Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Cemburu ya cemburu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Astagaaa galak sekali kau ini!" gerutu Arsandi.


"Terserah apa kata mu! Yang pasti, aku tidak ingin di nilai sebagai kaka yang buruk... jika Mery melihat mu saat sudah sadar dalam keadaan kurus!" gerutu Danu.


"Iya iya iya, aku akan memakan nya!" seru Arsandi pada akhir nya.


Danu melirik Arsandi yang memakan makanan nya, sementara ia menatap wajah Mery yang belum juga sadarkan diri.


'Sadar lah kamu di saat ada diri ku! Karena bagai mana pun juga, aku tidak ingin melihat mu hancurrr.' batin Danu, mendudukkan diri nya di kursi yang ada di dekat berangkar.


"Ngomong ngomong, gimana nasib Roy? Apa pria itu benar telah tewas di tangan Doni?" tanya Arsandi dengan ragu menatap Danu.


"Apa alasan Doni tega menghabisiii nyawa Roy? Doni pasti punya alasan yang kuat kan, untuk melakukan itu? Apa lagi sampai melenyapkannn nyawa seseorang!" cecar Arsandi dengan tatapan menyelidik.


Danu menelan saliva nya dengan sulit, lalu menoleh ke arah Arsandi, 'Apa Arsandi menaruh curiga... dengan apa yang aku jelaskan mengenai kondisi Mery? Aku harus bisa meyakinkan Arsandi, jangan sampai membuat nya ragu.'


"Apa masih membutuhkan alasan lagi? Apa kau tidak melihat luka fisik yang di alami Mery? Belum lagi rasa trauma nya, apa aku masih perlu menjelaskan pada mu?" tanya Danu dengan sorot mata tajam.


"Bukan begitu, harus nya Doni tidak perlu menghabisiii nya, aku yang harus nya menghabisiii pria keparattt itu!" umpat Arsandi dengan kesal.


"Kau makan saja, gak usah pikirkan apa yang harus nya kau lakukan saat itu! Lagi pula masalah nya sudah berlalu. Kita perlu terus berada di sisi Mery, membantu nya melewati hari yang sulit untuk nya!" jelas Danu dengan bernafas lega.


'Aku pikir Arsandi akan menaruh curiga, jika Mery sudah ternodaaa oleh Roy! Aku harus tau, apa Mery sudah melakukan nya dengan Arsandi atau belum!' batin Danu dengan pertanyaan yang selalu berseliweran di kepala nya.


Ke esokan pagi nya.


Mentari pagi menyapa setiap anak manusia. Menyemangati setiap orang untuk beraktivitas dengan di sambut cuaca yang cerah.


Berbeda dengan suasana rumah sakit, di salah satu ruang VVIP, di mana Mery di rawat.


Ting.


Pintu lift terbuka, dengan Danu dan Layla yang ke luar dari kotak besi itu.


"Udah apa ka marah nya! Kekanakan banget sih! Gak bagus lo, kalo kita menyembunyikan ini dari papa Baskoro. Papa Baskoro berhak tau keadaan Mery!" terang Layla, mencoba menjelaskan pada Danu.


"Tapi gak begitu juga cara mu La! Kita kan sudah sepakat dari awal. Papa Baskoro dan nenek Dahlia, gak perlu tau masalah yang sebenar nya, tapi sekarang malah kamu sendiri yang mengatakan nya, tanpa seizin ku!" terang Danu marah, gak suka dengan sikap Layla.


Layla membuang nafas nya dengan kasar. Memeluk lengan Danu semakin erat.


"Maaf ka, aku gak tega mendengar suara papa Baskoro, hati papa itu nyambung lo sama keadaan kita di sini." Layla mencoba meyakinkan Danu.

__ADS_1


"Apa maksud mu, hati papa nyambung dengan keadaan kita di sini?" Danu menghentikan langkah kaki nya, menatap Layla dengan menyelidik.


"Hati papa di sana di landa galauuu ka, tau kaga kalo bahasa keren nya buat aku itu apa?" tanya Layla dengan memainkan alis nya naik turun.


Danu menggelengkan kepala nya, "Katakan dengan jelas La! Jangan bermain teka teki dengan ku!"


Layla melepaskannn pelukan tangan nya dari lengan Danu, menatap kesal wajah pria yang menikahi nya itu.


"Siapa juga yang main teka teki? Dasar muka datar, kalo udah serius... gak bisa di ajak bercanda. Hidup jangan teganggg teganggg amat napa ka! Ngebosenin lama lama!" sungut Layla yang lantas berjalan meninggalkan Danu.


Danu menganga dengan kening mengkerut, menatap punggung Layla dengan tatapan gak percaya.


"Apa tadi barusan dia bilang? Aku ngebosenin? Hidup ku terlalu lempenggg? Muka ku datar? Astagaaa Layla, kau baru saja mengumpat ku? Istri yang minta di beri hukumannn ini!" Danu menyusul langkah kaki Layla.


'Ke mana ke dua orang pengawal yang harus nya berjaga di depan? Apa mungkin Mery sendiri di dalam? Apa ada orang lain di dalam selain Mery dan Arsandi? Apa Mery sudah mengetahui kondisi nya?' tanya Layla dalam benak nya, gak berani melangkah masuk ke dalam ruang rawat.


"Ada apa?" tanya Danu, melihat Layla masih berdiri di depan pintu ruang rawat Mery, sementara penjaga yang di tugas kan Danu gak ada di depan pintu.


"Harus nya Mery belum sadar kan diri kan?" tanya Layla tanpa menoleh ke arah sang suami.


"Dokter gak bisa memprediksi kapan Mery bisa sadar La, apa lagi pasca operasi di kepala nya." terang Danu.


"Firasat ku mengatakan kalo Mery udah sadar ka!" Layla menelan saliva nya dengan sulit.


"Sudah sadar? Maksud mu, Mery sudah ..." Danu menggantung perkataan nya, setelah Layla mengagguk dengan mantap.


Kreeekkk.


"Mery!" Danu menyerukan nama Mery, dengan tatapan tertuju pada Mery yang masih terbaring di atas berangkar.


"Jangan membuat ke gaduhannn kaka ipar! Harus kah ku tulis pada pintu, jangan berisik?" seru Arsandi menatap kesal Danu yang berdiri dengan terpaku.


"Maaf, aku pikir Mery sudah siuman dari tidur nya. Tapi ternyata aku salah!" Danu melangkah semakin dalam, memasuki ruang rawat Mery.


Dalam hati Danu bernafas lega, 'Benar keterlaluan Layla, dia pikir Mery sudah sadar. Sadar apa nya? Yang ada aku membuat Mery jadi terganggu dalam tidur panjang nya.'


"Kaka ipar Danu sendiri aja ke sini nya?" tanya Arsandi yang gak melihat kehadiran Layla.


Kreeek.


"Gimana Mery ka, bang?" tanya Layla, setelah ikut masuk ke dalam ruag rawat.


"Seperti yang kamu lihat kaka ipar Layla! Apa kamu gak berangkat ke kampus La?" tanya Arsandi.

__ADS_1


"Masih sama sayang!" seru danu menahannn kesal, melihat Arsandi ada perhatian pada Layla.


"Apa kalian berdua sudah sarapan?" tanya Arsandi pada ke dua nya, ia mengecup punggung tangan Mery yang sejak tadi ia genggammm.


"Kami sudah makan. Kamu pulang lah, makan, istirahat, bersih bersih di rumah. Wajah mu gak segarrr di pandang!" celetuk Danu dengan acuh nya.


"Aku bisa melakukan semua nya di rumah sakit. Lalu kalian berdua ke sini untuk apa? Kaka ipar Danu gak berangkat kantor?" tanya Arsandi, beranjak dari duduk nya, melangkah ke arah lemari kecil yang ada di sisi ruang.


"Memamg nya hanya kau saja yang bisa mengerjakan nya di rumah sakit, aku juga bisa mengerjakan pekerjaan ku dari mana pun yang aku mau! Kau siap kan lah bahan untuk meeting... jangan bilang kau melupakan jika kita ada jadwal meeting siang ini!" terang Danu, gantian duduk di kursi yang tadi di duduki Arsandi.


"Aku mengingat nya, semua sudah aku siapkan di atas meja, kaka ipar Danu bisa memeriksa nya lebih dulu, jika ada yang kurang... tinggal beri tahu aku." Arsandi berlalu dengan membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi.


Layla mengelusss puncak kepala Mery, "Cepat lah buka mata kamu Mer, kau lihat... ka Danu dan bang Arsan, mereka berdua begitu menghawatirkan mu. Mereka berdua gak ada yang mau meninggalkan mu!" ujar Layla dengan senyum di bibir nya.


"Jangan bilang kalo kamu itu cemburu, La?" tanya Danu dengan penuh selidik.


"Buat apa aku cemburu ka, justru aku bahagia. Melihat kalian berdua begitu menghawatirkan keadaan Mery." terang Layla.


Danu beranjak, berjalan ke meja yang di maksud Arsandi.


"Bukan nya ka Danu yang cemburu melihat bang Arsan menaruh perhatian pada ku? Ia kan? Aku tau loh ka, kalo ka Danu lagi menyembunyikan kemarahan." goda Layla yang ternyata mengikuti langkah kaki Danu.


"Siapa bilang, a- aku ..."


Grap.


Layla memeluk Danu dari belakang, membuat Danu seketika gak melanjutkan perkataan nya.


"Aku tau batasan ku ka, ka Danu juga harus bisa bedakan. Mana yang bisa di cemburui, mana yang gak... selama itu masih batas wajar! Aku gak kurang ajarrr kan?" tanya Layla, meyakinkan hati Danu.


"Mana ada cemburu lihat tempat! Cemburu ya cemburu, aku gak suka melihat ada yang perhatian pada mu! Menatap mu lebih dari 1 menit!" sungut Danu gak mau kalah.


"Iya aja deh!" Layla merenggangkan pelukan nya.


Danu berbalik badan, ke dua nya saling berhadapan satu sama lain. Danu menangkup wajah Layla dengan ke dua tangan nya.


Cup.


Ceklek.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...

__ADS_1


...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️...


Jangan lupa ⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2