Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Bukan salah kamu La


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Apa mungkin Layla udah sependapat dengan pemikiran ku?" gumam Danu.


"Pemikiran mu apa?" tanya Noval.


"Tadi aku sempat bilang jika aku mencurigai Lulu sebagai tersangka pembunuhan mama Sifanye." ucap Danu.


Ceklek.


"La!" seru Noval dan Danu berbarengan, saat melihat Layla yang duduk di tepian ranjang milik Lulu dengan tangan memegang sebuah buku.


Layla bertanya dengan suara bergetar. "A- ayah, ka Danu... a- apa kalian tau apa yang di tulis Lulu di buku ini?" tanya Layla tanpa menoleh ke arah pintu yang terbuka, Layla larut dalam buku yang kini ada di pangkuan nya, air mata nya meluncur bebas dari pelupuk mata nya.


"Emang apa yang Lulu tulis di buku itu, sayang?" Noval melangkah menghampiri Layla.


"Apa Lulu meluapkan emosi nya dalam tulisan, La?" tebak Danu, mengikuti langkah sang ayah mertua.


'Kenapa dengan Layla? Kenapa Layla menangis?' batin Danu.


"Malam di mana aku hilang, dan berakhir dengan operasi di perut ku. Malam itu juga menjadi malam yang kelam untuk Lulu." ucap Layla dengan punggung bergetar.


"Apa maksud kamu La?" tanya Noval dengan kening mengkerut.


'Bukan kah aku sudah menemukan keberadaan Lulu yang akan di jual oleh Soni? Jadi apa yang sudah Soni dan teman teman nya lakukan pada Lulu? Harus nya Soni menyayangi Lulu, Lulu itu anak kandung nya kan!' batin Noval.


"A- ayah! Ini seakan gak adil untuk Lulu. Di saat aku mendapat kan kebahagiaan bersama dengan ka Danu. Lulu kehilangan kehormatan nya sebagai seorang wanita, Lulu juga kehilangan mama Sifanye!" ucap Layla dengan terisak.


"A- apa kamu bilang La? Lulu kehilangan kehormatan nya? Jadi Lulu udah ___?" Noval gak lagi bisa melanjutkan kata kata nya, ke dua kaki nya seakan tak lagi bertulang, ia luluh duduk di lantai dengan tatapan penuh sesal.


'Apa yang sudah aku lakukan? Harus nya aku cepat menjemput Lulu setelah tau di mana keberadaan nya? Ini salah ku, aku yang membuat masa depan anak itu hancur!' batin Noval penuh sesal.


Danu membawa Layla ke dalam dekapan nya. Mengelusss punggung sang istri, membiarkan gadis itu menangis, menumpahkan perasaan nya.


"Lulu gak ngomong apa apa sama ayah, La! Lulu gak cerita sama ayah. Ayah benar benar gak tau La!" seru Noval dengan suara bergetar.


'Ayah macam apa aku ini! Gak tau seberapa dalam menderita nya anak ku!' batin Noval dengan menelan saliva nya dengan sulit.


"Lulu menyalahkan ku ka, apa ini benar salah ku?" tanya Layla dengan menenggelamkan wajah nya di dada bidang Danu.


"Ini bukan salah kamu La, ini salah nya. Salah dia yang gak bisa bedain mana iri, mana benar dan salah. Ini udah suratan buat mama Sifanye. Lulu yang gak bisa ngendaliin emosi nya." ujar Danu, menenangkan Layla.

__ADS_1


'Salah bocah itu yang gak mau terbuka dengan masalah nya, menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa diri nya sendiri! Aku gak akan membiarkan bocah itu mempengaruhi pikiran mu La! Kamu gak boleh menyalahkan diri mu atas apa yang menimpa mama Sifanye dan Lulu sendiri.' batin Danu.


Danu membawa Layla pulang, membatalkan rencana nya untuk ke restoran. Membatalkan meeting nya dengan bapak Yanto.


Danu melirik ke arah Layla, tertidur di dalam mobil setelah lama menangisi apa yang terjadi pada Lulu dan mama Sifanye.


"Ada apa dengan Nona muda, Tuan?" tanya pak Adi, melihat Danu menggendong Layla masuk ke dalam rumah.


"Hanya mengantuk, kamu siapkan lah makan malam. Langsung antar ke kamar jika sudah siap!" titah Danu, berlalu membawa Layla menuju kamar mereka.


Danu membaringkan Layla di atas tempat tidur. Membiarkan nya untuk sementara waktu seorang diri.


Danu mengutak atik benda pipih nya, lalu mengirim kan pesan gambar pada nomor seseorang.


[ "Aku minta bantuan mu, tolong selidiki keterlibatan bocah itu atas kematian Sifanye!" ] titah Danu dengan suara tegas, gak ingin di bantah.


^^^"Oke, jangan lupa bayaran nya! 2 kali lebih mahal karena orang nya udah mati!"^^^


[ "Jangan memerasss ku! Ku kirim kau ke pelosok! Itu baru bayaran mu yang setimpal." ] ketus Danu.


^^^"Kau saja yang aku lemparrr ke pelosok!"^^^


[ "Aku tunggu hasil nya, segera mungkin!" ] titah Danu lagi.


Beberapa menit kemudian.


Layla mengerjapkan ke dua mata nya. Membuka perlahan ke dua mata nya, dengan tangan yang ia rentangkan ke atas.


"Apa ini udah di rumah? Tadi ka Danu bilang mau ke restoran. Apa gak jadi ya?" gumam Layla, dengan tatapan mengedar mengenali kamar nya.


"Malam sayang, kamu udah bangun? Kita makan ya! Atau kamu mau mandi dulu?" tanya Danu, muncul dari arah balkon kamar.


Layla beranjak duduk, menyandar kan punggung nya pada kepala ranjang. Mengucek ke dua mata nya dengan punggung tangan nya.


"Kita gak jadi ke restoran ka? Gak jadi ketemu bapak? Apa ka Danu udah menemui bapak seorang diri?" cecar Layla.


"Besok pagi aku baru ketemu bapak, setelah aku mengantar mu ke sekolah." Danu mengelusss puncak kepala Layla.


Grap.


Layla menggenggammm jemari Danu, mengadahkan wajah nya, menatap Danu dengan mata sembab.

__ADS_1


"Maaf, aku selalu menyusahkan mu ka!" seru Layla.


"Kamu gak pernah menyusahkan ku, La!" Danu membungkuk, mendekatkan wajah nya dengan wajah Layla.


'Apa yang ka Danu mau lakuin?' Layla mengerjapkan mata nya.


Cup.


Danu mengecup bibir Layla, melumattt nya dengan mata terjaga.


'Kasian kamu La! Aku gak akan membiarkan tangis kesedihan mengalir dari mata mu! Yang ada hanya tangis kebahagiaan.' tekad Danu.


"Apa kamu menginginkan lebih La?" tanya Danu, saat sudah melepasss lumatannn nya.


"Eng- ngak, si- siapa juga yang menginginkan nya!" ucap Layla dengan tergagap, memalingkan wajah dari Danu.


"Menginginkan apa La?" tanya Danu lagi.


"Ap- emmmppp!" Layla baru menoleh hendak bertanya, bibir Layla kembali di lumattt Danu dengan lembut.


Layla mendorong dada bidang Danu, mencoba menjauhkan nya, tapi tangan nya balik di genggammm Danu.


'Aku gak mau sampe ke bablasannn, ka Danu suka lupa diri kalo udah cium aku!' batin Layla.


Tok tok tok tok.


"Emmmppp!" Layla berusaha mengingatkan Danu dengan ketukan pintu dari luar, dengan ekor mata nya yang mengarah ke pintu.


'Biarain aja itu orang ngetuk pintu, asal gak menghalangi aktivitas ku dengan kamu, La!' batin Danu, dengan satu alis yang ia mainkan naik turun. Seolah menjawab isyarat yang di berikan Layla.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu terdengar lagi.


"Danu! Buka pintu nya! Ingat Layla masih di bawah umur Danu! Kamu jangan gila!" seru Baskoro setelah mengetuk pintu.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Like dan komentar nya dong, 😅😅

__ADS_1


Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅


Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya 😭😭


__ADS_2