Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Rumah sakit


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Jangan pulang malam malam lu, jangan gunain barang haram itu lagi lu!" pesan Tati meski Yanto tidak akan mendengarkan ucapannya.


...---...


Pagi hampir menjelang, Tati lupa dengan keberadaan Layla yang ia kurung di dalam kamar mandi. Ke dua matanya masih terpejam rapat dengan memeluk erat tubuh mungil Dea.


Dari arah luar, suara gedoran pintu dan seruan Yanto terdengar keras. Mengusik tidur Tati.


Brak brak brak.


"Ti, buka pintunya Ti! Tati! Woy! Dasar wadon... kerjaannya molor bae lu! Kaga tau laki pulang apa lu! Ti!"


Brak brak brak.


Gedoran pintu semakin keras terdengar.


Tati mengerjapkan ke dua matanya, melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya.


Keningnya mengkerut. "Astaga jam segini baru pulang, dasar suami gak punya otak. Pasti dia minum lagi, apa pake itu barang terlarang lagi?" pikir Tati dengan beranjak dari tidurnya.


"Bobo yang nyenyak ya nak!" serunya dengan membelai pipi chubby Dea yang masih terlelap.


Tati mengayunkan langkah kakinya, tatapannya mengarah pada pintu kamar Layla.


Astagaaa aku lupa kalo Layla masih ada di dalam kamar mandi!


Suara gedoran pintu dan seruan Yanto kembali terdengar, bahkan suara seruannya semakin meninggi.


Brak brak brak.


"Tati! Buka woy, gua dobrak nih!" sungut Yanto.


Sementara beberapa warga yang baru saja pulang dari masjid, setelah sholat subuh. Melintas di depan rumah Tati, menggelengkan kepalanya saat mendapati kembali tingkah Yanto.


Ini bukan kali pertama Yanto berbuat keonaran di lingkungan, bukan hanya Yanto. Tapi Tati juga di kenal sangat usil pada tetangga, tidak jarang jika ia sering sekali bertengkar dengan tetangganya sendiri.


"Bapak ko gak nyontohin yang bagus buat anak bininya!" cibir bapak berpeci putih, dengan kain sarung, yang tidak lain adalah kaka ipar Tati.

__ADS_1


"Nasib tragis banget ya, udah bener Tati berjodoh sama Noval. Udah baik, berbaur sama warga, aktif pula sama kegiatan di mesjid. Beda jauh kalo di bandingin sama Yanto mah!" seru bapak berbaju koko, petugas poskamling di lingkungan setempat.


"Yah namanya juga roda kehidupan... mana ada yang tau mau ke mana jalannya." terang bapak berpeci hitam dengan jenggot panjang berwarna putih menghiasi dagunya, salah satu tokoh yang di tuakan di lingkungan itu.


Yanto menatap tajam ke arah 3 bapak bapak yang tengah berhenti tepat di depan rumahnya.


"Heh warga! Ngapain lu di situ! Merad sana lu! Ganggu ketenangan keluarga gue aja lu! Sama lu kaya Layla, anak tiri gua. Bisanya ngusik orang doang!" racau Yanto dengan tubuh yang oleng, seperti layangan pedot, kadang ke kiri dan ke kana, tidak berdiri tegak di tempat ia berpijak.


"Sabar Yanto, kamu itu kepala rumah tangga... harusnya nyontohin buat keluarga kamu yang baik baik. Bukan mabuk gak jelas gitu! Kalah kamu sama Layla, Layla jauh lebih bisa di andalkan dari pada kamu!" cibir kaka ipar Tati.


Pluk.


"Gila lu warga!" Yanto melemparkan sendalnya dengan tangan kanannya ke arah bapak bapak itu.


"Dasar Yanto sintinggg!" umpat petugas poskamling.


"Gila! Gak jelas!" cibir si bapak kang kelontong, dengan melempar kembali sendal yang tadi Yanto lempar ke arah mereka.


"Ngapa lu! Mau ribut! Sini lu, beraninya maen keroyokan lu! Lu pikir gua takut sama kalian! Dasarrr aki aki bau tanah, mau mati besok lu!" sungut Yanto.


"Udah jangan di ladenin, sama gilanya kita kalo ngeladenin orang gila!" ucap kaka ipar Tati.


Pintu di buka dari dalam oleh Tati, Tati langsung menyambar tangan Yanto dengan ekspresi wajah ketakutan, tangis pun tidak bisa terbendung lagi di ke dua mata Tati.


"Yan, tolong Yan... Layla sakit... Layla Yan! Bawa Layla ke rumah sakit Yan!" ucap Tati dengan sesenggukan.


Memancing warga yang melihatnya, langsung menghampiri Tati.


"Kenapa sama Layla, Tati?" tanya kaka ipar Tati.


"La- Layla a- anu bang... Layla ---" belum selesai Tati bicara. Yanto langsung merangsek masuk ke dalam rumah.


"Aaahhh bawel lu! Berisik lu pada!" sungut Yanto dengan aroma alkohol yang menyeruak saat ia bicara.


Tati menghapus air matanya sendiri dengan kasar. "Lu mabok lagi, Yanto?" tanya Tati dengan menatap Yanto yang malah masuk ke dalam kamar mereka.


"Bukan urusan lu!" ucap Yanto dengan acuh. Hilang di balik pintu kamar yang ia tutup dengan kasar.


Brak.

__ADS_1


Pluk.


Tangan besar kaka ipar Tati, menepuk bahu Tati. Menyadarkan dirinya, jika masih ada orang di luar rumahnya.


"Layla kenapa?" tanya kaka ipar Tati, pria yang bisa di bilang memiliki hubungan yang cukup baik pada Layla. Berbeda dengan kaka ipar Tati lainnya.


"Layla pinsan bang, di- dia demam." ucap Tati dengan terbata bata.


"Ya udah bawa ke rumah sakit, mau nunggu apaan lagi lu?" sungut kaka ipar Tati dengan marah.


Pria itu langsung menerobos masuk ke dalam rumah yang di tempati adik iparnya itu. Tujuannya kamar keponakan, Layla.


"Bukan di situ bang, tapi di sini!" Tati memberi tahu keberadaan Layla yang bukan berada di kamarnya, melinkan di kamar mandi.


Tampak Layla yang meringkuk di lantai kamar mandi, dengan ke dua mata yang terpejam.


"Astagfirullah, tega lu sama anak lu sendiri!" sungut Juli dengan geleng geleng kepala, tidak habis pikir dengan apa yang sudah di lakukan adik iparnya Tati pada putri tertuanya.


...----...


Layla mengerjapkan ke dua matanya, saat indra penciumannya mencium aroma karbol. Aroma yang tidak lagi asing untuk dirinya. Karena sebelumnya Layla sering kali masuk ke rumah sakit karena asmanya yang kambuh.


"Mama Sifanye?" ujar Layla, orang pertama yang ia lihat saat bangun dari tidurnya saat ini.


"Memang siapa yang kamu harapkan ada di rumah sakit ini, Layla?" tanya Sifanye dengan ketus.


Ia beranjak dari duduknya, menghampiri Layla.


Layla menggelengkan kepalanya, "Kenapa Layla bisa ada di sini, mah?" tanya Layla yang tidak tau apa apa, saat ia di bawa ke rumah sakit.


"Gak usah banyak mikir dulu! Lebih baik kamu makan bubur dulu, habiskan.. baru setelah itu kita pulang!" ucap Sifanye dengan nada selembut mungkin.


Sifanye menyuapkan Layla bubur, keheningan langsung menyeruak di ruang rawat itu. Tanpa Layla mau pun Sifanye yang bicara. Hingga dering telpon Sifanye yang ada di dalam tas, menggema.


Dring dring dring.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


Menuangkan segala kehaluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


__ADS_2