
...🥀🥀🥀...
Sementara di sekolah Layla. Entah kenapa Layla menjadi gelisah.
'Kenapa perasaan gue gak enak ya! Apa cuma gue nya aja yang masih kesel sama Danu! Gak ikhlas gini gue!' gerut batin Layla.
Trang.
"Kenapa La?" tanya Nina, melihat Layla yang meraih sesuatu dari kaki kursi yang Layla duduki.
Layla mengulurkan tangan kanan nya dan memperlihat kan jepit rambut nya yang patah pada Nina.
Nina mengerutkan kening nya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat, "Kok bisa sih? Tadi perasaan gak kenapa kenapa itu jepit rambut lo!"
"Yah nama nya juga jatoh, kalo di tanya teris di kasih pilihan... dia juga pasti gak bakalan mau jatoh terus patah." ucap Layla dengan dengan bibir mengerucut.
"Layla, Nina! Apa yang sedang kalian lakukan? Bapak lagi nerangin pelajaran kok yo kalian sibuk sendiri toh yo!" pak Asep menegur ke dua anak didik nya dengan ciri khas nya.
Dengan tergagap, Nina menjawab teguran dari pak Asep. Namun belum usai Nina berkilah, Layla memotong ucapan nya.
"I- ini pak ---"
Layla menelan saliva nya dengan sulit, pikiran buruk menghinggapi pikiran nya. 'Gue belum tenang kalo belum mastiin keadaan ayah, bapak atau Danu? Gak mungkin Danu. Dia pasti dikit lagi nyampe kantor!'
Tanpa menunggu waktu lagi, Layla langsung izin pada pak Asep dengan tangan kanan nya yang mengudara di atas.
"Saya izin ke toilet, pak!" Layla langsung beranjak dari duduk nya, meninggalkan jepit rambut nya yang patah di atas meja.
"Iya, tapi gak usah lari juga, La! Toilet sekolah gak akan bergeser sedikit pun! Tetap anteng di tempat nya!" ujar pak Asep, dengan gelengan kepala.
"Kita lanjutkan lagi anak anak, sampe mana lagi tadi bapak nerangin nya!" Pak Asep melanjutkan kembali kegiatan nya, menerangkan kepada anak didik nya, akan mata pelajaran yang ia ajarkan.
Sreet.
"Awhhhh! Kenapa si Mer?" sungut Nina kesal, saat Mery dengan sengaja menarik rambut belakang nya.
__ADS_1
"Layla kenapa?" tanya Mery dengan suara yang pelan.
"Kepo lo ya! Cari tau aja sana sendiri hihihi!" ledek Nina dengan terkekeh.
Prak.
Mery menggeprak bahu Nina dengan kesal. "Ihs nyeselin. lo!"
Dari salah satu bilik toilet, Layla mencoba menghubungi satu persatu orang terdekat nya.
Hati nya merasa tenang sedikit demi sedikit, saat sudah mendapat kepastian keadaan yang baik baik aja untuk ayah noval, ibu Tati, papa Baskoro dan nenek Dahlia.
Namun berbeda saat Layla mencoba menghubungi nomor telepon Danu, bukan rasa lega dan tentang yang Layla dapatkan.
..."Nomor telepon yang anda hubungi, sedang berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi!"...
"Astagaaa ka Danu, lo di mana sih! Kenapa nomor telpon lo sekarang gak bisa di hubungingin!" gurutu Layla, dengan ke dua kaki yang tidak bisa diam di lantai.
"Assalamualaikum pah!" sapa Layla, saat sang ayah mertua menjawab panggilan telepon nya.
"Layla mau tanya soal ka Danu, apa papa udah liet ka Danu di kantor?" tanya Layla dengan harap harap cemas.
"Belum nak, hari ini papa belum ketemu sama suami mu. Memang ada apa nak?" tanya Baskoro dengan menggaruk kening
Yang tidak gatal.
"Gak ada pah. Emmmm Layla coba hubungin ka Danu... tapi nomor hape nya gak aktif pah!" cicit Layla, dengan ragu.
[ "Owalah, kirain apa... yang buat anak papa jadi cemas gini! Coba nanti biar papa bantu cek di ruang kerja nya, ya!" ] cicit Baskoro.
"Iya pah, maaf ya pah... Layla merepotkan papa!" ucap Layla dengan tidak enak hati.
[ "Tidak masalah kok sayang, kamu kan putri papa! Papa senang di repotkan kamu!" ] cicit Baskoro, membuat Layla merona seketika.
Baskoro langsung beranjak dari duduk nya, kaki nya melangkah dengan menoleh ke arah Feli untuk bertanya lebih dulu.
__ADS_1
"Fel! Coba tolong lihat Danu. Apa dia sudah ada di ruang kerja nya!" titah Baskoro setelah berada di depan meja kerja Feli.
"Tuan Danu belum tiba di kantor Tuan. Tapi tadi saya melihat Tuan Arsandi yang tergesa gesa saat meninggalkan ruang kerja nya." cicit Feli, mengatakan apa yang ia ketahui.
"Apa kamu tanya, Arsandi mau ke mana?" tanya Baskoro dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak Tuan."
Dring dring dring dring.
Hape Baskoro berdering.
"Panjang umur nya ini anak! Baru saja kita bicarakan, orang nya langsung telpon." ucap Baskoro dengan senang, memperlihatkan layar hape nya pada Feli.
Saran Feli dengan kening mengkerut. "Langsung di jawab aja pak!"
"Ini juga saya mau jawab! Gak usah ngajarin saya kamu!" sungut Baskoro.
"Arsandi, kamu... bunyi apa itu? Kalian di mana!" cecar Baskoro, saat telinga nya mendengar suara sirine mobil ambulans dari sebrang sana.
[ "Itu suara sirine ambulans yang membawa tubuh Tuan Danu, Tuan!" ucap Arsandi dari sebrang sana.
Baskoro membola, lalu mendengus. "Apa? Yang serius kamu Arsandi! Bagaimana keadaan putra saya? Apa yang sebenar nya terjadi? Kenapa Danu bisa sampai di bawa?"
[ "Tuan Danu mengalami kecelakaan Tuan! Tuan datang aja ke rumah sakit xxxxx, karena Tuan Danu akan di larikan ke rumah sakit itu!" ] cicit Arsandi.
"Luka nya serberapa parah? Apa kau sudah menghubungi Layla?" tanya Baskoro sebelom Arsandi memutuskan sambungan telepon nya.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata...