
...🥀🥀🥀...
Grap.
Danu menarik Layla kembali lagi dalam dekapan nya.
"Tidak masalah jika kau belum siap, aku akan menunggu! Asal kau membuka hati mu untuk ku! Aku tidak akan memaksa!" ujar Danu.
"Maaf!" ucap Layla dengan punggung bergetar, isakan pun terdengar dari bibir Layla.
Danu diam tidak menjawab perkataan maaf Layla. 'Aku bingung La, harus dengan cara apa lagi, membuat mu percaya jika aku hanya akan menjadi milik mu. Aku tidak akan pernah berpisah dari mu. Jika itu yang kau takutkan dalam pernikahan.'
"Maaf ka, aku, aku tidak tahu bagaimana perasaan ku pada mu. Tapi saat tau kau kritis, aku takut kehilangan mu. Aku takut tidak bisa mendengar suara mu, tidak bisa memakan masakan mu, aku lemah tanpa mu, aku... aku takut menggantungkan hidup ku pada mu. Aku takut di tinggalkan dan kau memilih pergi bersama dengan wanita yang kau cintai." ujar Layla, yang menumpahkan isi hati nya pada Danu.
"Itu arti nya kau mulai membuka hati mu, terima lah aku dalam hidup mu! Akan aku pasti kan... hanya ada air mata bahagia, akan aku buang derita di hati mu, akan aku buang kemalangan dalam hidup mu." ujar Danu, tangan nya mengelusss punggung Layla.
"Apa kau juga mencintai ku, ka?" tanya Layla.
Danu menangkup wajah Layla, membuat nya saling tatap.
"Aku sudah membuka hati ku, saat kau bilang pernikahan itu sekali dalam seumur hidup mu. Dari situ aku belajar memahami setiap perkataan mu. Begitu pun aku, mau secantik apa pun wajah mantan ku, masa depan ku adalah diri mu!" ujar Danu dengan serius.
Bugh.
Layla kembali melayangkan tangan nya di lengan Danu.
"Awhhhhh, apa lagi?" pekik Danu, menatap heran sang istri.
"Janji pada ku, jangan pernah bertindak bodoh lagi! Apa ini sakit?" Layla menyentuh kening Danu yang di perban.
"Tidak sakit, kan udah ada kamu. Kamu lah obat di kala aku merasa sakit!" goda Danu.
Kata kata gombalan Danu, sukses membuat Layla bersemu malu, memalingkan wajah nya dengan hati Layla yang di penuhi bunga yang bermekaran.
Dari balik pintu, Noval dan Baskoro tersenyum senang, melihat ke dua putra putri mereka bahagia. Mereka mulai saling menerima satu sama lain.
__ADS_1
"Semoga saja kebahagiaan mereka selama nya ya! Tanpa ada alang merintang." ucap Noval penuh harap.
"Amiiiin." ucap Baskoro dan Arsandi.
"Tadi Tuan besar bilang ada yang ingin di sampaikan sama saya, apa ya Tuan?" tanya Arsandi.
"Lebih baik kita bicara di sana!" Baskoro mengajak ke dua nya untuk duduk di kursi stainless. Kursi yang memang di sediakan untuk keluarga yang menjenguk pasien.
"Begini Arsandi, saya menaruh curiga jika Feli terlibat dalam kecelakaan yang menimpa Danu." ujar Baskoro.
"Feli, asisten mu itu yang di kantor?" tebak Noval, saat nama Feli begitu familiar di telinga nya.
"Menurut mu, apa ada lagi nama yang seperti itu di kantor ku?" tanya Baskoro dengan kening mengkerut.
"Jika benar Feli terlibat, apa yang akan Tuan besar lakukan?" tanya Arsandi.
"Apa kau akan memecat nya?" tanya Noval dengan penuh selidik.
"Bukan hanya memecat nya, tapi aku muak untuk melihat wajah nya. Ingin aku habisiii itu bocah! Berani nya dia membawa Danu ku dalam bahaya. Itu sama saja dia mempermain kan nyawa putra ku!" ucap Baskoro dengan tangan mengepalll
"Biarkan polisi yang bertindak, Tuan. Karena jika melihat dari CCTV yang ada di jalan, lokasi di mana Tuan Danu kecelakaan. Itu ada unsur kesengajaan." ucap Arsandi.
"Gilaaa pak, bapak keren banget, itu beneran bapak kan yang mengemudikan mobil nya?" tanya Nina dengan takjub.
Ke tiga nya mendudukkan diri mereka di sofa, mendengarkan ocehan ocehan Danu. Danu memposisikan mereka bukan seperti anak murid nya, terhadap guru nya. Melainkan sebagai kaka terhadap adik nya.
"Biasa aja Nin." ucap Danu, dengan Layla yang duduk di atas tepian ranjang rawat sang suami.
"Apa kaka mau minum? Atau mau makan buah? Biar aku ambilin!" ujar Layla, menawarkan Danu makan dan minum.
"Aku cuma butuh kamu di sisi ku, selama nya hingga akhir hayat ku." ujar Danu dengan kerlingan mata nya.
"Ciyeeee, ada yang terbang nih!" ledek Nina.
"Ahahahha kaya nya kita butuh tali nih Nin, mayan kan biar si Layla kaga kemana mana." ledekk Mery.
__ADS_1
"Apa sih kalian! Jangan ngadi ngadi deh!" Layla mengerucutkan bibir nya.
"Ka, ajarin saya bawa mobil dong! Mayan kan kalo saya butuh kendaraan, saya bisa ya ka... pinjem mobil kaka. Hehehe." kekeh Deri dengan tidak tahu malu nya.
"Boleh, asal ada surat izin mengemudi. Baru saya akan mengajarkan kamu untuk mengemudikan kendaraan roda 4." terang Danu.
"Yaaah ka, itu mah lama banget. Gak bisa apa kalo nunggu ka Danu pulih, dan ke luar dari rumah sakit?" tawar Deri, yang udah gak sabar dengan tatapan memohon pada Danu.
Deri benar benar di buat gak sabar lagi. Jiwa nya sudah meronta ronta, pengen belajar mengemudi kan mobil, apa lagi melihat kelihaian Danu saat mengemudi kan mobil lewat CCTV.
"Enak aja, gak bisa. Poko nya lo kalo mau belajar bawa mobil, harus punya surat izin mengemudi dulu. Gue gak mau ya, suami gue kenapa kenapa gegara kecerobohan lu!" protes keras Layla layangkan untuk Deri.
"Tau nih si Deri, udah minta di ajarin, maksa pula, mao bayar ka Danu berapa duit lu, buat jadi guru les mengemudi lu, Der?" ledek Mery.
"Heeet ya lu mah, pake bawa bawa duit. Bayar nya nanti dah ka, kalo saya udah punya kerjaan. Saya pasti bakal bayar bapak." ujar Nina.
"Ahahahha mau keren di depan cewek lo. Modal dikit dong lo Der! Masa modal dengkul doang buat deketin cewek inceran lo!" ledek Mery.
"Ahahah nama nya juga si Deri. Harap makhluk ka!" timpal Nina.
Deri membuang nafas nya dengan kasar. "Terus aja kalian pada ketawa, gue sumpahin tuh isi dompet kalian pada pindah ke dompet gue! Weee!" ucap Deri dengan ekor mata yang malas menatap Nina dan Mery.
"Alah, lagu lo Der... ambek bae di gedein!" ledek Nina lagi.
Ceklek.
"Permisi, gue gak ganggu waktu kalian kan?" tanya Lulu, melangkah masuk ke dalam ruang rawat Danu.
"Lo kesini sama siapa, Lu?" tanya Layla dengan tatapan menyelidik.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
__ADS_1
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...