
...🥀🥀🥀...
"Bukan mau ku, Devinta meninggal! Devinta meninggal juga karena keegoisan mu wanita tua!" umpat Noval, lalu bulir bening menerobosss pelupuk mata nya.
"Maaf kan aku Devinta, andai aku bisa membawa mu ke rumah sakit tepat waktu, andai orang tua mu mau merestui hubungan kita, semua tidak akan jadi seperti ini!" ucap Noval dengan lirih dan terisak.
Flashback Noval.
Di sebuah taman dengan berteman kan terang bintang dan sorot cahaya bulan.
Noval menunggu kekasih nya dengan setangkai mawar merah di tangan nya, jangan kan sebuket bunga mawar merah, setangkai saja ia boleh memetik nya di salah satu rumah yang ia lewati saat akan menuju taman, tempat ia dan Devinta janjian.
"Apa Devinta lupa kalo hari ini ada janji dengan ku, inisl sudah kewat dari waktu kita janjian." gumam Noval, melirik jam yang ada di layar hape nya.
Ia menunggu Devinta dengan perasaan yang gak karuan, resah dan gelisah tampak jelas di wajah nya.
Tap tap tap tap.
Noval langsung menoleh, ke arah asal suara seorang berlari. Senyum kini tersungging di bibir nya.
"Kamu kenapa lari, Ta?" tanya Noval, menyapu keringat yang ada di kening Devinta dengan tangan nya.
Devinta menatap sendu Noval tanpa berkata, ia langsung memeluk pria yang kini berdiri di hadapan nya dengan nafas yang ngos ngosan.
Grap.
"Aku sangat mencintai mu. Jangan pernah meninggalkan aku apa pun yang terjadi, tunggu lah aku!" ujar Devinta dengan tangan merekat di pinggang Noval, tanpa mau melepaskan pelukan nya.
"Aku tau Ta, aku janji, setelah aku lulus dari sekolah SMA ku ini, aku bakal langsung cari kerja, aku mau nikahin kamu! Aku tanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan Ta." ujar Noval dengan sungguh sungguh, mengelusss punggung wanita yang sangat ia cintai.
"Bagaimana jika mama tetap gak setuju sama hubungan kita, Val? Siapa yang akan mendukung kita?" tanya Devinta, mengendurkan pelukan nya, menatap Noval dengan ketakutan yang terpancar dari pelupuk mata nya.
"Mudah mudahan, dengan seiring waktu. Mama Dahlia mau merestui hubungan kita ini." ujar Noval, memberikan harapan meski harapan nya terasa sangat lah tipis.
Noval hanya lah anak orang susah, anak yatim piatu, hidup mengandalkan kerja keras nya, bejerja dengan serabutan. Apa saja ia lakukan demi melanjutkan sekolah nya.
Sedangkan Devinta, anak orang kaya, anak tunggal dari keluarga ternama di kota nya, usaha orang tua nya saat ini tengah berjaya.
Sreeek.
Sebuah tangan besar menarik pergelangan tangan Devinta.
__ADS_1
Plak.
Tamparan mendarat telak di pipi Noval dengan keras.
"Berani nya kamu menyentuh putri ku! Punya apa kamu heh! Lihat diri mu! Kau tidak pantas untuk putri ku! Kau itu tidak layak untuk Devinta! Mulai saat ini, aku gak mau lihat kamu berada di sekitar putri ku!" maki Dahlia dengan tatapan nyalang pada Noval yang kala itu baru berusia 17 tahun.
Noval memegangi pipi nya yang terasa panas. Sakit dan perih, harga diri nya seakan lenyap di mata Dahlia, ibu dari wanita yang sangat ia cintai.
"Mah! Kita ini sama di mata Tuhan! Sama sama manusia mah! Aku mencintai Noval apa ada nya mah!" ucap Devinta yang kini terisak, meronta meminta di lepaskan cekalan tangan orang kepercayaan mama nya.
"Mulai detik ini, kamu mama larang untuk bertemu dengan nya! Kamu mengerti kan Devinta! Mama sudah menjodohkan kamu dengan Baskoro, dia pria yang jauh lebih baik untuk kamu! Baskoro lah masa depan kamu!" ucap Dahlia lagi dengan lantang.
'Baskoro? Apa selama ini Baskoro memiliki perasaan terhadap Devinta? Tapi dia juga tau kalo aku dan Devinta sama sama saling mencintai!' batin Noval seakan tidak percaya mendengar nama sahabat nya di sebut.
"Gak mah! Baskoro dan aku hanya teman, aku cuma cinta sama Noval!" Devinta menolak apa yang di ucapkan Dahlia.
"Keputusan mama sudah bulat!" Dahlia berjalan dengan angkuh meninggalkan Noval yang bak tersambar petir mendengar apa yang di ucapkan Dahlia.
"Sakit! Lepas, aku ingin bersama dengan Noval mah! Jangan pisahkan aku dengan nya!" pinta Devinta dengan tangis yang tak henti.
Devinta mencoba melepaskan tangan nya dari cengramannn pria yang menyeret nya mengikuti langkah kaki Dahlia.
Grap.
"Tante aku mohon tante, beri aku kesempatan, aku bakal buat Devinta bahagia. Aku bakal kerja keras tante, aku mau nikahin Devinta tante! Tolong restuin hubungan kami, tante!" pinta Noval dengan mengadahkan wajah nya, menatap serius Dahlia.
Bugh.
Dahlia menghempaskan tubuh Noval dari kaki nya, hingga Noval terjungkal ke belakang.
"Heh anak gak tau diri! Hidup di dunia ini gak cuma butuh cinta, butuh duit buat bertahan hidup. Mau kamu kasih apa putri ku nanti heh! Untuk menghidupi diri sendiri aja udah susah, pake sok sok'an mau bahagia Devinta, jangan mimpi kamu! Cinta gak akan bikin kamu hidup bahagia, cinta gak bisa bikin kamu kenyang dari rasa lapar! Ngerti kamu!" umpat Dahlia dengan tatapan tajam.
Keesokan nya di sekolah.
"Ada yang mau gue omongin sama lo!" ujar Noval saat melihat Baskoro yang baru memasuki ruang kelas.
"Mau ngomong apa lo, kaya nya serius banget." ledek Baskoro, yang belum tau apa apa.
"Jujur sama gue, lo tau kan hubungan gue selama ini sama Devinta itu kaya gimana!" tanya Noval dengan tatapan menuntut jawaban.
"Iya tau lah, kalian saling cinta. Sekarang cewek lo ke mana?" tanya Baskoro, yang belum melihat kehadiran Devinta di kelas.
__ADS_1
"Gak usah ngalihin pembicaraan, lo pasti tau kan di mana Devinta dan gue ketemuan semalam!" tanya Noval lagi.
"Iya tau, emang kenapa dengan itu? Semalam gimana dengan kencan kalian? Pasti sangat menyenang kan." tanya Baskoro.
Namun hati Baskoro berkata lain. 'Hati ku sakit, tapi apa lah daya jika Devinta lebih milih Noval.Cinta gak harus memiliki, asal aku bisa melihat bahagia Devinta, aku akan bahagia.'
"Menyenangkan lo bilang? Tante Dahlia bilang lo yang pantes buat Devinta, bukan gue! Devinta udah di jodohin sama lo! Teman macem apa lo! Nusuk gue dari belakang!" umpat Noval, beranjak dari kelas dengan membawa tas nya.
Noval memilih pulang ke tempat kontrakan nya yang cuma sepetak.
"Kenapa pintu nya terbuka? Apa aku lupa ngunci pintu ya tadi?" tanya Noval pada diri nya sendiri, mendapati pintu kontrakan nya tidak lagi terkunci.
Ceklek.
Bugh.
Devinta langsung berhambur memeluk Noval.
"Bawa aku pergi Noval! Aku gak sanggup hidup tanpa kamu!" ucap Devinta, membenamkan wajah nya di dada bidang Noval, tangis nya membasahi seragam putih yang Noval kenakan.
"Sejak kapan kamu ada di sini? Bagai mana kalo tante Dahlia nyariin kamu? Aku bisa kena marah tante, tante bisa nyakitin kamu lagi!" cecar Noval, menjarak tubuh nya dengan Devinta. Tapi di sisi lain, ia bahagia melihat Devinta ada di hadapan nya.
"Aku lari dari rumah, kita pergi dari tempat ini Noval. Pergi sejauh mungkin. Kita kawin lari!" bujuk Devinta, membayangkan hidup bahagia bersama dengan pria yang ia cintai bermodal kan cinta.
Tanpa ragu, Noval yang sudah terbiasa hidup susah, kini da wanita yang sangat ia cintai, wanita yang akan menemani nya bersama, menua bersama, susah senang bersama. Langsung mengiyakan nya, percaya jika Devinta bisa di ajak hidup susah dengan keterbatasan ekonomi.
"Ayo kita kawin lari!" ucap Noval dengan senyum tersungging di bibir nya, kembali membawa Devinta dalam pelukan nya.
Dengan bermodalkan nekat dan cinta, Noval dan Devinta yang sama sama baru 17 tahun, memilih putus sekolah, meninggalkan tempat tinggal nya, memilih pergi ke tempat asing bagi Devinta.
"Kita ke alamat ini, bos aku udah bilang sebelum nya. Kalo aku bisa ajak kamu, calon istri aku." ucap Noval menunjuk secarik alamat yang terdapat pada kertas yang ia pegang.
"Makasih ya, kamu udah mau dengerin apa kata aku. Kapan kita nikah?" tanya Devinta yang kini berada di dalam angkot bersama dengan Noval.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata...