Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Air susu di balas air tuba


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Astagaaa, siapa yang berani membuka pintu kamar ku?" tanya suster Lia, begitu melihat pintu kamar nya kini terbuka lebar.


Dengan tergesa di sertai wajah cemas, suster Lia melangkah. Ingin rasa nya memastikan siapa yang dengan berani membuka pintu kamar yang sudah 2 tahun terakhir ia tempati, dan tidak seorang pun yang berani memasuki nya selain ia dan teman lelaki nya.


Mata nya seketika membola, menatap punggung pria yang kini membelakangi nya.


"Apa yang Tuan Muda lakukan di kamar saya?" tanya suster Lia dengan suara yang bergetar, mampusss gue, gimana cara nya gue ngeles.


Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan suster Lia, Danu berbalik, menatap suster Lia dengan tatapan yang sulit di artikan, melirik sekilas dengan paper bag yang di bawa suster Lia.


Rupa nya dia meninggal kan rumah ini hanya untuk mengambil benda itu! batin Danu, ia tersenyum kecut.


Tangan kanan Danu menyambar tempat sampah yang tergeletak di samping meja rias yang ada di kamar suster Lia. Danu mengayunkan langkah kaki nya, berjalan semakin dekat dan berhenti tepat di depan suster Lia.


"Apa kau bisa jelaskan ini semua suster!" Danu menghempaskan tempat sampah itu di depan suster Lia, membuat isi nya berceceran di atas lantai.


Brugh.


Trang.


"Dan ke mana saja kau beberapa menit yang lalu?" tanya nya lagi dengan datar.


Suster Lia menelan saliva nya dengan sulit, menatap benda benda yang berceceran di atas lantai, bahkan di antara nya ada yang bergelinding ke arah kaki nya.


Kenapa aku bisa melupakan untuk mengunci kamar ku, dasar bodohhh, tidak ingat jika saat ini ada Danu dan wanita nya di rumah ini! Alasan apa yang bisa aku berikan pada nya.


"I- i- itu milik kaka saya, Tuan Muda. Be- beberapa hari yang lalu, kaka saya sem- sempat berkunjung ke rumah ini, ji- jika Tuan Muda tidak percaya, sa- saya bisa menghubungi nya... biar kaka saya yang jelaskan pada Tu- Tuan Muda!" ucap suster Lia dengan terbata bata, tidak di pungkiri jika hati nya kini benar benar merasakan takut yang luar biasa.


Danu menatap suster Lia dengan tatapan menyelidik, lalu berkata dengan tegas. "Bukan nya kau sendiri yang mengatakan, jika kau itu anak tunggal? Ke dua orang tua mu bahkan meninggal kan mu. Katakan yang sebenar nya, suster Lia! Benda haram ini milik siapa? Kau menggunakan nya?" tuduh Danu.


"Sa- sa- saya... sa- saya ti-"

__ADS_1


"Katakan yang sebenar nya!" bentak Danu dengan suara yang menggelegar, membuat suster Lia berjingkat kaget di buat nya.


"Dan ini, kau juga perlu jelaskan, ini obat apa suster Lia?" kini Danu mengeluarkan 2 buah botol kecil dengan tutup berbeda dari dalam saku nya, dan memperlihat kan nya pada suster Lia.


Wajah suster Lia kini piasss, tidak bisa lagi berkutik, untuk menjawab pertanyaan Danu pun kini lidah nya terasa kelu dan kaku.


"Aku tidak menyangka, orang yang sudah aku percaya untuk mengurus nenek ku, ternyata orang yang ingin melenyapkan nenek ku sendiri! Ini balasan mu pada ku, suster! Orang yang sudah membawa mu ke luar dari dunia terkutuk itu, dan kau malah kembali lagi ke dunia mu itu?" Danu menggelengkan kepala nya, kecewa di perlihat kan Danu pada suster Lia.


Bugh.


Ke dua kaki suster Lia seakan tidak bertulang, air mata nya luluh lantah tidak bisa terbendung. Ia berdiri dengan ke dua lutut nya di depan Danu dengan kepala yang tertunduk lesu.


"Ini yang nama nya susu di balas air tuba." ucap Danu, melangkah pergi meninggalkan suster Lia.


"Maafkan saya Tuan Muda hiks, hiks, hiks."


"Danu, ada apa dengan suster Lia?" tanya Layla, yang melihat suster Lia berdiri dengan ke dua lutut dengan memunggungi ke dua nya.


"Bereskan semua milik mu, suster. Detik ini juga kau, aku pecat! Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening mu, anggap itu bonus dari ku." ucap Danu.


"Kau belum menjawab ku, Danu... apa yang kau lakukan pada suster Lia?" tanya Layla dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa kau meninggalkan nenek?" tanya Danu, tanpa berniat menjawab pertanyaan Layla, ia justru mengalihkan perhatian Layla pada nenek.


"Menyebalkan." sungut Layla, tangan nya mencubit pinggang Danu dengan gemas.


"Awwhhhhh!" ringis Danu, membiarkan Layla berjalan lebih dulu.


"Tunggu lah aku di kamar, aku harus menemui nenek sebentar." ucap Danu, melihat Layla yang melangkah ke arah kamar yang mereka berdua tempati.


Layla melambaikan tangan kanan nya, tanpa menoleh ke Danu.


"Kesalahan apa yang suster Lia perbuat, sampai sampai Danu harus memecat nya." gumam Layla, ia tidak mendengar semua pembicaraan ke dua nya dari awal, karena terlalu sibuk dengan memijat tangan dan kaki nenek Dahlia. Layla meninggalkan nenek setelah mendengar bentakan dari suara Danu.

__ADS_1


Baru juga menginjakkan ke dua kaki nya di kamar. Pandangan Layla langsung terpusat pada hape nya yang berdering di dalam tas pinggang nya.


[ "Heh anak sialan, dari mana saja kau hem! Sudah lupa dengan mama mu! Baru juga menikah dengan pria kaya, sudah lupa kamu dengan keluarga mu!" ] suara makian dan omelan terdengar nyaring di telinga Layla dari benda pipih nya. Siapa lagi kalo bukan Sifanye yang tengah menghubungi nya saat ini.


"Astaga mah, mama mau menelpon ku hanya untuk memarahi ku? Memaki ku? Waktu mama senggang sekali ya!"


[ "Dasar anak tidak tau diri, berani kau sekarang menjawab pertanyaan ku! Dari mana saja kamu, heh! Berani sekarang kau mengabaikan telpon mama mu!" ] Sifanye semakin kesal di buat nya.


Layla membuang nafas nya dengan kasar, gak di sana, gak beda rumah, selalu saja marah marah gak jelas mama Sifanye terhadap ku. Memang kesalahan apa sih yang sudah aku perbuat pada mama Sifanye?


[ "Layla! Kamu tuliii! Sedang bersenang senang kau ya bersama dengan Danu? Menghambur hamburkan uang Danu, atau uang ayah Noval yang sedang kau hambur hamburkan? ] tuduh Sifanye dengan suara meninggi.


"Tadi aku sedang mengurus nenek Dahlia, mah. Nenek nya almarhumah mama Devina."


[ "Nenek kata mu? Apa wanita itu sudah tua? Dia sehat? Atau lumpuh? Apa nenek nya Danu menyusahkan mu? Apa nenek nya Danu bisa menerima pernikahan kalian?" ] cecar Sifanye, suara nya bahkan kini sudah merendah.


Jiwa nya yang kepo dan ingin tahu, membuat nya semakin penasaran. Apa lagi ini ada hubungan nya dengan Layla. Sifanye akan sangat senang jika nenek nya Danu menyusahkan hidup Layla, apa lagi sampai tidak menyukai pernikahan ke dua nya.


"Sudah tua mah, nenek tidak bisa bicara dan bergerak, hanya duduk di kursi roda. Jadi aku tidak tau, apa nenek menerima atau tidak pernikahan kami." ucap Layla dengan jujur.


[ "Heh, pasti wanita tua itu akan sangat menyusahkan mu hehehe!" ] tawa Sifanye terdengar dari sambungan telpon nya.


Layla memutuskan sambungan telepon nya. Setelah berpura pura tidak bisa mendengar.


"Halo mah! Mamah ngomong apa, aku gak denger mah! Mah, mah!"


Layla membuang nafas nya dengan lega, "Mama Sifanye benar benar aneh, tadi marah marah, dan sekarang tertawa. Gak jelas kan."


"Apa nya yang gak jelas?" tanya Danu yang kini melangkah masuk ke dalam kamar, menghampiri Layla.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


__ADS_2