Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Bayu keterlaluan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Reina menjawab sambungan telpon nya, setelah ia sudah agak jauh dari meja makan.


^^^"Gimana Reina, lo berhasil kan ngerjain itu anak?" tanya Aleta antusias.^^^


[ "Harus nya sih berhasil, kita liat aja. Apa yang bakal terjadi sama itu anak. Pasti kan bekas jahitan di perut nya itu belum kering banget, bakal ada kemungkinan buat itu luka jadi parah." ] ucap reina dengan senyum licik nya.


^^^"Itu anak belum balik? Danu curiga gak sama lo?"^^^


[ "Belum nongol batang hidung nya. Harus percaya dong, gue ini kan teman lama nya. Ketimbang itu bocah yang baru beberapa bulan di nikahin nya." ]


^^^"Oke, jangan lupa kabarin gue!"^^^


[ "Lo mau ke mana? Masih ada yang pengen gue omongin sama lo!" ] cegah Reina, saat Aleta ingin mengakhiri sambungan telepon nya.


^^^"Lo lupa, gue di penjara... mana bisa ngomong leluasa, bebas, sepuas nya!"^^^


[ "Terus gue kalo mau kabarin lo, ke nomor yang mana?" ] tanya Reina.


^^^"Nomor ini aja lah, toh kalo ini penjaga lapas nya bisa gue ajak kerja sama. Ya udah, nanti kita sambung lagi."^^^


Reina menggelengkan kepala nya gak abis pikir. 'Udah di penjara, masih ada aja akal lo buat ngancurinnn itu bocah. Untung nya lo bayar gue, coba kalo gak, ogah amat gue bantuin lo!' batin Reina menatap foto foto nya dulu bersama dengan Aleta.


...---...


Gerbang villa sudah di depan mata, tapi Arsandi belum juga mendapat kata maaf dari Mery.


'Dengan cara apa, aku bisa mendapatkan maaf dari ini bocah! Bisa bisa nya Tuan dan Nona meminta ku minta maaf pada nya!' Arsandi menggaruk kepala nya dengan frustasi.


"Apa lo, lihat lihat! Suka baru tau rasa lo!" sungut Mery dengan kesal, menatap tajam Arsandi.


Arsandi tergelak mendengar ucapan Mery. "Ahahahhahhaha apa kamu bulang? Saya suka sama kamu? Jangan harap! Sudah ada bocah yang saya suka, dan itu bukan kamu!" ucap Arsandi dengan lepas.


Mery menghentikan langkah nya, menatap Arsandi dengan menyelidik. "Jangan bilang lo suka sama Julia? Bocah bodohhh, plin plan itu? Lo suka sama bocah model dia?" Mery mengacungkan jari telunjuk nya ke depan wajah Arsandi.


'Ah sialll, kenapa gue jadi keceplosan di depan ini anak. Buat apa gue jujur sama ini anak. Gak penting juga kan!' Arsandi mengumpat diri nya sendiri.


Tap tap tapa tap.


Julia langsung berlari, begitu melihat Arsandi sudah kembali bersama dengan Mery.


"Kalian sudah kembali! Syukur lah, di mana Layla dan pak Danu?" tanya Julia, menatap senang ke dua nya, tatapan nya kini mencari keberadaan Layla dan Danu.


"Mereka ada di belakang." jawab Mery santai, meninggalkan ke dua nya, gak mau ganggu.

__ADS_1


"Sarapan buat kamu ada di meja makan ya Mer!" seru Julia, mengingatkan Mery.


Mery melambaikan tangan tanpa menoleh. 'Bisa bisa nya itu pria dingin suka sama cewek modelan Julia.'


Grap.


"Ayo masuk, mas Arsan pasti udah laper. Kebetulan tuh aku udah sisain sarapan buat mas Arsan dan yang lain." jelas Julia, yang dengan berani menggenggammm jemari Arsandi.


'Astagaaa, menambah buruk suasana aja nih Julia, pake genggamannn tangan gue! Tensin juga kalo yang lain tau. Bakan di ketawain gue sama Mery!' pikir Arsandi, yang terpengaruh dengan Mery.


"Jaga sikap mu! Kalo ada yang lihat, gimana!" Arsandi melepasakan genggamannn Julia.


"Ini, tolong berikan pada Reina!" titah Arsandi, menyerahkan kantong plastik berisi nasi uduk yang sebelum nya di beli Layla ke pada Julia.


Dengan santai dan gak perduli nya, Arsandi berjalan lebih dulu, meninggalkan Julia yang masih terpaku di tempat nya.


Deg.


'Kenapa sama mas Arsandi, semalam masih baik baik aja. Kok sekarang jadi beda!' batin Julia penuh tanya.


Bayu langsung menghampiri Mery yang langsung duduk di meja makan.


"Baru balik? Kamu balik sendiri? Yang lain ke mana?" cecar Bayu dengan datar, ia memperhatikan tingkah laku Mery.


"Bareng yang lain, masih di belakang. Kenapa? Mau ikut nyalain gue juga? Ngebiarin Layla ninggalin nih villa?" sungut Mery dengan jengkel.


"Galak amat! Tapi gue suka sama cewek kaya lo! Susah di deketin nya." seru Bayu dengan terkekeh, tangan nya terulur mengelusss puncak kepala Mery.


'Cewek segalak ini, kalo udah ketemu otong pasti bakal jinak juga! Dasar cewek munafik!' batin Bayu dengan pemikiran nya terhadap Mery, bahkan ia berani menatap nya dengan nakal.


"Apaan si lo! Lebay!" Mery menepis tangan Bayu dari kepala nya.


"Pelan pelan makan nya, nanti keselek aja lo!" seru Bayu, tampak santai menanggapi Mery dengan tangan menopang wajah nya yang ada di atas meja.


'Jadi gak sabar gue, pengen taklukin ini bocah di atas ranjang!' batin Bayu dengan seringai di bibir nya.


"Dasar cowok! Sana lo nyingkir dari hadapan gue! Ganggu gue makan aja lo!" sungut Mery, merasa terganggu dengan keberada Bayu yang terus menatap nya.


Kreeek.


Mery menggeser kursi yang ia duduki, dengan tubuh dan piring nya yang ikut bergeser, hingga memunggungi Bayu.


"Bilang aja lo takut gue minta hehehe, makin gemesss aja gue sama lo!" Bayu beranjak dari duduk nya, jemari nya dengan nakal menowel dagu Mery.


"Nanti malam gue tunggu ya di kamar! Pasti gue bakal kasih lo kepuasannn yang gak terkira! Gue bakal bayar lo mahal!" bisik Bayu di telinga Mery, lalu ia menarik diri nya kembali. Menatap Mery dengan memainkan alis nya naik turun.

__ADS_1


Mery mengepalll kan tangan nya. 'Kurang ajarrr ini orang, dia pikir gue cewek bayaran? Gue cewek gampangan gitu?' batin Mery dengan gak karuan kesal nya.


Brak.


Mery beranjak dari duduk nya dengan ke dua tangan menggebrak meja makan.


"Lo pikir gue semurah itu, pak Bayu yang terhormat? Mau ngejual keperawanannn gue di atas ranjang cuma buat cowok brengsekkk kaya lo! Sorry, lo salah alamat!" ucap Mery dengan penuh penekanan, meninggalkan meja makan tanpa melanjutkan sarapan nya lagi.


Bayu mengepalll kan tangan nya, menatap punggung Mery yang semakin jauh dari nya.


'Kurang ajarrr tuh bocah, liet aja... kalo ada kesempatan, kita biktiin lo masih itu atau udah gak! Cewek kaya lo mah munafik.' batin Bayu dengan yakin.


Arsandi menggelengkan kepala nya, ia mendengar semua apa yang di katakan Bayu pada Mery.


'Bayu keterlaluan! Semua cewek di anggap gampangan sama itu anak! Gak nyadar lu Bay, perkataan lu udah nyakitin perasaan Mery! Gimana kalo sampe Nona Layla dan Tuan Danu tau? Bisa kehilangan pekerjaan lu Bay!' batin Arsandi.


Mery memilih kembali ke kamar yang ia tempati selama di villa. Sekamar dengan Nina, sementara Julia sendiri di kamar terpisah.


"Mas Arsan ngapain di sini? Lietin apa?" tanya Julia pura pura gak tau.


"Kamu? Ini saya mau mandi dulu. Saya duluan!" Arsandi menggaruk kepala nya yang gak gatal, melangkah menuju lantai 2, lantai yang sama dengan Mery tapi beda kamar.


'Sejak kapan Julia di belakang ku? Apa dia juga mendengar dan melihat apa yang terjadi dengan Mery?' batin Arsandi, sesekali menoleh Julia yang masih berdiri di tempat nya.


Julia tersenyum palsu, saat Arsandi beberapa kali menoleh ke arah nya. 'Ada yang gak beres dengan mas Arsan. Gak mungkin kan mas Arsan peduli sama Mery!'


Sementara Danu, asik menyuapi Layla bubur nasi, dengan pemandangan sawah yang membentang di hadapan nya.


"Jangan aku terus yang makan, ka Danu juga harus ikut makan!" protes Layla, yang sejak tadi menerima suapan bubur nasi dari Danu.


"Iya gampang aku mah, yang penting kamu dulu kenyang." cicit Danu dengan senyum mengembang.


"Gak adil." ketus Layla.


"Jadi Reina, yang meminta mu untuk membelikan nya nasi uduk? Dia gak bilang kalo aku dan Arsandi hanya jongging di sekitaran villa?" tanya Danu, saat suapan terakhir Layla.


"Iya, jangan bilang kamu nyariin aku dan Mery? Karena kan tadi ka Reina udah bilang, mau kasih tau kamu. Kalo aku pergi ke warung nasi uduk yang ada di depan perempatan jalan itu." jelas Layla panjang kaki lebar.


"Reina bilang gak, kalo perempatan jalan nya itu jauh?" tanya Danu, menyodorkan minuman kemasan yang udah di buka tutup nya pada Layla.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅

__ADS_1


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata...


__ADS_2