Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Bicara berdua / Mery Arsandi


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Semua mata menatap ke arah Mery, menunggu jawaban apa yang akan di kata kan oleh Mery atas lamaran Arsandi.


"Bisa saya bicara berdua dengan pak Arsandi sebelum menjawab pertanyaan pak Danu?" tanya Mery, dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Loh, kenapa harus berdua? Kenapa gak di bicarain di sini aja Mer!" seru papa Baskoro.


"Pah! Udah deh... kita kasih waktu buat Mery bicara berdua dengan Arsandi." seru Danu, melirik ke arah Arsandi dan Mery.


Arsandi mengajak Mery beranjak dari duduk nya, hanya dengan menganggukkan kepala nya.


Grap.


Sang bibi menahannn lengan Mery, dengan memegangi nya.


"Mer! Jangan gegabah kamu, kamu ingat kan dengan apa yang sudah bibi katakan pada mu sebelum nya!" sang bibi memperingati Mery dengan suara yang pelan, dengan gelengan kepala.


"Mery tau, apa yang harus Mery lakuin bi!" Mery melepaskannn tangan sang bibi dari lengan nya hingga terlepasss.


Sang bibi hanya bisa menghembuskan nafas nya dengan kasar, menatap punggung Arsandi dan keponakan nya hingga menghilang di balik pintu kamar Mery yang di tutup rapat.


'Apa yang akan Mery katakan pada bang Arsandi?' batin Layla dengan penuh curiga.


"Maaf bu sebelum nya, apa ada yang kalian sembunyikan dari kami? Seperti nya jika di lihat dari raut wajah Mery. Gadis itu tampak tertekan, berbeda dengan biasa nya saat saya bertemu dengan nya." terang Noval, yang beberapa kali pernah bertemu dengan Mery.


"Apa yang di katakan ayah mertua saya, ada benar nya juga bi. Apa yang ingin Mery sampaikan pada Arsandi? Bibi pasti tau kan!" seru Danu dengan tatapan penuh tanyaan.


"Ini mengenai ayah kandung Mery, pak. Sebenar nya saya juga gak tau... apa pria brengsekkk itu masih hidup atau udah mati. Kalo pun mati, saya dan Mery juga gak tau di mana kubur nya. Hubungan mereka begitu sulit." terang sang bibi dengan jujur.

__ADS_1


Baskoro menelan saliva nya dengan sulit, seakan leher nya tercekat.


'Jadi Mery masih punya ayah? Pria brengsekkk? Siapa sebenar nya ibu nya Mery ini?' batin Baskoro, hati nya merontaaa ingin tau.


"Masalah ayah kandung Mery, apa bibi tau... siapa orang nya? Mungkin nama nya! Identitas nya jija perlu." cecar Danu dengan penuh selidik.


"Jangan kan untuk tau identitas nya, nama dan rupa nya aja... bibi gak tau." terang bibi dengan suara yang terdengar putus asa.


"Foto nya mungkin bi! Apa almarhumah ibu nya Mery gak pernah cerita siapa ayah kandung nya Mery, bi? Gak minta untuk di nikahi gitu." cecar Layla, dengan perasaan yang gemasss mendengar sedikit cerita sang bibi sahabat nya.


"Dulu bibi pernah mendesak nya untuk jujur sama bibi, bahkan bibi sampai tega menamparrr adik bibi agar mau buka mulut. Tapi saking bodohhh nya, entah apa yang sudah di janjikan pria brengsekkk itu... hingga adik bibi memilih diam seribu bahasa, siapa ayah dari janin yang di kandung nya. Hingga nafas terakhir nya pun, berselang 5 jam kelahiran Mery, adik bibi di nyatakan meninggalkan karena menderita darah tinggi usai melahirkan." ujar bibi nya Mery dengan meniti kan air mata, menyesali diri nya yang kurang tegas pada adik nya.


Brak.


Layla mendaratkan telapak tangan nya di atas meja, saking kesal nya mendengar cerita sang bibi.


"Kurang ajarrr tuh cowok! Udah buang benihhh! Seenak nya maen ninggalin gitu aja! Gak mikir apa, gimana nasib anak nya kelak! Kalo sampe aku bertemu dengan nya, ingin aku cekekkk dia sampe kooo'ittt!" sungut Layla dengan gerammm, mata nya berapi api ingin mencakar apa aja yang ada di hadapan nya.


"Maksud nak Danu apa? Sudah jelas pria itu gak mau tanggung jawab! Lari dari tanggung jawab lebih tepat nya!" sungut Yanto dengan tangan mengepalll.


"Gimana kalo pria itu gak tau, kalo ibu nya Mery mengandung janin nya pada saat itu!" pikir Danu dengan segala asumsi nya.


"Gak mungkin gak tau ka! Masa ibu nya Mery, bisa sebodohhh itu. Gak kasih tau pria yang membuat nya hamil." bantah Layla, gak setuju dengan pendapat Danu.


Di ruang depan, Danu, bibi, Yanto, dan Layla saling memperdebatkan atas apa yang menimpa almarhumah ibu nya Mery.


Sementara di dalam kamar Mery sendiri. Arsandi masih berdiri memunggungi pintu, tatapan nya gak lepasss dari Mery yang duduk di tepian ranjanggg dengan menatap lantai ia berpijak.


'Apa yang sebenar nya, ingin di bicarakan Mery pada ku? Kenapa sejak tadi Mery hanya diam. Seakan sulit untuk mengatakan nya.' batin Arsandi, mengamati Mery yang kini meremasss ke dua tangan nya yang ada di pangkuan nya.

__ADS_1


'Apa setelah gue katakan, gue ini anak harammm. Pak Arsandi bakal lanjutin rencana nya buat nikahin gue? Bagaimana dengan keluarga nya? Apa bakal setuju? Apa status gue yang gak punya ayah bakal jadi masalah di kemudian hari?' batin Mery, penuh dengan berbagai pertanyaan dan ketakukan tersendiri.


Arsandi memilih duduk di samping Mery, menggenggammm jemari Mery yang kini dingin, berkeringattt.


"Apa yang ingin kamu katakan, Mery? Semua orang sudah menunggu kita di luar!" tanya Arsandi dengan lembut.


"Maaf jika kejujuran saya ini akan membuat bapak sakit hati, tapi saya gak ingin hubungan ini berlanjut tanpa bapak dengar kejujuran dari saya." jelas Mery, memberanikan diri, menatap wajah Arsandi.


"Kejujuran apa lagi? Perasaan mu yang juga mencintai ku? Kejujuran mu yang hanya aku seorang dalam hati mu? Hanya aku yang akan mengisi hari hari mu? Meminta ku untuk menemani mu sampai tua?" cecar Arsandi dengan senyum tersungging di bibir nya.


"Bukan soal itu. Tapi saya akan terima keputusan bapak... jika sudah mendengar kejujuran saya." ucap Mery menelan saliva nya dengan sulit.


'Semoga pak Arsandi mengerti, dan tetap melanjutkan pernikahan ini! Karena jujur, aku semakin ke sini, semakin gak bisa tanpa nya, aku seakan bergantung pada nya.' batin Mery penuh harap.


'Apa ini menyangkut bapak kandung nya? Mery menghawatirkan ku untuk membatalkan pernikahan ini setelah mengetahui kenyataan nya?' batin Arsandi dengan senyum mengembang.


"Kenapa malah senyum? Aku lagi bicara serius!" omel Mery dengan mencubittt tangan Arsandi.


"Aku mendengar kan mu, sayang ku!" seru Arsandi menangkup pipi Mery.


"A- aku ini a---"Mery berkata dengan terbata bata, hingga akhir nya perkataan nya terhenti. Saat Arsandi menyela apa yang ingin di katakan nya.


"Anak harammm? Gak jelas ayah biologis nya?" cicit Arsandi, membuat Mery membola dengan menganga sempurna.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2