Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Ternyata


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Tanpa memperdulikan seruan Danu, suster Lia mengarahkan tangan nya pada perut Layla, berniat menghujamkan benda kecil, panjang tajam itu ke perut yang ia anggap saingan nya, penghalang untuk nya mendapatkan Danu.


Sreek.


Bugh.


"Layla!" pekik Danu dengan mata membola.


"Awwhhhhh tangan ku!" pekik suster Lia.


Prang.


Sayang nya gerakan tangan suster Lia sudah mampu di tebak oleh Layla. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat pula, Layla menangkis tangan suster Lia, dan menghentakkan pergelangan tangan nya, membuat benda yang di arahkan ke Layla pun jatuh seketika dari tangan suster Lia dan jatuh di atas lantai.


"Harus nya kau berfikir dua kali untuk mencelakai seseorang, suster Lia!" ucap Layla dengan mengunci ke dua tangan suster Lia yang ia tarik ke belakang punggung suster Lia.


"Lepas! Kau menyakiti tangan ku!" rintih suster Lia, menahan sakit saat pergelangan tangan nya semakin erat di cengram Layla.


Mau kejahatan di simpan berapa lama pun, pasti pada akhir nya akan terbongkar juga. Sama seperti hal nya dengan suster Lia. Setelah 3 tahun buron, akhir nya dapat di amankan pihak kepolisian. Atas penyalah gunaan obat obat terlarang, pencurian berkedok asisten rumah tangga, serta percobaan pembunuhan berencana yang hendak di lakukan pada nenek Dahlia.


Danu menatap Layla dengan intens, membiarkan gadis itu meminum air meneral.


Gue beneran gak nyangka, ternyata Layla bisa mempertahankan diri nya di saat situasi yang membahayakan sekali pun.


"Kamu bener gak apa apa, La?" tanya Danu setelah melihat Layla yang sudah selesai dengan minum nya.


"Seperti yang lo liet, Danu! Gue gak apa. Nenek sekarang keadaan nya gimana?" Layla menatap ke arah ruang IGD, tempat di mana nenek Dahlia kini mendapat penanganan medis.


"Kita berharap dan berdo'a biar nenek baik baik aja." Danu mengelusss puncak kepala Layla.


"Apaan si, gue bukan anak kecil, Danu! Gak usah lebay deh! Biasa aja orang mah!" sungit Layla, gue seneng di perhatiin, tapi gue takut perhatian lo cuma sesaat buat gue.

__ADS_1


"Aku udah bilang, gak pake bahasa lo gue, tapi aku kamu. Kalo perlu hubby, sayang, cinta, bisa kan?" Danu memainkan alis nya naik turun.


"Pede gile lo! Gak lah, aku kamu... hubby, sayang, cinta! Sayang nya belom ada cinta di hati gue buat lo!" gerutu Layla, beranjak dari duduk nya, berjalan ke arah jendela kaca. Melihat apa yang di lakukan para medis terhadap nenek Dahlia di dalam ruang IGD.


"Semoga nenek gak apa apa, keadaan nya semakin membaik!" Layla menempelkan jemari nya pada dinding kaca.


"Nenek itu wanita yang tangguh La, sama kaya kamu." Danu menarik sudut bibir nya, saat Layla mengadahkan kepala nya ke arah Danu.


Ceklek.


Danu dan Layla langsung menghampiri seorang dokter yang baru saja ke luar dari IGD.


"Gimana keadaan nenek saya, dokter?" tanya Danu.


"Untuk saat ini nenek anda perlu mendapatkan perawatan, melihat kesehatan nya secara drastis menurun. Kami juga perlu melakukan serangkaian tes, untuk mengetahui apa saja yang sudah di berikan suster Lia pada nenek anda." ucap dokter Topan, dengan kaca mata tebal menengger di pangkal hidung nya, dengan satu tangan nya yang berada di dalam saku jubah putih yang membalut tubuh nya.


"Lakukan dokter, apa pun itu. Lakukan yang terbaik untuk nenek saya! Berikan penangan yang terbaik untuk nenek saya, dokter!" pinta Danu dengan wajah serius.


Dokter Topan membetulkan posisi kaca mata nya. "Tapi sayang nya perawatan yang di perlukan nenek anda, pihak rumah sakit tidak memiliki nya. Hanya rumah sakit besar yang ada di kota, yang memiliki alat yang di butuhkan untuk perawatan nenek anda." ucap dokter agak sungkan.


Dokter Topan tampak berfikir dengan apa yang di katakan Danu, pria yang berdiri di depan nya. Tidak tampak seperti orang berduit.


Apa pemuda ini yakin, akan memberikan perawatan yang terbaik untuk pasien di kota? Bagaimana jika pihak rumah sakit yang harus menanggung biaya pemindahan pasien ke kota? Siapa juga yang akan menanggung biaya pengobatan pasien selama di kota besar?


Layla memeluk lengan Danu, Layla mengerti dengan reaksi yang di berikan dokter Topan.


"Kamu mau bawa nenek pake apa ke Jakarta? Ambulance? Atau pesawat?" tanya Layla dengan mengelusss lengan Danu yang ia peluk.


Danu menoleh ke arah Layla dengan kening mengkerut, agak heran dengan apa yang di lakukan Layla saat ini pada nya.


Ada apa dengan Layla, kenapa jadi agresif gini? Tadi aja aku cuma ngelusss kepala nya di bilang lebay.


"Yang pasti pesawat jet, aku ingin nenek nyaman dalam perjalanan." meski bingung dengan perubahan sikap Layla, Danu tetap menjawab nya.

__ADS_1


Dokter Topan menelan saliva nya dengan sulit, ternyata keraguan nya tidak beralasan, penampilan Danu dan Layla yang tampak biasa, berhasil menipu pandangan nya. Aku pikir orang biasa, ternyata sultan.


"Kalo begitu, kita tunggu hasil tes pasien. Jika tidak ada masalah, anda bisa membawa nya hari ini juga." tutur dokter Topan.


"Oke, saya tunggu kabar dari dokter. Biar saya hubungi teman saya yang bekerja di salah satu rumah sakit kota. Untuk menyiapkan ruang VVIP untuk nenek saya." terang Danu, yang semakin membuat dokter Topan melongo.


"Kalo begitu saya permisi, Tuan. Masih ada pasien yang harus saya tangani." dokter Topan pun berlalu, meninggalkan Danu dan Layla.


Layla langsung melepaskan pelukan nya dari lengan Danu. Membuat Danu mengerutkan kening nya.


"Kenapa di lepas?" tanya Danu heran.


"Gatel!" jawab Layla sekena nya.


"Apa? Gatel? Aku udah mandi, La! Pake sabun malah!" ucap Danu tidak terima.


Kini Layla dan Danu berada di dalam pesawat jat pribadi. Serta nenek Dahlia dengan seorang suster yang akan memantau nenek selama di pesawat.


"Maaf ya La, acara bulan madu kita jadi berantakan." cicit Danu.


"Bulan madu apaan sih! Orang acara liburan kok, aku gak pernah bilang ini perjalanan bulan madu kita ya!" ucap Layla dengan tegas.


"Iya apa pun itu, terserah kamu deh. Tapi kamu bener gak marah kan, kita pulang lebih awal dari jadwal yang di tentukan?" tanya Danu, ia dapat melihat Layla dengan leluasa, karena Layla duduk di kursi yang ada di depan nya, mereka duduk saling berhadapan.


"Gak masalah, cuma aku lagi bingung nih. Beli oleh oleh buat ayah Noval, ayah Baskoro, temen temen ku." Layla tampak berfikir keras dengan guratan di kening nya.


"Kamu mau kasih oleh oleh buat mereka semua?" tanya Danu.


Bukan nya menjawab pertanyaan Danu, Layla malah mengatakan hal lain. "Aku beli di pasar aja kali ya, nanti aku minta uang ya! Boleh kan?" tanya Layla dengan menampilkan wajah imut nya, dengan penuh harap.


"Layla!" seru Danu dengan penuh penekanan. Bener bener minta di kasih hukuman ini anak! Aku di cuekin?


Bersambung...

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


__ADS_2