Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Arsandi


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Layla menelan salivanya dengan sulit, astaga Layla... lo bisa sedekat ini sama Danu! Jangan gila, nanti gimana kalo pacarnya Danu dateng ke sini, ngeliet lo, yang ada lo di amuk! Come on Layla, woy sadar! Bangun dari mimpi, bangun dari dunia hayal, gak mungkin Danu yang cakep, keren gini suka sama lo! Inget moto hidup lo cuma belajar, kejer ampe lulus tuh sekolah lo, baru lo bisa hidup mandiri tanpa orang tua lo, semangat Layla!


Ting nong, ting nong.


"Ma- maaf!" Layla beranjak dari posisinya dan langsung masuk ke dalam kamar.


Danu tidak memperdulikan lagi Layla, ia langsung fokus pada bel apartemen yang berbunyi.


Ceklek.


Nampak seorang pria berbadan tegak, berdiri di depan pintu, dengan bahu kanannya menyampirkan tas ransel berwarna biru langit.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Danu dengan sorot mata tajam.


"Maaf Tuan Muda, tadi ada kendala sedikit." ucap Arsandi dengan menyerahkan tas ransel biru langit pada Danu.


"Gak usah formal gitu! Ini di luar jam kerja. Semua miliknya ada di dalam kan?" tanya Danu dengan melangkah masuk ke dalam di ikuti Arsandi.


Arsandi membuang nafasnya lega. "Ada di dalam bro, tadi gue nyari nyari anak itu dulu! Tuh anak ternyata gak langsung pulang, tapi keluyuran dulu sama teman temannya.


"Tadi lo bilang ada kendala, kendala apa?" Danu mendudukan dirinya di sofa, dengan meletakkan tas milik Layla di sofa yang lainnya.


"Cewek yang namanya Sopur bersikeras buat anterin itu tas ke rumah Layla sendiri. Intinya nolak keras buat tas itu di serahin ke gue." ucapnya singkat.


"Oowh cuma itu." gumam Danu, lantas berseru memanggil nama Layla. "La! La! Layla!"


"Iya tunggu dulu!" seru Layla dari dalam kamar.


"Layla itu siapa sih? Temen lo? Atau cewek lo? Masih sekolah ya? Gila maenannya daun muda lo, Danu, Danu!" cecar Arsandi dengan gelengan kepala.


"Gak usah banyak tau. Orang yang banyak pengen tau, cepet mati! Matinya juga penasaran!" ucap Danu dengan datar.


"Lo jadi kan ikut ke villa? Lo bawa aja lah itu si Layla, dari pada lo di cengin belom bisa move on dari mantan, iya gak?" ledek Arsandi.


Bugh.


Danu melemparkan bantal sofa ke wajah Arsandi.


"Ihs bos sialannn, saking aja lo bos. Kalo bukan udah gue bales lo!" sungut Arsandi memungut bantal yang tergeletak tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Ada apa lo manggil gue, ka?" tanya Layla, tatapannya menemukan tas ranselnya ada di samping Danu.


Arsandi langsung duduk tegak, melihat siapa yang berdiri tidak jauh darinya. Jadi ini, cewek yang namanya Layla? Yang mau di jodohin sama bos Danu? Kalah cantik sih sama Aleta.


Dengan kening mengkerut,


"Itu kan tas gue! Lo dapet dari mana ka?" Layla mendudukan dirinya di samping Danu, memangku tas ranselnya, memeriksakan kelengkapan isi tasnya.


"Coba di cek dulu dengan teliti, ada yang ilang gak isinya!" tanya Danu dengan tatapan yang terus tertuju pada Layla.


"Lengkap semua ka, makasih ya ka! Hapenya juga masih mati nih!" Layla menunjukkan pada Danu, hapenya yang mati.


Arsandi mendengus kesal, merasa di abaikan oleh bosnya dan wanita yang di panggil Layla.


"Bujuk dah, masih ada orang lagi ini. Ngapa jadi lu sibuk berdua sih, gue ora di ajak ngomong! Bilang makasih sama gue napa Layla, gue itu yang bawa tas lu kemari!" gerutu Arsandi.


"Benar apa yang dia bilang, ka?" tanya Layla dengan tatapan penuh selidik pada Danu, setelah menoleh Arsandi sesaat.


"Ya elah pake di tanya dulu, itu gue dapet dari temen lu si Nina ama Sopur. Sekarang kenalin, nama gue Arsandi, cowok paling keren, paling ganteng, sekretaris bos Danu!" Arsandi mengulurkan tangan kanannya ke depan Layla.


Danu mengerutkan keningnya, menatap waspada saat melihat pergerakan tangan kanan Layla yang hendak membalas uluran tangan Arsandi.


Hap.


"Lo tunggu di sini!" titah Danu pada Arsandi, ia terus melangkah membawa Layla mengikuti langkahnya.


"Woy, gue belom kenalan woy! Anjimmm banget tuh si bos! Ah elah! Masih cakep juga Aleta. Siapa juga yang mau sama bocah bau kencur!" Arsandi menggaruk kepalanya dengan frustasi.


"Kenapa sih pake tarikkk tarikkk segala? Gue bisa jalan sendiri, ka! Danu! Danu! Apaan sih lo!" Layla mencoba melepaskan tangannya dari genggamannn Danu.


Danu meraih hendle pintu, melepaskan tangannya setelah Layla masuk ke dalam kamar.


"Ada apaan sih?" tanya Layla dengan marah.


"Lo tunggu di dalam, kalo butuh sesuatu lo bisa telpon gue!" tanpa menunggu jawaban dari Layla, Danu langsung menjauhkan Layla dari pintu, dan menutup pintu kamar.


Cetek.


Danu mengunci pintu kamar dari luar. Lalu meninggalkan Layla di dalam kamar yang ia kunci, kembali menemui Arsandi.


Di dalam kamar.

__ADS_1


Ceklek ceklek ceklek.


Layla mencoba membuka pintu, saat tangannya meraih hendle pintu.


"Sialll kenapa pake di kunci sih!" sungut Layla.


Bugh bugh bugh.


Layla memukul mukul pintu dengan telapak tangannya sambil berseru, namun tidak ada jawaban dari Danu.


"Danu! Woy, buka pintunya! Kenapa lo kunci gue di kamar, ka! Ka Danu!" suara Layla naik satu oktaf, membuat Layla lelah dan memilih mengisi daya hapenya.


Layla mulai mengeluarkan buku pelajarannya, mengerjakan tugas rumahnya sambil tengkurap di atas tempat tidur yang berukuran sedang,


"Mimpi apa gue, lagi lagi di kurung. Gak di rumah ibu Tati, gak di rumah ayah Noval, berakhir di kunciin di dalam kamar. Bedanya ini kamar tidur, kalo kemaren kemaren kamar mandi." monolog Layla sendiri.


Sementara di ruang lain, dalam unit apartemen yang sama.


"Kenapa lu, bro? Kaya gak seneng gitu kalo gue kenalan sama Layla! Itu kan bocah yang mau di jodohin sama lo?" cecar Arsandi dengan tatapan menyelidik.


Ting nong, ting nong.


Arsandi dan Danu sama sama menoleh ke arah pintu apartemen, saat bel terdengar menggema di ruangan.


"Sebelum lo jawab pertanyaan gue, mending gue buka pintu dulu ya! Itu pasti dia!" gumam Arsandi dengan wajah cerah.


Bugh.


"Dasar bangkekkk, siapa lagi yang lo undang ke apartemen gue?" teriak Danu dengan melemparkan bantal sofa ke arah punggung Arsandi, namun meleset karena tidak mengenalinya dan berakhir jatuh ke atas lantai.


Ceklek.


"Ayo cepetan masuk, Ben!" Arsandi menyuruh masuk, orang yang tadi menekan bel apartemen Danu.


"Unit apartemen siapa nih? Gak mungkin kan kalo ini unit lo!" tebak Beni dengan tatapan takjub pada apartemen yang ia masuki.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2