Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Harus bahagia


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Ciyeee, udah bisa manggil hubby. Uhuy, ada yang kangen berat nih!" ucap Nina dengan tatapan menggoda Layla.


"Apa sih Nin, gue biasa aja kali!" kilah Layla, kembali menyeruput minuman nya.


"Ahahaha gak usah ngeles La, itu pipi lo udah kaya kepiting rebuh, gue maklum lo La, masih ada beberapa hari lagi sampe kepulangan pak Danu tiba." ledek Nina.


"Udah yank, jangan godain bu bos Layla terus." seru Deri.


"Ngomong ngomong, hubungan kalian berdua, udah sejauh mana sih? Baru pacaran kan?" tanya Angel dengan ketus menatap Nina dan Deri.


"Sejauh mana hubungan gue sama Deri, melebihi sejauh apa yang bisa lo lihat!" seru Nina dengan santai.


"Yakin lo, kalian setia sama pasangan kalian masing masing? Iya maksud gue apa kalian gak saling curiga, entah Nina atau Deri yang punya selingkuhan gitu! Secara kalian jarang ketemu." ucap Angel, berusaha mengompori ke dua nya.


Deri dan Nina saling tatap, satu sama lain.


"Gak usah jadi kompor deh, Angel. Kalo suatu hubungan di landasin dengan saling percaya, buat apa saling curiga? Saling tuduh?" ucap Layla di luar dugaan Angel.


Tik.


Nina menjentikkan jemari nya, lalu menatap Deri dengan serius, "Gue percaya, Deri itu setia. Tapi kalo ada wanita lain di mata nya yang lebih menggoda, yang bisa ngerebut perhatian Deri dari gue. Terus Deri berpaling dari gue, anggap aja kita belum berjodoh. Gitu aja kok repot! Bukan begitu, yank?" tanya Nina, seolah meminta pendapat Deri dengan apa yang ia katakan.


"Iya, kita serahin aja semua nya sama sang pencipta. Biar kata aku dan kamu sudah berencana, semua rencana itu kembali pada yang mengatur nya kan?" ucap Deri dengan senyum tersungging di bibir nya.


"Kalian berdua ini, emang pasangan paling aneh. Udah saling cinta, pacaran pula, kenapa gak di bawa serius? Gimana kalo ada pihak lain yang jadi orang ke tiga dalam hubungan kalian?" tanya Angel, panjang kali lebar.


"Udah yuk balik!" Layla beranjak dari duduk nya dengan tas di bahu.


"Boleh! Ayo yank." Nina juga ikut beranjak dari duduk nya, dengan mengajak serta Deri.


"Lo kalian mau ke mana?" tanya Angel dengan menatap ke tiga nya secara bergantian.


Layla berjalan lebih dulu, sementara Deri dan Nina mengekor di belakang Layla.


"Kita ada janji. Duluan ya! Daaah!" Nina melambaikan tangan kanan nya pada Angel.


"Gue gak di ajak?" tanya Angel yang ingin ikut, berusaha menyusul langkah ke tiga nya.


"Sorry, sayang nya gak di ajak tuh!" seru Nina dengan nada meledek.


"Ihhhsss awas ya kalian! Sekarang aja bisa ketawa ketiwi, tapi tunggu aja kalo Roy udah bertindak. Kalian bakal habis!" gumam Angel.


.


.


Di kota C


Danu dan Arsandi tengah berjalan memasuki restoran, tempat di mana meeting akan berlangsung dengan pihak kontruksi dari kota C tersebut.

__ADS_1


Ting.


Arsandi meraih hape nya yang ada di dalam saku celana nya.


Arsandi mengerutkan kening nya, setelah melihat pesan berupa foto Mery yang pergi bersama seorang pria yang gak lain adalah Roy.


..."Ikuti terus kemana pun mereka pergi. Pasti kan Roy tidak melakukan apa pun pada Mery. Tapi jika Roy melakukan hal yang di luar batas, kau tau kan harus berbuat apa!"...


Pesan yang Arsandi kirim ke nomor yang baru aja mengirimi nya foto, yang gak lain adalah Doni.


..."Oke!"...


Danu mengerutkan kening nya, menatap Arsandi dengan tatapan menyelidik.


"Ada apa lagi? Masalah Mery? Cepat lah bertindak, apa perlu aku turun tangan langsung meminta Doni menghabisi nya?" ucap Danu dengan kesal, melihat pergerakan Arsandi yang di nilai nya lamban.


"Tidak perlu, aku akan melihat sejauh mana Roy pada Mery dalam berhubungan. Aku ingin membuat Mery terbuka hati nya! Bukan karena hal lain." terang Arsandi.


"Ah kau ini! Terserah lah!" seru Danu, berjalan mendahului Arsandi dan duduk di kursi yang sudah di reservasi sebelum nya.


Arsandi duduk di kursi sebelah Danu, Arsandi melihat Danu menghembuskan nafas nya dengan kasar lalu beranjak dari duduk nya.


"Aku ke toilet dulu!" seru Danu, mengayunkan langkah kaki nya meninggalkan Arsandi.


Danu gak ke toilet, toilet hanya alasan nya untuk menjauh dari Arsandi.


Danu mendiel nomor kontak di hape nya, lalu menempelkan benda pipih nya di daun telinga kanan nya.


^^^"Tumben bos telpon, ada perintah baru kah? Apa itu? Tapi tunggu setelah aku menyelesaikan misi ku dari Tuan Arsandi." cicit Doni dari sebrang sana.^^^


^^^"Nah itu tau jawaban nya bos, masih perlu saya menjawab nya?" tanya Doni yang menanggapi nya dengan candaan.^^^


[ "Dengar kan kata kata ku dengan baik. Beri penawaran pada Roy, beri yang dia minta, asal jauhi Mery. Jika masih memilih berdekatan dengan Mery, habisiii semua keluarga nya." ] ucap Danu dengan tegas, tanpa ada rasa kasihan.


^^^"Habisi semua keluarga nya bos? Serius?" tanya Doni ragu, jika Danu bisa memberi nya perintah sekejam itu.^^^


[ "Apa kau pikir aku main main dengan perkataan ku? Lakukan di belakang Mery! Kau mengerti kan! Buat seolah olah Roy menyadari kesalahan nya!" ]


'Aku gak akan membiarkan nama mu buruk di depan Mery, baik nama mu dan nama ku akan selalu bersih di mata Layla dan Mery! Jika aku bahagia bersama Layla, kau juga harus bahagia bersama Mery.' batin Danu.


^^^"Baik bos, akan segera di laksanakan."^^^


.


.


Meeting berjalan dengan lancar, hingga dering ponsel Danu menjadi pusat perhatian beberapa orang yang terlibat dalam meeting.


"Lebih baik di jawab dulu Tuan, mungkin sangat penting." seru Nusi, arsitektur dari bagian kontruksi yang di sewa Danu.


"Terima kasih atas pengertian Tuan Nusi." ucap Danu yang langsung menjawab telpon nya.

__ADS_1


Suara Layla yang begitu khawatir pun langsung terdengar di telinga Danu.


^^^"Assalamualaikum ka, kaka sibuk ya? Telpon ku baru di jawab! Gawat nih ka, Mery ninggalin kampus dalam keadaan marah. Sekarang aku gak tau Mery ke mana."^^^


[ "Waalaikum salam sayang, kamu tenang aja ya. Kamu fokus aja sama kuliah mu, urusan Mery. Itu sudah ada yang urus. Di bawa santai dan tenang ya sayang!" ] ucap Danu dengan tenang.


^^^"Gitu ya, ya udah. Jangan lupa kan untuk makan ya ka, istirahat yang cukup. Aku tunggu kepulangan mu hubby!"^^^


...Tut tut tut tut....


Sambungan langsung terputus, sebelum Danu sempat membalas perkataan Layla.


"Maaf atas ke tidak nyamanan Tuan Nusi." ucap Danu dengan meletakkan kembali benda pilih nya di atas meja.


"Jangan terlalu sungkan Tuan, wajar jika seorang istri khawatir pada suami nya." ujar Nusi, yang menebak jika Danu baru aja terima telepon dari istri nya.


"Ah Tuan Nusi bisa aja. Mari kita lanjutkan meeting nya, tadi kita sudah membahas nya sampai mana?" Danu mengalihkan topik pembicaraan, hingga meeting yang sempat tertunda pun akhir nya bisa berjalan hingga akhir. Sesuai dengan apa yang di harapkan Danu dan Arsandi.


"Jadi kapan Tuan Danu ingin pembangunan ini segera di mulai?" tanya Nusi dengan serius.


"Secepat nya Tuan Nusi, insyaallah sebisa mungkin saya atau Arsandi yang akan meninjau langsung saat bangunan tengah di kerjakan." ucap Danu.


"Baik lah kalo begitu, senang bisa bekerja sama dengan pihak Tuan Danu!" Nusi mengulur kan tangan kanan nya di depan Danu.


Danu menyambut uluran tangan Nusi, lalu mencengrammm nya dengan erat, dengan sorot mata yang tajam.


"Saya juga senang, saya harap pihak Tuan Nusi dapat di percaya. Karena saya paling tidak suka jika dalam kerja sama ada yang bertindak curang!" seru Danu dengan sindiran secara halusss.


"Insyaallah kami, pihak yang dapat di percaya." ucap Nusi dengan yakin, tanpa ada keraguan di ke dua mata dan kata kata nya.


"Baik lah, tapi jika di pertengahan pembangunan terjadi masalah, atau pihak Tuan yang memutuskan kerja sama ini secara sepihak, Tuan tau kan apa resiko nya!" seru Danu dengan ke dua tangan saling berpangku di atas meja.


"Saya tidak keberatan untuk itu Tuan." ucap Nusi gak kalah tegas.


Danu dan Arsandi kembali ke hotel, tempat mereka bermalam.


"Selamat beristirahat kaka ipar." ucap Arsandi, sebelum Danu memasuki kamar nya.


"Kau juga!" seru Danu dan menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.


Arsandi melemparkannn ke sembarang arah jas yang awal nya ia kenakan. Tak lupa pula ia melepaskannn beberapa kancing kemeja yang membaluttt tubuh atletis nya, lalu merebahkan tubuh nya di atas kasur.


"Apa yang sedang mereka berdua lakukan? Kenapa hati ku begitu sakit membayangkan jika Mery memilih pria itu! Apa aku harus memperjuangkan nya, atau melepaskannn nya." gumam Arsandi.


Arsandi tersenyum, mana kala ke dua mata nya melihat wajah Mery yang dulu tersenyum pada nya, meski hanya sebatas hayalan nya saja.


"Aku merindukan mu Mery, apa kau juga merindukan ku?" tanya Arsandi pada diri nya sendiri.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...

__ADS_1


...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2