Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Dea


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Ngapain lo di depan apartemen gue?" suara laki laki yang pernah di dengar Layla, kini menggema di belakang Layla.


Layla memutar tubuhnya ke belakang, dengan mengakhiri panggilan teleponnya.


"Lo?" Layla membola.


"Iya gue, kenapa? Ada yang salah?" Danu menggeser tubuh Layla dengan tangannya.


"Sopan banget lo pake sentuh lengan gue!" Layla menyapu lengannya yang tadi di sentuh Danu, seolah ada debu yang menempel di sana.


"Sok bersih lo!" sungut Danu yang sudah berhasil membuka unit apartemennya.


"Tunggu, nih pesenan buat lo!" Layla menghentikan langkah kaki Danu yang akan memasuki apartemen miliknya. Dengan menyerahkan paper bag yang Layla bawa di tangan kanannya.


"Apaan nih!" Danu menatap malas paper bag yang Layla sodorkan padanya.


Danu memandang rendah Layla, di mana aja cewe itu sama, kalo udah tau status gue, langsung nempel, menyerahkan apa pun buat gue, termasuk ini nih.


Seperti tau dengan maksud tatapan Danu, Layla langsung menangkisnya dengan perkataan yang terlontar dari bibirnya, di tambah rasa laparnya kini, membuatnya semakin ingin segera pergi dari tempat itu.


"Gak usah ge'er, orang tua lo mesen ini sama ibu gue... dan gue yang di suruh langsung buat anter ini makanan langsung ke tangan lo! Puasss lo!" sungut Layla.


Bugh.


"Nih pegang, gak tau apa gue udah lama nunggu lo di sini! Sampe gue laper tau gak!" Layla menempelkan paper bag ke dada Danu, menarik tangan Danu agar mau memegang paper bag itu.


Danu mengerutkan keningnya menatap Layla, itu kan seragam sekolah, itu bearti ini anak belom sempat ganti baju, belum sempet bersih bersih, dasar jorokkk.


Layla berbalik badan, hendak melangkah meninggalkan Danu yang masih fokus dengan pakaian Layla, setelah mengucapkan terima kasih pada dirinya sendiri. Karena Danu tidak mengatakannya atas apa yang sudah Layla lakukan untuknya.


"Makasih!"


Kruk kruk kruk.


Layla menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dasar bege, pake bunyi lagi, gak liet sikon lo, dasar perut!


Grap.

__ADS_1


Danu menghentikan langkah Layla dengan menggenggammm pergelangan tangannya.


"Awwwhhh perih!" pekit Layla dengan menepis tangannya dari Danu.


"Lebayyy lo, gue megang tangan lo gak pake tenaga kali!" cibir Danu acuh.


"Terus ngapain juga lo halangin langkah gue! Kan lo udah dapet makanan lo, sekarang gue pulang lah, gue juga butuh makan, butuh istirahat! Ngerti gak lo!" ujar Layla dengan bibir ngerocos tanpa henti, tanpa sadar mengungkapkan apa yang ia rasa.


"Udah kaya pekerja keras aja lo! Baru juga anak SMA! Belagu lo!" cibir Danu dengan entengnya.


"Terserah lo!" Layla mengibaskan tangan kanannya ke atas, berlenggak pergi.


Danu menatap tajam, pergelangan tangan Layla yang memar, jadi itu yang buat dia kesakitan saat gue pegang pergelangan tangannya tadi?


Layla kembali pulang ke rumah di bawah teriknya matahari siang.


Di teras rumah sudah berjejer rapih kantong plastik dengan berukuran besar, sudah di pastikan isinya adalah beberapa nasi box yang di buat Tati sendiri.


Layla geleng geleng kepala di buatnya, sudah bisa menebak apa yang akan di perintahkan Tati untuknya.


"Gimana La! Udah di anterin kan? Ini lanjut anter lagi ke tempat pak Mamat, semua pesenan harus nyampe di rumahnya sebelum jam 5 sore." ujar Tati dengan ke dua tangan di pinggang.


Bugh bugh bugh.


"Ahhhhkkkk sakit bu!"


Telapak tangan Tati, berkaki kali mendarat di punggung Layla dengan cukup keras.


"Berani lu ngelawan kata ibu lu! Cepet anter, kalo udah selesai nganter... baru lu boleh makan!" Tati menjewer telinga kanan Layla dan menariknya.


"Awwhhh i- iya iya Layla anter!" rintih Layla dengan tangannya memegangi telinga yang di jewer Tati.


"Emang enak di pukul ibu, kaka nakal sih!" Dea berjingkat jingat kesenangan, melihat Layla yang di pukul Tati.


Astagaaa kenapa gini banget sih hidup aku, ya Allah kapan aku terbebas dari tangan ibu yang kasar kaya gini. Aku anak ibu, tapi kenapa di perlakukan seperti ini, beda saat ibu memperlakukan Dea dengan penuh kasih sayang.


Malam harinya Layla yang merasa lelah langsung masuk kamar, mengerjakan kewajibannya sebagai pelajar, mengerjakan tugas rumah yang di berikan gurunya.


"Kaka, maen yuk. Dari tadi kaka belum maen sama Dea." Dea menarik baju yang di kenakan Layla.

__ADS_1


"Tar dulu Dea, kaka belum selesai ngerjain pr." tolak Layla.


"Ah kaka, ayo main boneka. Ini tuh... Dea udah bawain boneka, tadi bapak beliin Dea boneka dong. Ayo ka main!" Dea memperlihatkan boneka barunya pada Layla.


Layla tersenyum getir melihatnya, dengan mata yang berbinar, suara senang ia perlihatkan pada Dea.


Layla beranjak dari duduknya. "Ihs iya itu, boneka Dea bagus banget. Lucu lagi ya, sama kaya Dea. Boneka Dea minta di ajak nonton tivi, nonton tivi dulu gih sana, ada upin ipin tau de!" bujuk Layla dengan menggiring Dea ke luar dari kamar.


Dea mengadahkan wajahnya, menatap Layla dengan senyum terus terbit di bibirnya. "Bapak baik kan, bapak beliin Dea boneka... kaka gak di beliin boneka. Kasian deh!" ledek Dea.


Layla mengelus pucuk kepala Dea dengan kasih sayang, "Gak apa, kaka kan udah gede. Kaka bisa pinjem boneka Dea, boleh kan?" ledek Layla.


Dea langsung menyembunyikan bonekanya di balik punggungnya, berkata dengan marah, ke dua mata melotot tajam.


"Enak aja, gak boleh, ini punya Dea. Kaka gak boleh pinjem boneka Dea! Week!" Dea menjulurkan lidahnya sambil berlari menjauh dari Layla.


Bugh.


Kaki Dea kesandung kaki kursi, membuat bocah itu menangis seketika dengan sangat kencang.


"Huaaaaaaa huaaaa huaaa kaka Layla nakal, huaaaa ibuuuu!"


Di teras rumah, Tati dan suaminya, Yanto yang tengah duduk bersandar pada dinding. Menikmati waktu santai mereka, dengan di temani secangkir kopi, secangkir teh, sepiring pisang goreng. Di buat terusik dengan suara tangisan Dea dari dalam rumah.


"Ada apa lagi sih! Kenapa dengan Dea, Tat!" kening mengkerut nampak pada wajah Yanto.


Tati mengerdilkan bahunya. "Mana gua tau bang, dari tadi kan gua sama lu di sini!"


"Ini pasti karena ulah anak lu! Kaga senang banget gua beliin boneka buat Dea! Anak lu pasti iri! Sampe tega buat adenya nangis kejer kaya gitu!" sungut Yanto dengan pikiran buruknya pada Layla, putri sambungnya.


Brak.


Yanto memukulll dinding dengan telapak tangannya. Membuat Tati berjingkat kaget.


"Tunggu apa lagi! Cepet sono liet anak gua!" bentak Yanto, pria berwajah sangar, berperawakan tinggi kurus, dengan lengan penuh tato. Tidak bisa lagi berkompromi jika menyangkut putri kecilnya.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Menuangkan segala kehaluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


__ADS_2