
...🥀🥀🥀...
"Kenapa? Apa kamu masih berfikir untuk melanjutkan kebohongan mu ini? Tinggal pilih mengaku dan minta maaf!" ucap Danu memberikan pilihan pada Lulu.
"A- aku..." ucapan Lulu langsung di potong oleh si ibu yang membela nya dengan percaya diri.
"Heh kamu! Harus nya kamu bisa mengajari istri mu itu, bagaimana cara nya bersikap pada adik dan orang yang lebih tua dari nya! Seenak nya aja langsung pergi berlalu meninggalkan adik nya yang sudah di buat babakkk belurrr gini!" ucap si ibu, menunjukkan luka di tangan Lulu dan pipi kanan Lulu.
Danu menyunggingkan senyum tipis nya. "Apa ibu yakin, itu perbuatan istri saya?" tanya Danu dengan santai.
"Maaf pak, bu... sebaik nya masalah ini di selesai kan secara kekeluargaan. Dan di sini hanya ada korban, lalu di mana tersangka nya? Apa ibu melihat dengan mata kepala ibu, jika adik ini di aniaya kaka nya?" tutur pak satpam, menengahi Danu dan si ibu.
"Tersangka nya sudah jelas istri dari pria muda ini, kaka dari gadis malang ini!" bela si ibu masih tetap ngotot.
"Ibu yakin? Saya bisa melaporkan ibu ke polisi atas tindakan pencemaran nama baik, dan kau!" Danu menatap tajam Lulu.
Seketika Lulu menciut.
"Kau, aku laporkan atas dasar tuduhan palsu, perbuatan tidak menyenangkan, pencemaran nama baik. Kau tau, aku tidak bermain main dengan ucapan ku!" ucap Danu dengan tegas.
"Gu- gua gak takut... gu- gua tau, lo pasti bohong buat lindungin Layla!" ucap Lulu dengan terbata bata.
"Kamu gak usah takut nak, kalo ucapan mu itu benar, hukum itu gak buta! Pria ini pasti sudah terlalu cinta sama kaka kamu, sampe mata nya buta... buat lihat siapa yang benar dan siapa yang salah!" gerutu si ibu.
"Pak, coba periksa CCTV di koridor yang dekat dengan taman rumah sakit ini! Kita lihat siapa yang salah dan siapa yang benar!" ucap Danu dengan tatapan mengarah pada pintu salah satu ruang, tidak jauh dari mereka berdiri.
"Itu ruang pantau CCTV, pak!" ucap satpam.
Lulu meremas ujung baju nya, sialannn si Danu. Kalo kaya gini, udah pasti dia yang menang! Kamprettt banget si Layla, makin besar kepala, karena ada yang bela. Gue bisa abis di marahin mama karena gegabah buat ngancurinnn nama baik Layla di depan Danu dan papa nya!
"Bisa kan pak, kita ke sana dan lihat apa yang terjadi di koridor yang saya maksud tadi!" Danu menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada, menatap Lulu dengan tatapan mengejek.
"Ayo, saya juga ingin lihat... apa masih kamu berani membela istri mu itu! Istri gak tau sopan santun!" cibir si ibu.
__ADS_1
"Ayo pak, bu! Biar semua nya lebih jelas." ajak pak satpam ke ruang pantau CCTV.
"Emmm gak perlu, a- anu, a- aku minta maaf, i- ini gak seperti yang kalian pikir!" Lulu langsung berlari meninggalkan ke tiga nya. Berlari lurus ke depan tanpa memperdulikan seruan si ibu yang tadi membela nya mati matiian.
"Hai nak, kenapa kau lari!" seru si ibu dengan suara tinggi memanggil gadis yang ia pikir malang.
"Jelas gadis itu lari, karena setelah ia melihat CCTV, dia hanya akan mempermalukan diri nya sendiri di hadapan mu, bu pahlawan kesiangan." ledek Danu mengejek si ibu, lalu berlalu pergi meninggalkan pak satpam dan si ibu.
Tangan si ibu mengepalll, kurang ajarrr, berani bocah itu main main dengan ku, aku pikir gadis malang, ternyata gadis pembualll, dasar tukang tipu.
"Apa ibu masih mau melihat apa yang terjadi sebenar nya?" tawar pak satpam.
"Gak perlu, pak! Makasih!" sungut si ibu dengan wajah merah padam, menahan malu di depan pak satpam, karena sudah salah membela orang.
Satpam menggelengkan kepala nya. "Dasar emak emak, tadi ajak punya nyali seribu buat lawan pak Danu, sekarang aja nyali nya liut!"
...---...
Ceklek.
Layla mengerutkan kening nya. Ada angin apaan nih, mendadak manis gini sikap nya, Danu ke gue!
"Apa kamu gak lihat Lulu, Danu?" tanya Sifanye, celingukan ke arah pintu, berharap putri nya akan ikut menyusul Danu masuk ke dalam ruang rawat.
"Danu pikir tadi Lulu langsung ke sini, ternyata tidak!" ucap Danu dengan acuh.
"Ke mana anak itu pergi ya! Anak itu kan gak biasa pergi sendiri, apa jangan jangan Lulu nyasar, yah? Nyasar di rumah sakit ini?" pikir Sifanye, menatap Noval dengan bingung.
Dring dring dring.
Hape Sifanye berdering, membuat tatapan Sifanye kini fokus pada layar hape nya, melihat siapa yang menghubungi nya.
"Iya sayang, kamu di mana? Mama dan ayah masih di ruang rawat..." Sifanye menjawab panggilan telepon dari Lulu, lalu melangkah menjauh dari semua orang.
__ADS_1
"Layla pulang dulu, pah, yah!" pamit Layla setelah berpamitan pada nenek Dahlia.
"Hati hati ya, nak! Jaga putri ayah, nak Danu!" pinta Noval, dengan menepuk bahu Danu.
"Sudah pasti, yah!" jawab Danu.
"Kalian pulang saja, biar nanti ayah yang bilang sama mama kamu, La!" ucap Noval, saat melihat Layla yang menatap ke arah punggung Sifanye yang sibuk dengan telpon nya.
Layla menganggukkan kepala nya, mengerti. Pamit gak pamit sama mama, penting gak penting juga sih! Pasti Lulu lagi ngadu, gak berhasil jebak gue dalam kesulitan.
Danu mengelusss punggung Layla, gak usah di pikirin La, udah aku atasin kesulitan yang harus nya kamu hadapin, karena kebodohan Lulu.
"Kalian langsung pulang, istirahat. Besok kamu libur aja dulu, lusa baru masuk kantor." titah Baskoro pada putra nya.
"Bearti besok kamu izin aja dulu, La! Biar aku ada teman nya di apartemen! Hehehe." kekeh Danu, memainkan alis nya naik turun pada Layla.
Layla melotot tajammm pada Danu, lalu berlalu meninggalkan sang suami.
"Sudah sana kejar istri mu! Dasar anak bodoh!" Baskoro menggelengkan kepala nya, melihat Danu.
"Yah, sebaik nya kita juga pulang! Lulu sudah menunggu kita di mobil!" ucap Sifanye dengan menutupi raut wajah panik nya di depan Noval.
Di dalam mobil, Lulu menatap marah pada diri nya sendiri lewat kaca spion mobil.
"Kurang ajarrr si Layla, kali ini lo bisa lolos! Tapi gak untuk tidak selanjut nya. Gua pasti bakal berhasil buat lo di benci Danu!" umpat Lulu.
"Sebenar nya apa yang terjadi sama Non Lulu ya?" tanya Jono yang kini berdiri di luar mobil.
Lulu meminta pak Jono untuk menunggu di luar mobil, dan membiarkan nya seorang diri di dalam mobil.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅