
...🥀🥀🥀...
"Tapi tadi saya sudah sarapan duluan di sini Danu. Koki Adi yang menyiapkan saya sarapan. Bukan begitu pak Dedi?" Arsandi meminta pembenaran atas perkataan nya itu lewat pak Dedi.
Danu dan Layla sama sama menoleh ke arah pak Dedi, seakan bertanya lewat tatapan satu sama lain.
"Benar Tuan Muda, Tuan Arsandi sudah sarapan lebih dulu." ucap pak Dedi.
Layla melayani Danu saat di meja makan, sesekali Danu menyuapkan Layla dari piring nya. Begitu pun Layla, yang menyuapkan Danu dengan tangan nya dari piring nya sendiri.
"Baik lah, kalo gitu temani kami makan aja. Kamu gak keberatan kan Arsandi? Lagi pula ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." ujar Danu yang melihat Arsandi belum juga duduk.
"Apa gak sebaik nya sarapan dulu, ngobrol nya nanti aja ka?" ujar Layla, dengan isyarat meminta Arsandi tetap untuk duduk menuruti apa kata Danu.
"Kita masih bisa membicarakan nya saat di perjalanan nanti, kaka ipar Danu!" ucap Arsandi, memanggil Danu dengan tambahan kaka ipar.
"Aku suka dengan cara panggilan baru mu itu, kaka ipar. Kau juga harus panggil Layla dengan kaka ipar ya!" pikir Danu.
"Eh apa gak sebaik nya nama aja ka? Aku tua banget di panggil kaka ipar." tolak Layla.
"Sudah seharus nya saya membiasakan diri memanggil kaka ipar." terang Arsandi.
"Aneh aja gitu di dengar nya, kaka ipar." gumam Layla.
"Ngomong ngomong, apa yang ingin kaka ipar Danu bicarakan? Apa ada hubungan nya dengan kantor? Toko? Restoran? Atau hal lain yang masih mengganjalll?" tanya Arsandi penasaran, menatap Danu dengan serius.
"Bagaimana hubungan mu dengan Mery? Apa ada perkembangan? Atau kemunduran dalam hubungan kalian?" tanya Danu, langsung pada inti nya.
"Itu ya! Mungkin lebih tepat nya kami masih butuh waktu untuk meyakinkan hati, seberapa besar kami saling membutuhkan. Seberapa besar perasaan yang kami miliki untuk pasangan." ujar Arsandi tanpa keraguan.
'Harapan ku teramat kecil untuk bisa bertahannn dengan Mery, terlebih melihat Mery yang sekarang selalu menilai ku buruk. Seakan aku gak ada baik di mata nya! Apa mungkin saat ini Mery sedang di landa cinta buta terhadap Roy!' batin Arsandi.
"Mau tau gak, cara menguji nya kaya gimana?" ucap Layla dengan tangan kanan nya berada di atas meja makan, tubuh condong ke depan.
"Jangan memberi masukan yang di luar nalar, sayang!" seru Danu, yang secara gak langsung, gak setuju dengan ide yang bahkan Layla belum katakan.
Layla membuang nafas nya dengan kasar, menyandarkan punggung nya ke kursi.
__ADS_1
"Aku belum mengatakan nya ka! Bagaimana bisa ka Danu sudah menilai itu di luar nalar?" Layla mengerucutkan bibir nya.
"Apa saran dari kaka ipar Layla? Mungkin saya bisa mempertimbangkan nya!" ujar Arsandi yang ingin mendengar ide dari Layla.
Layla mengatakan apa yang ada dalam pikiran nya. Danu dan Arsandi serta pak Dedi yang ada di sana hanya mendengar kan dengan serius. Sesekali ke tiga pria dewasa itu menganggukkan kepala nya tanda mengerti dengan maksud perkataan Layla.
"Apa itu gak beresiko, Nona? Gimana kalo Nona Mery sampai terluka?" tanya pak Dedi.
"Bukan nya bang Arsan dekat sama Mery karena insiden di puncak kan? Mungkin Mery perlu di ingatkan kejadian itu, belum lagi karena bang Arsandi juga, Mery jadi tau ayah kandung nya papa Baskoro." timpal Layla.
"Aku gak setuju dengan saran mu, sayang! Itu terlalu berbahaya... menyuruh preman untuk melukai Mery lalu Arsandi datang bak pahlawan." tolak Danu yang gak setuju.
"Terus, ka Danu punya ide apa?" tantang Layla, ingin tau apa yang akan di lakukan Danu.
"Maaf kaka ipar, sudah waktu nya kita berangkat!" seru Arsandi mengingatkan Danu setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.
"Aku juga sudah selesai." Danu beranjak dari duduk nya, setelah menghabiskan minum nya.
Layla mengantar Danu sampai naik ke mobil, bersama dengan Arsandi yang saat itu juga akan melakukan perjalanan bisnis.
"Hati hati di rumah. Jangan nakal, jika ada yang mencurigakan, katakan langsung pada ku atau pak Dedi! Jika kau butuh sesuatu, minta lah pada pak Dedi!" ucap Danu panjang kali lebar, begitu menghawatirkan Layla.
"Santai aja ka, aku bisa kok. Lagi pula di rumah ini aku gak sendirian." Layla mengelusss punggung Danu, meyakinkan Danu jika ia akan baik baik aja.
"Aku percaya pada mu, ingat... jangan pernah lepasss kalung ini dari leher mu! Hape harus selalu aktif." Danu menyentuhhh kalung yang melingkar di leher Layla.
Layla melingkarkan ke dua tangan nya di pinggang Danu, mengadahkan wajah nya ke atas, menatap wajah Danu yang menatap nya teduh.
"Kalung ini lebih penting dari ku ya? Jadi aku harus memakai nya terus? Gak boleh di lepasss?" tanya Layla dengan tatapan menyelidik.
Arsandi langsung masuk ke dalam mobil, berada di belakang kemudi. Tanpa ingin menggangu waktu romantis Danu dan Layla.
Sementara pak Dedi, harus pura pura tidak melihat apa yang ke dua Tuan nya lakukan di hadapan nya, melihat adegan romantis secara langsung.
"Bukan begitu, dengan kamu memakai ini!" Danu menyentuhhh liontin yang ada di kalung Layla.
Layla mengikuti arah tatapan Danu, "Apa?" tanya Layla, saat Danu belum juga melanjutkan perkataan nya.
__ADS_1
"Aku bisa tau keberadaan mu." jelas Danu, tanpa mengatakan jika di liontin terdapat sudah terpasang alat pelacak.
Cup.
Cup.
"Ummppp!"
Danu mengucup kening dan bibir Layla, lalu melumattt nya sejenak.
"Tunggu kepulangan ku! Jangan melirik laki laki yang ada di kampus mu! Hanya boleh 3 detik kau menatap lawan jenis jika sedang bicara dengan nya. Mengerti?" tegas Danu, memberi ultimatum untuk Layla.
Kreeek.
Layla mengendurkan pelukan nya, lalu menjarak tubuh nya dengan Danu, mencubittt gemasss perut Danu.
"Ugghhh sayang!" Danu mengelusss perut nya yang di cubittt Layla dengan wajah meringisss.
"Itu berlebihan, mereka juga udah tau aku sudah nikah kali ka!" protes Layla dengan bibir mengerucut.
"Sudah kaka ipar Layla, lebih baik kau iya kan aja. Jika kalian masih berdebat, kami akan benar benar ketinggalan pesawat." seru Arsandi, menurunkan kaca mobil nya, mentap Danu dan Layla dengan gelengan kepala.
"Sana pergi!" Layla mendorong punggung Danu, hingga akhir nya Danu masuk dan duduk di kursi bagian depan, samping setir kemudi.
"Daaaah! Kabari aku kalo udah sampe!" Layla melambaikan tangan kanan nya, dengan senyum tak lepasss dari bibir nya,l.
Layla terus menatap kepergian mobil yang membawa Danu dan Arsandi. Mobil yang kini hilang dari pandangan Layla, seiring di tutup nya gerbang rumah yang menjulang tinggi.
Dring dring dring.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
...Kehaluan semata...
⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼♀️🤸🏼♀️
__ADS_1