
...🥀🥀🥀...
"Sayang nya gue ogah di ikutin sama lu ihs Mery!" ucap Layla dengan kaki menghentak, saat Mery melangkah ingin mengekori nya.
"Ka Arsandi!" seru Layla.
Arsandi yang mengerti, langsung menghampiri Nona Muda nya.
"Ingat ya, buat teman ku ini bahagia. Awas aja kalo aku liat Mery nangis, tau sendiri akibat nya!" ancam Layla dengan tatapan tajam.
"Siap Nona." jawab Arsandi dengan sikap siap dan hormat.
"Kalian lagi ngomongin apa sih? Gue kan gak ngerti bahasa kalian kalo kaya gini cara nya!" sungut Mery dengan menatap jengkel Layla dan Arsandi secara bergantian.
"Udah lah, lu tau nya seneng aja. Gak bakal rugi ikut ka Ar. Dah ya, gak enak nih udah di tunggu ayah. Daaah!" Layla berbalik badan, dengan tangan kanan nya yang melambai gemulai, suara nya pun di buat semanja mungkin.
Layla memasuki kantor sang ayah dengan bebas tanpa hambatan. Layla memainkan benda pipih nya, lalu mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Arsandi.
..."Aku udah transfer barusan ka, jangan lupa beliin hape buat Mery. Biar Mery yang pilih, tapi kalo Mery gak mau pilih, kaka aja yang pilihin. Selamat bersenang senang. Tau batesan, tau waktu 🤣🤣."...
Chat berhasil terkirim ke nomor Arsandi. Membuat Layla semakin ringan melangkah ke ruang kerja sang ayah.
"Eh dodolll, gue ikut sama lo! Ogah gue di tinggal sana ini pria kulkas!" sungut Mery, dengan ekor mata menatap malas Arsandi.
Baru mau melangkah menyusul Layla, tangan besar Arsandi lebih dulu mencengkrammm lembut lengan Mery. Hingga langkah mery tertahannn karena nya.
Grap.
"Apa nih pegang pegang! Lepasinn gak!" sungut Mery, dengan tatapan melirik ke arah tangan besar Arsandi yang mencengrammm lengan nya.
"Seperti apa yang sudah Nona Layla katakan sebelum nya. Mari Nona Mery ikut dengan saya! Saya janji, tidak akan bersikap kurang ajarrr. Saya masih tau batasan." ucap Arsandi panjang kali lebar.
"Awas ya, kalo sampe macem macem. Gue gak akan segan buat teriak, biar lo di hakimin masa sekalian." ancam Mery, yang akhir nya mengikuti perkataan Arsandi.
Arsandi membuka kan pintu mobil bagian penumpang yang ada di depan, samping kemudi.
Tapi Mery malah berjalan ke belakang, membuka pintu sendiri untuk diri nya.
__ADS_1
"Pindah ke depan Nona! Saya bukan supir pribadi anda kan!" seru Arsandi, saat melihat Mery hendak masuk ke dalam mobil.
"Gitu aja di permasalahin, dasar kang ribet, kang atur!" cibir Mery.
Dengan berat hati, Mery pindah ke kursi depan. Arsandi langsung menutup pintu mobil, setelah memastikan Mery duduk di tempat nya dengan nyaman.
Arsandi menatap sekilas wajah jutek Mery, dengan hati yang sebang. Arsandi mulai melajukan kendaraan nya menuju sebuah mall.
Tring.
"Pacar mu tuh ngechat." cibir Mery dengan gak senang, saat mendengar notifikasi pesan masuk di hape Arsandi.
"Bukan pacar, saya punya nya calon istri, calon teman hidup saya. Wanita yang kelak akan melahirkan anak anak saya." terang Arsandi, dengan tatapan penuh harap pada Mery.
Tapi Mery malah salah mengartikan nya, ia pikir kata kata yang baru aja terucap dari bibir Arsandi itu untuk Julia dan bukan untuk diri nya.
"Owh ya pantes dong, udah tau punya calon istri. Kenapa juga masih berani jalan sama gue! Itu nama nya cowok gak setia!" ucap Mery dengan ketus.
Hati Mery di landa api cemburu, bertambah dengan rasa kecewa yang tanpa ia sadari muncuat begitu aja.
Arsandi mengerutkan kening nya, dengan pikiran yang berkecamuk.
'Kenapa Mery terkesan marah pada ku ya? Apa aku salah bicara lagi ya? Harus nya dia senang kan, aku mengatakan nya begitu. Apa jangan jangan... Mery belum nyadari nya kalo yang aku katakan itu untuk nya?'
Arsandi mengeluarkan benda pipih nya dan memperlihat pesan masuk yang Layla kirimkan untuk nya tadi.
"Apa?" tanya Mery dengan kening mengkerut, saat Arsandi menyodorkan benda pipih nya ke Mery.
"Coba buka dulu, pesan terakhir yang masuk. Itu ada kaitan nya dengan wanita yang aku maksud." terang Arsandi dengan senyum terlukis di bibir nya.
"Gak usah senyum, tar bibir lo kering!" sungut Mery dengan ketus.
Mary masih menatap benda pipih yang masih terulur di depan nya.
"Di buka aja, dari pada penasaran." ujara Arsandi kembali fokus pada setir kemudi.
Mery membuka hape Arsandi yang tanpa kunci pengamannn. Lalu membuka aplikasi berwarna hijau. Tatapan nya langsung menghangat, saat membaca pesan yang baru aja masuk.
__ADS_1
"Boleh gue tau, Layla transfer berapa duit? Maaf nih ya, bukan nya mata duitan, gue cuma pengen tau." ujar Mery dengan tatapan memohon.
"Di cek aja, pin nya tanggal lahir kamu." ujar Arsandi.
'Gak salah nih, pin buat atm aja pake tanggal lahir gue.' batin Mery dengan senang.
"Akhir nya sampe juga." ujar Mery, melihat mall yang berdiri megah di depan nya.
"Kenakan ini! Saya tunggu di luar." titah Arsandi, setelah menyerahkan paper bag, yang sebelum nya ada di bagian kursi belakang.
"Apaan nih? Gue harus ganti di sini gitu? Gak salah nih orang! Dasar sedenggg!"
Ke dua nya kini memasuki mall, dengan Mery yang sudah berganti pakaian.
"Kamu cantik! Saya jadi makin cinta, kapan kamu siap saya lamar?" tanya Arsandi tanpa malu lagi.
"Gak usah ngibul. Pacar nya tar marah." ejek Mery.
"Bukan pacar, tapi calon istri!" ralat Arsandi.
Ke dua nya sampai di gerai hape.
"Pilih lah yang kamu suka!" seru Arsandi, saat Mery kini duduk di kursi, menatap hape yang berjejer rapih di dalam etalases.
Mery tampak memilih milih benda pipih yang akan ia bawa pulang. Benda pipih yang akan menjadi milik nya, menggntikan benda pipih nya yang sudah gak tau di mana rimbun nya.
"Gimana, ada yang kamu suka?" tanya Arsandi.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
Like dan komentar nya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1