Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Menantu idaman


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Mobil siapa itu, yah?" tanya Sifanye dengan menyelidik ke arah mobil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Belom Noval menjawab, terdengar suara piring pecah dari dalam rumah. Membuat Noval dan Sifanye saling tatap dengan kening mengkerut. Otak mereka di penuhi dengan tanda tanya besar.


Prang.


Di susul dengan Noval dan Sifanye, yang mendengar suara nyaring Lulu tengah marah marah.


"Kaka! Kamu ini gimana sih ka! Lihat tuh, jadi jatuh kan!"


Noval mengerutkan keningnya, menatap Sifanye, ini pasti anak itu lagi. Jangan sampai Lulu membuat ku malu di hadapan Baskoro dan Danu.


"Coba kamu lihat apa yang terjadi! Jangan sampai anak kamu membuat ku malu di hadapan tamu ku, mah!" ucap Noval dengan gerakan kepalanya, meminta Sifanye untuk melihat keadaan di dapur.


"Cihhh kau ini, anak mu yang selalu membuat masalah! Selalu saja kau salahkan Lulu! Dia juga putri mu, yah!" Sifanye masuk ke dalam rumah dengan hati yang dongkol.


Baskoro dan Danu lebih dulu menghampiri Noval.


"Di mana calon menantu ku, Noval?" tanya Baskoro dengan tangan yang menjabat ala ala anak gaul pada Noval, sementara ke dua matanya melirik ke dalam rumah, mencari orang yang akan mereka temui.


"Cihs kau ini, yang pasti Layla ada di dalam." ucap Noval.


"Jangan buat aku malu deh pah!" ucap Danu tanpa perasaan dengan datar, ikut menyalami pria yang akan menjadi papa mertuanya.


"Papa tau, kau berkata begitu sebenarnya kau sedang menutupi rasa gugup mu kan bocah tengil!" ledek Baskoro dengan alis yang naik turun.


"Cihhss!" dengus Danu dengan tangan yang masuk ke dalam saku celananya.


Novel melihat ke arah belakang, mendapati seorang wanita ke luar dari mobil yang sama, dengan tangan yang repot membawa beberapa paper bag dan barang lainnya.


"Kenapa kalian datang ke sini repot repot segala? Lihat itu, wanita itu pasti kesulitan kan membawanya!" tegur Noval.


"Tidak apa om, baginya itu hal biasa!" ucap Danu datar, setelah melihat sekilas Feli di belakangnya.


Feli menggerutu dengan kesal, karena banyaknya barang yang ia bawa. "Aku pikir semua ini untuk ku, gak taunya... aku hanya di suruh untuk membawanya saja! Dasar bos tidak punya perasaan!"


"Ayo masuk, kalian tunggu apa lagi?" Noval mengajak tamunya itu masuk ke dalam rumah.


"Nona, kau bisa letakkan semua itu di atas meja!" titah Noval dengan tangan mengarah pada meja saat melewati ruang tamu.


"Baik pak." ucap Feli.


"Tunggu lah di sini! Kau tidak perlu mengikuti kami!" ucap Danu dengan cuek.

__ADS_1


Feli menelan salivanya dengan sulit, sialll... lagi lagi gue gak di anggap dan gak di lihat! Dasar bos kaku! Pengen banget gua timpuk pala lu, biar amnesia lu sekalian.


"Tidak perlu, kau langsung kembali ke mobil. Biar supir yang akan mengantar mu pulang, Feli!" titah Baskoro, "Terima kasih ya, kau sudah mau aku susahkan!" ledek Baskoro.


Feli memasang senyum termanisnya. "Sama sama pak, kalo begitu saya permisi pak!" dengan berat hati Feli menuruti apa kata bos besarnya.


Sifanye dan Lulu berdiri di bawah anak tangga dengan harap harap cemas, sesekali pandangan mereka mengarah pada lantai atas.


Lulu berkata dengan pelan. "Bagaimana ini mah?" tanya Lulu dengan menarik ujung baju yang di kenakan Sifanye.


"Bersikap lah seolah tidak terjadi apa apa!" seru Sifanye.


Dari kejauhan Danu menatap tajam ke dua orang yang bersikap aneh di matanya, Sifanye dan Lulu.


"Pasti terjadi sesuatu lagi pada anak itu! Sudah besar, belum bisa juga melindungi dirinya sendiri! Bocah seperti itu yang di inginkan almarhum mama menjadi istri ku, yang benar saja!" gumam Danu dengan pelan.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Baskoro yang sekilas mendengar ucapan Danu.


"Tidak ada, papa salah dengar!" ucap Danu dengan ketus.


"Kenapa cuma kalian berdua? Di mana Layla?" tanya Noval saat sudah berada di depan Sifanye dan Lulu.


Lulu menjawab pertanyaan ayahnya dengan tergagap, ada rasa khawatir di ke dua matanya.


"A- anu yah, ka- ka- kaka Layla ada di ---"


Danu, Noval, Baskoro dan Lulu menoleh ke anak tangga, tatapan mereka tertuju pada Layla.


"Astagaaa gak salah Nyonya mengatakan itu pada Tuan?" gumam Sulastri, tengah sibuk menyajikan hidangan di atas meja makan bersama dengan si mbok.


Sifanye yang mendengar Sulastri, melotot tajam, mengayunkan langkah kaki dan berdiri di samping art nya.


"Jangan banyak bicara kamu, Sulastri! Mau saya pecat!" ucap Sifanye dengan penuh penekanan.


"Maaf yah, ayah mencari ku?" tanya Layla yang langsung meraih dan menyalami Noval dan Baskoro secara bergantian.


"Yang begini menantu idaman om." gumam Baskoro dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Cih cari muka!" gerutu Lulu.


Danu menatap tajam jemari Layla.


Sreek.


Danu meraih pergelangan tangan Layla, lalu bertanya dengan datar. "Ada apa dengan jari tangan mu?"

__ADS_1


Layla menarik kembali tangannya dari genggaman Danu, "Bukan urusan mu!" ucap Layla dengan ketus.


Flashback Layla.


Layla memunguti pecahan piring yang berserakan di lantai, dengan berjongkok, menggunakan tangannya tanpa sarung tangan.


"Layla, apa lagi yang kamu pecahkan?" bentak Sifanye yang berdiri di samping Lulu.


Sifanye menelisik keadaan putrinya Lulu. "Apa kamu ada yang terluka, sayang?"


"Gak mah, ini ka Layla... aku suruh pindahin piring gak mau pegang. Jadi jatuh dan pecah deh." adu Lulu dengan manja, bertulak pinggang layaknya bos galak.


"Dasar pemalas!" omel Sifanye dengan tatapan kesal pada Layla.


Sulastri menghampiri ke tiganya. "Bukan begitu Nyonya, Nona Lulu yang langsung melepas piring dari tangannya, sedangkan Nona Layla belum meraih piring yang di berikan Nona Lulu." terang Sulastri dengan membantu Layla memunguti pecahan piring


"Dari tadi Nona Layla sudah memasak untuk makan malam Nyonya, Nona Lulu hanya menghambat pekerjaan Nona Layla. Nona Lulu terus saja meminta di ambilkan ini dan itu tanpa mau saya dan Sulastri yang membantu ambilkan." ujar si mbok dengan membawa pengki dan sapu.


"Dasar tukang ngadu!" gerut Lulu.


Krek.


Kaki kiri Sifanye dengan sengaja menginjak jari Layla, membuat jari itu tertusukkk pecahan piring yang ada di lantai.


"Akkhhh!" rintih Layla dengan mengibaskan tangannya, darahhh mengalir begitu saja dari jarinya dan menetes di lantai.


Sulastri membelalak mata, melihat apa yang di perbuat Sifanye pada Layla.


"Nyonya sengaja? Itu beling Nyonya, bagaimana jika Nona Layla luka parah!"


"Jangan banyak bicara kamu! Cepat kalian bereskan ini! Jangan sampai menyisahkan pecahan piring sedikit pun di lantai!" titah Sifanye pada Sulastri dan si mbok.


"Kau jangan cengeng Layla, cepat naik ke kamar dan mandi. Ayah mu sudah pulang! Awas kau mengadu pada ayah mu! Aku bisa berbuat lebih dari ini!" ucap Sifanye tanpa perasaan.


Flashback and.


"Apa kau bisa jelaskan itu sayang? Ada apa dengan jari tangan Layla?" tanya Noval dengan tatapan menyelidik pada Sifanye.


"I- itu yah, kaka Layla menjatuhkan piring, terus pecahannya kena jarinya sendiri." bohong Lulu dengan meremasss jemarinya sendiri.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2