danu, kamu itu lagi sibuk kerja atau lagi sibuk dengan wanita Singapura? Lebih seksiii ya? Lebih cantik? Lebih segala nya dari aku?"...


Pesan terkirim, meski belum di baca oleh Danu.


Ting.

__ADS_1


Layla menerima pesan dari pak supir.


..."Maaf Nona, siang ini bapak gak bisa jemput. Akan ada suruhan Tuan Muda, yang akan menjemput Nona."...


"La, maen yuk. Kan sekarang lo udah gak sibuk lagi sama delivery catring." Mery berdiri di samping Layla.


"Gak lah, aku lelah. Mau istirahat aja di rumah!" tolak Layla, beranjak dari duduk nya.


"Kita main ke rumah lo ya La! Boleh kan?" tanya Nina, mengikuti langkah kaki Layla, dengan tatapan nya yang mengamati wajah Layla dari samping.


"Terserah kalian aja!" ucap Layla tampak acuh, tatapan nya pun fokus ke depan.


Mery mengikuti ke dua nya, berjalan mengekor Layla dan Nina.


Nina menoleh ke belakang, bertanya pada Mery dengan suara pelan.


"Gimana?"


Mery hanya menggerakkan kepala nya.


Grap.


Nina menggandeng lengan Layla. "La, mikirin pak Danu ya?" tebak Nina, membuat Layla menoleh ke arah nya.


"Gak juga!" kilah Layla.


"Yakin, bukan karena mikirin pak Danu? Pada hal ada rahasia yang mau gue bocorin ke lo La! Mengenai pak Danu." cicit Mery, memancing Layla untuk menoleh ke arah nya.


Layla membuang nafas nya dengan kasar. "Kalo gak mau ngomong, mending gak usah di omongin! Dari pada di omongin, terus besok nya gantian lo yang gak ada kabar!" cicit Layla tanpa ekspresi.


Mery menarikkk tangan Layla, membuat langkah nya terhenti dan berbalik arah menghadap Mery.


"Maksud lo La?" tanya Mery ingin tau dengan kening mengkerut, tatapan menyelidik.


"Malam sebelum ka Danu gak ada kabar, gue banyak tanya, gue terlalu berani merintah ka Danu. Bisa jadi sekarang ka Danu kesel sama gue, jadi ka Danu sekarang lagi hukum gue!" seru Layla, mengatakan apa yang ada di dalam pikiran nya mengenai menghilang nya Danu.


"Ahahhahahhahaha lu mikir jauh amat si La!" tawa Mery setelah gak bisa lagi menahannn tawa nya.


Layla menyingkirkan tangan Mery dari tangan nya. "Terserah apa kata lo aja!" ucap Layla datar.


Layla berjalan dengan mempercepat langkah nya, tangan nya menggenggammm tali tas punggung nya.


'Gak tau pikiran gue lagi jelek apa, malah di ledek kaya gitu. Tau apa dia soal ka Danu yang menghilang! Liet aja, suatu saat nanti, dia bakal ngerasain apa yang gue rasain, enak gak... kalo orang yang kita sayang, tiba tiba menghilang!' gerutu Layla dalam hati.


"Ah lu si! Layla ngambek tuh!" Nina menoyorrr kepala Mery.


"Sorry, abis nya temen lo lucu! Mana bisa pak Danu marah sama Layla!" seru Mery dengan terkekeh.


"Kalian ngapain di sini? Layla mana?" tanya Deri yang muncul di belakang ke dua nya.


"Pacar kamu itu aku apa Layla ya yank?" tanya Nina dengan kening mengkerut.


"Ya kamu lah!" Deri mengelusss puncak kepala Nina, lalu mencubittt gemasss pipi chabi Nina.

__ADS_1


Plak.


Mery menggeprak lengan Nina.


"Dasar begooo, Layla udah gak keliatan itu!" seru Mery, melihat ke depan dan Layla gak terlihat lagi.


"Tunggu apa lagi, onyonnn!" Deri menarikkk tangan Nina dan Mery, mengikuti langkah nya yang di percepat.


"Lu si, kebanyakan mikir!" omel Nina dengan melirik sekilas Mery, ikut mempercepat langkah nya.


"Bukan nya lu juga kebanyakan tanya!" timpal Mery, gak mau di salahin.


Mobil sedan hitam yang pernah di tumpangi Danu, kini berhenti tepat di depan Layla.


"Masa ini mobil yang jemput gue, pak supir gak ngasih tau plat nomor nya." gumam Layla pelan, menatap tajam ke arah pintu, menunggu siapa yang akan ke luar dari balik pintu mobil.


'Apa mungkin ka Danu udah balik dari Singapura? Terus kasih kejutan, langsung jemput gue di sekolah? Bisa juga begitu.' batin Layla dengan hati yang bermekaran bunga bunga.


Ceklek.


Tampak seorang pria berkaca mata hitam, turun dari balik pintu kemudi, dengan setelan jas hitam dan earphone di telinga kanan nya.


"Silahkan masuk Nona!" seru nya dengan membuka pintu penumpang bagian belakang.


"Kamu nyuruh aku masuk?" tanya Layla dengan datar.


"Apa di sini ada orang lain selain Nona? Silahkan masuk Nona!" cicit nya lagi, menyuruh Layla untuk masuk ke dalam mobil.


"Kamu gak akan menculik ku kan?" tanya Layla dengan kening mengkerut.


"Saya masih ingin hidup Nona!" ucap nya datar.


"Siapa nama mu?" tanya Layla gak kalah datar.


"Nona bisa tanyakan langsung pada Tuan Muda Danu, siapa nama saya!" ucap nya, gak mau menyebutkan nama.


"Dasar pria aneh, di tanya nama aja susah buat jawab. Kalo bisa ku tanya, pasti akan aku tanya langsung pada ka Danu!" gerutu Layla, namun masuk ke dalam mobil.


Mery, Nina dan Deri, celingukan di depan gerbang. Mencari cari keberadaan Layla.


"Layla! La! Layla!" seru Nina dengan suara cempreng nya, mencari keberadaan Layla.


Mobil belum lama melaju, namun Layla langsung menghentikan nya setelah telinga nya mendengar Nina menyerukan nama nya.


"Berhenti!" titah Layla tegas tanpa ragu.


Ciiiiit.


Ceklek.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Like dan komentar nya dong, 😅😅


Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya


__ADS_2