Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Pengaruh obat


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Mereka orang suruhan pak, Basuki. Nama pria yang menyuruh mereka." ujar Layla, membuat Arsandi dan pak polisi yang ada di hadapan nya melihat ke arah nya dengan tatapan menyelidik, Layla mengatakan nya tanpa ada keraguan.


"Baik lah, kalo begitu saya minta nomor yang bisa di hubungi. Untuk sementara mereka akan kami bawa untuk mendapat perawatan, lalu akan kami selidiki apa motif mereka menyerang kalian." ucap pak polisi.


"Terima kasih ya pak atas bantuan nya!" ucap Arsandi, setelah memberikan kartu nama nya pada pak polisi.


"Sudah menjadi kewajiban aparat untuk menegakkan hukum, pak!" ucap pak polisi lagi.


"Kalo begitu kami permisi dulu pak! Nona Muda saya seperti nya butuh istirahat." ucap Arsandi lagi, membukakan pintu mobil untuk Layla.


Di jalan, Arsandi melirik berkali kali lewat kaca spion. Memastikan jika Nona Muda nya baik baik saja.


"Apa kita perlu ke rumah sakit, Nona?" tawar Arsandi, melihat Layla yang bersandar pada sandaran kursi.


Layla nampak sedikit terlihat syok dari wajah nya, ia bahkan berkali kali menoleh ke belakang. Takut jika ada lagi yang mengikuti nya.


"Gak usah ka, kita balik ke rumah aja. Paling aku cuma butuh waktu buat istirahat." tolak Layla dengan memejamkan ke dua mata nya.


'Seperti nya aku harus mengabari Tuan Muda.' batin Arsandi, gak tega melihat wajah Layla yang tampak cemas dengan kerutan di kening.


"Nona! Nona! Non!" seru Arsandi, berkali kali memanggil Layla. Memastikan jika Nona Muda nya sudah benar terlelap.


Tring tring tring.


Dering hape terdengar dari dalam tas Layla. Membuat Arsandi menepikan mobil yang ia kemudikan.


"Maaf Nona, aku lancang membuka tas mu!" ucap Arsandi, mengeluarkan hape Layla yang masih berdering.


"Baru juga mau aku hubungi Tuan Muda." gumam Arsandi, saat melihat panggilan telpon dari Danu di hape Layla.


Danu langsung mengoceh, mencecar Layla dengan berbagai perintah. Tanpa mendengarkan siapa yang menjawab sambungan telepon nya terlebih dahulu.


^^^"Apa kau sudah sampai rumah La? Langsung mandi, makan, dan istirahat lah. Kamu pasti lelah kan, seharian berada di luar! Kamu ini benar benar membuat ku khawatir!"^^^

__ADS_1


Umpat Danu dengan bawel. Seperti seorang ibu yang tengah memarahi putri nya.


..."Maaf Tuan, ini saya Arsandi yang menjawab telpon Tuan."...


^^^"Apa? Berani nya kau menyentuh hape istri ku. Di mana Layla? Kau benar benar ya! Kau bawa Layla ke mana Arsandi!" sungut Danu dengan suara naik satu oktaf.^^^


Arsandi menjauhkan hape nya dari daun telingan nya. Menjelaskan apa yang baru saja terjadi pada Layla dan juga diri nya, tanpa ada satu hal yang terlewat.


^^^"Apa kau yakin Basuki dalang dari penyerangan kalian?"^^^


..."Saya yakin Tuan, tadi Nona sendiri yang mengatakan nya pada saya dan pak polisi yang saat itu sedang melintas."...


^^^"Kau bawa Layla ke sini, aku akan menunggu mu di lobby kantor!"^^^


..."Baik Tuan."...


Arsandi langsung memutuskan sambungan telepon nya. Kembali ia melajukan kembali mobil yang kini berbalik arah dari rumah kini menuju kantor.


Layla benar benar terlelap. Hingga sampai lah mobil di depan lobby kantor. Danu sudah menyambut nya di depan lobby.


"Bisa di atur Tuan." ucap Arsandi, yang langsung memasuki gedung pencakar langit.


Danu tampak terusik di belakang kemudi, melihat Layla yang tampak gelisah meski dalam keadaan mata terpejam.


"Sabar ya sayang, kita akan sampai di rumah sakit!" ucap Danu, diri nya semakin bertambah panik saat melihat peluh membanjiri wajah Layla.


Danu menambah kecepatan laju mobil nya, hingga waktu seakan berajalan dengan singkat.


Danu langsung menggendong Layla, membawa nya masuk ke dalam rumah sakit sambil berteriak seperti orang gila.


"Suster, dokter! Cepat tolong periksa gadis ini!" seru Danu dengan syara meninggi.


"Tolong baringkan Nona di sini Tuan!" titah seorang perawat, yang kini langsung mendorong berangkar ke arah Danu.


Danu membaringkan Layla dengan hati hati, dengan pikiran berkecamuk. 'Jangan sampai terjadi apa apa pada mu, La! Kamu gadis yang kuat!'

__ADS_1


Layla langsung mendapatkan penanganan medis, setelah mendapatkan pertolongan pertama. Kini Layla sudah berada di ruang VVIP rumah sakit, dengan infus menancap pada punggung tangan kanan nya.


Danu menunggu Layla dengan duduk di kursi dekat ranjang rawat, memperhatikan wajah Layla yang tampak mulai tenang setelah di berikan obat penenang oleh dokter.


Dring dring dring.


Hape Danu berdering.


^^^"Assalamualaikum yah!" sapa Danu, setelah menjawab sambungan telepon nya.^^^


..."Waalaikum salam nak Danu. Nak, ayah mau tanya... apa kamu sedang bersama dengan Layla? Ayah sudah berkali kali mencoba menghubungi Layla, tapi Layla belum juga menjawab nya." tanya Noval, langsung pada inti nya....


^^^"Mungkin hape Layla tertinggal di dalam mobil, yah! Saat ini Layla memang lagi sama Danu, yah!" ucap Danu singkat.^^^


^^^"Bisa bapak bicara dengan Layla, nak? Ada yang ingin ayah sampai kan pada Layla."^^^


..."Maaf yah, buka nya Danu ngelarang ayah bicara dengan Layla, tapi untuk saat ini... Layla masih dalam pengaruh obat penenang yah!"...


^^^"Apa? Kalian lagi di mana? Di rumah kan? Biar ayah susul kalian ya!" ucap Noval, langsung cemas begitu tau Layla dalam pengaruh obat penenang. Pikiran buruk kini berseliweran di kepala nya.^^^


..."Kami di rumah sakit, yah! Nanti biar Danu kirimin alamat rumah sakit nya, beserta ruang di rawat nya Layla." ucap Danu dengan lirih....


^^^"Makasih ya nak, ayah titip putri ayah." ucap Noval.^^^


Hingga beberapa jam kemudian, Layla mulai mengerjap, membuka ke dua mata nya. Mengimbangi dengan pencahayaan.


"Aku di mana?" tanya Layla, menatap langit langit kamar berbau obat.


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


__ADS_2