Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Mendukung yang terbaik


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Tok tok tok.


Seseorang dari luar, mengetuk kaca pintu mobil Danu.


Danu menurunkan kaca mobil nya, melihat Tati yang berdiri di sana dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Bu Tati? Ada apa bu?" tanya Danu.


"Bisa tolong berikan ini pada Noval! Kamu mau menemui nya kan!" Tati menyerahkan sebuah paper bag yang ia bawa pada Danu.


"Apa ini bu?" tanya Danu ingin tau.


"Noval bisa menjawab nya, karena hanya dia lah yang tau jawaban nya." cicit Tati dengan wajah datar nya.


Danu mengerutkan keningnya. "Nanti akan Danu serahkan ini sama ayah Noval, Danu jalan dulu bu!" pamit Danu, mengecup punggung tangan kanan Tati sebelum benar benar berlalu dari rumah itu.


Di jalan menuju kediaman Noval. Danu melirik sekilas, pada paper bag yang ia letakkan di kursi penumpang bagian depan.


"Aku penasaran dengan isi nya, apa yang di berikan ibu Tati?" gumam Danu dengan menggaruk kening nya.


Gak lama mobil yang di kemudikan Danu sampai di rumah megah Noval.


"Kita langsung aja, nak Danu! Maaf ayah merepotkan mu!" seru Noval, melihat Danu yang baru aja turun dari mobil nya.


"Gak masalah yah. Ini ada titipan dari ibu Tati untuk ayah." setelah mencium punggung tangan kanan Noval, Danu menyerahkan paper bag yang Tati berikan pada nya tadi.


Noval mengerutkan kening nya, dengan tatapan menyelidik. "Apa ini?" Noval menatap paper bag yang kini ada di tangan nya.


"Cuma ayah yang tau jawaban nya. Itu kata ibu Tati." ucap Danu.


Ke dua nya langsung masuk ke dalam mobil Danu, Noval duduk di kursi depan penumpang sementara Danu yang mengemudikan nya.


'Apa mungkin ini peninggalan almarhummah Devinta untuk Layla?' pikir Noval dalam hati nya.


Noval membuka paper bag nya, mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sana.


Danu melirik sekilas, apa yang di keluarkan Noval dari dalam paper bag.


Sebuah kalung emas putih dengan liontin hati yang bisa di buka menjadi dua, Noval membuka kalung itu. Dan melihat nya ada potret usang di sisi satu nya, diri nya bersama dengan seorang gadis berambut panjang dengan senyum yang terukir dari bibir ke dua nya. Dan wajah bayi mungil yang tengah terlelap di sisi liontin lain nya.


'Jadi Devinta masih menyimpan ini? Apa Devinta ingin aku menyerahkan ini pada Layla? Bagaimana jika Layla menanyakan jati diri nya, ibu kandung nya? Apa yang akan aku katakan pada nya? Layla pasti akan membenci ku, aku tidak ingin di benci Layla!' batin Noval dengan nafas memburu.


"Ada apa yah? Jika ayah belum siap mengatakan apa apa, jangan di katakan. Tapi jika ayah rasa sudah siap dengan segala resiko nya. Ayah harus katakan itu, meski itu pahit untuk ayah sendiri." terang Danu tanpa di minta pendapat nya, dengan melirik raut keraguan di mata sang ayah mertua.

__ADS_1


Noval melirik sekilas Danu, berkata dengan tegas. "Ayah gak akan mengatakan apa pun pada Layla. Jadi ayah mohon dukuangan mu, Danu!"


Noval menyimpan kembali isi kotak itu dan menyimpan nya ke dalam paper bag.


"Apa pun itu, jika ada hubungan nya dengan Layla. Danu akan mendukung yang terbaik, yah!" ucap Danu.


Ke dua nya memasuki kantor polisi. Menanyakan apa yang sebenar nya terjadi terhadap Lulu. Meski Danu udah tau ya sebenar nya dari orang yang ia suruh untuk menyelidiki nya.


...---...


Bel panjang menggema, tanda jika jam pelajaran di sekolah sudah berakhir.


"La, maen yuk ke resto lo. Mayan kan bisa makan gratis hehehe." gurau Nina, sambil mengemasi alat tulis nya yang ada di atas meja ke dalam tas.


"Emmmm boleh deh. Tapi lo bareng gue apa sama Deri?" Layla menoleh ke arah Deri.


"Ngapain sama dia, gue langsung sama lo aja deh. Nebeng ya!" ketus Nina, dengan malas memutar bola mata nya ke arah Deri.


Layla mengerut kening nya. "Kalian lagi berantem? Gak biasa nya pulang terpisah!" seru Layla, agak aneh melihat Deri yang berlalu ke luar dari kelas tanpa menyapa Nina.


'Tuh kan benar, Deri jahat banget sih jadi orang. Gak minta maaf juga sama gue! Langsung ke luar gitu aja. Dasar pria gak tanggung jawab, bujuk gue kek biar gak marah! Cowok egois.' umpat Nina, mengikuti arah Deri yang berlalu.


Layla menepuk bahu Nina. "Kalo ada masalah, di omongin, biar cepat selesai masalah nya." cicit Layla.


"Kalian mau pulang? Apa mau ngerjain tugas? Gue ikut ya! Boleh kan?" cecar Mery, berdiri di belakang Layla.


"Iya, kita ngerjain bareng. Lebih seru kan!" ucap Layla, udah gak lagi marah.


Grap.


Mery memeluk Layla dari belakang.


"Makasih ya, udah gak ngambek sama gue! Gue janji La, laen kali bakal jaga ini bacottt!" cicit Mery dengan senang.


"Hem! Jangan gini juga, gak enak di liet sama yang laen. Gue kan gak suka jeruk makan jeruk!" seru Layla, dengan tangan nya yang menepukkk nepukkk tangan Mery.


"Ahahaha gue juga gak suka tuh jeruk makan jeruk." gelak tawa Mery, melepaskannn diri dari memeluk Layla.


"Ciyeee, bearti ada yang udah jadian nih. Bisa lah di teraktir makan." ledek Layla.


Ting.


..."Aku sudah di depan, sayang!" pesan singkat dari Danu membuat Layla langsung beranjak dari duduk nya....


"Ayo pulang, nunggu apa lagi?" tanya Layla, melihat Nina masih anteng duduk.

__ADS_1


"Emang siapa yang udah jadian La?" tanya Nina menggaruk kepala nya yang gak gatal.


Mery pura pura gak dengar, berjalan lebih dulu meninggalkan ke dua nya.


"Siapa lagi kalo bukan Mery! Duuuuuh mikir kelamaan nih!" Layla menarikkk lengan Nina, menyerettt nya hingga gadis itu mengikuti langkah kaki nya.


"Mery jadian sama pak Arsandi? Seriusan nih?" tanya Nina dengan heboh nya.


"Pelanin begeee towakkk lo! Mau satu sekolah tau, gue udah gak jomblo lagi gitu?" Mery menoleh ke belakang, menatap Nina dengan bibir mengerucut.


"Ahahahhahha akhir nya Mery, si cewek tomboy, bisa juga melepass masa jomblo akut nya ahahhaha!" gelak Nina yang gak bisa lagi di rem, membuat siswa lain yang mendengar nya ikut menoleh ke arah nya.


"Astagaaa Nina... kebangetan lo sama gue! Towakkk lo lepasss minta di kandangin!" sungut Mery, berbalik badan menghampiri Nina, lalu mengunci leher Nina dengan lengan nya.


"Awwwhhh gila lo Mery! Lepasinnn leher gue! Encokkk nih leher gue!" seru Nina dengan menahannn tawa nya, menarikkk lengan Mery agar bisa merenggangkan tangan nya.


"Ahahaha lo si Nin, ternyata bang Arsandi belum bisa jinakin Mery hihihi!" ledek Layla.


"Kamprettt lo pada! Di kata gue buasss, pake di jinakin!" sungut Mery dengan nada bercanda, gak ambil serius dengan apa yang di ucapkan Nina dan Layla.


"Nina mau ke mana ya? Gak ketemuan sama cowok kan?" gumam Deri, yang mengintippp ke tiga nya di balik di dingng.


Saat mendekati parkiran motor.


"Gue bareng Mery aja deh La, takut ganggu lo di dalam mobil ahahaha." Nina melirik kan ekor mata nya ke arah Mery.


Mery menggelengkan kepala nya. "Gue gak bawa motor, begeee!"


"Serius lo, Mer? Terus kita nanti di mobil... jadi nyamuk nya Layla sama pak Danu dong?" pikir Nina, dengan mengetuk kan jari telunjuk nya ke dagu nya sendiri.


"Bener juga apa kata lu, gue ogah jadi nyamuk!" seru Mery, menggerak gerakkan bibir nya, sambil otak di kepala nya berfikir.


'Masa iya gue minta di jemput pak Arsandi, gak enak gue ngomong nya, gimana ngomong nya juga ya?' pikir Mery, bingung mau minta di jemput atau gak sana Arsandi.


"Itu ka Danu, ada bang Arsandi juga! Ayo samperin!" Layla menujuk ke arah Danu dan Arsandi yang tengah berbicara di antara ke dua mobil yang terparkir, salah satu nya mobil Danu yang tadi di gunakan untuk mengantar Layla.


Arsandi melihat Mery bersama dengan Layla dan Nina, langsung melambaikan tangan kanan nya tanpa ragu.


"Mapusss gue, kenapa juga pak Arsandi ngelambain tangan gitu. Bukan ke gue kan?" gumam Mery dengan pelan, tapi Nina masih bisa mendengar nya.


"Kaya nya emang ke lu deh Mer! Hehehe ketawan lo sekarang!" ledek Nina.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Like dan komentar nya dong, 😅😅


Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya.


__ADS_2